CATATAN UNTUK ARSID (6)
Jangan lupa, banyak mata saat ini sedang menyaksikan dengan decak kagum ketika ratusan ribu penduduk Tangerang Selatan memenuhi lokasi pemungutan suara untuk memilihmu. Ketika mereka merogoh kocek sendiri untuk membuat selembar bendera bergambar fotomu, menyetak selebaran sederhana, serta membeli kopi-gula-rokok untuk menerima tamu yang bakal mendukungmu. Ketika dengan kesadaran penuh warga menghalau yang selama ini mengganggu kehidupan kota di mana pun: saat orang hanya memikirkan diri sendiri.
Memang, yang merisaukan dari sebuah fitnah bukanlah karena kebohongan itu dikhawatirkan dapat menyesatkan. Ia dirisaukan karena lahir dari ketidakadilan dan kebencian, serta berpotensi memicu gagalnya banyak pihak—yang memfitnah maupun yang difitnah, yang marah atau yang dimarahi—untuk tak tertular borok itu. Toh, fitnah—yang dirangkai dalam berbagai tulisan atau pemberitaan dengan ungkapan yang buruk--merupakan sesuatu yang diringkas dari prasangka, antusiasme, kepanikan, kepada pihak lain yang berbeda, dengan tujuan mempermalukan dan merendahkan.
Tapi kita juga paham, siapa pun yang melakukan itu pada akhirnya akan berhadapan dengan kenyataan bahwa “moralitas” yang ingin ditegakkannya justru menjadi absurd. Karena “moralitas” tersebut dibangun dengan mengedepankan hasrat untuk menguasai secara brutal dan takabur. Maka satu pertanyaan yang terganjal: beranikah warga Tangerang Selatan menyerahkan kepemimpinan kota ini kepada orang-orang yang isi kepalanya selalu dipanasi rasa asyik terhadap syak wasangka kepada tiap hal yang berbeda dengan dirinya?.
Kau pasti tahu Arsid, dengan pemahamanmu tentang kota ini, sikap purbasangka itu merupakan bentuk pengingkaran dari nilai-nilai multikultural, keragaman, yang telah lama mendasari kota ini. Penebar fitnah—seperti kelompok ekstrem kanan lainnya di mana pun--cenderung mengedepankan kebencian yang dilebih-lebihkan ketimbang kerukunan, dengan menegakkan apa yang “baik” dan “tak baik” dalam masyarakat hanya berdasarkan keyakinannya sendiri: dominasi total.
Hannah Arendt pernah menulis dalam bukunya The Human Condition (1958): “Dalam konteks upaya penguasaan secara total, proses penghancuran kekuatan pesaing tidak perlu lagi dilakukan dengan menyerang berdasarkan kejahatan yang secara obyektif dilakukan, tetapi cukup merekayasa kesalahan untuk (kemudian) dituduhkan”. Mengerikan, memang. Ada yang lupa bahwa hidup tak melulu soal penghancuran dan penguasaan, seraya memaksakan satu-dua azas saja.
Ini mengingatkan saya pada zaman kelam ketika Cesare, putra Kardinal Borgia yang terkenal rupawan dan gagah, membantu sang ayah untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Nafsu lelaki yang dikagumi kaum perempuan karena ketampanannya ini hanya satu: kekuasaan. Maka bisa ditebak bagaimana perilakunya. Ia menjadi sosok kontroversial: keji, brutal, cerdik, culas, sekaligus dapat “menenangkan” rakyat.
Cesare adalah tipe penguasa yang tegas dan efektif dalam menipu, menjebak, dan membinasakan siapa pun yang menghambat jalannya menuju penguasaan. Namun dalam memerintah, Cesare—yang hidup menyendiri, setengah sembunyi, di Roma—dapat begitu pintar mengambil hati rakyat di bawahnya. Sebab itu sejarah kekuasaannya, seperti kekuasaan ayahnya, menjadi sejarah perdebatan yang tak berkesudahan—bahkan bukan hanya di Italia.
Meski banyak orang mengakui, dorongan utama Cesare dalam hidup hanyalah dorongan politik semata: kekuasaan dan ketertiban, sebab itu tak heran bila Machiavelli sangat mengaguminya. Sebuah tindakan yang sesungguhnya merendahkan proses politik itu sendiri, ketika politik (hanya) dianggap sebagai sesuatu yang dipandangi secara was-was terus-menerus: pertempuran yang tak pernah selesai dan dengan menghalalkan segala cara.
Agaknya kita lupa, cepat atau lambat--kata Weber--penilaian lain (akan) menonjol: penilaian berdasarkan rasa tanggung jawab atas keselamatan masyarakat umum dengan segala beda keyakinan tentang apa yang “baik” dan “tak baik” yang diterima keramaian itu. Artinya, ini adalah soal “pengakuan” bagaimana memahami kehadiran orang lain dalam perkara “ada” dan “tiada”, yang pada gilirannya akan menggiring kita untuk lebih peka terhadap “batas”.
Diakui atau tidak, kita akan segera menyadari bahwa tiap kekuatan, juga kekuasaan—sebesar apapun--sesungguhnya memiliki batas. Benar, manusia dapat mengakali dunia, namun sifatnya tak abadi. Manusia menyusun proyeksi, langkah dan skala prioritas, seraya menyadari bahwa ia (sesungguhnya) tak pernah tahu apa-apa saja yang akan berubah bersama waktu serta bagaimana proses perubahan itu sendiri. Di sini kita tahu, akan selalu ada hal-hal yang tak bisa hadir lagi.
Maka teror bahasa yang belakangan ini dialami Arsid—seperti di Burma, atau Mesir sebelum Mubarak lengser, dengan koran lokalnya yang muram dan tak mencerahkan--sesungguhnya telah mengambil alih posisi hukum dan menghancurkan hal terbaik dari apa yang kita punya: martabat manusia. Sebagai korban, tentunya Arsid tahu benar, betapa bedanya “dipermalukan” dengan bentuk “kekerasan” lain. Dipermalukan dapat membangkitkan rasa sakit yang bisu. Bahkan untuk berapa waktu, kita bisa saja tak sanggup membicarakannya dengan keluarga, atau juga teman.
Tapi bisakah kita hapuskan apa yang lebih berarti dalam diri Arsid, yakni sikap rendah diri seorang korban? Seorang yang tak kunjung selesai “dihabisi” dengan bahasa-bahasa yang muram, namun menyikapinya dengan ketenangan?. Bukankah di saat seperti itu, Arsid—“sang korban”—justru bisa mendapatkan auranya sendiri?. Kelirukah saya bila menerka bahwa akibat dari semua ini, maka saya katakan: “Saudara Arsid, besok akan lebih banyak lagi yang ikut serta denganmu”. Maka tak perlu cemas pada 27 Februari nanti.
Dan, saya juga ingin bertanya kepada para pembuat teror bahasa: Apakah Anda sangat yakin—dengan memfitnah secara bertubi-tubi—maka jadi dekatkah Anda dengan pemilih? atau justru jadi tambah kacau?. (*)
ARU WIJAYANTO
Bogor, 20 Februari 2011
CATATAN UNTUK ARSID (4)
Ini persis seperti yang kita lihat hari-hari belakangan di Tangerang Selatan, di mana Arsid--juga Andre Taulany—sering menjadi “sasaran tembak” teror; berita yang tak lumrah itu, dari yang paling ringan hingga yang tidak rasional. Dari yang tidak lucu sampai yang tidak mengandung selera humor sama sekali. Saya kira pertarungan politik boleh saja sengit, tapi bukankah hal itu mestinya tetap dilakukan dengan sopan—meski tak sehalus sikap Pangeran Siddharta yang selalu tertegun melihat bahwa dunia ternyata sebuah sengsara yang layak direnungkan terus-menerus?.
Kita tahu bahwa “program” teror ini merupakan satu bentuk kekhawatiran akan melambungnya (kembali) suara pasangan Arsid-Andre pada pemungutan suara ulang pada 27 Februari mendatang, meski saya kira akan percuma. Buat saya, kebencian yang mengerahkan fitnah adalah tanda putus asa, namun sekalipun tanpa putus asa, ia juga tidak akan menyebabkan keyakinan atas sesuatu menjadi mudah berubah. Sebab keyakinan itu lahir setelah melalui proses merasakan, dari ulu hati sampai ujung kaki, betapa palsunya sikap murah hati tersebut. Karenanya akan ada yang selalu berontak, melawan. Toh, tak ada diskriminasi tanpa represi, dan tak ada represi yang tanpa diskriminasi.
Maka sebagai parodi politik, saya melihat rangkaian teror ini pada akhirnya hanya akan menemui situasi antiklimaks. Sebab teror itu (sesungguhnya) telah memusuhi sesuatu yang jauh lebih berarti ketimbang apa yang semula dimusuhinya—jika yang dimusuhi adalah seorang “Arsid” atau “demokrasi” atau “kebebasan”. Teror itu telah memusuhi cita-cita satu juta penduduk yang merdeka. Mereka (sebenarnya) sedang memusuhi Tangerang Selatan; memusuhi orang-orang yang selama ini menghargai perbedaan pandangan dan kultur sebagai sebuah kekuatan bersama.
Pada momen itu sebenarnya kita bisa berkata: bohong, bila mereka bilang mencintai kota ini, sebab pada saat bersamaan mereka juga menabur rasa permusuhan. Meski kita tahu, teror tak akan pernah menang. Sebesar apa pun, teror tak akan bisa mendapatkan lebih dari rasa gugup yang sebentar. Selebihnya nihil, toh, manusia juga bisa rasional: menimbang-nimbang apa yang berlebihan dan tidak berlebihan.
Bagi saya, politik teror serupa dengan sikap fundamentalis, dari kelompok apa pun, yang selalu didasari atas rasa permusuhan pada banyak hal yang berbeda dengan dirinya. Ketika kebebasan dianggap sebagai sejenis najis, karena fana dan diubah waktu. Bagi mereka, perubahan adalah jalan menuju kemerosotan. Mereka lupa, kita hidup di sebuah masa ketika kita dihadapkan pada kesadaran yang meluas bahwa manusia adalah bermacam-macam kemungkinan. Pengalaman sejarah tak pernah menghadirkan sebuah masyarakat yang utuh penuh; satu suara.
Di sinilah kata kuncinya: ada yang menginginkan terbentuknya satu suara untuk Tangerang Selatan, menguasai secara penuh; total.
* * * * *
Saya merasa Arsid, juga Andre Taulany, cukup berhasil dalam menghadapi berbagai tekanan yang terus-menerus diarahkan ke dirinya. Berbagai tekanan yang diterimanya—dan yang paling ringan adalah laporan demi laporan oleh kelompok tertentu—tak memicu keduanya untuk berbuat hal serupa. Padahal kita sama-sama tahu, membuat laporan ke panitia pengawas pemilu mudah saja, asal mau. Namun bukan itu inti pertarungan pilkada. Toh, berharap meraih kemenangan dengan berbekal hasil laporan ke Panwaslu seperti mimpi di siang bolong.
Sikap ini membuktikan bahwa Arsid melihat ajang politik bukan semata-mata sebagai medan tempur. Politik, bagi Arsid, adalah ruang kemerdekaan dan partisipasi publik: di sana orang ramai membahas, menimbang, dan memutuskan nasib bersama. Politik juga bukan bagaimana memecah-belah, melainkan bagaimana mempersatukan, menggugah. Ini sama artinya dengan bagaimana kita harus bersikap tabah dan juga berendah hati untuk membangun sebuah masyarakat yang dicita-citakan.
Di sini, Arsid terbukti sangat jeli membaca situasi: bahwa banyak orang sebenarnya menginginkan apa yang ”sosial” dalam hidup manusia tak boleh begitu saja dihabisi oleh ”politik”—juga sebaliknya. Meski kita sadar, seorang Arsid pasti tak luput dari rasa cemas, ia juga punya rasa gentar—toh, pertarungan ini bukannya ringan, bahkan cenderung tak seimbang. Tapi ia (tetap) melawan: bukan untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk banyak orang.
Ia tak ingin melihat kota ini sebagai gelap yang mutlak, gelap yang jera, gelap yang getir, dan akhirnya menyerah. Dengan tenaganya yang serba tanggung, Arsid tak hendak membiarkan kelam itu berkuasa. Kita toh sadar, di sini, tak semua orang (bersedia) melawan, bahkan sebagian memilih menggadaikan dirinya untuk bersekutu dengan kelam. Maka ketika ada yang memimpin untuk menghalau dan menerjang gelap, saat itu juga kita paham, kota ini telah memiliki seorang tauladan: Arsid. Ia seperti telah mewakili perasaan banyak orang yang diam-diam berseru: “Jangan sampai kita tergelincir ke dalam gelap”.
Ini mengingatkan saya pada Renee Epelbaum, salah satu penggerak utama peristiwa Plaza de Mayo, Argentina—sebuah bentuk perlawanan yang tak disangka-sangka. Mereka yang ”gila” karena di negeri yang ketakutan itu, mereka berani menggugat. Mula-mula, akhir April 1977, hanya 14 perempuan yang berani melawan larangan berkumpul, hingga akhirnya semakin besar dan menjadi gerakan universal yang berhasil menumbangkan rezim militer pada 1983.
Sebuah bukti bahwa keberanian tak hanya mampu membangun sesuatu ke dalam diri banyak orang untuk mengusir sinisme: ketidakpercayaan pada hal-hal yang baik dalam diri sesama, tapi juga menjelma hasrat yang kuat di dalam dada orang ramai hingga pembebasan jadi pekik yang (sangat) keras. Ini saya kira yang sedang terjadi di Tangerang Selatan. Maka cocoklah bila Arsid--seperti Chairil Anwar saat berpidato di tahun 1943, yang mengawalinya dengan penggalan puisi--berkata:
Mari berdiri merentak
Diri-sekeliling kita bentak
Ada kehendak menggugah yang begitu dalam di sana, tanpa fitnah, juga tanpa pamrih.
