Para "Dukun" Piala Dunia

VIVAnews





VIVAnews-KOTAK itu masih terkunci rapat. Digantung setinggi enam meter dari tanah, di dalam kotak itu ada secarik kertas. Isinya: nama negara juara Piala Dunia 2010. Ditulis sebulan sebelum final Piala Dunia 2010, pesulap Deddy Corbuzier ingin menguji keampuhannya dalam meramal.

“Salah sedikit tak apa-apa, namanya juga manusia.” ujar Deddy saat menggelar acara itu di kawasan SCBD Sudirman, Jakarta Selatan, 11 Juni 2010. Kotak berisi kertas itu sudah disegel di hadapan petugas kepolisian. Bertempat di Electronic City, kotak perak seukuran dua jengkal tangan itu terkurung dalam kubus kaca.

Sebelum menebak, dia “bertapa” di dalam kubah es. Judul aksinya itu disebut Frozen in Time. Kubah itu terbuat dari 200 balok es. Tingginya dua setengah meter. Suhu di dalamnya sekitar 16 derajat Celsius.  Dia berdiam selama 12 jam di sana. “Menyenangkan. Tapi, saya tidak mau lagi,” ujar Deddy.

Mungkin, Deddy ingin membekukan waktu, saat dia menulis ramalan itu. Hasilnya, bisa jadi negara yang ditebaknya benar jadi juara. Atau juga salah. Setidaknya, di Indonesia, hanya Deddy yang berani "meramal" hasil Piala Dunia.

Sayangnya, dia tak menyatakan hasilnya lebih dulu secara terbuka. Kita harus menunggu saat final Piala Dunia 2010 berakhir.

Mungkin karena bola bundar, dan bisa bergulir ke mana saja, maka sulit menebaknya. Derajat ketidakpastian sangat tinggi, terutama di ajang besar berseleksi ketat seperti Piala Dunia. Maka, para pecandu bola, terutama petaruh, pun mencari beragam “petunjuk”.

Penebak bertangan delapan

Ada satu satu “dukun” disegani para pecandu bola di dunia. Kini dia pujaan para petaruh di ajang Piala Dunia 2010. Dialah si gurita bernama Paul.

Si gurita Paul berdiam di akuarium Sea Life Center di Oberhausen, Jerman. Dia membuat gemas para fans tim yang telah ditebak jitu akan kalah. Fans Argentina dan Jerman pun sempat ingin menggorengnya, dan menjadikannya hidangan seafood.

Pada Jumat 9 Juli 2010, Paul kembali beraksi. Dia memilih Spanyol sebagai juara dunia. Tentu, para pendukung Belanda jadi blingsatan. Soalnya, sudah enam kali tebakan Paul benar. 

Misalnya, dia terbukti benar saat meramal Argentina dikalahkan Jerman. Di perempat final, Argentina keok 0-4 melawan Jerman. Tapi, Paul tak sungkan meramal Jerman kalah. Dan, lagi-lagi terbukti. Jerman ditaklukkan Spanyol 0-1 di semifinal.

Berkat tebakannya yang akurat, kini Paul si gurita berusia dua tahun itu,  telah menjadi selebriti baru dunia. Dia menjadi trending topic nomor satu di dunia versi Twitter. Trending topic adalah 10 topik paling populer dibicarakan pengguna Twitter. Mulai dari lingkup global, negara, hingga kota. Paul, Si Gurita Peramal dikenal sebutan "Pulpo Paul" di Twitter, adalah nomor satu.

Saking tenarnya, stasiun televisi Jerman, NTV, kerap menayangkan langsung saat Paul beraksi. Penonton bisa melihat, bagaimana Paul membelit kotak pilihannya, lalu masuk ke dalamnya.

Harian De Western, mencatat sejumlah komentar sirik di Facebook, dan Twitter yang menghujat Paul dari fans Jerman. Bahkan ada yang menyarankan Paul digoreng, dipanggang menjadi sajian seafood. Lainnya, menyarankan dia dilemparkan ke kolam ikan hiu.

Tentu, hal ini memancing keprihatinan Perdana Menteri Spanyol, Jose Luiz Rodriguez Zapatero. Meski agak sedikit bercanda, Zapatero ingin mengirimkan pasukan khusus mengawal akuarium Paul.

Sementara itu, seorang koki berkebangsaan Spanyol di Amerika, Jose Andres mendadak menjadi pembela gurita. Di restorannya di Washington, dia berjanji seperti ini: "Saya akan menghapuskan semua menu gurita dan sebangsanya di restoran saya."

Mani, rival dari Singapura 

Setelah gurita Paul membuat heboh dunia dnegan tebakan  jitunya, kini muncul seekor burung yang juga “sakti”. Jika Paul tinggal di satu akuarium di Jerman, seekor burung parkit jago meramal itu tinggal di Singapura. Dia itu bernama 'Mani.'

Menurut Channel News Asia, Mani adalah 'peramal jalanan.' Ia menjadi asisten dari Mr Muniyappan yang praktik di Serangoon Road.

Untuk partai final Belanda melawan Spanyol, Mani sudah punya pilihan. Ia memilih Tim Oranje Belanda untuk menang dan kemudian menjadi juara dunia. Sebelumnya, ramalan Mani juga jitu. Di partai semifinal, Mani memilih Spanyol mengalahkan Jerman.

Selama Piala Dunia, Mani disebut-sebut punya rekor 80 persen akurat. Selain partai Spanyol lawan Jerman, tak disebutkan pertandingan mana saja yang telah ia prediksikan hasilnya.

Saat ini, Mani menjadi bahan pembicaraan di Singapura. Muniyappan pun panen klien. Jika sebelumnya ia hanya kedatangan 10 pengunjung dalam satu hari, kini jumlah yang sama bisa ia dapatkan hanya dalam waktu satu jam.

