Tampilkan postingan dengan label ryan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ryan. Tampilkan semua postingan

Ryan Permalukan Polisi

> Dua Kali Kibuli Polisi, > Kapolri: Tindak Tegas

Surabaya, Warta Kota
KEPOLISIAN Jombang, Jawa Timur, terbukti salah menangkap orang. Pendapat bahwa mayat yang ditemukan di kebun tebu Dusun Berakan, Jombang, pada Oktober 2007 adalah Asrori alias Aldo ternyata salah besar.

Pendapat Kapolres Jombang AKBP M Khosim bahwa mayat di kebun itu adalah Asrori alias Aldo dipatahkan hasil uji DNA (deoxyribonucleic acid) oleh Pusdokkes Polri. Sampel darah Jalal dan Dewi Muntari, orangtua Asrori, yang digunakan sebagai pembanding pada tes DNA itu identik dengan DNA Mr X.
”Hari ini kami telah menerima hasil pemeriksaan DNA dengan pembanding sampel darah keluarga Asrori, yakni Jalal dan Dewi Muntari. Sampel darah itu identik dengan Mr X. Dengan demikian, Mr X itu adalah Asrori. Hasil ini sekaligus menjawab pertanyaan, siapa sebenarnya Mr X itu,” urai Kasat Pidana Umum Polda Jatim, AKBP Susanto, Rabu (27/8).

Hasil tes DNA itu otomatis menjadikan mayat di kebun tebu itu sebagai Mr X. Selama ini, mayat di kebun tebu itu dianggap sebagai Asrori alias Aldo. Polisi bahkan telah menangkap tiga warga Jombang yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan di kebun tebu itu. Kini, dua di antaranya telah dijatuhi hukuman penjara. Dengan demikian, polisi telah salah tangkap.
”Atas petunjuk Bapak Kapolda, akan diambil beberapa langkah. Pertama, kami akan buat tim peneliti terhadap kasus yang ditangani Polres Jombang ini. Kedua, kami akan menggali jenazah yang telah dikebumikan yang selama ini diidentifikasi sebagai Asrori. Kasus ini akan diambil alih polda,” kata Susanto.
Kapolri Jenderal Sutanto meminta keluarga korban salah tangkap melapor ke polisi. Dia berjanji akan menindak tegas aparatnya yang bertanggung jawab atas salah tangkap tersebut.
”Jika ada masyarakat yang dirugikan oleh tindakan polisi, silakan melapor, kami akan tindak lanjuti laporan tersebut,” ujar Sutanto usai serah terima jabatan enam kapolda di Mabes Polri, Rabu (27/8) pagi.
Saat ditanya tentang dugaan penyiksaan terhadap tiga warga Jombang yang dituduh sebagai pembunuh Aldo, Sutanto mengatakan, untuk mendapatkan pengakuan dari tersangka, polisi tidak dibenarkan melakukan penyiksaan. ”Penyiksaan tidak dibenarkan, itu tidak boleh. Kita akan menindak tegas anggota yang melakukan itu,” katanya.
Hal senada dikatakan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira. Menurut Abubakar, penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan dari orang yang diduga sebagai pelaku kejahatan tidak diizinkan lagi. ”Berdasarkan KUHAP, bukti pengakuan itu nilainya paling kecil. Untuk membuktikan tindak pidana seseorang, penyidik harus memiliki alat bukti, petunjuk, saksi ahli, dan visum,” ujarnya.

Dua kali
Salah tangkap yang dilakukan penyidik Polres Jombang telah membuat Maman Sugianto alias Sugik, Imam Hambali alias Kemat, serta Devid Eko Priyanto sebagai tersangka kasus pembunuhan di kebun tebu. Bahkan, kini, Kemar dan Devid telah menjalani hukuman 17 dan 12 tahun penjara.
Menurut Susanto, ketiga orang tersebut dituduh sebagai pembunuh Aldo karena penyidik Polres Jombang menemukan sepeda motor Yamaha Jupiter milik Aldo dipakai salah satu dari tiga orang tersebut. Keluarga Aldo kemudian dihubungi dan diminta mengenali mayat yang kondisinya telah rusak tersebut.
”Proses identifikasinya hanya berdasarkan ciri fisik korban semasa hidup. Sidik jarinya tidak bisa diambil karena kondisi mayat sudah membusuk,” ujar Susanto.
Proses identifikasi seperti itu memiliki tingkat akurasi yang rendah. Mengapa saat itu tidak dilakukan uji forensik lain, misalnya dengan tes DNA? ”Ini yang sedang kita dalami, kenapa saat itu tidak dilakukan uji DNA. Apakah karena sudah ada keyakinan pihak keluarga bahwa ini mayat Asrori? Nanti akan ada tim khusus yang menangani itu,” kata Susanto.
Tim tersebut juga yang akan membongkar kuburan mayat korban pembunuhan di kebun tebu untuk mencari tahu siapa sejatinya dia. ”Secepatnya (pembongkaran makam) dilakukan untuk memberi gambaran yang jelas apakah ini termasuk kesalahan proses penyidikan,” kata Susanto.
Saat menyelidiki kasus mayat di kebun tebu itu, penyidik Polres Jombang meminta keterangan Ryan, rekan Asrori. Tapi interogasi itu tak dimasukkan dalam BAP (berita acara pemeriksaan). ”Soal ada hubungan apa antara Asrori dan Ryan sehingga saat itu dia (Ryan) dipanggil, kami sedang mempelajarinya,” kata Susanto.
Fakta ini menguatkan anggapan Ryan lihai bersandiwara di depan polisi. Pada kasus laporan orang hilang yang disampaikan keluarga Ariel Sitanggang, warga Depok, ke Polda Metro Jaya, polisi juga meminta keterangan Ryan. Polisi memanggil Ryan karena mendapat informasi bahwa dia adalah kawan Ariel. Namun, saat itu, polisi tak menemukan petunjuk bahwa Ryan bertanggung jawab atas hilangnya Ariel. Belakangan, dari 10 jenazah yang ditemukan di halaman rumah Ryan, salah satunya diketahui sebagai Ariel yang hilang sejak sekitar Maret lalu. (wid/Surya)

