Operator Seluler Ngawur & Bodohi Konsumen

INILAH.COM, Jakarta – Iklan operator kembali dipermasalahkan, karena dinilai membodohi masyarakat. Regulator juga menilai, operator secara keseluruhan sudah bertindak awur-awuran.

IDTUG (Indonesia Telecommunications Users Group) mempermasalahkan iklan operator yang berlawanan dengan keterangan di situs resminya. IDTUG menyoroti tawaran bicara sepuas-puasnya dengan tarif Rp 0,01, namun di situsnya operator menyebut akan memutus sambungan di 30 menit ke atas dengan alasan untuk melindungan jaringan.

Sekjen IDTUG Muhamad Jumadi mengatakan kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan operator dalam mempertahankan kualitas jaringannya patut dipertanyakan. Padahal kualitas jaringan merupakan salah satu faktor penting yang mendukung kenyamanan komunikasi pelanggan.

“Jika mereka sendiri tidak siap dengan jaringan, kenapa membodohi masyarakat dengan paket yang mereka sendiri merasa bahwa ada kemungkinan untuk gagal?” katanya di Jakarta, kemarin.

Head of Corporate Communication XL Febrianti Nadira mengatakan aneh jika pihaknya disebut tidak memberi informasi yang jelas pada konsumen. Karena pada iklan XL, sudah dipasang informasi bahwa akan ada keterangan tambahan yang bisa dicek di situsnya.

“Dengan durasi yang tidak terlalu banyak, bagaimana bisa kami memberitahukan ke masyarakat semuanya. Kami sangat jelas mencantumkan untuk menginformasikan situs kami kok,” kata Ira, panggilan akrab Febrianti Nadira.

Ia menambahkan saat launching, XL juga menginformasikan masih ada kemungkinan terjadi perubahan, karena harus menjaga jaringan. “Ini hanyalah bahasa komunikasi saja. Kami tidak bisa secara serta merta, jika ada sedikit perubahan langsung buat iklan. Makanya kami mencantumkan di situs,” ulasnya.

Anggota BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) Nonot Harsono tidak mempermasalahkan, jika operator menginformasikan penawaran hanya lewat situsnya. Karena internet juga merupakan media untuk menyampaikan informasi.

“Saya rasa tindakan XL sudah benar dengan menginformasikan ke masyarakat melalui situs mereka. Ini juga media kan? Tidak ada bedanya dengan media lain, lagipula XL akan memutus jaringan jika ada gangguan. Berarti kalau tidak ada masalah mereka tidak akan melakukan pemutusan,” katanya.

Nonot justru membalik, tugas IDTUG dan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) untuk mengawasi tarif yang diberlakukan operator. Menurutnya tidak mungkin operator mengumumkan perubahan secara keseluruhan di semua media. Hal itu karena biaya iklan pasti akan jadi pertimbangan operator.

“Kalau biaya marketing naik, lalu biaya keseluruhan ikut naik, ini kan jadi tambah mahal. Yang dirugikan tentu saja masyarakat. Jadi daripada saling menyudutkan, kita optimalkan saja peran masing masing,” katanya.

Namun Nonot mengatakan secara keseluruhan operator sudah bertindak awur-awuran. Hal itu dampak dari sistem liberal. “Pada akhirnya akan ada hukum alam. Nanti mereka akan melakukan konsolidasi jika dirasa satu sama lain lebih menguntungkan untuk bergabung,” katanya.

Febrianti Nadira mengatakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas. Oleh karena itu konsumen tidak akan serta merta memilih sesuatu berdasarkan iklan saja, tapi juga pertimbangan hal lain.

Ia menambahkan pelanggannya XL sangat besar dan pada akhir tahun sudah mencapai 31,4 juta. Ira mempertanyakan, mana mungkin XL membohongi konsumen jika masyarakat Indonesia yang sudah sangat cerdas mau bertahan menggunakan layanannya.

“Saya ingin menekankan bahwa pelanggan tidak bisa dibohongi. Pengguna operator pun sifatnya tidak mengikat, sehingga mereka berhak untuk pindah jika merasa dibohongi. Makanya, aneh kan jika pelanggan kami sebanyak ini tapi kami dianggap tidak transparan dan sebagainya,” ujarnya.

Namun Muhammad Jumadi berkeras mempermasalahkan syarat dan ketentuan yang hanya dicantumkan di website. Ia menilai masyarakat Indonesia yang menggunakan ponsel bukan hanya orang kota saja.

“Masyarakat sudah cerdas bagaimana? Semua lapisan masyarakat menggunakan ponsel dan apa seimbang dengan penggunaan internet sendiri? Akses internet sekarang belum terlalu banyak. Tidak semua daerah menggunakan internet. Sekalipun ada, coba berapa banyak masyarakat yang membuka situs untuk mengecek ulang? Tidak banyak kan?,” katanya.

Ia menambahkan tidak bisa dengan gampang mengeluarkan informasi di satu media kemudian menginformasikan di media lain. Padahal jangkauan satu dengan yang lain berbeda. “Nggak cuma itu, mereka mempromosikan yang bagus-bagus di banyak media, sedangkan yang jelasnya itu di internet. Aneh kan?,” tanyanya. [mdr]

Artikel Terkait :



Tidak ada komentar:

Arsipnya