Pangan Darurat Pengungsi dari BPPT

Kompas.Com


(lllustrasi)

Selasa, 8 September 2009 | 08:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bahan makanan yang paling lazim bagi pengungsi akibat bencana, seperti beras dan mi instan, tidak mengandung nutrisi memadai dan pengolahannya butuh air bersih relatif banyak. Menghadapi kendala itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi meneliti pangan darurat pengungsi yang lebih ideal.

”Baru-baru ini formula pangan darurat dengan bahan baku lokal sudah dipastikan. Tetapi, formula itu belum diajukan untuk izin paten,” kata Esti Wijayanti selaku Kepala Bidang Teknologi Pangan Fungsional Pusat Teknologi Bioindustri pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Senin (7/9) di Jakarta.

Karena belum diajukan izin patennya, menurut Esti, formula pangan darurat yang diberi nama ImunoYoi itu belum bisa disampaikan kepada publik. Prinsipnya, pangan darurat itu merupakan sumber karbohidrat dan protein yang mengandung zat aktif untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Setiap 100 gram ImunoYoi mengandung 500 kilokalori, memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan konsumsi harian pengungsi. Cara mengonsumsinya tidak perlu dimasak lagi sehingga meminimalkan air bersih untuk pengolahannya.

Berbeda dari produk pangan pokok yang didistribusikan pemerintah selama ini, yaitu beras atau mi instan, pengolahan makanan tersebut membutuhkan air bersih. Padahal, dalam kondisi darurat seperti pascagempa, air bersih sulit didapat.

”Pangan darurat dari BPPT itu sangat menarik, tetapi belum pernah dipresentasikan untuk penanggulangan bencana,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi/Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Priyadi Kardono.

Produksi massal

Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar mengatakan, pangan darurat untuk pengungsi bencana alam makin dibutuhkan untuk masa-masa mendatang. Kini diupayakan produksi massal pangan darurat hasil penelitian dan pengembangan BPPT itu. ”BPPT tidak diperbolehkan memproduksi massal pangan darurat ini,” katanya.

Menurut Marzan, untuk memproduksi pangan darurat secara massal, dibutuhkan keterlibatan pihak swasta atau badan pemerintah terkait. BPPT hanya bisa sampai pada tahap inkubasi atau persiapan hitungan skala produksi massal.

Esti mengatakan, sudah ada produsen makanan yang bersedia memproduksi pangan darurat itu. Sebuah institusi pemerintah juga sudah menyanggupi uji coba memproduksi 2.000 potong.

Menurut Marzan, pangan darurat bencana yang dihasilkan BPPT tersebut juga memiliki peluang pemanfaatannya bagi ransum darurat militer. (NAW)

Artikel Terkait :



Tidak ada komentar:

Arsipnya