Image

Anak Saya Bukan Pembunuh

Jombang, Warta Kota
Pengakuan Ryan bahwa dirinya pembunuh tunggal Asrori, tidak mengagetkan Khamin (75), ayahanda terpidana Imam Hambali alias Kemat (26).
Ditemui di kediamannya, Khamin mengaku tak pernah percaya Kemat membunuh Asrori. Menurut Khamin, Kemat tidak mungkin melakukan pembunuhan, karena Kemat bukan orang yang punya sifat tega melakukan kekerasan.
”Terhadap hewan saja, dia itu tidak tega melakukan pemukulan, apalagi terhadap manusia, membunuh lagi. Lebih-lebih lagi Asrori itu tetangganya sendiri,” kata Khamin.
Kemat, kata Khamin, juga sangat penakut. ”Kalau keluar rumah, misalnya ke tetangga, pada malam hari, selewat pukul 10 malam saja dia pasti akan minta diantar. Orang penakutnya seperti itu kok dituduh membunuh, jelas kami tidak percaya,” ujar Khamin.
Selain karena sifat-sifat Kemat yang penakut dan dinilai tidak mampu melakukan kekerasan terhadap sesama, Khamin juga yakin Kemat tidak membunuh karena setiap keluarga membesuknya di LP Jombang, Kemat selalu menangis, dan bercerita dirinya tidak membunuh siapa pun.
”Dia mengaku kepada kami, saat di kepolisian tubuhnya dipukuli polisi sehingga terpaksa mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Kasihan sekali dia,” kata Khamin. Dia dan keluarganya tak habis pikir, bagaimana Kemat yang berperasaan dan berperilaku halus bisa dituduh melakukan pembunuhan.
”Kalau mengingat kejadian dia ditangkap, saya dan istri saya ini pasti menangis karena sedih. Saat itu, sedang enak-enak santai habis makan sahur, menunggu datangnya imsak, tiba-tiba rumah kami didatangi beberapa polisi. Mereka menggelandang anak saya pergi,” tutur Khamin, dengan suara tersendat. Kemat memang ditangkap polisi Oktober 2007, bertepatan bulan Ramadan.
Dengan pengakuan Ryan ini, Khamin meminta hukum bisa segera diluruskan dan anaknya segera keluar dari penjara. ”Anak saya tidak salah kok dihukum sampai belasan tahun. Ini tidak adil,” kata laki-laki tua sederhana itu. (Surya)

Sengkon-Karta ala Ryan

Jika Mr X adalah Aldo, Terungkap dari Tes DNA

Kota, Warta Kota
Warta Kota Hari Ini PENGAKUAN tersangka mutilasi dan pembunuhan berantai Very Idham Henyaksyah alias Ryan bahwa jenazah Mr X yang ditemukan di halaman rumahnya adalah Asrori alias Aldo (21) mendekati kebenaran. Akankah kasus Sengkon-Karta tahun 1974 terulang di Jombang, Jawa Timur?

Polisi mulai memertimbangkan pengakuan Ryan bahwa Aldo adalah salah satu korbannya setelah hasil tes DNA dua keluarga yang mengaku sebagai kerabat Mr X keluar, beberapa hari lalu. Hasil tersebut, DNA pembanding dan DNA korban tidak identik. Dengan demikian, Mr X bukanlah kerabat dari dua keluarga tersebut.

Keterangan tentang hasil tes DNA itu disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira, Selasa (26/8). Menurut Abubakar, dengan selesainya tes DNA tersebut, kini polisi menindaklanjuti pengakuan Ryan. Penyidik mengambil sampel darah keluarga Asrori alias Aldo dan memeriksa pihak-pihak terkait.

”Hasil tes DNA dua orang yang kita duga sebagai keluarga Mister X sudah keluar dan ternyata hasilnya negatif. Sekarang kita menindaklanjuti pengakuan Ryan dengan mengambil sampel darah keluarga Asrori,” ungkap Abubakar, Selasa (26/8).

Mr X adalah istilah yang biasa digunakan polisi untuk menyebut mayat yang tidak diketahui identitasnya. Seperti diberitakan, dari 10 jenazah korban Ryan yang ditemukan di halaman belakang rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur, hingga kemarin tinggal satu jenazah yang belum teridentifikasi.

Ada empat keluarga yang menduga Mr X itu adalah kerabatnya. Salah satunya adalah keluarga Afandi. Polisi dan para pakar forensik melakukan serangkaian metode, termasuk tes DNA, untuk memastikan identitas Mr X itu. Ketika hasil tes DNA tersebut negatif, maka gugurlah dugaan keempat keluarga tersebut. Dengan demikian, pengakuan Ryan bahwa Mr X itu adalah Aldo mendekati kebenaran.

Di sisi lain, pada September 2007 polisi menyatakan mayat pemuda yang ditemukan di sebuah kebun tebu di Jombang adalah Aldo, warga Desa Kalangsemanding, Jombang. Polisi yang menyelidiki kasus itu menangkap tiga warga Jombang yang dituduh sebagai pembunuh Aldo.
Sengkon-Karta

Saat ini, dua dari tiga pria itu, Imam Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), sudah dijatuhi hukuman penjara 17 dan 12 tahun. Mereka dijatuhi hukuman di Pengadilan Negeri (PN) Jombang pada Mei 2008. Seorang tersangka lainnya, Maman Sugianto alias Sugik, saat ini tengah menunggu persidangan. Jika pengakuan Ryan bahwa Mr X itu adalah Aldo, berarti Imam Hambali dan dua kawannya bernasib seperti Sengkon-Karta.

Sengkon-Karta adalah legenda tentang buruknya penegakan hukum di Tanah Air. Sengkon-Karta adalah dua petani dari Cakungpayangan, Bekasi, yang jadi korban skenario palsu pada pengungkapan kasus pembunuhan suami-istri warga Cakungpayangan, tahun 1974.

Karena kesulitan mengungkap kasus pembunuhan itu, penyidik kemudian membuat skenario palsu dan memaksa Sengkon dan Karta untuk mengaku sebagai pelakunya. Karena tidak tahan disiksa, Sengkon dan Karta mengaku sebagai pelaku pembunuhan yang tak pernah dilakukannya.

Di Pengadilan Negeri Bekasi, tiga tahun setelah pembunuhan itu terjadi, Sengkon dan Karta menyangkal tuduhan jaksa. Tapi, hakim Djurnetty Soetrisno lebih percaya berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibuat polisi ketimbang mendengarkan bantahan kedua terdakwa.

Oktober 1977, Sengkon divonis 12 tahun penjara dan Karta divonis 7 tahun. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi Jawa Barat dan berkekuatan hukum tetap karena Sengkon dan Karta tidak kasasi. Sengkon dan Karta kemudian jadi narapidana di LP Cipinang, Jakarta Timur.

Di penjara, Sengkon terserang TBC. Tapi di tempat itu pula kegelapan mulai tersingkap. Seorang penghuni LP yang masih kerabat Sengkon, Gunel, mengaku sebagai pelaku perampokan dan pembunuhan yang sebelumnya dituduhkan kepada Sengkon-Karta. Sengkon dan Karta melaporkan pengakuan itu. Gunel kemudian diadili untuk kasus pembunuhan dan perampokan dan dihukum 10 tahun penjara.

Kasus salah tangkap juga terjadi pada pengungkapan kasus pembunuhan Ali Hartawinata, pemilik toko bahan bangunan Trubus di Jatiwarna, Pondokgede, Bekasi, tahun 2002. Polisi menuduh Budi Harjono, putra Ali, sebagai pelaku pembunuhan itu dengan motif kesal kepada sang ayah.

Budi dipaksa dan diintimidasi untuk mengaku bahwa dirinya adalah pelaku pembunuhan itu. Budi tak berdaya untuk melawan sehingga dia kemudian dipenjara. Di persidangan, Budi dapat membuktikan bahwa dirinya bukanlan pelaku pembunuhan Ali. Empat tahun berselang, polisi menangkap pelaku pembunuhan Ali.
Diulang

Terkait kemungkinan bahwa Mr X dalam daftar korban Ryan adalah Aldo, polisi mempersiapkan tes baru untuk membandingkan DNA Mr X dengan DNA keluarga Aldo. ”Sekarang kami akan membuktikan pengakuan Ryan dengan tes DNA terhadap keluarga Asrori. Kalau DNA keluarga Asrori sama dengan DNA Mister X, berarti pengakuan Ryan bahwa mayat itu adalah Asrori benar,” ungkap Abubakar.