ARU WIJAYANTO
Tangerang Selatan, 16 Februari 2011
Catatan Untuk Arsid (3) - Aru Wijayanto
SEJAK awal Arsid mendapatkan perhatian orang bukan karena kemewahan, melainkan karena kesederhanaannya: bersepeda ontel, berpakaian adat Betawi, dan selalu ramah pada orang ramai. Toh, ia bukannya tak punya jas dan pantalon, tapi ia memang rendah hati dan tak jumawa. Untuk ukuran calon kepala daerah, ia termasuk orang yang enak ditemui dan tak banyak sesumbar. Baginya, yang penting adalah bekerja seraya mencapai hasil maksimal. Ia memang tak pernah mengelakkan tugas dan cenderung pragmatis, sebab itu Arsid tak mahir melakukan akrobat panggung politik—seperti umumnya politisi atau calon kepala daerah lainnya di Indonesia.
Sikap pragmatik itu, sebagai sebuah keniscayaan, tak berarti sikap yang hanya mengutamakan hasil dan tak mempedulikan nilai-nilai, tak mengacuhkan apa yang baik dan yang benar. Arsid paham, tak mungkin ia mengabaikan persoalan ketakadilan dalam aturan main, toh, seperti kita semua, ia juga punya daftar panjang tentang hal-hal yang tak mungkin diabaikan. Ia tahu, di tengah gegap-gempitanya Tangerang Selatan, ada juga warga yang mengaduh, Mereka yang terkungkung dalam ketiadaan. Mereka yang ada dari protes, kemudian jadi subyek. Mereka lemah, mungkin, tapi tekad mereka sebenarnya tak mengherankan.
Arsid tahu betul, bila ia tak maju menjadi kandidat, siapapun bisa mengabaikan apa yang berarti di hari ini. Ia memahami daerah ini sebagaimana ia memahami dirinya dan orang lain. Kesadaran akan diri sendiri sekaligus kesadaran untuk orang lain. Sebab itu percayakah Anda bila dikatakan seorang Arsid, yang sangat memahami karakter wilayah ini--bahkan sebelum dinamai Tangerang Selatan—sebagai daerah yang tidak pernah homogen, tidak tunggal, disebut-sebut hanya (akan) memperjuangkan kelompok etnis tertentu, namun ternyata berhasil mendulang angka 187.778 suara pada pilkada lalu? Sungguhkah suara sebanyak itu hanya dari satu etnis?
Sungguh mati saya tak percaya. Yang lebih masuk akal adalah, Arsid berhasil mendulang suara sebab ia mampu membangun politik populis yang bersifat lintas agama, lintas etnis-kultural, dan berlaku umum (universal)—sesuai dengan karakter kota ini—seraya tak melupakan kultur sendiri. Toh kultur, juga pengalamannya sebagai camat di Pamulang, Serpong, dan Cisauk—serta sekretaris camat di Pondok Aren—telah menggemblengnya untuk memahami wilayah Tangerang Selatan sebagai sebuah tatanan masyarakat yang tersusun dari berbagai macam bentuk kehidupan dan orientasi nilai; masyarakat kota multikultural.
Dengan demikian, upaya pembangunan Tangerang Selatan sebagai manifestasi praksis ide politik memang harus bersifat menyeluruh dan sistematik dalam kerangka pikir holistik. Arsid berhasil, setidaknya bila kita melihatnya dari hasil perolehan suara. Semangat universal ini yang membuat Arsid menjadi sosok perjuangan, jadi panggilan yang menggugah. Sebab bukan ”aku berontak, maka aku ada”, melainkan, seperti tulis Albert Camus dalam l’Homme Révolté, ”aku berontak, maka kita ada”. Dari sini pula solidaritas lahir dan Arsid—selamanya sebuah gerak bersama—bangkit.
Seperti kata Bung Karno: ”…cacing pun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!”.
* * * * *
BAGI saya, wacana etnisitas yang sering dikaitkan dengan Arsid merupakan sebuah pengertian yang gegabah terhadap pemahaman konsep optimalisasi peran lokal di era otonomi daerah, yang juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Saya yakin, jauh-jauh hari Arsid pasti sudah hancur sebagai birokrat bila ia tidak berhasil memahami bahwa Tangerang Selatan lahir dan kokoh karena faktor kemajemukan (pluralism) dan keanekaragaman (diversity).
Namun kenyataannya, ia mampu bertahan dan berkembang; karena tidak terjebak pada perasaan yang berorientasi pada kebesaran masa lampau yang cenderung bersifat feodal-diskriminatif. Bila kita masih ingat, dalam acara debat terbuka di Metro TV saat masa kampanye lalu, Arsid sempat menyinggung mengenai bagaimana ia nanti bakal menyoroti pola pertumbuhan sektoral yang diupayakan tidak terjadi kesenjangan, khususnya antara sektor tradable (industri manufaktur) dengan sektor nontradable (properti, telekomunikasi, dan jasa-jasa lainnya).
Saat itu ia bicara mengenai program pengembangan ekonomi daerah, yang berkaitan langsung dengan program peningkatan lapangan kerja, mengurangi angka kemiskinan, dan memperbaiki ketimpangan pendapatan penduduk. Artinya, konsep “inisiatif lokal” ini sesungguhnya telah sejalan dengan semangat UU tentang Pemerintahan Daerah yang secara tegas mencantumkan bahwa penyelenggaraan otonomi daerah diarahkan untuk: “mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Bukankah kita semua juga berharap para entrepreneur lokal di Kota Tangerang Selatan dapat memberikan peran yang signifikan terhadap produktivitas daerah sekaligus menjadi inovator dalam berbagai aspek pembangunan sosial-ekonomi, di samping menjadi pelopor demokrasi?. Bagi saya hal ini menjadi sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya penyingkiran atas entrepreneur lokal oleh kekuatan ekonomi besar yang dominan, baik dalam konteks daerah maupun negara. Inilah salah satu alasan mengapa desentralisasi perlu dilakukan, agar nilai-nilai individu dan kesejahteraan kolektif masyarakat setempat dapat lebih mudah diwujudkan.
Meski kita tahu upaya ini tidaklah mudah karena berkaitan dengan penegakan konsep good governance government secara utuh, terutama dalam hal birokrasi pemerintahan, lembaga hukum, dan pelayanan umum lainnya. Sebab itu saya—juga Anda—sepakat ketika Arsid berjanji akan melakukan reformasi birokrasi. Menurut Max Weber, birokrasi merupakan bentuk organisasi, kepemimpinan dan kewenangan yang bersumber dari kerangka yang lebih rasional ketimbang kharisma dan tradisi.
Tindakan birokrasi dilakukan untuk pemecahan masalah dan ditujukan untuk efisiensi yang dapat dihitung atau diprediksi. Maka reformasi birokrasi memang perlu dilakukan bila kita menginginkan Kota Tangerang Selatan ke depan menjadi sebuah daerah yang kuat dan berkembang, lengkap dengan birokratnya yang akuntabel, transparan, efisien, dan efektif—demi menunjang optimalisasi pelayanan publik.
Jadi, alangkah naifnya bila hanya karena kegemarannya mengenakan pakaian adat, lantas Arsid dituding sebagai sosok yang tidak plural. Tapi sudahlah, perolehan suara pilkada lalu telah membuktikan bahwa Arsid bisa diterima di seluruh elemen masyarakat. Sebuah bukti bahwa ia—semoga istilah ini tidak terlalu berlebihan—memiliki nafsul mutmainnah; jiwa yang tenang dan bersih.
Ada yang percaya, manusia membuat sejarah karena dilecut hal-hal yang mustahil: hal yang dicita-citakan sebagai alternatif bagi hidup yang tak pernah penuh. Dan, Arsid sudah di dalam sejarah itu, agar kita berhenti cemas. Ayo, Bung, kita ucapkan: La Laisa, No Way, untuk yang lain. Seperti kata Rendra dalam sajaknya:
.....
Kita menyandang tugas
kerna tugas adalah tugas
Bukannya demi sorga atau neraka
Tetapi demi kehormatan seorang manusia
.....
ARU WIJAYANTO
Tangerang Selatan, 5 Februari 2011
Source :
CATATAN UNTUK ARSID (3)
Downlad :
http://docs.com/AGHG
Catatan Untuk Arsid (2) - Aru Wijayanto
IBARAT tim sepak bola, Arsid—bersama Andre Taulany--cukup patuh dalam menerapkan strategi fenomenal catenaccio, sebuah sistem pertahanan total. Ia tak melakukan serangan-serangan yang percuma. Dalam catenaccio, yang penting bukanlah kemenangan, tapi bagaimana menjadi tak terkalahkan. Kuncinya hanya satu; “merapatkan barisan” agar pihak lawan tidak bisa masuk daerah pertahanan. Sebuah strategi yang diterapkan pelatih Italia Enzo Bearzot dalam Piala Dunia Spanyol 1982 hingga mengantarkan tim Paulo Rossi dan kawan-kawan itu menjadi juara dunia untuk ketiga kalinya.
Siapa pun tahu, sejak awal persiapan pilkada Kota Tangerang Selatan, Arsid, bersama dua pasangan lainnya, tidaklah diunggulkan. Komposisi latar belakang “lapisan pendukung” maupun hasil beraneka macam survei—yang menjadi dasar perhitungan-- memang dapat membuat pendukung Arsid jadi patah arang. Meski diam-diam kita tahu, survei, yang kadang dilengkapi “kata” tertentu, sesungguhnya telah menjadi hal biasa saat kampanye untuk menjepit, atau menjerat, posisi lawan—namun tak selamanya berhasil. Toh terbukti, perhitungan politik—seperti juga saat memprediksi hasil pertandingan sepak bola—bisa jauh panggang dari api.
Jauh-jauh hari, serangan “kata” atau “stigma” memang telah diterima Arsid, dan saya rasa tak perlu (kembali) dituliskan di sini. Pada zaman Yunani Kuno, stigma digunakan sebagai tanda yang diterakan dengan luka bakar atau tato ke kulit seorang hukuman, pelaku kriminal, budak, atau pengkhianat. Dengan cap yang melekat itu, stigma akan menandai orang yang tak diinginkan. Stigmatisasi terjadi bersama penyingkiran. Pada zaman ini, stigma hanya jadi metaphor: berbentuk bunyi, penanda yang dikumandangkan melalui bahasa. Sebagai bagian dari bahasa, ia masuk ke kepala dan hati orang ramai, membentuk persepsi dan bahkan sikap dan laku mereka.
Menurut Pierre Bourdie, dalam Language and Simbolic Power (1990), bahasa dan simbol memang tidak dapat dilepaskan dari relasi kekuasaan. Artinya, ia dapat digunakan sedemikian rupa sebagai alat untuk “mempertahankan kekuasaan” serta untuk “melakukan kekuasaan”. Simbol dapat menjadi alat ofensif sekaligus defensif. Ketika bahasa dan simbol dijadikan sebagai alat defensif pelanggengan kekuasaan, dengan memanipulasi tanda dan simbol sehingga menimbulkan distorsi makna, maka bahasa pun kemudian menjadi alat “kekuasaan simbol”.
Bahasa akan memuat semua tanda, istilah, konsep, maupun label-label yang pantas atau tak pantas terhadap subyek yang dituju. Bahasa, dengan demikian, di dalamnya akan mengandung prasangka-prasangka, dan kemudian pembedaan, yang umumnya cenderung melibatkan gagasan bahwa salah satu pihak mempunyai kedudukan yang lebih dan berhak menguasai yang lainnya. Sebab itu kata sebagai stigma dapat berkembang dalam pusaran kesadaran kita bagai racun, yang bisa begitu mudahnya melahirkan paranoia: politik sebagai ajang kebencian dan intoleransi, dengan bahasa sebagai arus yang tak henti-hentinya memelesetkan makna.
Namun seperti yang saya katakan di awal, untung saja Arsyid menerapkan strategi catenaccio: bertahan, dan terus “merapatkan barisan” agar pihak lawan tidak bisa masuk daerah pertahanan. Pada akhirnya ia berhasil; setidaknya untuk mengimbangi kekuatan yang dinilai orang (sangat) tidak seimbang. Namun bagi saya, yang menarik adalah substansi yang telah dicapai Arsid dan timnya setelah penghitungan suara, khususnya pada keputusan ketika hasil pilkada terpaksa harus dibawa ke ruang sidang Mahkamah Konstitusi.
Dengan melakukan hal itu, menurut saya, setidaknya ada dua hal yang secara substansial telah dicapai Arsid. Pertama; Norma Berdemokrasi. Dengan memilih berjuang melalui jalur MK, maka Arsid (sesungguhnya) telah menunjukkan--juga mengajarkan—mekanisme penyelesaian perbedaan pandangan yang elegan, juga patut, dalam tataran demokrasi. Saya rasa Arsid dan tim layak dihormati atas sikapnya yang sedikit pun tidak tergoda menggunakan falsafah “rawe-rawe rantas malang-malang putung”—yang seringkali dipakai secara ekstrem oleh elite politik yang tidak siap kalah dalam ajang pilkada di Indonesia.
Di situlah Arsid telah mencapai titik tersulit dalam pemahaman demokrasi; yakni berdemokrasi dengan keikhlasan. Kedua; Norma Intelektual. Substansi gugatan ke MK—terlepas dari hasil siapa yang menang dan siapa yang kalah--selain untuk mengkritisi pemerintah, juga mengingatkan kita tentang pentingnya membangun ruang-ruang demokrasi bagi tiap manusia—secara pribadi-individual atau pun kelompok—untuk “memberadakan diri” dalam menghadapi hidup yang wajar dan adil.
Artinya, apa yang dilakukan Arsid bersama tim sebenarnya telah masuk pada area, atau setidaknya menjadi tugas, kalangan intelektual. Seperti dikemukakan Naom Chomsky dalam Languange and Politics (1988), kaum intelektual seharusnya berperan sebagai benteng akal sehat yang kritis terhadap kekuasaan. Intelektual tidak boleh netral atau bebas nilai; mereka harus berpihak kepada kelompok lemah yang tidak terwakili. Intelektual, kata Chomsky, harus peka terhadap nasib mereka yang tertindas serta menempatkan diri sejajar dengan kaum yang tersisihkan.
Jangan lupa, demokrasi adalah sebuah tata kekuasaan yang terbuka untuk mengakui kekhilafannya—dan itu sering sama artinya dengan kesabaran. Arsid tampaknya cukup memahami semangat watawa shaubil haqqi; saling menasihati dalam kebenaran, juga watawa shaubis-sabr; saling menasihati dalam kesabaran.