“Petunjuk” bagi petaruh

Barangkali, entah si Mani atau si Paul, yang senang dengan “petunjuk” para hewan itu adalah para penjudi, atau petaruh bola. Ada yang bersorak girang karena menang. Atau merengut karena kalah.

Seorang petaruh dari Inggris dikabarkan kalah besar. Dia tak menebak seperti disarankan si gurita Paul. Si petaruh itu kalah 500 ribu euro. “Bahkan ada juga taruhan 100 ribu dan 80 ribu euro lainnya lenyap karena memegang Jerman,” ujar Graham Sharpe, juru bicara agen taruhan William Hill kepada Guardian, Kamis 9 Juli 2010.

Tentu, pasar Asia juga bakal ramai dengan taruhan seperti ini. Selama sebulan pertandingan di Afrika Selatan, ratusan miliar atau bahkan triliunan uang taruhan diduga akan berputar di Asia. Sebagian kegiatan judi berlangsung gelap, alias ilegal.

Tapi meski terlarang, aliran duit di situ sangat menggiurkan. Itu sebabnya, Malaysia bahkan meninjau proposal perusahaan kasino Berjaya Group, yang hendak melegalkan taruhan Piala Dunia.

Pasar taruhan di Malaysia diperkirakan mencapai 20 miliar ringgit per tahun (US$ 6,2 miliar atau sekitar Rp 57 triliun).Tapi, meski legal, perjudian di Malaysia tak lepas dari intaian polisi. Polisi Malaysia telah menyiapkan satgas khusus memantau judi online.

Di Korea Selatan, aksi itu lebih terbuka. Perusahan Sports Toto, misalnya, telah memiliki lisensi untuk bisnis taruhan pada semua kegiatan olahraga, termasuk Piala Dunia. Perusahaan ini telah menyetor 25 persen penjualannya kepada pemerintah. Tapi, toh dunia judi gelap tetap berlangsung di sana.

Sementara China adalah surga judi terbesar di Asia. Di sana, judi bawah tanah berkembang marak. Menurut mingguan Titan Sports, warga China menghabiskan lebih dari 500 miliar yuan (US$73 miliar atau Rp671 triliun) pada judi online selama Piala Dunia 2006 silam. Nilai ini sekitar dua persen dari produk domestik bruto (PDB) Cina.

“Kebetulan” benar

Pesta Piala Dunia 2010 barangkali mengajarkan hal penting, bahwa sepak bola menghasilkan banyak kejutan. Kita kaget melihat Paul si gurita menebak jitu enam pertandingan. Para petaruh mungkin akan menimbang pilihan si Paul.

Agen taruhan William Hill misalnya membiarkan kliennya memasang taruhan “kosong” dan ikut pada pilihan Paul si gurita. “Mereka suka mengikuti saran Paul,” ujar juru bicara Hill, Graham Sharpe. Seorang pencatat taruhan senior di Selandia Baru, Gary Pearn, mengatakan: “Rating dia (Paul) sangat tinggi. Dia menjadi peramal terhormat”.

Meski untuk 2010 ini semua ramalannya sempurna, Paul toh pernah keliru. Dia salah menebak sekitar 30 persen pertandingan Jerman pada Piala Eropa 2008.

Ada ulasan menarik di situs berita DNA India, Kamis 8 Juli 2010 lalu. Seorang blogger, Vivek Kaul memberi penjelasan matematis.  Ramalan si gurita Paul, kata Vivek, sebetulnya mirip kita melempar koin. Peluang muncul tiap sisi muka koin adalah  0.5, alias setengah.

Jika koin dilempar dua kali berurutan, katakanlah koin Rp200, peluang muncul burung Garuda dan Jalak Bali adalah seperempat alias 0,25. Dalam kata lain, peluang gambar Garuda adalah 0,25 (0,5x0,5), alias 25 persen saat koin dilempar 2 kali berturut-turut. Kian banyak lemparan, maka peluang akan kian kecil bagi muka koin yang sama.

Jika Paul telah menebak tepat enam pertandingan di Piala Dunia, maka menurut Vivek, angka probabilitas ketepatan Paul sudah mencapai 1,5 persen. Artinya, peluang akurasinya kian kecil. Vivek memberi contoh menarik, dari buku John Allen Paulos, A Mathematician Plays Stock Market.

Dikisahkan, satu penerbitan menerbitkan buletin mingguan yang meramal nilai naik-turunnya saham bagi 64 ribu pembaca yang dipilih acak. Pada setengah dari 64 ribu itu, diberi terbitan berisi ramalan bahwa saham pekan depan bakal naik. Setengahnya lagi, nilai saham akan turun. Toh, hasilnya pasti sekitar 32 ribu orang, atau separuh dari semua pembaca buletin itu mendapat ramalan jitu.

Pekan berikutnya proses diulang: mereka menerbitkan 32 ribu buletin, dengan dua isi berbeda. Satu menaksir saham akan naik. Satunya turun. Pekan berikutnya, setengah dari 32 ribu orang itu berterimakasih karena ramalan tepat. Proses berulang terus sampai pekan keenam, ada 1000 orang secara berturut-turut kerap mendapat ramalan benar dari terbitan itu.

Hasilnya: kredibilitas terbitan itu pun naik. Fenomena si gurita Paul, kata Vivek, tak jauh beda. Artinya, yang hendak dikatakan Vivek, bahwa kejituan ramalan si gurita Paul terjadi secara acak, alias  “kebetulan” benar.

Selebihnya, si Paul tetaplah hanya seekor gurita.

Artikel Terkait :



Tidak ada komentar:

Arsipnya