Abubakar menambahkan, apabila terbukti Mr X itu adalah Aldo, maka penyidikan atas kasus mayat korban pembunuhan yang dibuang di kebun tebu di Jombang pada September 2007 akan diulang. ”Tapi, bagaimana persisnya langkah selanjutnya, akan diumumkan hari Kamis atau Jumat lusa sambil menunggu hasil tes DNA keluarga Asrori alias Aldo,” jelasnya.

Seperti diberitakan, kepada seorang kerabatnya, Ryan mengaku bahwa jenazah Mr X yang ditemukan di halaman belakang rumahnya adalah jenazah Asrori alias Aldo. Kata Ryan, Aldo dibunuh setelah ada kabar bahwa Aldo tewas dibunuh dan mayatnya ditemukan di kebun tebu. Ryan juga mengaku, motif membunuh Aldo adalah jengkel lantaran Aldo terus-menerus mengajaknya berkencan. Pengakuan Ryan ini sempat dinilai mengada-ada oleh penyidik.

Terkait hasil tes DNA terakhir, kemarin, penyidik Polda Jatim dan Polres Jombang merencanakan membongkar makam korban pembunuhan di kebun tebu yang selama ini diyakini sebagai Asrori alias Aldo. (Persda/tat)

Korban Ryan Disidik Ulang

Polisi Salah Tangkap? Ada Tujuh Kejanggalan

Surabaya, Warta Kota
Wartakota Hari IniMAYAT Mr X yang ditemukan di belakang rumah orangtua Ryan mengarah pada Asrori alias Aldo. Pendapat polisi bahwa mayat itu kemungkinan adalah Affandi mengandung sejumlah kejanggalan.

Dugaan kuat bahwa mayat yang ditemukan di kebun tebu di Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Jatim, September 2007, bukanlah Asrori. Namun, polisi menyatakan mayat tersebut adalah Asrori dan menangkap tiga pria yang dituduh sebagai pembunuhnya. Dua dari tiga pria tersebut telah dijatuhi hukuman di Pengadilan Negeri (PN) Jombang.


Para terpidana itu adalah Imam Hambali alias Kemat (26) yang divonis 17 tahun dan Devid Eko Priyanto (17) yang dihukum 12 tahun pada Mei 2008. Seorang lagi, Maman Sugianto alias Sugik, masih menjalani proses persidangan.
Seperti diberitakan, pada penggalian pekarangan rumah orangtua Ryan di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, pada 21 Juli dan 28 Juli lalu ditemukan 10 mayat korban Ryan. Sebanyak sembilan mayat telah dikenali dan diserahkan kepada keluarganya.

Namun, hingga Jumat (22/8) masih ada satu mayat yang belum dikenali dan disebut Mr X.
Di awal pengakuannya kepada polisi, Ryan menyatakan lupa nama korban tersebut. Dia hanya memberi tahu bahwa korban itu dibunuhnya sekitar Desember 2006.
Namun, kepada seorang kerabat yang menjenguknya di ruang tahanan Polda Metro Jaya 17 Agustus lalu, Ryan memberi pengakuan terbaru. Dia mengatakan bahwa Mr X itu adalah Asrori yang ia bunuh sekitar Oktober 2007.

Untuk mengecek pengakuan Ryan tersebut, sejak 18 hingga 22 Agustus, Warta Kota dan Surya melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang terkait dengan Mr X dan Asrori. Hasil penelusuran itu mengarah pada dugaan bahwa Mr X itu adalah Asrori—sebagaimana pengakuan Ryan.
Kejanggalan

Korban Ryan Disidik UlangSetelah Warta Kota dan Surya melakukan penelusuran dan mewawancarai pihak-pihak terkait, ditemukan kejanggalan pada penegasan pihak kepolisian itu. Kejanggalan pertama, identifikasi bahwa mayat di kebun tebu adalah Asrori dilakukan lewat ciri-ciri fisik. Padahal, mayat tersebut sudah rusak sehingga tak mudah dikenali.

Kejanggalan kedua, ada keterangan bahwa baju yang menempel pada mayat di kebun tebu itu bukanlah baju Asrori. Ketiga, polisi berpegang bahwa mayat Mr X di rumah Ryan dibunuh pada Desember 2006—sesuai pengakuan awal Ryan. Padahal, pengakuan terbaru Ryan, mayat Mr X itu dibunuhnya sekitar Oktober 2007, setelah ramai-ramai berita tentang mayat Asrori di kebun tebu itu.
Kepada kerabatnya, Ryan mengatakan, ”Karena sudah diberitakan Asrori dibunuh di kebun tebu, ya sudah, kubunuh sekalian saja Asrori.” Saat itu, kata Ryan, dia memang jengkel kepada Asrori yang mengajaknya kencan. Di kalangan waria atau gay di Jombang, Asrori punya panggilan Aldo.
Kejanggalan keempat, dalam kuburan Mr X ditemukan banyak gelang karet serta kalung. Menurut polisi, seorang pemuda bernama M Affandi (asal Jombang) yang dilaporkan hilang oleh keluarganya, memiliki ciri-ciri mendekati Mr X, terutama dalam hal pemakaian karet gelang dan kalung. Namun, kepada Surya, keluarga Affandi mengatakan Affandi hanya memakai satu karet gelang dan tidak pernah memakai kalung.

Kelima, kalau polisi masih berpegang pada pengakuan awal Ryan bahwa Mr X dibunuh Desember 2006, dan Mr X itu mendekati ciri-ciri Affandi, maka pengakuan kakak Affandi meruntuhkannya. Sebab, pada Oktober 2007, Syaikhudin (34), kakak kandung Affandi, bertemu adiknya itu di Bali.
”Firasat saya, Mr X itu bukan Affandi,” kata Lukman Khakim (42), juga kakak kandung Affandi, Jumat (22/8). Lukman sudah dites DNA terkait Mr X.

Kejanggalan keenam, karena mayat di kebun tebu diyakini aparat penegak hukum sebagai Asrori, maka menjadi tanda tanya kenapa keluarga Asrori dipanggil ke Polda Jatim pada awal Agustus lalu. Agung (kakak Asrori) mengaku, dirinya ditanya tentang ciri-ciri Asrori. Jika identitas Asrori sudah dipastikan, kenapa ciri-ciri Asrori ditanyakan lagi kepada keluarganya?

Kejanggalan ketujuh, dari empat DNA pembanding yang diambil dari empat anggota keluarga yang melaporkan kemungkinan Mr X adalah saudara mereka, belum ada satu pun yang identik dengan Mr X setelah diteliti di Puslabfor Polri.

Tes DNA

Kadiv Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira berencana melakukan tes DNA terhadap orangtua Asrori alias Aldo. Tes ini akan dilakukan jika tes DNA yang dilakukan terhadap keluarga yang mengaku sebagai kerabat Mr X tidak menunjukkan kecocokan. ”Kalau memang tes DNA tidak cocok, berarti (Mr X) bukan keluarga mereka. Kalau begitu kita akan lanjutkan untuk mengetes DNA orang tua Aldo terhadap jenazah (Mr X) tersebut,” kata Abubakar.