Dan saya hanya bisa mengatakan, Saudara Arsid, banyak warga kota ini mengandalkan Anda, tapi, ingatlah sepotong sajak Rendra ini:
…..
kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
…..
ARU WIJAYANTO
Tangerang Selatan, 4 Februari 2011
Source :
CATATAN UNTUK ARSID (2)
Download :
http://docs.com/AFUK
Catatan Untuk Arsid (1) - Aru Wijayanto
BERAWAL dari sebuah tempat pemancingan yang tak ramai, konon—kata seorang teman--Arsid memantapkan langkahnya untuk maju sebagai calon wali kota Tangerang Selatan, setelah sempat ditimbang-timbang kembali. Entah kalimat apa yang mampu menepis cemas seorang Arsid hingga berubah menjadi yakin—campur nekat, tentunya—untuk tetap maju menjadi salah satu kandidat sebuah perhelatan besar yang tegang hingga ke saraf kaki itu. Pada awalnya, banyak orang--termasuk saya--menganggap Arsid hanya main-main saja. Toh, Arsid bukan tokoh partai dan bukan anggota dinasti pemimpin partai. Sebagai birokrat, ia juga tak terlampau tersohor dalam pasaran media. Mampukah ia menandingi popularitas pesaingnya?.
Situasi ini sempat mengingatkan saya akan legenda pertarungan antara Sutawijaya dengan Aryo Penangsang dalam perebutan takhta Kesultanan Demak abad ke-16. Sutawijaya, anak muda yang hanya bermodal nyali cukup itu datang menghadapi Aryo Penangsang yang jauh lebih ulung dalam perang tanding. Tapi, agaknya pendekar muda ini punya sisi hidup yang lain: ia selalu tampak diberkahi. Setelah menang melawan Aryo Penangsang tanpa perlu membunuhnya, Sutawijaya kembali sukses menyingkirkan Sultan Pajang--yang semula disembahnya—pada tahun 1584, hingga ia berhasil mendirikan Kerajaan Mataram Baru dua tahun kemudian.
Nasib memang bisa tak terduga-duga, tapi layakkah bila kita hanya mengandalkan hal “yang-tak-terduga” dalam sebuah ajang pilkada?. Kita sadar, seorang birokrat sangat akrab dengan image kekurangan dan kelemahan, seorang yang selalu bertemu dengan segala macam bentuk kerumitan. Apalagi Arsid tak mengawali perjalanannya dengan “kami” yang pasti, juga tanpa bendera partai politik besar. Namun, keyakinan dan kemampuannya memposisikan diri senasib sepenanggungan dengan arus bawah, bicara langsung dengan orang ramai itu, ternyata membuat Arsid langsung memukau dan didukung mereka.
Dari sini politik populis Arsid kian terang benderang. Arsid sadar: manusia ada dan tak bisa bebas dari kekurangan, bahkan keburukan. Nobody’s perfect. Sebab itu ia berbincang kepada masyarakat bahwa tiap keadaan, tiap keburukan, sebenarnya bisa diubah, toh, manusia sebenarnya bisa memilih apa yang baik untuk diri sendiri. Maka yang tak disangka-sangka menjadi kenyataan: di jalanan, di tanah lapang, di kawasan permukiman padat penduduk, bendera Arsid dikibarkan dengan rasa bangga. Ia langsung jadi tokoh yang diharapkan memimpin Kota Tangerang Selatan.
Perlahan tapi pasti, masyarakat mulai membuat dan memasang sendiri bendera Arsid dengan ikhlas, lembar demi lembar. Apakah arti sebuah bendera? Selembar bendera adalah soal harga untuk menandai ”kami” yang ”bukan-mereka” dan ”mereka” yang ”bukan-kami”. Bendera adalah saksi sejarah bahwa identitasku punya arti karena ada perbatasan dengan ”dia” yang di luar diriku. Dalam arti itu, ”aku”—juga yang lain--jadi sebuah totalitas yang seakan-akan utuh, meski identitas bisa menjadi genting.
Yang menarik di sini ialah bahwa Arsid—yang tak dipacak oleh konsep kampanye yang lengkap—tiba-tiba dapat menjadi dahsyat dalam sebuah proses pilkada di mana seakan-akan kegelisahan akan kebenaran dan rasa keadilan, telah menggugah tiap-tiap hati warga. Hari itu, 13 November 2010, Tangerang Selatan seolah-olah mengalami sebuah kejadian yang transformatif: ada subyek yang bangkit. Saya mencoba membayangkan: pagi hari, di sekitar lokasi pemungutan suara, semua yang hadir telah paham; mereka akan melakukan sesuatu yang luar biasa. Hari itu memang bakal ada yang bangkit dan ada yang runtuh.
Namun yang runtuh bukanlah sebuah kekuasaan politik, toh, ini kali pertama pilkada digelar. Otoritas yang ada hanya bersifat sementara. Bagi saya, yang ambruk saat itu adalah sebuah wacana: bangunan perumusan. Sebuah wacana yang dibangun dan ditopang kekuasaan, dan sebaliknya membangun serta menopang kekuasaan itu, dengan mencengkeram. Pada kertas selembar yang dimasukkan ke kotak berbahan alumunium itu, warga menyatakan kegundahannya dan menegaskan diri. Kita tahu, dalam keadaan diabaikan, dipinggirkan, orang memang tak akan hanyut dalam keheningan. Ia akan meletakkan diri sebagai subyek dan bertindak.
Karena itu Arsid dipilih dengan dukungan yang antusias dan disambut dengan perasaan ahlan wa sahlan wa marhaban; penuh suka cita dan bahagia. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, Arsid—bersama Andre Taulany--telah menjadi simbol kebangkitan Tangerang Selatan, terutama ketika dusta menguasai percakapan sehari-hari. Meski kita tahu, kebangkitan itu bukanlah suatu mukjizat: tak datang dari langit. Toh, kota ini muncul bukan dari ketiadaan total. Ada masa lalu yang tetap membayang—sebuah masa silam yang traumatik. Tangerang Selatan saat ini adalah sebuah kota yang belum lengkap, belum utuh, sebab memang begitulah ia dibentuk: dari pemotongan.
Maka Tangerang Selatan pun belum berhenti mendamba, berhasrat, agar dirinya utuh. Kota ini belum selesai, belum apa-apa, tapi tiap kali kita bisa memberinya arti: mengukir sejarah. Dan, Arsid telah ikut membuat sejarah itu; sebuah sejarah dengan demokrasi yang ternyata bisa mengembangkan diri. Sebuah proses demokrasi yang sedang menunjukkan bahwa kelompok yang tak diunggulkan—karena tidak berasal dari partai politik besar—ternyata bisa bergerak, mendesak, hingga nyaris mencapai puncak.
Arsid, terutama jika ia menang dalam pemungutan suara ulang 27 Februari mendatang, akan menjadi indikator bahwa demokrasi Tangerang Selatan telah membuat antagonisme dalam politik tak memutlakkan dasar antagonisme itu sendiri. Toh, demokrasi adalah satu proses perubahan yang bisa memberikan inspirasi bagi siapa saja, selama politik dipahami sebagai sebuah proses pencarian dan artikulasi tentang apa yang universal: suatu pergulatan antar kelompok yang mau tak mau terdorong membentuk “kita”, juga tak mengacuhkan persoalan ketidakadilan.
Saudara Arsid, Anda telah memulihkan kembali harapan warga kota ini; mengukir perubahan wacana. Kami percaya—sungguh hanya kepada Anda--bila menang nanti, Anda tak akan menyia-nyiakan amanat itu.
ARU WIJAYANTO
Tangerang Selatan, 4 Februari 2011
Source :
Download :
Berdemokrasi Tanpa Kecurangan (Lagi) - Aru Wijayanto
KITA tak akan pernah dapat kembali lagi ke keadaan sebelum tindakan dilakukan, sebab, tindakan, sekali dilaksanakan maka tidak akan pernah dapat dibalikkan lagi. Begitu kata Hannah Arendt dalam bukunya The Human Condition (1958). “Manusia bukan hanya tak selalu mampu mengetahui dan mengontrol efek dari tindakannya,” tulis Arendt, “tapi ia juga seringkali tak bisa menghentikan rangkaian tindakan yang muncul, begitu ia memulainya”.
Agaknya ini yang dilupakan sejumlah birokrat Pemerintah Kota Tangerang Selatan saat “bertindak” dalam pilkada lalu: berpihak pada salah satu kandidat. Akibatnya, Mahkamah Konstitusi memutuskan pilkada harus diulang karena terjadi kecurangan secara sistematis dan terstruktur. Maka yang tak terhindarkan, pemungutan suara ulang diawali dari suasana gerah, kemarahan yang setengah ditelan, juga hancurnya sikap saling percaya-mempercayai; bukan hanya kepada pemerintah daerah, tapi juga terhadap lembaga penyelenggara dan pengawas pemilihan yang kenyataannya (memang) tak mampu mencegah tindakan melenceng itu agar tak terjadi.
Akibat selanjutnya mudah ditebak: sebagian orang “tergiring” situasi bahwa manusia hanya patut berpolitik bila tampil dengan wajah sengit, kalap, dan marah yang tak reda-reda. Bentrok dalam pendapat menjadi bagian dari ketegangan sehari-hari yang (seakan-akan) tak pernah dapat diselesaikan dalam hidup. Permusuhan “ideologis”—seperti rasa benci yang melembaga dan memiliki organisasi--diletakkan di wilayah terbuka dengan “korban” yang ditentukan: sebuah gerak rasa dan sifat bengis yang menjadi impersonal, seolah telah tertanam kesumat berabad-abad lamanya.
Kita tak tahu lagi apa peran politik ketika orang bicara tentang manusia bukan lagi sebagai “sesama”, tapi sebagai “lawan”. Dalam situasi begini, komunikasi kritis tentu tidak laku. Toh, menurut Mikhail Bakhtin, debat terbuka yang kritis tidak dengan sendirinya mampu membuka pintu ke sebuah ruang di mana orang bisa bertemu dan bersepakat. Tak jarang, yang terjadi justru sebaliknya: makin beragamnya pendapat dan pandangan. Bagi Bakhtin, orang yang berbeda, punya pandangan dunia yang berbeda pula, dan ketika mereka sadar bahwa intuisi mereka tentang realitas berbeda, maka mereka akan semakin ketat dalam pilihan posisi mereka.
Yang menarik di situ adalah kenyataan bahwa manusia—saat berpolitik--justru sering menggunakan “kemampuannya” untuk bertindak tak menggunakan nalar. Politik diasumsikan hanya sebagai urusan perasaan optimis atau pesimis yang tak logis, termasuk ketika tak ada dasar yang kuat untuk sebuah perhitungan yang masuk akal—meski sah. Seperti saat kita nekat membuat prediksi politik—dalam jajak pendapat, misalnya—yang tak ubahnya kisah Ramayana dengan akhir bahagia: Shinta kembali mendampingi suaminya setelah Dasamuka yang jahat itu mati.
Kita lupa, manusia adalah makhluk yang bisa meleset dalam memprediksi. Kita menyamarkan ketidakpastian dari diri kita sendiri dengan berasumsi bahwa apa yang kita raih nanti, masa depan, serupa dengan masa lalu. Kita lupa bahwa manusia (sesungguhnya) sulit menjadi subyek yang seutuhnya dapat diterjemahkan oleh bahasa: ia bisa berganti-ganti maknanya, sosoknya, suaranya, juga lakunya—kapan saja ia berkehendak. Toh, tak selamanya perjalanan hidup manusia merupakan buah dari “sebab-dan-akibat”.
Barangkali, ini sama artinya dengan tiap manusia memiliki saat-saat kritis untuk memilih apa yang “benar” atau “tak benar”, memilih untuk berbuat “curang” atau “tak curang”. Pertanyaannya, dalam konteks kecurangan yang terjadi pada pilkada Tangerang Selatan, dapatkah kata “maaf” memulihkan hubungan? Dapatkah kita (kembali) percaya--katakanlah kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan--setelah apa yang telah dilakukan sebelumnya?.
Menurut Arendt, “maaf” adalah sebuah “tindakan baru” yang tidak lagi diikat oleh tindakan sebelumnya, sehingga maaf membebaskan kedua belah pihak (yang dimaafkan maupun yang memaafkan) dari konsekuensi tindakan sebelumnya. Tapi jangan lupa, “pemaafan” selalu terkait dengan “janji”. Artinya, pemaafan mungkin bisa melahirkan pengharapan, tapi tak serta-merta menyembuhkan “kerusakan” yang sudah ditimbulkan oleh perbuatan masa lalunya.
Filsuf politik ini juga mengingatkan, orang tidak mungkin memaafkan apa yang tidak bisa mereka hukum; sebaliknya, orang juga tidak bisa menghukum orang yang terlibat dalam tindakan yang ternyata tak bisa dimaafkan. Inilah yang sudah sejak zaman Immanuel Kant dikenal sebagai kedurjanaan radikal (radical evil); suatu tindak kejahatan yang pada hakikatnya tetap saja sukar untuk dimengerti, sulit dilumrahkan. Lucunya, tak ada satu pihak pun yang mengungkapkan rasa maaf, rasa sesalnya, setelah Hakim Konstitusi menyatakan pilkada Kota Tangerang Selatan bermasalah hingga harus diulang.
Tapi sudahlah, di sini kedewasaan kita sebagai warga diuji. Meski setelah dibohongi, kita masih harus (mampu) menumbuhkan rasa percaya. Sulit, tapi sungguh mati memang hanya seperti itu caranya: percaya, sekali lagi, kepada pengelola kota ini. Dengan modal itu kita bisa datang ke lokasi pemungutan suara ulang: membangun jaminan atas Tangerang Selatan dengan harapan--“yakin-tak-yakin”--bahwa besok apa yang dibangun ini tak akan dikhianati (lagi).
Saya rasa begitulah rasa percaya-mempercayai selalu diuji; benarkah begitu kuat usaha kita untuk menjaganya, ataukah rasa itu terlalu mudah menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. Toh, rasa percaya memang sesuatu yang selalu diperjuangkan terus-menerus agar tetap bertahan. Jangan lupa, Tangerang Selatan sudah berada di posisi injury time, juga nyaris kehabisan waktu dan tenaga. Hingga saya hanya bisa mengatakan alangkah memilukannya, bila kecurangan--kejahatan sistematis dan terstruktur itu--kembali dilakukan dalam pemungutan suara ulang 27 Februari mendatang, persis seperti pilkada yang lalu.
