Aktivitas Grafis di Komputer Umumnya 2D

Intel Media Camp 2009
Grafis terintegrasi milik Intel saat ini cukup untuk menjalankan aplikasi komputer umum.

VIVAnews - Chip grafis dan industri game merupakan dua hal yang saling membutuhkan. Produsen game membutuhkan teknologi grafis terbaru agar game buatannya dapat dimainkan dengan kualitas tertinggi, sementara agar produsen chip grafis dapat terus menjalankan bisnisnya, produsen game perlu menciptakan aplikasi yang mampu memanfaatkan teknologi yang tersedia pada produk VGA terbaru demi menarik para gamers.

Intel sendiri memang belum menyediakan discrete graphics alias kartu grafis yang terlepas dari motherboard. Akan tetapi, chipset yang dimiliki Intel saat ini menyediakan grafis yang cukup untuk menjalankan sebagian besar aktivitas di komputer.

"Sebagian besar yang kita lihat di layar komputer merupakan tampilan 2 dimensi," kata David Tjahjadi, Channel Platform Manager Intel Indonesia pada wartawan yang hadir di Intel Media Camp 2009, 11-12 Maret 2009. "Meskipun tampilan yang muncul di layar adalah animasi 3 dimensi berupa video atau gambar, tetapi umumnya itu hanya merupakan playback saja, tidak membutuhkan proses rendering terlebih dahulu," ucapnya.

David menyatakan, aplikasi 3D grafis yang intensitasnya paling tinggi di komputer adalah ketika penggunanya memainkan 3D game. Jika dibutuhkan, solusi grafis yang terintegrasi pada chipset Intel seperti Intel GMA X3100 yang tersedia pada chipset G965 atau GMA X4500HD yang ada di chipset G45 juga cukup bertenaga untuk memainkan game 3D. Namun tentunya dengan resolusi dan setting yang secukupnya.

Dari sisi monitor sendiri, kalau pengguna masih memakai monitor CRT ataupun LCD berukuran 15 inci, umumnya resolusi yang dihasilkanpun maksimum hanya 1024x768. Untuk dapat memainkan game dengan resolusi 1280x1024 atau 1600x1200 pengguna membutuhkan monitor berukuran lebih lebar seperti 17 inci atau 19 inci. Sementara, monitor yang paling banyak dipasang oleh pengguna di tanah air adalah 15 atau 17 inci.

Dengan akan hadirnya teknologi manufaktur 32 nanometer, di tahun depan Intel akan menanamkan chip grafisnya ke dalam prosesor. Meskipun tidak akan memiliki performa setinggi kartu grafis kelas atas, akan tetapi solusi ini akan sangat bermanfaat, khususnya bagi pengguna mobile atau yang membutuhkan solusi grafis yang low cost, low power consumption, dan low noise.

"Dari hasil uji coba, terlihat bahwa prosesor masih memegang peranan terpenting dalam menghadirkan pengalaman berkomputer pada penggunanya," kata David. "Karena sebagian besar penggunaan komputer hanya merupakan pengolahan 2D, kinerja prosesor merupakan faktor yang lebih signifikan. Dengan menghadirkan solusi grafis di prosesor, pengguna akan memiliki sistem komputer yang lebih efisien," ucapnya.

Bagi pengguna yang tetap lebih membutuhkan solusi grafis yang bertenaga untuk 3D, di tahun-tahun mendatang Intel juga akan menyediakan solusi grafis yang terlepas dari chipset ataupun prosesor. Teknologinya akan menggunakan ray tracing, berbeda dengan teknologi rendering yang digunakan pada produk kartu grafis yang tersedia saat ini.

• VIVAnews

Artikel Terkait :



Tidak ada komentar:

Arsipnya