Pernyataan untuk penyidikan ulang disampaikan Kasat Pidum Ditreskrim Polda Jatim, AKBP Susanto. ”Lebih baik kita menghukum seribu orang yang memang bersalah, daripada memenjarakan satu orang yang tidak bersalah. Bagi saya, tidak masalah kasus pembunuhan Asrori dibuka, untuk membuktikan apakah identitas Mr X korban Ryan itu adalah Asrori atau bukan,” ujar AKBP Susanto.
Menurut sumber di LP Jombang, Jumat (22/8) siang beberapa polisi dari Polda Jatim menemui Kemat dan Devid. Mereka mulai melakukan penyidikan ulang.

Sementara itu Rusdin Ismail pengacara Ryan (30) mengaku belum mendapat informasi soal pengakuan Ryan tentang Mr X yang diakui sebagai Asrori alias Aldo.
(Surya/wid)

Ryan: Polisi Salah Tangkap

Buka Tabir Ansori, Terdakwa Minta Sidik Ulang

Jombang, Warta Kota
Warta Kota Hari Ini VERI Idham Henyaksah alias Ryan bersumpah bahwa dialah yang membunuh Ansori alias Aldo (24). Kalau pengakuan Ryan ini di kemudian hari terbukti, berarti polisi telah salah tangkap.

Seperti diberitakan, ada tiga terdakwa dalam kasus pembunuhan Ansori yang mayatnya ditemukan di Jombang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Dua di antaranya sudah dipidana, yakni Imam Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17). Keduanya divonis masing-masing 17 dan 12 tahun penjara pada 8 Mei lalu.

Sedangkan seorang terdakwa lainnya, Maman Sugianto alias Sugik (28), masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jombang. Versi polisi, Ansori adalah korban pembunuhan yang mayatnya ditemukan di kebun tebu sekitar 35 kilometer dari rumah Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang. Dalam kasus tersebut, polisi pernah memeriksa Ryan karena menemukan barang Ryan di rumah Ansori. Namun polisi tidak menemukan bukti keterlibatan Ryan sehingga jagal dari Jombang yang sudah menghabisi 11 nyawa ini dilepaskan.

Belakangan Ryan mengaku menghabisi Ansori alias Aldo sehabis Lebaran tahun 2007 atau beberapa minggu setelah penemuan mayat di kebun tebu. Menurut Ryan, mayat Ansori ia kubur di halaman belakang rumah orangtuanya. Mayat tersebut hingga kemarin disebut Mr X.

Pengakuan Ryan bahwa dirinya menghabisi Ansori alias Aldo disampaikan seorang kerabatnya yang menjenguk Ryan di Mapolda Metro Jaya Minggu (17/8). Seluruh pengakuan Ryan itu, menurut dia, sudah masuk dalam BAP (berita acara pemeriksaan) di Polda Metro Jaya. ”Ryan mengaku membunuh Aldo sehabis Lebaran. Ryan bilang, Aldo kan sudah dikabarkan mati, jadi saya bunuh saja sekalian,” kata kerabat Ryan yang menolak dikutip namanya itu.

Orangtua Ryan, Akhmad Sadikun-Ny Kasiyatun, tahu identitas Mr X tersebut adalah Aldo dari Ryan. Tapi, saat diperiksa polisi, Akhmad maupun Kasiyatun bungkam. ”Hal itu dilakukan demi Ryan. Mereka khawatir kalau identitas Mr X diungkap, keamanan Ryan terancam karena terjadi salah tangkap yang menyebabkan dua orang tidak berdosa dipenjara,” kata sumber itu.

Penyidikan ulang

Di sisi lain, pengakuan Ryan itu memunculkan harapan bagi keluarga Kemat, terpidana kasus pembunuhan Ansori. Ayah Kemat, Khamin (70) tak bisa ditemui. Sedangkan ibunya, Ny Hartini tergolek di tempat tidur dan tidak bisa bicara karena sejak Jumat (15/8) terkena serangan stroke.

Kakak kandung Kemat, Rina (35), dan keponakannya, Alisa (23), berharap aparat penegak hukum menindaklanjuti pengakuan Ryan dengan melakukan penyidikan ulang. ”Bahkan kalau perlu ada uji DNA terhadap keluarga korban dan Mr X yang ditemukan di belakang rumah Ryan,” kata Alisa.

Keluarga Kemat yakin, Kemat tidak bersalah. Kepada keluarga yang membesuknya di LP Jombang, Kemat berkali-kali menyatakan dirinya tidak melakukan pembunuhan terhadap siapa pun.

Menurut Alisa, Kemat mengatakan dirinya mengaku sebagai pembunuh Ansori karena tak tahan dengan penyiksaan saat menjalani pemeriksaan oleh polisi. ”Dia itu kan punya sifat kewanitaan. Jadi, kena benturan fisik sedikit saja sudah tidak tahan dan merasa kesakitan,” ujarnya. Kemat, kendati berjenis kelamin laki-laki, memang berperilaku seperti perempuan.

Keluarga Kemat yakin, Kemat tidak bersalah dan hanya menjadi korban salah tangkap dalam kasus pembuhan Ansori. Apalagi, Kemat memiliki sifat kewanitaan. Oleh karena itu pula, ibunda Kemat, jatuh sakit akibat memikirkan nasib Kemat. ”Sejak adik saya masuk penjara, ibu sakit-sakitan. Puncaknya Jumat lalu, beliau terkena stroke,” jelas Rina.

Ketua RT tempat tinggal Ansori (alm), Sutrisno, mengatakan masuk akal jika mayat yang ditemukan di kebun tebu pada 29 September 2007 bukanlah Ansori seperti yang diyakini selama ini. Sebab, imbuh Sutrisno, mayat itu diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri fisik. ”Sedangkan mukanya tidak dapat dikenali karena sudah rusak,” katanya.

Selain itu, kata Sutrisno, pakaian yang menempel pada mayat di kebun tebut itu, bukanlah pakaian Ansori. ”Tapi ini hanya pendapat pribadi saja. Untuk tindak lanjut kasus ini, saya menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum,” katanya.

Polisi gamang

Kapolres Jombang AKBP Mohammat Khosim yang dimintai pendapat terkait pengakuan Ryan mengatakan polisi tidak akan melakukan penyidikan ulang atas kasus pembunuhan Ansori maupun melakukan uji DNA. ”Kami tetap berpedoman kepada fakta-fakta hukum yang muncul di persidangan. Dua terdakwa sudah divonis dan satu lagi masih dalam proses,” katanya.

Khosim menengarai, munculnya pengakuan Ryan bahwa dialah pembunuh Ansori merupakan bagian pembentukan opini agar aparat hukum gamang dalam mengadili Maman Sugianto alias Sugik. ”Ini sudah kami ketahui sejak 30 Juli lalu atau dua hari sejak pembongkaran kedua di belakang rumah Ryan,” katanya.

Berdasarkan penelusurannya, kata Khosim, jaringan Sugik bekerja dengan cukup cerdik. Mereka antara lain menumpangi kasus Ryan dengan tujuan Sugik terlepas dari jerat hukum. Dengan kata lain, kata Khosim, ada kemungkinan Ryan dibisiki oleh orang dari jaringan tersebut agar mengaku sebagai pembunuh Ansori. (Surya)

Ryan Membunuh, Dua Dibui

Mr X Disebut Aldo, Polisi: Ryan Bohong

Jombang, Warta Kota
Warta Kota Hari Ini Feri Idham Henyaksah alias Ryan (30) mengakui mayat Mr X yang ditemukan di belakang rumah orangtuanya pada 28 Juli 2008 lalu bernama Moh Ansori (24). Korban dibunuh Ryan sekitar September 2007.