Sungguh, alangkah nistanya, bila kita bergegas menuju takhta kekuasaan—meminjam istilah Nietzsche; “will to power”—dengan menghalalkan segala cara. Saya rasa, hidup terlalu berharga bila hanya diisi dengan sikap curang, culas, dan korup. (*)
ARU WIJAYANTO
Tangerang Selatan, 1 Februari 2011
Source :
Download :
Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (3)
Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Real Count yang saya tulis di sini :
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel Yang Mestinya Disajikan Secara Terbuka Oleh Para Petarung Dan Pemantau (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493121547342
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (2) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493121547342
Sekarang masuk keurusan teknis yaitu pilihan Metode pengiriman SMS untuk Real Count
- SMS Oleh Saksi TPS
- SMS Oleh KorDes dan Data per TPS
- SMS Oleh KorDes dan Data per Kelurahan/Desa
- SMS Oleh KorCam dan Data per Kelurahan/Desa
1. SMS Oleh saksi TPS
Pada cara ini harus ada saksi di setiap TPS, begitu perhitungan selesai maka saksi TPS segera mengirimkan SMS
Keuntungan:
- Data dikirim lebih cepat, misalnya perhitungan suara di TPS dimulai jam 1 dan selesai jam 1.30, selesai perhitungan saksi TPS segera mengirim sms, maka pada jam 1.31 sudah didapatkan data suara dari beberapa TPS.
- Data dapat diketahui detail per TPS.
Kerugian
- Pekerjaan untuk melatih saksi akan memakan waktu, tenaga dan biaya yang besar karena banyaknya yang harus dilatih.
- Tidak semua saksi TPS mempunyai HP, atau bisa kirim SMS, atau bisa kirim SMS dengan format yang benar.
- Kemampuan penerimaan SMS oleh operator seluler sangat terbatas, bila pengirim terlalu banyak maka akan ada banyak SMS yang pending.
- Cara ini tidak pernah mencapai 100% karena ada banyak saksi yang tidak mengirim SMS.
2. SMS Oleh kordes dan data per TPS
Cara ini SMS hanya dikirimkan oleh kordes, kordes mengumpulkan data dari tiap TPS dan mengirim SMS untuk setiap TPS.
Keuntungan :
- Dibandingkan dengan cara 1 diatas, cara ini lebih sedikit pengirim SMS-nya yang artinya training akan lebih mudah, hemat, dan cepat. (pengirim SMS adalah kordes)
- Data dapat diketahui detail per TPS.
Kerugian
- Kemampuan penerimaan SMS oleh operator seluler sangat terbatas, bila pengirim terlalu banyak maka akan ada banyak SMS yang pending.
- Data dikirim akan lebih lambat dari cara 1 diatas, karena kordes harus menunggu data dari TPS-TPS didesanya.
3. SMS Oleh KorDes dan Data per Desa
Cara ini SMS hanya dikirimkan oleh Kordes dan data yang dikirim adalah jumlah suara seluruh TPS didesanya, jadi setiap kordes hanya mengirim 1 kali SMS.
Keuntungan :
- Dibandingkan dengan cara 1 diatas, cara ini lebih sedikit pengirim SMS-nya yang artinya training akan lebih mudah, hemat, dan cepat. (pengirim SMS adalah kordes)
- Lalu lintas SMS jadi semakin sedikit, jadi masalah SMS pending dapat dihindari.
Kerugian
- Data dikirim akan lebih lambat dari cara 1 diatas, karena kordes harus menunggu data dari TPS-TPS didesanya.
- Data tidak dapat diketahui detail per TPS
4. SMS Oleh Korcam dan data per desa
Cara ini, SMS dikirim oleh korcam (koordinator kecamatan) yang standby di posko pemenangan di tiap kecamatan, korcam hanya menunggu apabila ada kordes membawa berkas C1-KWK dari desanya untuk dikumpulkan di posko kecamatan.
Keuntungan :
- Dibandingkan dengan ketiga cara diatas, cara ini lebih sedikit pengirim SMS-nya (hanya korcam) jadi sebih mudah mengkoordinir pengirim SMS.
- Lalu lintas SMS jadi semakin sedikit, jadi masalah SMS pending dapat dihindari.
Kerugian
- Data dikirim akan lebih lambat dari ketiga cara diatas, karena korcam harus menunggu data dari desa (dan desa jg menunggu data dari TPS).
- Data tidak dapat diketahui detail per TPS
Untuk timses yang mempunyai tim saksi TPS yang sudah biasa mengirim SMS maka cara 1 boleh saja dipakai, bila tidak gunakan cara 3 untuk anda yang mempunyai kepercayaan kepada kordes, atau bila kordes dapat mengumpulkan C1-KWK pada hari itu juga di Posko Kecamatan maka disarankan menggunakan cara ke-4.
Demikian tulisan ini saya akhiri, semoga dapat dimanfaakan untuk lebih menjamin akuntabilitas hasil PSU kelak. Namun sekiranya masih ada waktu saya akan lanjutkan satu kali lagi tulisan terkait hal ini segera, bukan mengenai detail teknis namun lebih kearah Strategi Taktis pemanfaaan Real Count dengan menggunakan SDM yang ada.
Salam dari jauh
:)
Jogja, ba'da Isya
(pantang menyerah sebelum hari H, dan buktikan bahwa kalian mampu untuk itu)
27 Januari 2011
Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (3)
Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (2)
Lanjutan dari tulisan sebelumnya :
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel Yang Mestinya Disajikan Secara Terbuka Oleh Para Petarung Dan Pemantau (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493121547342
Tulisan berikut akan lebih mengarah ke sisi teknis mengenai seluk beluk Real Count yang lazimnya menggunakan media SMS utuk pengiriman data dari TPS-TPS. Ada software khusus untuk itu dimana selain data di-input melalui SMS juga dapat di-input langsung ke komputer.
Data pun dapat ditampilkan dalam bentuk grafik untuk dipublikasikan kemasyarakat, dan dicetak per kelurahan/kecamatan untuk cek dan ricek dengan data di PPK, dengan tujuan jangan ada selisih suara dengan data di KPU.
Untuk itu ada beberapa fitur penting yang harus ada dalam Software tersebut agar fungsinya dapat benar-benar maksimal.
Fitur Software :
- Manajemen Data Saksi menjadi lebih rapi, serta dapat diketahui TPS mana yang masih kosong.
- Dapat sebagai media koordinasi dengan Saksi, Ssoftware dapat mengirim SMS massal kepada Saksi pada lokasi tertentu, misal Saksi per Kelurahan, per Kecamatan dan seluruh saksi per Kabupaten/kota.
- SMS dari Saksi dapat segera dikenali karena akan ditampilkan Nama Saksi, Nomor hp, Lokasi TPS, Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten/Kota Asal Saksi Pengirim SMS.
- Bila diperlukan Software dapat di Publish ke internet, sehingga dapat diakses dari internet data terkini.
- Terdapat fitur utuk input data suara secara Manual, bila saksi mengalami masalah pengiriman SMS.
Cara Kerja :
- Saksi TPS mengirimkan data hasil perhitungan via SMS dengan format yang telah ditentukan
- Software menerima SMS dan memeriksa kode atau nomor HP pengirim dan format SMS, bila benar data secara otomatis masuk ke database
- Grafik data secara Real Time dapat ditampilkan dilayar infocus.
- Data juga ditampilkan di website dan dapat diakses internet
Identifikasi Saksi :
Identifikasi Saksi adalah dengan Cara Registrasi Data Nomor hp Saksi Pada Database Software, dengan cara ini Saksi cukup mengirim Data Suara saja, tidak perlu mengirim SMS berupa Data Kelurahan dan TPS karena sistem sudah dapat mengenali dari nomor HP-nya.
SMS Real Count juga bisa identifikasi saksi berdasarkan Kkode, jadi bila kode benar maka data akan dimasukkan pada desa/Kelurahan dan TPS sesuai dengan kode Desa/Kelurahan. Pada sistem ini tidak diperlukan input data nomor hp saksi.
Beberapa fitur pada software ini adalah :
- Terdapat fitur untuk mengetahui apakah Saksi sudah siap, yaitu dengan cara Saksi mengirim SMS dengan format KodeDesa (spasi) TPS (spasi) SIAP. Software yang menerima SMS ini akan segera memasukkan data nomor pengirim ke data dan TPS yang dimaksud, fitur ini juga bisa berguna untuk mengumpulkan data nomor hp saksi sehingga Timses bisa mengirim SMS massal kepada saksi-saksi.
- Terdapat untuk print Panduan Saksi, bahkan Panduan berbeda-beda setiap lembarnya karena berisi kode desa/kelurahan yang berbeda.
- SMS yang diterima akan dicek dulu, yaitu :
- Bila Kode Desa/Kelurahan tidak benar maka tidak akan diproses
- Bila Nomor TPS lebih besar dari data jumlah TPS di Desa/Kelurahan yang dimaksud maka software akan mengirim SMS Informasi bahwa SMS Salah
- Bila jumlah kata yang dikirim kurang dari yang ditentukan maka Software akan mengirim SMS bahwa Jumlah Kata Kurang.
Panduan Real Count Cara Kirim SMS
Pengandaian
Kecamatan : Pamulang
Kelurahan : Pd. Benda
Jml TPS : 15 (TPS 1 - 15)
Kode : XYZ
Format SMS
Kode (spasi) NoTPS (spasi) Suara1 (spasi) Suara2 (spasi) Suara3 (spasi) Suara4
Misal : no Hape Data senter 0855007005Kelurahan : Pd Benda
No TPS : 7
Suara 1 : 25
Suara 2 : 7
Suara 3 : 75
Suara 4 : 80
Menulsikan SMS-nya adalah : XYS 7 25 7 75 80
Kirim ke : 0855007005
Ini metode kirim SMS melalui sembarang nomer hape, SMS akan diterima bila kode Kelurahan (XYZ) benar. Dan tentunya nomer data center dan kode-kode yang ada harus dirahasiakan karena rawan dimanipulasi.
Untuk system yang demikian perangkatnya hanya sederhana saja diluar Sofware, yaitu :
- 2 unit laptop/PC
- 2 Unit HP SonyEricsson K550i atau yang sejenis yg kompatibel.
- 2 Kartu Perdana dan Pulsa.
- 1 Orang Relawan yang bertugas sebagai Operator Utama
- 3 Unit Laptop atau PC untuk operator
- 4 Orang Relawan untuk operator tambahan pada saat hari - H.
Apakah nampak njlimet?
Iya kalau ditulis namun pada prakteknya hanya perlu waktu satu jam latihan maka semua dapat cepat memahami dan selamatlah data suara yang kemungkinan dpat berubah diterpa semilir angin.
Berlanjut ke tulisan yang lebih Teknis lagi yaitu mengenai Metode Pengiriman Data/SMS http://www.facebook.com/note.php?note_id=493217577342
Jogja, ba'da Ashar
27 Januari 2011
Tulisan Terkait :
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493121547342
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (3) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493217577342
Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (2)
Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel Yang Mestinya Disajikan Secara Terbuka Oleh Para Petarung Dan Pemantau (1)
Saya khususkan tulisan ini untuk para operator JPTS dan Tim Arsid - Andre, untuk Tim Airin - Ben dan yang lain silahkan simak dan jadikan tulisan ini bagian dari ajakan masyarakat agar Anda semua memiliki keberanian untuk terbuka dengan hasil Pemungutan Suara Ulang Tangerang Selatan di Minggu 27 Februari 2011.
Sebagai Prolog berikut saya tuliskan singkat pengertian Quick Count dan Real Count
Quick Count :
- TIdak semua TPS dihitung, hanya sebagian aja sebagai sampel data, misal dari 2000 TPS yang diambil hanya dari 200 TPS
- Penyenggara biasanya lengkap dengan tim yang disebarkan ke semua sample TPS
- Harga sangat mahal berkisar ratusan juta sampai miliaran, karena sudah termasuk jasa honor utk SDM.
- Hasil cepat diketahui sekitar jam 2 siang, karena hanya sedikit data
- Hasil tentu tidak akurat 100% bahkan dibeberapa tempat bisa berbeda 180 derajat.
- Penyelenggara hanya melaporkan data total, tidak bisa data detail per TPS.
Real Count
- Target semua TPS dihitung, artinya data adalah 100% dari semua TPS, bukan sample
- Penyelenggara quick count hanya menyediakan software dan tim untuk jaga sistem, sedangkan tim untuk pengiriman data dikirim oleh saksi yang telah ada
- Harga jauh lebih murah karena penyelenggara tdk perlu menyiapkan dan membayar relawan di TPS-TPS
- Hasil 100% biasanya selesai malam hari, ini karena tidak semua saksi bisa kirim sms, ada yang telepon atau masalah sinyal hp di bberapa tempat
- Hasil lebih akurat karena data dari semua TPS.
- Bisa dicetak data per TPS, per kelurahan dan per kecamatan
- Cocok utk peserta pilkada atau KPU atau Help Desk Pemerintah Kabupaten/Kota atau bisa juga dari Kepolisian.
Dalam hal ini Quick Count sesuai untuk JPTS sedangkan Real Count untuk Tim Arsid - Andre, yang terpenting adalah kesiapan SDM masing-masing dari Titik Mana Data akan dikirimkan, baik secara Manual maupun via SMS.
Jumlah TPS di Pilkada Tangerang Selatan ada 1890 TPS, tersebar di 54 Kelurahan dari 7 Kecamatan, sehingga bila JPTS berkeinginan mengadakan Quick Count setidaknya harus memiliki relawan sejumlah 200 orang yang disebar, sedangkan bila Tim Arsid - Andre ingin mengadakan Real Count harus menyiapkan relawan sejumlah 1890 orang yang kredible.
Pekerjaan yang yang cukup menyita waktu, pikiran dan dana, namun bukan berarti tidak dapat dilakukan bila semangat itu masih dan makin membara untuk mengawal PSU kelak dari kemungkinan terjadinya selisih perhitungan suara.
Mengapa tim Arsid - Andre harus memilih metode Real Count?
Agar bila terjadi selisih perhiungan suara yang merugikan pihaknya hasil Real Count tersebut dapat sebagai bahan untuk melakukan gugatan ke MK, untuk itu bila akan mengunakan Real Count daftarkan secara resmi ke KPUD dan Panwaslu jauh hari sebelumnya. Dan siapkan semuanya dengan sesempurna mungkin.
Berlanjut ditulisan berikutnya tentang Software dan Identifikasi Saksi http://www.facebook.com/note.php?note_id=493181042342
:)
Jogja, ba'da dhuhur
27 Januari 2011
Notes : Tulisan ini diramu dari sumber yang cukup kredible dibidang ini dan akan saya tampillkan sourcenya bila PSU Tangsel sudah selesai.
Tulisan Terkait :
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (2) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493181042342
- Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel (3) http://www.facebook.com/note.php?note_id=493217577342
Real Count Adalah Tool Penting Di Pilkada Tangsel Yang Mestinya Disajikan Secara Terbuka Oleh Para Petarung Dan Pemantau (1)
Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (4)
Tulisan berseri ini sebenarnya hendak saya hentikan hanya sampai di tulisan ke 3 saja, namun rupanya sang Prabu Siliwangi (http://tinyurl.com/Prabu-Siliwangi) menimpakan wangsit baru yang memaksa saya tak boleh tidak harus membuat seri yang ke 4. (Tulisan-tulisan sebelumnya dapat dibaca di link-link berikut bila memang ada ketertarikan untuk mengikutinya dari awal)
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya Di Ranah Grass Root Sementara Boss Mereka Mengakui (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491523687342
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (2) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491591937342
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (3) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491721817342
Berikut tutur sang Prabu Siliwangi yang wangsitnya mampir di tulisan tentang Arsid yang kedua yang merujuk pada poin 2,3 dan 4 ditulisan tersebut, walau tidak spesifik membahas tentang Arsid namun masih ada kaitan dengan tampilnya Arsid di Bursa Calon Walikota saat itu :
2. Benarkah Partai-partai besar pernah melamarkan kadernya untuk menjadi orang nomer dua mendampingi Arsid dengan syarat Arsid harus mengeluarkan dana sekian M untuk itu? Urut kecil PKS sekian M, Golkar sekian M dan Demokrat sekian M?
3. Benarkah salah satu PNS yang masuk pooling ditulisan sebelum ini, mencoba untuk menggeser posisi Andre Taulany jelang Deklarasi Arsid - Andre setelah dia tidak memiliki kendaraan menuju Calon Walikota Tangsel?
4. Benarkah karena PNS tersebut kecewa tidak mampu menggoyahkan komitmen Arsid kepada Andre Taulany maka terjadilah penggembosan suara di wilyah yang bisa dia kuasai? Padahal sebelumnya dia berjanji akan menjaga wilayahnya dari intrik politik yang culas dan super tega? Siapakah diantara Arsid dan Oknum tersebut yang berkhianat terhadap komitmen sebelumnya dan ujungnya berkhianat terhadap masyarakat pemilih?
6. Benarkah langkah gugatan ke MK pernah dihentikan oleh orang kedua ARD dengan ditukar dengan sejumlah rupiah yang kemudian ditolak oleh Arsid karena suaranya bukanlah suara rekayasa, murni suara masyarakat yang menginginkanya menjadi Pemimpin Pertama di Negeri Tangsel ini?
8. Yang terakhir, benarkah B1 pun pernah berupaya meloby Arsid untuk tidak maju di Pilkada Tangsel dengan imbalan tertentu?
Pelengkap Poin 2
- Adanya Koalisi Tangerang Bersatu (KTB) yang terdiri dari GERINDRA, HANURA, PPP, PKPI, PBB dan PKB (mohon koreksi jika salah) bertujuan untuk mengimbangi koalisi Partai Besar yang menjadi Pengusung ARD.
- Entah mengapa KTB tersebut pecah, hanya tinggal GERINDRA, HANURA, PPP dan PBB, sedangkan PKPI dan PKB akhirnya mengusung ARD karena konon mendapat bayaran yang lebih tinggi
- Pada awalnya PAN tidak masuk daftar Partai Pengusung ARD, karena PAN ingin berkoalisi dengan KTB untuk mengusung Iskandar, Muhammad, Arsid dan Herman.
- Namun karena terjadi perbedaan pandangan dari ke empat balon terseut diatas yang susah untuk dipasangkan, akhirnya koalisi ini pecah, yang mengakibatkan PAN tidak memiliki balon yang akan diusung.
- Akhirnya PAN menawarkan diri untuk mengusung ARD entah berapa imbalannya, yang pasti hengkangnya PAN dari mendukung Arsid karena dana dikantong hanya cukup untuk 4 Partai dengan 7 kursi di DPRD.
Pelengkap Poin 3 & 4
- Rupanya yang dimaksud oknum PNS tersebut adalah Muhammad yang hubungannya tidak harmonis dengan Arsid gara-gara dia merasa lebih senior sehingga tidak mau menjadi orang kedua, padahal jelas-jelas pooling menunjukkan Arsid lebih unggul darinya.
Pelengkap Poin 6
- Memang benar waktu Arsid mau mengajukan gugatan ke MK, ada utusan AD yang bertemu dengan Arsid, agar Arsid tidak melakukan gugatan ke MK dan ARD akan mengganti semua uang yang dikeluarkan untuk pencalonannya dan 1 M untuk pribadi Arsid. Kala itu Arsid akan menerima jika semua pendukungnya juga diberi masing-masing 1 M x jumlah pendukungnya. Sementara dari versi wangsit saya, kala itu BD yang malakukan kontak lanasung dengan Arsid via telephone. Dan BD pun tertampar oleh penolakan diplomatis Arsid
Pelengkap Poin 8
- Arsid pernah di panggil ke Serang yang bisa jadi B1 yang memanggil, disana dia ditawari mobil mewah, uang mewah dana uang berapapun asal dia tidak ikut mencalonkan diri pada Pilkada Tangsel.
- Namun Arsid tidak mau mernima itu semua karena dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah mendukung dan telah memberi kepercayaan padana
Demikian rangkuman wangsit dari Prabu Siliwangi yang dapat saya torehkan, dan mari kita kembali renungkan pantaskah Arsid menjadi Pemimpin Pertama Negeri Tangsel ini atau dianggap tak layak untuk itu?
Sebuah pertanyaan yang akan kita jawab kelak di bilik pilihan.
Pamulang, dini hari
(benar-benar lelah dan payah, hingga kata-kata pun tak dapat lugas tertata)
Selasa, 25 januari 2011
Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (3)
Tulisan ini menyambung 2 (dua) tulisan sebelumnya tentang Arsid :
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya Di Ranah Grass Root Sementara Boss Mereka Mengakui (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491523687342
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (2) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491591937342
Sumber tulisan ini dari reply Kerikil Jalma Banten (http://tinyurl.com/KJB-KerikilJalmaBanten) di tulisan pertama saya tentang Arsid, yang kemudian saya re-format dan saya lengkapi berdasar wisik yang saya dapat kemudian saya tuang dalam gaya tulis yang biasa saya pakai. Trims buat KJB :)
Mari kita cermati bagaimana seorang Arsid mengambil sikap pada saat dia harus memutuskan hal penting dalam kehidupannya. (Merujuk pada poin 2 tulisan pertama) :
2. Arsid tidak berambisi menjadi Calon Walikota, karena dia tak ingin pertaruhkan karirnya yang cemerlang hanya untuk kendaraan orang-orang yang Haus Kekuasaan dan Lapar Ketenaran.
Ada 3 (tiga) hal penting yang dipakai Arsid dalam memutuskan mau tidaknya dia masuk bursa Pencalonan Walikota Tangsel. Dua yang Utama adalah Ijin Atasan dan Ijin Orang Tua (dalam hal ini adalah ibu), bila salah satu mengatakan tidak maka Arsid tidak akan pernah mau masuk bursa dan Ketiga adalah Dukungan Masyarakat, diwakili para tokoh Masyarakat Tangsel yang menginginkan Tangsel berlepas diri dari cengkeraman B1 (inilah realita yg diinginkan para tokoh-tokoh tersebut).
- Ijin dari Pimpinan dalam hal ini adalah Bupati Tangerang Ismet Iskandar sudah saya papar pada tulisan 1, dimana ada beberapa proses demokratis yang sudah dilalui Arsid. Namun tidak untuk menjadi orang nomer 2, maka dari itu saat ARD berniat menjadikan Arsid sebagai orang keduanya, BT1 tidak memberikan restu, karena kapasitas dan kemampuan Arsid yang mempuni bakal terkekang saat menjadi orang kedua. Sehingga ijin tersebut hanya berlaku bila Arsid menjadi orang pertama.
- Pada Pertemuan Pertama dengan Tokoh Masyarakat Tangsel saat melamar Arsid menjadi Calon Wali Kota, Arsid berucap kira-kira seperti ini intinya : "Sekiranya yang saya punya sekarang dibelanjakan untuk beli kopi kemudian dibagi-bagikan se Kota Tangsel karena saya nyalon Wali Kota saja tidak cukup, bagaimana mau nyalon? Ini adalah penolakan secara halus yang dilakukan oleh Arsid dihadapan para tokoh Masyarakat yang datang padanya.
- Pada Pertemuan Kedua dengan para Tokoh Masyarakat Tangsel untuk melamar ulang dan menanyakan kesiapannya, maka Para Tokoh Masyarakat menyatakan siap membantu dalam 3 (tiga) hal : Dana, Partai dan Relawan. Arsid tinggal menjawab "Iya" namun harus dengan tanggung jawab. Pada kesempatan itu pun kembali Arsid mengelak dengan ucapan : "Saya minta ijin ibu saya dulu."
- Saat Arsid meminta ijin ibunya, ibunya berkata : "Emang kamu mau jadi Wali Kota? Arsid menjawab : "Saya bagaimana Ibu, kalau nggak boleh, saya tidak bakal nyalon. Kalau boleh, itu orang-orang sudah pada nunggu jawaban saya." Sang Ibu belum memberi jawaban juga saat itu. Perwakilan Tokoh Masyarakat pun kemudian menghadap Ibu Arsid, minta diijinkan, sang ibu tetap tidak bergeming.
- Baru seminggu kemudian ibunya memperbolehkan, setelah BT1 hanya mengijinkan Arsid menjadi orang pertama bukan menjadi orang kedua yang mendampingi ARD. Rupanya sang ibu khawatir bila Arsid berendengan dengan ARD yang muda dan cantik bisa berakibat yang kurang baik dikemudian hari, sebuah kekhawatiran wajar seorang ibu kepada anaknya. :)
- Setelah mendapat ijin dari BT1 dan ibunya, maka Arsid baru menjawab : "Oke saya nyalon, tapi yang pertemuan kemarin diomongkan dan dijanjikan kepada saya harus dipenuhi."
Dari poin-poin tersebut kita dapat melihat siapa Arsid yang sesungguhnya, yaitu seorang yang Hormat pada Atasan, Hormat pada Ibu dan Hormat pada Tokoh Masyarakat Tangsel.
Selain dari itu adapula dukungan dari luar yang layak dipertimbangkan, yaitu dari seorang bernama Benyamin Davnie yang kini menjadi orang kedua ARD. Saya mendapat tambahan informasi ini dari Edo Santiago (http://tinyurl.com/Edo-Santiago) yang menuliskannya pada reply tulisan Arsid 1. (tulsan saya re-format dan kata sandang saya hilangkan)
- Benyamin Davni dan Arsid adalah dua tokoh yang bersahabat. Sebelum Benyamin dilamar ARD menjadi orang keduanya, dia meminta orang-orang dekatnya untuk membantu perjuangan Arsid.
- Menurut Benyamin, dari sekian Kandidat yang ada pada saat itu, hanya Arsid lah yang paling pas memimpin Tangerang Selatan.
- Apa yang disampaikan Benyamin bukanlah tanpa alasan, Track Record Karir Arsid di wilayah Tangerang Selatan mulai dari Sekcam sampai dengan menjadi Camat dibeberapa tempat di Tangsel ini menjadi tolok ukurnya.
- Disamping itu Arsid lahir dan dibesarkan di wilayah Tangerang Selatan, sehingga pengenalan teritorial dan keakraban terhadap budaya setempat sangat kental, sehingga kansnya untuk naik kepermukaan sangat besar
- Dan tentunya Benyamin juga sadar dengan adanya pooling yang pernah dibuat sebelum BT1 menentukan siapa yang lolos juga merupakan bukti nyata bahwa Arsid memang pantas untuk itu.
Demikian yang bisa saya tuliskan kembali tutur Kerikil Jalma Banten dan Edo Santiago di reply tulisan tentang Arsid yang pertama, yang pasti mereka berdua lebih akurat paparannya dibading saya yang hanya mampu menggali tulisan berdasar wangsit dan wisik semata.
Namun ternyata sewaktu saya akan akhiri tulisan berseri ini cukup sampai seri 3, tak dinyana ada lagi seorang berjuluk Prabu Siliwangi (http://tinyurl.com/Prabu-Siliwangi) yang sekonyong-konyong menambahkan beberapa informasi yang tak kalah menarik untuk dibukukan tentang kiprah Arsid saat dia diuji oleh keadaan, yang mungkin menguntungkan diri pribadi Arsid namun dia menolaknya. Serta intrik-intrik politik yang terjadi sebelumnya, yang juga ditambahkan lagi oleh Kerikil Jalma Banten.
Yups, saya akan tulis di seri ke 4, selekas mungkin
:)
Pamulang, jelang malam
(edan, urusan kerjaan belum kelar malah ribut nulis cerita fiksi, dasar internet addict)
Senin, 24 Januari 2011
Tulisan Terkait :
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (4) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491835172342
Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya (2)
Lanjutan dari tulisan sebelumnya :
Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya Di Ranah Grass Root Sementara Boss Mereka Mengakui (1)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=491523687342
Siapa saja yang pernah melakukan negosiasi Politik terhadap Arsid, baik karena prestasinya yang tidak perlu diragukan sama sekali atau karena basis massanya yang begitu kuat, saya akan tulis disini. Namun karena sifatnya sudah menunjuk ke pribadi-pribadi, maka tulisan ini saya sajikan berupa kalimat pertanyaan yang kemudian akan saya beri urain sedikit untuk memperjelas, agar saya tidak dianggap melakukan fitnah atas semua yang akan saya tulis :
- Benarkah ARD pernah melamar Arsid untuk menjadi orang kedua, yang kemudian ditolak karena menjadi orang kedua adalah bak boneka pajangan yang tidak bisa membuat kebijakan apapun, oleh karenanya BT1 tidak merestui Arsid menjadi orang Kedua mendampingi ARD?