Namun polisi berpendapat Moh Ansori yang diakui Ryan itu mayatnya ditemukan di kebun tebu sekitar 35 kilometer dari rumah Ryan. Pembunuhnya, Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), keduanya warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak. Mereka sudah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun penjara.

Meski demikian Ryan ngotot bahwa Mr X adalah Moh Ansori yang biasa dipanggil dengan sebutan Aldo, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Aldo adalah pemilik Salon Ayu di desa itu.
Pengakuan Ryan ini disampaikan kepada keluarga yang membesuknya. ”Dia mengaku membunuh Aldo karena jengkel dilecehkan,” kata sumber di keluarga Ryan, yang menolak namanya dicantumkan di koran.

”Ryan mengaku, Aldo bilang begini kepada Ryan, ’Piro sih kencan ambek koen iku. Engko tak bayar’ (Berapa sih untuk kencan dengan kamu. Nanti saya bayar). Karena merasa tersinggung, Ryan lalu membunuh Aldo,” ungkap sumber tersebut.

Ryan Membunuh, Dua Dibui
Ryan-wid
Sumber itu mengatakan, Ryan merasa dilecehkan karena Aldo itu jelek dan Ryan tak menyukainya. ”Ryan bilang, Aldo itu sudah pendek, hitam, tapi sok gaya. Ryan bilang, ’yang ganteng-ganteng banyak yang mau kencan sama aku, mana mau aku sama dia. Aku bunuh saja dia,” kata Ryan ditirukan sumber tadi.

Sumber itu melanjutkan, kemungkinan besar pengakuan Ryan tersebut hanya diutarakan kepada dirinya , dan belum diungkapkan kepada polisi. Lebih-lebih, berdasarkan penyelidikan polisi Jombang, mayat Asrori dianggap sudah ditemukan, yakni di kebun tebu, pada 29 September 2007.
Bahkan dua dari tiga terdakwanya pembunuhnya sudah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun. Satu terdakwa lagi, Sugianto alias Sugik, 28, juga warga Desa Kalangsemanding, sekarang masih dalam proses hukum. Selasa (19/ 8) kemarin, berkasnya dilimpahkan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang kepada Pengadilan Negeri (PN) setempat.

Kepala Satuan Reskrim Polres Jombang AKP Kasyanto membantah pengakuan Ryan tersebut. Saat diminta dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Selasa petang, Kasyanto mengatakan, pengakuan itu tidak benar, itu hanya upaya untuk mengelabuhi polisi.
”Kita tidak menemukan kecocokan seperti yang diucapkan Ryan, informasi itu tidak benar,” kata Kasyanto.

Belum dengar

Kakak kandung Asrori, Agung, belum mendengar bahwa Ryan mengaku membunuh adiknya, Asrori. ”Saya baru mendengar dari sampeyan,” kata Agung, Selasa (19/8) sore.

Ketika disinggung apakah Asrori kerap dipanggil dengan sapaan Aldo, Agung mengaku tidak tahu. Agung belum mengambil sikap jika ternyata Asrori alias Aldo itu adalah adiknya. Sebelumnya, mayat Asrori sudah dinyatakan berada di kebun tebu Desa/ Kecamatan Bandarkedungmulya, Jombang, akhir September lalu.

Agung meragukan pengakuan Ryan tersebut. Sebab, berdasarkan identifikasi pihak keluarga, mayat yang ditemukan di kebun tebu tersebut memang mayat Asrori.

Kapolres Jombang Mohammat Khosim bahkan memastikan mayat Mr X yang ditemukan di pekarangan belakang rumah orangtua Ryan bukan mayat Asrori. Sebab mayat Asrori sudah ditemukan dan diidentifikasi oleh keluarganya.
Selain itu, kondisi mayat Mr X sendiri sudah tinggal tulang-belulang, sehingga berdasarkan pemeriksaan ahli forensik, dipastikan dikubur tahun 2006.

”Padahal mayat Asrori ditemukan 29 September 2007, atau sekitar tiga hari setelah dinyatakan hilang oleh keluarganya. Dua pelaku juga sudah divonis, sedangkan satu lagi masih menjalani proses hukum,” jelas Khosim.
Seandainya Asrori dibunuh Ryan, kata Kapolres, mayatnya tentu tidak tinggal tulang-belulang, melainkan masih ada daging meskipun sudah hancur dan membusuk.

”Mayat-mayat korban Ryan rata-rata dibunuh tahun 2007. Mayat-mayat itu umumnya masih ada dagingnya. Bahkan Zaki masih cukup utuh, termasuk celana dan sabuknya juga masih utuh,” kata Khosim. (Surya/wid)

Korban Ryan Jadi 11, Penggalian Dilanjutkan

Selasa, 29 Juli 2008

SURABAYA (Suara Karya): Jumlah korban pembantaian Verry Idham Henyansah alias Ryan (30) benar-benar mencengangkan. Senin kemarin, enam lagi kerangka/jasad korban ditemukan di halaman belakang dan samping rumah orangtua Ryan di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jatim. Keenam jasad itu diduga kuat merupakan korban kekejian Ryan. Dengan demikian, korban pembantaian Ryan berjumlah sebelas orang.

Tapi polisi menduga, di luar kesebelas orang itu masih terdapat sejumlah korban lain yang masih terkubur di sekitar kediaman orangtua Ryan. Dugaan tersebut berdasar pada laporan orang hilang yang mencapai 27 laporan. Karena itu, peralatan penggalian di rumah orangtua Ryan belum ditarik. Polisi memberi isyarat bahwa hari ini penggalian dilanjutkan untuk menemukan korban-korban lain.

Kemarin, polisi menggali lima lubang di halaman rumah orangtua Ryan sesuai pengakuan lelaki gay itu. Dari lubang pertama di dekat septic tank, polisi mendapati jasad seorang wanita dewasa dan anak-anak. Menurut penuturan Ryan kepada polisi, mereka adalah Nanik Hidayati (23) dan anaknya Silvia Ramadani (3). Ibu dan anak itu hilang sejak 2 April lalu.

Dari lubang kedua, polisi menemukan jasad Azinul Arifin alias Zaki (21), penyiar Radio Gita FM Jombang, yang hilang sejak Januari 2008. Lalu dari lubang ketiga, yang terletak beberapa puluh sentimeter dari lubang kedua, ditemukan jasad Muhammad Achsoni alias Soni (29) yang hilang sejak November 2007.

Tak jauh dari situ, di lubang keempat, ditemukan jasad Agustinus Fitri Setiawan alias Wawan (28) yang hilang sejak Agustus 2007. Sementara dari lubang kelima, polisi menemukan satu kerangka yang belum teridentifikasi, kecuali berkelamin laki-laki.

"Ini merupakan korban yang dibunuh Ryan pada tahun 2006 dan diduga merupakan korban pertama. Ryan sendiri mengaku tak ingat lagi tentang korban tersebut," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Herman S Sumawiredja usai meninjau tempat kejadian perkara (TKP) dengan helikopter, kemarin.