- Benarkah Partai-partai besar pernah melamarkan kadernya untuk menjadi orang nomer dua mendampingi Arsid dengan syarat Arsid harus mengeluarkan dana sekian M untuk itu? Urut kecil PKS sekian M, Golkar sekian M dan Demokrat sekian M?
- Benarkah salah satu PNS yang masuk pooling ditulisan sebelum ini, mencoba untuk menggeser posisi Andre Taulany jelang Deklarasi Arsid - Andre setelah dia tidak memiliki kendaraan menuju Calon Walikota Tangsel?
- Benarkah karena PNS tersebut kecewa tidak mampu menggoyahkan komitmen Arsid kepada Andre Taulany maka terjadilah penggembosan suara di wilyah yang bisa dia kuasai? Padahal sebelumnya dia berjanji akan menjaga wilayahnya dari intrik politik yang culas dan super tega? Siapakah diantara Arsid dan Oknum tersebut yang berkhianat terhadap komitmen sebelumnya dan ujungnya berkhianat terhadap masyarakat pemilih?
- Benarkah ada petualang politik yang merasa masih laku mencoba masuk menjadi jurkam Arsid - Andre dengan ongkos sekian juta sekali tampil dengan syarat lokasi tampilnya dia yang menentukan? Benarkah politisi itu setenar, sepiawai seperti yang dia rasa? Apakah bukan hanya sekedar ingin tampil kembali dengan menunggangi popularitas pasangan Arsid - Andre?
- Benarkah langkah gugatan ke MK pernah dihentikan oleh orang kedua ARD dengan ditukar dengan sejumlah rupiah yang kemudian ditolak oleh Arsid karena suaranya bukanlah suara rekayasa, murni suara masyarakat yang menginginkanya menjadi Pemimpin Pertama di Negeri Tangsel ini?
Sementara saya cukupkan sekian saja dulu, bila ada waktu dan wangsit baru pastilah saya akan lanjutkan lagi.
Akhir kata, kalau masih saja Arsid dianggap pecundang, tolok ukurnya apa?
Kalau sekedar kalap dan kalut rasanya tak pantaslah itu diungkap keluar, mempermalukan diri sendiri dan tentunya para boss yang sedang menikmati percaturan Politik di Pilkada Tangsel
:)
Pamulang, jelang siang
(seandainya waktuku cukup, tak kulepas moment-momen penting Pilkada Tangsel yang fenomenal ini)
Senin, 24 Januari 2011
Link Terkait :
- Ironi Bila Prestasi Arsid Selalu Dipermasalahkan Lawan Politiknya Di Ranah Grass Root Sementara Boss Mereka Mengakui (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=491523687342
PSU Adalah Istilah KPUD Tangsel Untuk Pilkada Ulang Kelak Padahal Intrik Dan Carut Marutnya Kini Lebih Heboh Menghunjam
Pagi ini saya membaca tulisan Gempur Dinasti yang berjudul "Kepada Para Pelanggar Hukum di Tangsel" http://www.facebook.com/note.php?note_id=118746924862475
Disitu secara berulang ditulis Pilkada Ulang terus menerus, begitu saya ikutin, cermatin dan resapi, memang pada kenyataaannya PSU kelak adalah memang benar-benar Pilkada Ulang, bukan sekedar nugmpulin orang buat nyoblosin kertas dibilik kosong.
Coba tengok sebentar kutipan dari Gamour Dinasti tersebut :
- Pilkada Ulang telah membuang puluhan milyar uang rakyat untuk dana pilkada yang telah digelar
- Pilkada Ulang akan menyedot puluhan milyar uang rakyat lagi untuk menggelar pilkada ulang
- Pilkada Ulang menyebabkan kerja sosial sekian banyak orang penyelanggara pilkada menjadi sia sia
- Pilkada Ulang telah menampakkan para pendusta pelaku saksi palsu di persidangan mk
- Pilkada Ulang telah menandai para pencoreng nilai keadilan, kejujuran dan demokrasi di tangsel hingga pilkada di tangsel tidak bernilai
- Pilkada Ulang menuntut pedang-keadilan untuk menyeret para pelaku penyebab gagalnya pilkada ke meja hijau.
Rasanya istilah Pemungutan Suara Ulang (PSU) adalah hanya rekayasa KPUD Tangsel untuk mengerdilkan kesalahan mereka atas kegagalan mereka di Pilkada Kemarin.
Pada kenyatannya, dana tetap diglontor, masyarakat tetap harus ngusung tenda, perang urat syaraf justru lebih menggila dan sudah tak ada lagi rasa malu didada.
Pelanggaran dibalik kata sosialisasi begitu menggoda
Bagi saya men-sosialiasikan istilah PSU sama juga dengan membela bodongnya KPUD Tangsel yang gagal fatal di Pilkada kemarin.
So,... saya tetap akan memakai istilah Pilkada Ulang, bukan Pemungutan Suara Ulang di 27 Feb 2011 kelak.
Pamulang, ba'da Dhuhur
Minggu, 23 Januari 2011
Mari Berjibaku Di Jelang Pilkada Ulang 27 Feb 2011 - Karena Berapapun Bakal Dibeli Untuk Negeri Tangsel
Entah makan apa saya semalam, pagi ini jelang subuh tahu-tahu ada wangsit mampir, gledug, jatuh di depan monitor, dan tanpa basa-basi langsung si wangsit pun berkata demikian :
wahai manusia setengah kalong,... (edan, saya dianggap codot :(
ada gosip anget mau denger nggak? saya bilang enggak, sambil ngantuk-ngantuk menahan lapar!
rupanya saya jawab begitu si wangsit murka besar, dia gertak lagi, mau nggak !!!, kalau nggak mau awas lu guwe beli baru nyaho !!!
Cilaka, begitu kena gertak seperti itu, langsung saja, nyali keder, badan gemeter apalagi perut pas laper, waduh, ampun deh, ampun banget. Bayangkan, dia mau beli saya, bayangkan dibeli, iya dibeli, bukan disewa atau dikontrak.
Pasti pada heran gitu saja kok repot,... gitu saja kok dibikin tulisan, hmmm belum pada ngerti udah pada komentar, kebiasaan lama, muntah dulu, mikir ntar, tergantung bayarannya.
Yang mau dia dibeli itu kehormatan cuy, bukan harga diri. Kalau harga diri masih bisa diukur dengan angka, misal, nasi sepiring, jeruk sebakul, mobil-mobilan, motor-motoran, bunga-bungaan dll.
Tapi kalau kehormatan? mana bisa diukur?
Nah dari pada kehormatan saya dibeli sama si wangsit galak itu, akhirnya terjadilah kesepakatan tanpa basa-basi lagi, sehingga saya tetap menjadi manusia bebas, tidak terkendali dan terkendala apapun, sementara ini.
Lalu apa sih maunya si wangsit? Yah mudah saja sebenarnya, saya diminta membuat sebuah tulisan fiktif dengan draft-draft seperti yang dia sebutkan seperti berikut :
Toipknya sih jelas Pilkada Tangsel bukan Pilgub Banten lah, masih jauh tak usah dipikirin dulu, ntar ada masanya :
- Gerakan pemenangan ARD bakal dikelola secara masif oleh para Anggota Dewan Tingkat Kota atau pun Provinsi, dengan mendatangi RT dan RW.
- Para Kandidat bersepakatan kepada para RT harga untuk satu suara, setengahnya dibayar dimuka sisanya diberikan jika setelah penghitungan, plus bonus berlebih jika TPS menang.
- Para RT, RW, Tokoh, Pemuda dan Lainnya yang menyatakan siap mendukung (suka rela mau pun tidak) diminta pernyataannya secara tertulis kemudian dibaiat, disumpah dunia dan akhirat bahwa dia benar-benar akan memilih dan memperjuangkan ARD. (Yang biasa main sumpah nih pasti orang Partai)
- Penanggung jawab TPS (Tim TPS) dijanjikan gaji selama 5 tahun, sebelumnya dikontrak hanya setahun
- ARD akan berakting sebagai pihak yang terzalimi, pihak yang teraniaya, sehinga belas iba diharap jatuh keharibaan.
- Pasukan Sakti dari Banten semua turun ke Tangsel, tim suses PSU Pandeglang lepas baju gulung celana, langsung terjun buat kemenangan ARD.
- Masyarakat sengaja dimobilisasi datang ke Kelurahan untuk mendaftarkan diri masuk DPT dengan imbalan Uang per KK.
Wah kan kini masa sosialisasi, nggak boleh ada yang curang-curang bisa kena dis, mosok sih ada cerita macam itu? Saya sih nggak percaya, tapi daripada kehormatan saya dia beli, mendingan iya deh aku tulis semua yang dia mau. Toh belum tentu nanti saya sempat mengarang cerita seperti yang dia mau.
Begitulah kira-kira alur cerita fiktif tentang gerakan-gerakan jelang PSU kelak dari wangsit tadi pagi, untuk sementara ini belum saya kutrik-kutrik dulu, otak sudah bundet, mata ngantuk, pinginnya tidur padahal perut laper. :(
Kalau ada yang mau komentar silahkan, kalau ada benarnya ditelan saja, kalau banyak nggak benarnya, lha namanya fiktif kok dipercaya.
Gitu dulu ya untuk sementara saya diem dulu, menunggu nasi anget, sembari ngliyep.
Pamulang, jelang pagi
(eh mau jerang air, nggak ada kopi, lalu ngapain lagi gini hari?
Minggu, 23 Januari 2011
Benarkah Aru Wijayanto (AW) Menutup Akun FB-nya Karena Terprovokasi cahPamulang? Bukan Karena Merasa Terintimidasi? (2)
Lanjutan dari : Benarkah Aru Wijayanto (AW) Menutup Akun FB-nya Karena Terprovokasi cahPamulang? Bukan Karena Merasa Terintimidasi? (1) http://www.facebook.com/note.php?note_id=487824347342
Tulisan ini respon pak Bayu Saylendra terhadap pertanyaan saya di poin 7 tuisan diatas :
7. Cah Pamulang @BS,...
Kalau ada rekaman reply saya ke artikel AW, tolong juga pastekan kemari, atau ke notes yang akan saya buat. Saya nggak sempat bikin recordnya semalam. dan atau ada rekaman PM pak Bayu ke AW, saya juga ingin bisa dipaste kemari.
Ditunggu pak
Terima kasih pak Bayu Saylendra sudah berkenan membeberkan isi dialog tersebut kesaya (http://www.facebook.com/BAYUSAYLENDRA)
Berikut data PM antara sdr Aru Wijayanto dengan pak bayu Saylendra
1. Aru Wijayanto (Yesterday at 12:58 am )
Pak Bayu , saya mau tanya , apa maksud bapak memasang foto saya dalam postingan di wall Pak Bayu ?.. . mohon penjelasannya, atau tolong hilangkan foto saya tresebut. Terima kasih .
2. Bayu S ( Yesterday at 1 :18 am )
saya juga mau maksud tulisan Bung Aru Wijayanto yang saya hormati yang dimaksud dibawah ini.. .? dan untuk postingan saya Bung Aru gak usah khawatir akan hilang dengan sendirinya jika Bung Aru Wijayanto yang selama ini saya hormati menarik juga postingannya seperti yang dibawah ini. bagaimana ?
ADA YANG HIDUP DENGAN "PLEONOXIA " : PENYAKIT JIWA YANG DIDERA KEINGINAN (BERKUASA ) YANG TAK PERNAH
CUKUP ; LAGI , LAGI , LEBIH , DAN LEBIH.
Saya tak kenal Airin (Rachmi Diany) Maka , satu hal yang hingga ini sulit kita jawab dari keberadaan Airin adalah: andai Airin bukan menantu “ Sang Gubernur JenderalBanten ” Tubagus Chasan Sochib , apakah ia —setelah kalah dalam pilkada Kabupaten Tangerang — masihkah punya cukup “kekuatan ” (anggaran dan jaringan ) untuk berlaga dalam pilkada Kota Tangerang Selatan , yang kenyataannya juga harus diulang? Atau jangan- jangan ia sama sekali tak pernah berurusan dengan publik ( politik)? Wallahu ’alam .
3. Aru Wijayanto (Yesterday at 1 :30am )
Pak Bayu , selama ini sy menghormati Bapak dan tidak pernah menyerang bapak secara pribadi . Lagipula , bapak sudah cukup berumur , tentunya bisa lebih mengedepankan hati saat bertindak. Mengenai perbedaan pandangan tulisan saya , itu bisa diselesaikan dengan perdebatan yg sehat . Bila bapak tidak suka dengan tulisan saya, itu karena bapak mendukung Airin. Apakah Airin ikut politik sebelum menjadi adik ipar gubernur Banten ? Saya rasa tidak , tapi, bila saya keliru , tolong dikoreksi . Tapi , jangan menyerang saya secara pribadi . Toh, saya juga tidak suka artikel Indra J Piliang , tapi apa perlu saya menghakimi sosok Indra atau Pak Bayu ?. Atau saya lantas menudh Indra mendapat "pesanan " artikel? Kan, tidak. Terima kasih Pak Bayu sudah mau komunikasi dengan saya di inbox ini, semoga Bapak bisa menyadari kekeliruan tentang pemasangan foto saya . Sekadar informasi, sy tidak aktif di politik. Sy lebih banyak di soal konsumen, dan mengurus Majalah Consumers . Terima kasih .
Salam.
4. Bayu ( Yesterday at 1 :37 am )
saya tidak pandai mengutarakan pikiran , tapi menurut hemat saya sebaiknya Bung Aru dan Saya sama 2 menarik postingan masing 2 bagaimana ?
5. Aru Wijayanto (Yesterday at 1 :45am )
Pak Bayu , coba bapak renungkan sebentar . Postingan saya tidak merugikan Bapak secara pribadi , tapi, postingan Pak Bayu merugikan saya secara pribadi . Jadi, posisinya tidak seimbang untuk melakukan "barter ". Saya percaya, dalam hati kecil bapak juga tahu hal itu . Sebagai orang seni, bapak pastipaham bahwa ada hal -hal yang mesti diselesaikan dengan hati, bukan emosional semata . Makasih , Pak .
6. Bayu Saylendra ( Yesterday at 1 :53 am )
Bung Aru Wijayayanto untuk tulisan Bung Aru selama ini saya bisa menerima , tapi untuk penhinanan Bung Aru pada sahabat saya Airin membuat lukahati saya , selain sahabat, Airin juga seorang Muslim seperti saya dan Bung Aru dan saya tahu sekali siapa Airin , dia seorang yang taat dan tidak seperti yang bung Aru pikirkan dan saya wajib
membelanya walaupun leher saya taruhannya.
7. Aru Wijayanto (Yesterday at 2 :01am )
Saya juga menghormati nilai2 pertemanan , dan sy salut bila Pak Bayu masih memiliki hal itu di tengah krisis kepercayaan saat ini. Maaf , bila tulisan sy menyinggung perasaan Pak Bayu , karena sy tidak pernah bermaksud menghina siapa pun dalam tulisan itu . Itu hanyalah pandangan subyektif saya tentang sosok Airin, dan andai keliru , tolong dikoreksi . Dan saya akan menerima tiap koreksi dgn senang hati, karena sy melihat dalam koreksi, selalu ada itikad baik.
8. Bayu Saylendra ( Yesterday at 2 :17 am )
mohon maaf , kalo saya katakanbung Aru banyak keliru tentang Airin mungkin karna bung Aru terlalu terobsesi dengan
Keluarganya dan banten , pertama Airin tidak haus kekuasaan saya lebih suka menyebutnya semangat untuk mengabdi pada masyarakat dan Airin termasuk orang yang peduli , kedua untuk hal 2 yang prinsip Airin mempunyai pendirian sendiri dan tidak kendalikan oleh keluarganya.
9. Aru Wijayanto (Yesterday at 2 :29am )
Ya, bisa jadi sy keliru tentang sosok individu Airin . Makanya sy tulis,"pleonoxia " di Banten , tidak untuk Airin secara pribadi . Dan sy tidak pernah menyebut dalam tulisan itu bahwa Airin haus kekuasaan. Ketidaktahuan sy tentang Airin
mungkin disebabkan lemahnya tim Airin dlm mensosialisasikan "karakter yg sesungguhnya " hingga saya- -dan banyak orang lainnya --berpikir Airin cenderung " dikuasai" keluarga. Suka atau tidak suka, itulah yang terbentuk: dimana
orang tidak tahu karakter Airin yg sesungguhnya .
10. Bayu Saylendra ( Yesterday at 2 :51 am )
okelah bung aru , saya juga tidak mengatakan apa2 tentang bung Aru pada postingan saya , tapi kenapa bung aru keberatan.. .... ?? bung Aru kita sebaiknya gak usah berpanjang-panjang dalam hal ini , kita sama 2 tahu maksud kita
masing 2 , sebaiknya kita sudahi dengan damai dan lapang dada kita lupakan hal ini apalah arti tulisan buat bung Aru kalo itu cuma fitnah. percayalah ada hal lain yang bung aru perlu pertimbangkan, Airin itu orang muslim kalau memang ada yang kurang berkenan ingatkanlah dengan baik dan dengan hikmah Insya Allah akan jadi amal.
11. Aru Wijayanto (Yesterday at 2 :54am )
Ya, sy selalu mempertimbangkan setiap saran bila itu untuk kebaikan . Terima kasih .
Berikut ini prolog PMnya ke saya cahPamulang
12. Bayu Saylendra
Demilkian dialog saya dgn Aru Wijayanto melalui inbox, dan paginya saya tidak melihat lagi postingan Aru Wijaya bahkan acaountnya juga tidak adalagi, kemudian saya segera menarik acount saya sebagi memenuhi janji saya dengan Aru Wijaya, Demi Allah semua yang terjadi saya tulis apa adanya, dan saya mau Cah Pamulang berlaku adil, dalam hal ini saya berjuang membela kehormatan seorang muslim karena Allah.
Kemudian dilanjut dialog saya dengan pak Bayu Saylendra perihal PM termaksud
12. Cah Pamulang January 17 at 9:47am
Trims, saya akan dokumentasikan di notes saya, sebagai bagian dari data pendukung.
Salam
13. Bayu Saylendra January 17 at 9:55am Report
saya sudah memenuhi permintaan Cah Pamulang, dan saya ingin Cah Pamulang menjawab yang sejujurnya, karna Allah, dan oleh karna Cah Pamulang sudah menulis secara terbuka di wall saya ingin dijawab secara terbuka juga. silahkan...
14. Cah Pamulang January 17 at 9:58am
Pasti, silahkan ikuti Notes saya yang mungkin akan panjang. Namun saya harus menemukan dahulu artikel kedua AW tentang Menulis Andre Taulany agar saya dapat akurat memberi jawaban. Kalau pak BS ada rekamannya silahkan kirim kesaya. Trims
15. Bayu Saylendra January 17 at 10:03am Report
tidak ada tèrekam di saya....
16. Bayu Saylendra
sebagai ringkasan dari saya....
Soal Aru Wijayanto bagi saya menjadi renungan, saya tidak pernah menulis langsung tentang Aru Wijayanto, dalam hal ini saya hanya menempel gambar dan tulisan Aru sendiri damb tulisan dewan pers, tapi herannya kenapa seorang Aru kebèatan ? tapi seorang Aru seenak perutnya menyebut orang dengan haus kekuasaan dengan menyebutkan nama latin istilah penyakitnya yang menjijikan dan tidak merasa keberatan dan bersalah...
tapi jujur saja, kalo saya melihat dari kacamata spiritual, lawannya Aru Wijaya bukanlah saya, tapi adalah Allah, karna Aru sudah melecehkan kehormatan saudaranya yang Muslim.. dan konsekwensinya Aru harus berhadapan dengan Allah dan saya dalam hal ini, sampai saat ini juga tidak mengerti, seolah ada kuasa yg sangat besar telah menggerakan saya untuk melawan Aru Wijaya, dengan cara yang saya tidak pernah terpikirkan dan sangka2 , semua terjadi begitu saja dan begitu cepat dan hikmahnya buat saya sendiri, saya akan lebih hati2 dan boleh dikata saat ini saya tobat, dan walau dengan alasan apapun, saya akan berpikir sejuta kali , kalo akan men ghibah orang apa lagi kepada orang Muslim selain dosa besar , saya yakin pasti ada yang marah, yaitu TUHANNYA.
Demikian data yang saya cahPamulang dapat melalui PM pak Bayu hari ini 17 Januari 2011
Untuk sementara itu dulu yang dapat saya sampaikan, berlanjut pada sesi berikutnya
Pamulang, ba'da Dhuhur
(memaknai rangkaian tulisan, memahami siratan yang tersurat)
Senin, 17 Januari 2011
Benarkah Aru Wijayanto (AW) Menutup Akun FB-nya Karena Terprovokasi cahPamulang? Bukan Karena Merasa Terintimidasi? (2)
Jelang Pilkada Ulang (PSU) Tangsel 27 Feb 2011 Benarkah Mediapun Juga Akan Terbeli, Setelah Siapapun Akan Dibeli? Mengenaskan :(
Rasanya jelang PSU kelak ada strategi baru semua lini akan dibabat habis untuk mendulang kemenangan, termasuk Media Masa baik Cetak maupun Elektronik, suatu hal yang wajar-wajar saja, namun jadi tidak wajar bila :
- Berita Dibeli, Insan Persnya Dibekali
- Berita Tak Berimbang, Opini Editor Yang Dikembang
- Tanggapan Dimoderasi, Yang Tak Sepaham Dihabisi
- Judul Provokatif, Isinya Subyektif (biasanya ini strategi untuk mengedarkan isu cepat melalui Twiter atau Facebook karena share link-nya yang tampil adalah Judul Heboh tersebut)
Tak ada maksud saya meledek insan Media apapun bentuknya, seberapapun gede oplahnya, skala Lokal pun Nasional. Saya hanya mengharapkan Media menjadi sumber informasi pembanding terhadap isu-isu yang merebak, gosip-gosip yang berkembang.
Dulu Media adalah Sumber Informasi yang mana para Pembacanya dipaksa untuk menelan apa pun yang Mereka Tulis, bila melakukan tanggapan atau keberatan, pembaca harus menulis di Surat Pembaca yang butuh waktu untuk direspons, kalau tidak ya masuk kotak sampah. Ini yang dikatakan Menara Gadingnya Media, Untouchable, sehingga bila Media dapat dibeli, selesai sudah Opini Publik dibangun.
Namun apa lacur, kini Media sudah lebih interaktif, khususnya Media Cetak dengan versi online-nya, dimana ditiap berita tertayang dilengkapi dengan fasilitas reply langsung, sehingga interaksi dengan pembaca dapat terjalin dengan baik. Hari ini tayang, sedetik kemudian tanggapan bermunculan, good news bad news, semua dapat beredar dalam hitungan detik.
Era Menara Gading Media sudah runtuh seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi, Netter, Facebooker dan Blogger adalah Penantang Utama Media Pesanan, sembari mancing, sembari sepedahan, sembari momong bocah, sembari tiduran, 3 (tiga) kelompok tersebut mampu membalik Berita Berongkos Tinggi menjadi Barang Tak Berarti.
Dimana Mengenaskannya?
- Mengenaskan bila Media dapat terbeli, karena kemandirian hanya sebatas Jargon belaka.
- Mengenaskan bagi yang Membeli, pinginnya membangun opini mendulang simpati dapatnya sakit hati.
Kalau kini membeli Media sama juga Bunuh Diri, kenapa tak coba beli Netter Iseng, Facebooker Criwis atawa Blogger Jahil, Murah Meriah dan Bisa Tak Terkendali. :)
Atau bikin Media Sendiri, Tulis Sendiri, Bikin Reply Sendiri, Diedar dikalangan sendiri dan Kalau sempat ya dibaca sendiri serombongan, macam Majalah Dinding itu lho. Rama-ramai sendiri, sedih-sedih sendiri, marah-marah sendiri (dangdut mode on)
Oke ya, udahan dulu, sorry-sorry Jack, kalau aku menyinggung kamu (Keong Racun mode on)
Oya sebelum saya akhiri saya kutip disclaimer yang biasa dipasang pada reply posting suatu berita :
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Welcome to Cyber War bukan Cyber Crime.
Mari beradu fakta dan data dalam goresan pena dan rangkaian kata, bukan adu kepala atau kaki, kepalan atau tendangan, karena terbayar dan mampu bayar.
See you all. ..
Pamulang, jelang sholat Jum'at
(diedit lagi habis Jum'atan bila perlu)
Jum'at 14 Januari 2011
Notes :
Sekali lagi saya tidak berkehendak menyinggung para insan media sebagai pribadi, yang mungkin kini posisinya ada dalam system yang memaksanya untuk menjalankan tugas sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.
FB-cahPamulang : Jelang PSU Tangsel 27 Feb 2011 Benarkah Mediapun Juga Akan Terbeli, Setelah Siapapun Akan Dibeli? Mengenaskan :(
Surat Terbuka Buat Pihak Yang Bertarung Di Pilkada Tangsel, Baik Simpatisan Maupun Tim Sukses Sekalipun
Tulisan ini saya terbitkan, mengingat begitu seringnya saya dikontak dan dipertanyakan mengenai status saya di Pilkada Tangsel ini oleh para Pihak, utamanya dari Pihak AA melalui akun Arsid - Andre (http://www.facebook.com/arsid.andretaulany)
Berikut kutipan pertanyaannya yang terakhir yang masuk ke wall saya :
Akun fb ini resmi saya bau kahar mustain resmi izin sblum membuat akun fb ini & wajar jika ada orang masuk rumah di pandang perlu untuk silaturrahmi tp kenapa sampai detik ini abang tdk buka saya tdk mau nantinya ada klain setelah arsid terpilih jadi harus jelas
Dan berikut tanggapan saya kepada bang/bung Bau Kahar Mustain
Yth. bung/bang Bau Kahar Mustain,
Terimakasih atas sapaannya,...
Berikut yang perlu saya sampaikan kepada Anda dan Semua Simpatisan dan Tim Ses AA.
- Saya tidak akan pernah mengklaim apapun ke pihak AA baik bila menang atau kalah.
- Saya menulis yang menurut kata hati, apakah itu positif bagi para pihak atau negatif, inti sarinya silahkan disimak.
- Saya terbuka kepada siapapun untuk dikontak secara personal, hanya melalui : email dan atau PM Facebook ini
- Semua kotak-kotak personal tersebut akan saya simpan tidak untuk saya publikasikan kesiapapun, kecuali pada kondisi urgen dimana saya harus membukanya ke publik.
- Bila tulisan saya dianggap pro ke AA, mungkin pada kondisi tertentu iya, namun pada kondisi lain bisa saja sebaliknya.
Demikian tanggapan saya, semoga bung/bang Kahar dapat memakluminya, dan reply ini juga berlaku pula kepada pihak dluar AA yang pernah kontak saya secara pribadi.
Semoga Anda Sekalian berkenan
Wass.wr.wb.
Pamulang, jelang sore
Kamis, 13 Januari 2011
FB-cahPamulang Surat Terbuka Buat Pihak Yang Bertarung Di Pilkada Tangsel, Baik Simpatisan Maupun Tim Sukses Sekalipun
Airin-Benyamin Tak Mau Sosialisasi PSU, Merupakan Warning Bagi Partai Pengusung Untuk Tidak Malas Bekerja Untuknya

Bila sebelumnya saya pernah menulis "Jelang Pilkada Ulang Tangsel Para Partai Harus Bekerja Super Keras Bila Keberadaannya Ingin Tetap Diakui Rakyat" (http://tinyurl.com/Partai-Bekerja-Keras) yang intinya adalah bagaimana mereka seharusnya mengambil sikap terhadap keputusan MK yang membatalkan Pilkada kemarin. Lanjut mengusung atau meninggalkan adalah keputusan yang dilematis, antara loyal kepada janji atau menuruti akal dan nurani yang berontak, disini Partai diuji habis-habisan oleh keadaan.