Pekan lalu, empat korban pembantaian Ryan adalah Aril Somba Sitanggang (warga Malang, Jatim), Vincentius Yudi Priono (warga Wonogiri, Jateng), dan Guruh atau Guntur Setio Pramono (warga Nganjuk, Jatim). Sementara seorang lagi bernama Graddy yang semula diduga ras Eropa (kaukasoit), ternyata berdarah Manado (marga Tumbuan).

Ryan sendiri ditangkap polisi karena membunuh dan memutilasi teman kencannya, Heri Santoso, di Depok, Jabar, dua pekan lalu. Jasad Heri yang sudah terpotong-potong dibuang Ryan di Kebagusan, Jakarta Selatan, 12 Juli 2008.

Menurut Herman, polisi akan melakukan identifikasi mayat yang ditemukan untuk dicocokkan dengan pengakuan tersangka. Setelah itu, keterangan tersangka akan dicocokkan lagi dengan keterangan sejumlah saksi, termasuk keluarga korban.

Sementara itu, hasil tes DNA atas tiga jasad korban pembunuhan Ryan, yang dilakukan Biddokpol Polri, ternyata cocok dengan data pembanding dari orangtua ketiga korban.

Menurut Herman, jika proses konfrontasi dengan tersangka Ryan sudah selesai, maka ketiga jasad itu segera diserahkan kepada keluarga masing-masing dengan biaya negara.

Ketiga jasad yang menjalani tes DNA itu adalah Aril Somba Sitanggang, Vincentius Yudi Priono, dan Guruh/Guntur Setio Pramono. Sementara terhadap satu jasad lagi belum dilakukan tes DNA.

Menurut Herman, jasad itu belum dites DNA karena belum ada keluarga yang melapor. Tapi polisi meyakini bahwa jasad itu milik Graddy yang berdarah Manado dan bermarga Tumbuan. "Jadi, korban bukan orang asing. Tapi belum ada keluarganya yang melapor ke Polda Jatim," katanya.

Ryan diduga membantai Nanik Hidayati dan putrinya Silvia karena tergiur emas dan uang sebesar Rp 25 juta milik korban. Sepupu Nanik, Ida Andarini (38), mengungkapkan, dia berkomunikasi via telepon dengan Nanik. Saat itu Nanik mengaku baru mendapat arisan sebesar Rp 25 juta. Namun keesokan harinya Nanik dan Silvia dikabarkan hilang.

Nanik adalah teman fitness Ryan. Terakhir kali dia terlihat berada di sebuah toko emas di Jombang. Diduga, Ryan semula hanya ingin membunuh Nanik. Namun karena Silvia histeris melihat ibunya dibantai, Ryan lantas mengakhiri pula nyawa balita itu.

Dengan sekian banyak aksi pembunuhan itu, Ryan terancam hukuman mati. Dia bisa dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan 20 tahun penjara, dipenjara seumur hidup, atau dihukum mati. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira di Mabes Polri, Jakarta, Senin, mengaku yakin bahwa jeratan untuk tersangka Ryan memenuhi syarat.

"Saya kira unsur perencanaan sudah terpenuhi. Sebab, mustahil dia membunuh hingga sepuluh orang kalau tidak merencanakan terlebih dulu," kata Abubakar. Penjelasan dia bahwa korban pembantaian Ryan ini berjumlah sepuluh orang adalah sebelum polisi menemukan satu lubang lagi yang berisi satu kerangka korban.

Abubakar mengatakan, selain pasal 340 KUHP, polisi juga akan menjerat Ryan dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 339 KUHP tentang pembunuhan yang disertai dengan tindak pidana lain. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kasus Ryan, kata Abubakar, ditangani oleh kepolisian Jakarta dan kepolisian Kabupaten Jombang, karena lokasi kejadian ada di dua tempat tersebut. "Untuk kasus mutilasi nanti ditangani Polda Metro, karena kejadiannya di Jakarta Selatan. Sedangkan kasus pembunuhan berantai, dilakukan oleh Polda Jawa Timur karena kejadiannya di Jombang," katanya.

Namun, soal persidangan kasus ini, polisi, kata Abubakar, menunggu keputusan Mahkamah Agung untuk menentukan lokasinya. "Kalau melihat lokasi perkara yang lebih banyak di Jombang, saya rasa lokasi sidang akan digelar di sana. Tapi, masalah ini tergantung keputusan MA, itu bukan urusan polisi," katanya. (Antara/Hanif Sobari)

Hipotesa Latar Belakang Psikopat Ryan - suaranurani.wordpress.com

The image “http://s.wordpress.com/wp-content/themes/pub/rubric/images/rubric/pen-sm.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.Heboh pembunuhan berantai dengan 5 korban yang dilakukan Ryan membuat banyak orang terkejut. Terlebih tetangga pelaku karena meski jarang bergaul dan bersifat tertutup, Ryan dikenal sebagai sosok alim yang juga sekaligus guru ngaji, jauh dari bayangan seorang pembunuh berdarah dingin.

Banyak yang langsung menduga bahwa Ryan adalah seorang psikopat, dari banyaknya korban yang ada. Tidak salah, tetapi belum tentu pula Ryan adalah seorang psikopat.

Bagaimana perilaku psikopat?

Psikopat biasanya membunuh tidak dengan motif langsung terhadap korban. Ryan mengaku kepada polisi bahwa korban terakhir dibunuhnya karena perasaan cemburu. Seorang psikopat tidak membunuh berdasarkan cemburu, karena seorang psikopat hampir memiliki kekebalan emosi (emotional numbness) dimana ekspresi emosinya (marah, benci, cinta, sedih, takut, dsb) sangat berbeda dengan manusia normal. Emosi seorang psikopat terlihat oleh orang normal sebagai ‘lebih stabil’. Hal ini karena seorang psikopat tidak memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosinya sebesar layaknya orang normal. Itulah yang digambarkan oleh tetangga Ryan tentang dirinya, sosok yang tenang, alim, dan kalem.

Seorang psikopat tidak membunuh karena cemburu kepada korban. Hal yang sama, seorang psikopat tidak membunuh karena ingin menguasai harta semata seperti halnya perampokan biasa. Seorang psikopat ‘menikmati’ pembunuhan dengan suatu motif kompleks yang berasal dari pikirannya sendiri. Dia tidak merasa bersalah atau menyesal, yang diakibatkan oleh rusaknya sistem emosi dalam dirinya yang mengalami kekebalan emosi tadi.

Psikopat juga tidak pandang bulu siapa korbannya. Karena tidak harus memiliki hubungan sebab-akibat langsung dengan korban, korban bisa siapa saja. Bisa teman bisa pula orang asing. Hal ini memperkuat hipotesa Ryan sebagai psikopat karena terdapat mayat seorang perempuan Belanda yang diakuinya baru dikenalnya dalam bis kota. Hubungan berlanjut setelah pertemuan di bis, dan wanita dibunuhnya ketika mengunjungi Ryan di Jombang. Status korban saat itu belumlah menjadi teman korban yang cukup dekat, karena masih bisa dikategorikan ’stranger’ atau orang asing.

Meski demikian, suatu pembunuhan berantai oleh psikopat sekalipun tetaplah memiliki kesamaan. Dalam hal ini polisi menduga Ryan ingin menguasai harta, tetapi tidak sama dengan motif perampokan biasa. Ryan memiliki keruwetan psikologis untuk menggapai keinginannya dalam menguasai harta calon korbannya, sehingga berujung kepada satu kesimpulan: korban harus dibunuh.

Hipotesa pecahnya kepribadian Ryan

Perlu diingat, bahwa menganalisa seorang psikopat tidaklah mudah. Kriminolog dan psikolog harus menanggalkan sejumlah aturan dan norma hukum dan tata masyarakat, karena seorang psikopat mengabaikan hal-hal semacam ini.

Seperti diketahui, seorang psikopat tidak memiliki kemampuan mengekspresikan dan memanajemen emosinya dengan baik. Bila kita menilik kasus Ryan dengan metode reverse (dari alur belakang ke depan), kita mendapati pada semua korban ada satu kesamaan: hartanya dikuasai. Hanya ada satu korban yang tidak dibunuh karena harta, yaitu korban keempat yang dibunuhnya karena menjadi saksi mata ketika dia mengubur korban ketiga.

Dari sini kita dapat melihat bahwa Ryan tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan perampokan biasa. Ini mungkin terjadi karena Ryan juga memiliki rasa ‘takut ketahuan’, tetapi berbeda dengan orang normal, rasa ‘takut ketahuan’ ini tidak mengurungkan niatnya tetapi malah memicunya untuk ‘menghilangkan saksi perampokan’ yang berarti membunuh korbannya.

Kita mungkin merasa hal ini mustahil. Bukankah hukuman perampokan lebih ringan dari pembunuhan? Bukankah nyawa manusia lebih berharga daripada harta? Sekali lagi, seorang psikopat tidak mempedulikan kaidah-kaidah ini, itulah sebabnya kita harus menanggalkan segala macam nilai umum yang berlaku di masyarakat.

Lalu mengapa Ryan ‘takut ketahuan’?

Ryan takut ketahuan, karena dia adalah figur yang telah dikenal orang (meski terbatas) sebagai figur guru ngaji, tenang, pendiam, alim. Ini adalah figur yang tampak di masyarakat. Bagi Ryan, figur ini adalah segalanya baginya, jati dirinya, karena itu dia berjuang mati-matian untuk mempertahankan image ini. Mengapa? Karena figur ini adalah figur yang diterima dan dihargai oleh masyarakat dan keluarganya, yang ironisnya menutupi figur lain yang terpendam yaitu seorang gay.

Berlatar belakang seorang muslim yang tinggal di Indonesia, terutama di wilayah Jombang, tentu tidak mudah bagi remaja yang memiliki kecenderungan gay untuk bertanya kepada orangtuanya “Pak, Bu, saya kok lebih suka pada sesama lelaki, ya?”

Norma masyarakat dan kaidah agama mempengaruhi Ryan untuk memproteksi dirinya dan tidak mengungkapkannya pada siapapun. Pada saat yang sama, mungkin Ryan berusaha mencari tahu sendiri apa dan bagaimana kelainan seksualnya. Ketika Ryan paham bahwa dirinya memiliki kecenderungan gay, disitulah konflik batinnya dimulai. Agama melarang hubungannya, dan Ryan merasa norma agama ‘menyalahkan’ dirinya, padahal dia tidak merasa bersalah karena dia tidak meminta dilahirkan sebagai seorang gay. Norma masyarakat sekitarnya yang memandang gay sebagai orang yang ‘aneh’ turut mendukungnya.

Menghadapi ini kemungkinan besar Ryan mengalami kebencian dalam dirinya sendiri. Benci sebagai seorang gay yang dia tidak mampu mengatasinya, tapi ditolak oleh agama dan komunitasnya. Ryan lalu tekun belajar agama dalam upayanya ‘mempelajari sendiri’ sikap dan norma agamanya terutama berkaitan dengan kondisi dirinya. Memiliki pengetahuan agama yang cukup, Ryan menutupi identitas gaynya dengan menjadi guru ngaji, dengan harapan memperoleh respek dari masyarakat dan jauh dari gosip (karena dia tidak suka perempuan). Untuk alasan itulah dia juga jarang membaurkan diri dengan masyarakat, agar tidak ketahuan siapa jati diri sebenarnya.

Sejak saat itulah, hipotesa saya menduga bahwa Ryan pelan-pelan memiliki kepribadian ganda (schizophrenia). Pribadi pertama sebagai guru ngaji yang alim dipertahankan dalam hubungan bermasyarakat, sementara pribadi seorang gay ditutupinya rapat-rapat. Ryan menjadi sangat sensitif. Saya menduga jarak kedua kepribadian ini makin jauh sejalan dengan semakin bencinya Ryan terhadap dirinya sendiri, tanpa ia sadari.

Mengapa Ryan memburu harta?

Ini hipotesa saya yang lebih lemah daripada hipotesa pertama mengapa Ryan mengidap schizophrenia. Dengan kebencian terhadap dirinya sebagai seorang gay, Ryan mungkin pernah berpikir untuk melakukan trans-gender, atau mengubah dirinya menjadi seorang wanita. Hipotesa ini lemah, karena sampai saat ini belum diberitakan di media bahwa Ryan suka memakai atribut wanita.

Hipotesa yang lebih kuat adalah Ryan berusaha ‘menggalang dana’ untuk menyembuhkan dirinya. Atau, Ryan berusaha untuk punya uang cukup untuk membaur di kalangan gay metropolis. Atau Ryan berusaha menjadi kaya untuk memperoleh status sosial yang lebih baik. Status sosial yang lebih tinggi biasanya berarti lebih modern, lebih terpelajar, dan lebih bisa menerima kondisi ‘gay’ sebagai fenomena kelainan genetik dibandingkan dengan ‘wong ndeso’ yang umumnya hanya memandang gay sebagai ‘aib’.

Keinginan-keinginan ini terus berpacu. Tujuan utama Ryan adalah tidak dilecehkan orang. Dia memburu harta, dan sebelum dia kaya (hingga bisa mengatasi tekanan sosialnya) dia harus bertopeng dibalik pribadi alimnya. Kebencian Ryan berjalan konstan dengan cita-citanya.

Ketika Ryan tidak bisa mewujudkan keinginannya, mulailah dia menemukan beberapa teman yang sama-sama ‘gay’. Teman-teman baru mengubah cakrawala baru, dan mungkin dipicu karena status sosial berbeda dalam hal kekayaan.

Ingat bahwa Ryan memiliki kecenderungan psikopat, yang sampai saat ini merupakan perdebatan sengit apakah hal ini terkandung dalam genetisnya. Menghadapi kekacauan konflik batin seperti ini ditambah dengan tidak mampu mengekspresikan dan memanajemen dengan baik, sifat psikopat ini pelan-pelan mulai muncul menguasainya.

Rebut hartanya. Tapi bagaimana kalo ketahuan? Dari dulu masyarakat udah curiga yang enggak-enggak (tentang gay). Susah payah Ryan menutupinya sebagai guru ngaji, masa sekarang mencuri dan merampok? Gimana kalo ketahuan? Bunuh aja, biar korban nggak lapor, lagian hartanya bisa dikuasai semuanya, kartu kreditnya … Mungkin demikian konflik yang terjadi hingga korban pertama jatuh.