Keputusan MK kemarin benar-benar membuat kondisi internal Partai goncang, Malu karena gagal mengusung, Galau karena harus tetap bertahan pada komit awal mengusung pasangan AB, sementara pula harus menjaga soliditas internal agar kadernya tidak menyeberang.
(Contoh perpecahan ditubuh Partai dapat dibaca di harian Tribun News edisi Senin, 20 Desember 2010, Empat DPC PAN Tarik Dukungan dari Airin, walau kemudian dibantah oleh Partai tersebut, http://www.tribunnews.com/2010/12/20/si-cantik-airin-tidak-lagi-didukung-empat-dpc-pan)
Berikut ada sedikit pernyataan yang menyiratkan gejolak internal Partai secara umum :
Orang Partai bilang mereka tidak ingin hanya demi kepentingan Pemilu Kada target pemilu 2014 dikorbankan. mereka tidak ingin terjadi perpecahan di internal mereka hanya gara-gara Pemilu Kada dan mereka akan Memecat Kadernya hanya karena Berbeda Pilihan dalam Pemilu kada.
Dari pernyataan tersebut pengertiannya adalah walau keputusan MK jelas tersurat pasangan yang mereka usung menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dibatalkannya Pilkada kemarin, para Partai harus tetap bertahan dengan keputusan awal untuk mengusung pasangan AB dan berjibaku hingga berdarah-darah di PSU 27 Feb 2011 kelak.
Dan kini Pihak Airin - Benyamin secara tegas akan memberdayakan Partai pengusungnya dan Tidak Mau Melakukan Sosialisasi, yang dianggapnya Rawan Kampanye Terselubung. (okezone 5 Jan 2011)
Berikut kutipannya yang saya pilah dalam 3 poin penting :
- Calon Wakil Wali Kota nomor urut empat Benyamin Davnie mengatakan, pihaknya tidak akan melakukan sosialisasi PSU yang rawan dengan Kampanye Terselubung.
- "Kami tidak akan melakukan Sosialisasi PSU. Untuk itu, kami akan lebih meningkatkan Konsolidasi internal dengan sembilan Partai Pendukung dan Jaringan Pendukung Pasangan Airin-Benyamin. Kami yakin, dalam PSU nanti, suara kami akan lebih meningkat dari sebelumnya," ujar Benyamin.
- "Kami masih percaya dengan Kerja Mesin Partai Pendukung. Toh, kemenangan kami kemarin tidak bisa lepas dari Kerja Mesin partai yang sudah Maksimal. Untuk lebih memaksimalkan kinerja mesin partai, kami akan terus melakukan rapat konsolidasi internal"
Dari ketiga Poin tersebut saya membuat catatan sebagai berikut :
Poin 1 : Sosialisasi PSU Rawan Kampanye Terselubung
- Kalau pihak AB meyakini hal itu, tentunya sudah sepatutnya mereka mendesak KPUD Tangsel untuk membuat aturan yang jelas tentang Pengertian Sosialisasi, sangat disayangkan waktu yang begitu longgar untuk sosialisasi tidak digunakan sebaik mungkin, sebuah kontradiksi antara tekad memenangkan PSU tanpa berkehendak memanfaatkan waktu sosialisasi yang bergitu longgar.
- Tentunya pernyataan tersebut bukan hanya sekedar ungkapan basa-basi, yang pada realitanya justru praktek-praktek Kampanye Terselubung tetap akan dilakukan dengan memanfaatkan celah tiadanya regulasi yang jelas. (periksa notes "Surat Terbuka ke KPUD Tangsel")
Poin 2 : Meningkatkan Konsolidasi Internal Dengan Partai dan Jaringan Pendukung
- Pernyataan penuh keyakinan bahwa kelak di PSU suara Pihak AB akan meningkat dengan Tajam adalah suatu Perintah yang harus dilaksanakan oleh Partai dan Jaringan Pendukung agar tidak mempermainkan pasangan no 4 tersebut. Dan kata-kata Meningkat dengan Tajam juga bermakna Pengakuan bahwa hasil Pilkada yang dibatalkan MK kemarin benar-benar Jeblok tak sepadan dengan Gebyar Kampanye yang konon sangat Systematis dan Taktis. Sehingga bila ada Petinggi/kader Partai yang merasa sudah cukup bekerja merupakan pembelaan diri tak bermakana apapun bagi pihak AB.
- Tekanan itu berlaku pula bagi Jaringan Pendukung atau Simpatisan pro AB yang kinerja realnya dilapangan nyaris nol, ditambah dengan tiadanya kontrol yang memadai terhadap gerakan mereka di Facebook, yang maunya mengusung AB namun isi postingannya malah mencoreng muka Airin. Airin bukanlah sosok yang tidak paham dunia maya, dia paham benar bagaimana mencitrakan diri melalaui internet, namun apa lacur, simpatisannya sama sekali tidak menunjukkan kelasnya.
Poin 3 : Masih Percaya Kepada Partai dan Berharap Banyak
- Kembali Benyamin memberi Penekanan kata Partai Sudah Bekerja Maksimal jelas-jelas merupakan bahasa Sindiran Tajam walau diucapkan dengan begitu datar. Bila 9 partai besar dengan 38 kursi melawan 4 Partai kecil dengan hanya 7 kursi di DPRD sejongkok-jongkoknya logika pasti yang besar akan memberikan kontribusi dulangan suara yang luar biasa. Bila Partai tidak segera menyadari sindiran tersebut, apa yang bisa diharap dari mereka.
- Namun bisa jadi pula sebenarnya Partai tidak serius mengusung pasangan AB, hanya untuk formalitas, dan pada perjalanannya mereka menggunting pasangan tersebut, sehingga kontrak-kontrak politik diawal saat mengusung mereka tidak perlu dipertanggung jawabkan bila pasangan AB naik jadi Walikota.
Catatan : 9 (sembilan) tersebut adalah Partai Golkar, Partai Demokrat, PDI Perjuangan, PKS, PAN, PDS, PKB, PPDI, PKPI, sedangkan Pihak Arsid–Andre diusung partai PPP, PBB, Hanura, Gerindra.
Dari semua poin tersebut dan catatan yang pernah saya buat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
- Kendali pemenangan Pihak AB kiini berada ditangan Benyamin Davnie adalah momen penting baginya untuk menunjukkan Kemampuan dan Loyalitasnya kepada ARD, karena bagaimanapun juga Benyamin Davnie adalah PNS Kab. Tangerang yang direstui tampilnya oleh Bupati Ismet Iskandar bukanlah sekedar tampil apa adanya. (periksa notes "Makelar Politik di Pilkada Tangsel)
- Leadingnya Benyamin Davnie sekarang ini merupakan kemenangan awal strategi Bupati Tangerang terhadap Banten 1, sedangkan kemenangan puncaknya adalah siapapun pemenang PSU kelak, semuanya adalah orang-orang yang mendapat restu Sang Bupati, termasuk Arsid tentunya. Sebuah pertarungan strategi yang sangat cerdas dan tidak diduga sama sekali yang ujungnya adalah sang Bupati memiliki posisi kendali yang sangat kuat pada Pilgub kelak, apalagi bila kelak sang Bupati pro ke Wahidin.
- Bila pihak ARD, segera menyadari hal ini, dan semua adalah benar adanya, tak pelak lagi mandat pemenangan tersebut bisa jadi akan dibatasi, atau ARD maju sendiri lagi seperti yang sudah dilakukan pada Pilkada sebelumnya toh sebenarnya Popularitasnya sangat besar, apalagi bila Partai-partai mau memperbaiki kinerjanya jelang PSU kelak dan mampu memanfaatkan waktu sosialisasi yang belum beraturan main yang jelas. Jadikan Benyamin Davnie hanya sebagai pendamping yang dibatasi kontribusinya dalam pemenangan tersebut, sehingga tidak banyak hutang budi yang perlu dibalas.
- Selanjutnya adalah bagaimana memperkuat diri dengan merangkul dua pasangan lain yang diatas kertas tak akan mampu berkiprah banyak di PSU kelak, yaitu pasangan Yayat-Norodom dan Rodhiyah-Yasin. Daripada suara mereka terbuang percuma, mendingan jadikan mereka mesin politik yang ampuh untuk masuk kekantong-kantong suara yang pernah mereka menangi. Yang perlu dicermati adalah pasangan Yayat-Norodom, yang nota bene adalah juga orang Kab. Tangerang yang direstui sang Bupati saat nyalon Walikota, jangan sampai, Pihak ARD melakukan blunder politik dengan merangkul mereka. Namun apa boleh buat, kalau hal itu harus dilakukan untuk membantu dongkrakan suara semua celah harus ditutup. Perihal ini juga kemenangan Strategi Politik sang Bupati, untuk sementara lupakan dulu, toh tawar menawar dengan sang Bupati masih dapat dilakukan kelak.
- Perihal Sosialiasi yang Rawan kecurangan, sudah semestinya Pasangan AB yang paham Hukum dan Birokrasi mendesak KPUD Tangsel untuk segera menerbitkan aturan main yang jelas, bukan malah membiarkannya atau bahkan memanfaatkan celah tersebut untuk kepentingannya. Disini kepakaran pasangan AB benar-benar diuji dan diamati masyarakat Tangsel, bisa jadi dulangan simpatipun akan mengalir bila hal tersebut mereka lakukan. Jangan sampai setiap gerak sosialisasi dianggap kecurangan dengan bertumpuknya laporan kecurangan ke Panwaslui, dimana laporan tersebut akan kembali memberi celah kesempatan gugat kedua bagi pihak seberang. Serahkan saja kepada para Partai untuk mengurusnya hingga tuntas, itu salah satu cara untuk memberdayakan kerja mereka.
- Perihal Jaringan Pendukung, ada dua hal pokok yang perlu dicermati yaitu, Jaringan Pendukung yang menyentuh langsung ke akar rumput dan Jaringan Pendukung yang berjibaku melalui Media. Jaringan Pendukung melalui Akar Rumput potensi terbesar adanya di Partai-partai, bila para Partai benar-benar konsekwen dan penuh loyalitas menjalankannya bukanlah hal yang sulit bagi ARD untuk mempertahankan perolehan suara, sukur-sukur menambah suara.
- Sedangkan Jaringan Pendukung melalui Media walau cakupannya tidak seluas yang pertama, namun memiliki gengsi tersendiri karena menyentuh kelas masyarakat menengah atas. Bila jalur ini mampu digerakkan dengan jitu, dan ada tim pengendali yang selalu terus memantau perkembangan arus informasi terkait program-program yang ditawarkan, bukan hal yang muskil bila simpatisan-simpatisan baru akan bermunculan. Namun ada juga sisi negatifnya, yaitu apabila tim kendali informasi tersebut tidak mampu memfilter informasi yang mengarah kepada Black Campaign, yang kemudian dibumbui dengan tanggapan-tanggapan yang melupakan etika, norma dan konsekwensi hukum, semua bakal menjadi pukulan balik yang mengenaskan bagi keberadaan ARD sendiri baik kini maupun kelak.
- Disisi Partai saya hanya berharap, kalau memang ingin memenangkan pasangan AB, bekerjalah dengan benar, lupakan kenyataan bahwa pasangan yang diusung dianggap mencederai Pilkada kemarin. Buktikan saja para Kader Partai loyal terhadap Komitmen Partai, bikin regulasi internal diantara Partai pendukung bagaimana cara terbaik memanfaatkan waktu Sosialisasi yang ada, baik langsung ke Grass Root atau melalui Media informasi yang ada. Dan tentunya tegur pula para Kader Partai yang melakukan aksi-aksi yang tak pantas utamanya di Media Virtual yang tidak mencerminkan perilaku kader Partai yang layakdihormati.
- Bagi Lembaga/Instasi terkait Pilkada Tangsel, KPUD, Panwaslu, PNS dan Pemantau Independen, walau momen Pilkada ini hanya sesaat, namun bekasnya akan tertoreh Sepanjang Masa dalam menyongsong lahirnya si Anak Emas Kota Tangerang Selatan. Jadikanlah Karya Bakti Anda menjadi bagian Sejarah yang membanggakan bukan Aib yang Berkepanjangan.
Tulisan ini sangat subyektif sifatnya, sekiranya ada yang berkenan memberikan kritik yang lebih obyektif dipersilahkan, semua demi Kota Tangerang Selatan tempat kita tinggal dan berinterkasi satu sama lain hingga kelak.
Pamulang, jelang siang
Rabu 12 Januari 2011
Posting terkait :
- AB Tak Mau Sosialisasi PSU : http://news.okezone.com/read/2011/01/05/338/410857/338/pasangan-airin-benyamin-tak-mau-sosialisasi-psu
- Surat Terbuka ke KPUD Tangsel : http://www.facebook.com/note.php?note_id=484533397342
- Partai Harus Kerja Keras Untuk Rakyat :http://www.facebook.com/note.php?note_id=476539602342
- Tim Ses Mati Suri : http://www.facebook.com/note.php?note_id=476226077342
- Empat DPC PAN Tarik Dukungan dari Airin :http://www.tribunnews.com/2010/12/20/si-cantik-airin-tidak-lagi-didukung-empat-dpc-pan)
- Yayat-Norodom, Rhdiyah-Yasin Hendak Kemana : http://www.facebook.com/note.php?note_id=472492302342
- Kekalahan Airin Permalukan Partai Pendukung :http://www.facebook.com/note.php?note_id=455174012342
- Kandidat Independen Pemenang Pilkada Tangsel :http://www.facebook.com/note.php?note_id=457712772342
- Makelar Politik di Pilkada Tangsel 1,2,3 :http://www.facebook.com/note.php?note_id=463571312342
- Menanti Izin Bupati, Arsyid Maju Pilkada Tangsel : http://infokom-tangsel.com/berita-122-menanti-izin-bupati-arsyid-maju-pilkada-tangsel.html

FB-cahPamulang : Airin-Benyamin Tak Mau Sosialisasi PSU, Merupakan Warning Bagi Partai Pengusung Untuk Tidak Malas Bekerja Untuknya