Bila Ryan seorang psikopat yang juga schizophrenia
Ryan tidak menunjukkan penyesalan, yang merupakan ciri seorang psikopat asli. Alasan Ryan membunuh karena cemburu juga ditengarai sejumlah pakar psikologi dan kriminolog sebagai motif subsider, artinya motif lain yang sebetulnya bukan motif utama. Itu hanya alasan saja, tetapi Ryan tidak sengaja beralasan demi berbohong. Dia jujur mengatakan dia cemburu, hanya saja, dia tidak mampu membedakan apa yang sebenarnya mendorongnya untuk membunuh. Keinginan untuk jadi kaya terletak di alam bawah sadarnya, sehingga ketika dia merasa ada ‘dorongan untuk menguasai harta’ dia hanya perlu satu alasan saja di alam sadar - dalam hal ini cemburu - untuk menjadi pemicu pembunuhan yang dilakukannya. Ingat, Ryan tidak bisa membedakan emosinya, dan tidak bisa juga membedakan benar salah.

Bila Ryan seorang psikopat dan hipotesa ini benar bahwa psikopat dipicu oleh kondisi schizophrenia dimana kepribadiannya terpecah, Ryan adalah seorang yang mengidap kelainan jiwa akut. Dalam hukum, seseorang tidak bisa dihukum bila terbukti mengidap gangguan jiwa. Kejadian ini terjadi diluar rasionya. Itu artinya, Ryan juga tidak bisa dihukum mati, seperti yang banyak diduga orang. Ryan seharusnya ‘dihukum’ dengan dimasukkan ke rumah sakit jiwa sepanjang hidupnya. Tetapi banyak kasus hukum di dunia menanggapi psikopat yang ‘masih bisa diajak berdialog secara waras’ sebagai orang waras, dan tetap dijatuhi hukuman mati.

Laporan Orang Hilang Korban Ryan Bertambah



[ Minggu, 27 Juli 2008 ]




Laporan Orang Hilang Korban Ryan Bertambah




JOMBANG - Polisi kembali menerima pengaduan orang hilang yang diduga
menjadi korban pembunuhan jagal Jombang, Feriansyah alias Ryan.
Mujiana, 25, kemarin (26/7) mendatangi Mapolres Jombang untuk
melaporkan bahwa suaminya, Mochamad Aksoni, 27, hingga kini tak
diketahui keberadaannya.

Warga
Desa Slamet, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, itu menghilang setelah pergi
dari rumahnya pada 21 November 2007. Saat pergi, Aksoni mengendarai
motor Suzuki Thunder bernopol W 5454 GR.

Dengan adanya laporan tersebut, sudah tujuh laporan orang hilang yang diterima Polres Jombang.

Tim
penyidik belum dapat menyimpulkan keterkaitan hilangnya Aksoni dengan
sepak terjang Ryan. Namun, polisi telah mengamankan sepeda motor milik
Aksoni.

Motor itu ditemukan di sebuah penitipan motor di Desa
Sentul, Kecamatan Tembelang, Jombang. Tapi, lokasi tersebut berbeda
dengan tempat penitipan motor milik Zainul Abidin -warga Desa Dapur
Kejambon, Kecamatan Jombang, yang juga dilaporkan hilang.

Dengan
penemuan motor Aksoni, sinyalemen keterlibatan Ryan pun semakin
menguat. Tapi, polisi belum memastikan sinyalemen tersebut.

Kasatreskrim
Polres Jombang AKP Kasyanto B.S. hanya membenarkan adanya penemuan
motor Thunder dengan ciri-ciri yang sama dengan motor Aksoni. Motor
tersebut, kata Kasyanto, dititipkan sejak empat bulan lalu dan tak
kunjung diambil sang pemilik.

Meski demikian, petugas belum
dapat memastikan keterlibatan Ryan atas hilangnya Aksoni. ''Keterkaitan
Ryan dengan semua laporan orang hilang masih dalam penyelidikan,'' kata
Kasyanto.

Sebelumnya, dari enam laporan orang hilang yang masuk
ke database polres dalam setengah tahun terakhir, tiga orang diyakini
punya sangkut-paut dengan Ryan. Mereka adalah ibu-anak Nanik dan
Silvia, warga Perum Kepuh Permai, Desa Kepuh Kembeng, Kecamatan
Peterongan; dan Zainul Abidin.

Nanik dan Silvia sendiri menghilang sekitar tiga bulan lalu. Nanik dikabarkan dekat dengan Ryan.

Sebelum
dilaporkan hilang, Nanik dan Silvia diketahui sempat bertemu Ryan.
Suami Nanik, Suprayitno, mengatakan, istrinya meninggalkan rumah pada 2
April 2008. Saat itu Nanik mengajak Silvia yang berusia tiga tahun.
Suprayitno mengakui, ada sedikit perselisihan dalam rumah tangga yang
mereka bina. Tapi, dia tidak menyangka istrinya akan pergi
berbulan-bulan. "Dari SMS-nya, istri saya berpamitan akan pergi satu
bulan," ujar Suprayitno.

Memang dalam SMS yang dikirim 2 April pukul 06.29 itu, jelas tertulis bahwa Nanik hanya akan pergi satu bulan. "Maafkan
aku, karena pergi tanpa pamit. Aku jenuh dengan kehidupan selama ini.
Biarkan aku tenang dulu. Nggak sampai sebulan aku balik,"
begitu kurang lebih SMS dari Nanik yang masih tersimpan di ponsel Suprayitno.

Awalnya,
Suprayitno menduga Nanik pulang ke rumah orang tuanya di Banyuwangi.
Namun, hingga berbulan-bulan Nanik tak kunjung kembali ke rumah.
Bahkan, dia juga tak memberi kabar apa pun.

Setelah ditanyakan
ke keluarga Banyuwangi, ternyata Nanik dan Silvia tidak pergi ke sana.
Hal itu membuat Suprayitno khawatir. Dia juga mencemaskan kondisi putri
bungsunya yang diajak Nanik. Akhirnya, dia pun melapor ke Polres
Jombang, agar membantunya menemukan istri dan anaknya.

Pada
Senin, 21 Juli, saat keberadaan empat mayat di belakang rumah Ryan
terungkap, Suprayitno ikut cemas. Apalagi, berbagai media memberitakan
adanya mayat ibu dan anak.

Sosok Ryan yang tampan, tapi
menyimpan kesan psikopat itu juga memberikan kekhawatiran tersendiri.
Bagaimana tidak, Suprayitno sering mendengar nama Ryan disebut
istrinya. Sebagai instruktur senam, Ryan punya banyak kesempatan
bertemu Nanik di sebuah sanggar senam di Jombang.

Mereka juga
dikabarkan memiliki kedekatan. Bahkan, sebelum menghilang, Nanik dan
Silvia terlihat bersama Ryan membeli perhiasan di sebuah toko emas di
Jombang. Hal itu membuat perasaan Suprayitno menjadi kian tak menentu.

Sebelumnya,
beredar kabar bahwa di rumah Ryan ada barang bukti berupa kalung emas
putih yang diduga milik Nanik. Suprayitno pun diberi kesempatan
memeriksa rumah Ryan untuk memastikan apakah ada barang-barang milik
Nanik dan si bungsu.

Namun, belum ditemukan bukti apa pun yang
mengindikasikan keterlibatan Ryan dalam kasus hilangnya Nanik dan
Silvia. Sedikit titik terang yang seakan dekat, kembali lagi menjadi
tanda tanya besar. Bahkan, kepolisian pun dipaksa bekerja ekstrakeras,
meski hanya untuk memastikan identitas keempat mayat yang telah
ditemukan. (doy/nk/agm)