Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Transkrip Lengkap Rekaman Setnov, Riza Chalid dan Bos Freeport (Hot!)

Transkrip Lengkap Rekaman Setnov, Riza Chalid dan Bos Freeport
By Taufiqurrohman on 02 Des 2015 at 19:20 WIB

http://m.liputan6.com/news/read/2380602/transkrip-lengkap-rekaman-setnov-riza-chalid-dan-bos-freeport


Liputan6.com, Jakarta - Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menggelar sidang dugaan pelanggaran kode etik Ketua DPR Setya Novanto. Dalam sidang perdana, MKD menghadirkan Menteri ESDM Sudirman Said sebagai terlapor.
Dalam sidang itu Sudriman Said menyatakan, Setya Novanto mengondisikan permintaan saham kepada PT Freeport Indonesia. Selain itu, Setya juga disebut menekan Presdir PT Freeport Indonesia terkait saham.
Hal itu diungkap Sudirman berdasarkan rekaman dan transkrip pembicaraan antara Setya Novanto (SN), pengusaha M Riza Chalid (MR), dan bos PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin (MS).
"Kalau didengar (rekaman) secara utuh, meskipun yang mengatakan angka (saham) Riza, tapi yang mengondisikan, merespons, dan memberikan penekanan adalah Pak SN (Novanto)," jawab Sudirman, Rabu (2/12/2015).
Berikut ini transkrip lengkap rekaman pembicaraan sepanjang 120 menit itu:

Arsip Artikel https://docs.google.com/document/d/11vOvo4hVUjPNGMqLNFUuNlZV1IDp4HnlA8PWwNnx_ds/edit?usp=sharing
-
-
cahPamulang

Wah Orang Malysia kembali Hina Kita, Giliran Mantan Presiden RI BJ Habibie dikatai : "The Dog of Imperialism"

Ini gara-gara oposan nomer 1 Malysia anwar Ibrahim mengundang Mr. Habibie ke Malaysia baru-baru ini.

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/374103-anwar-ibrahim--penulis-soal-habibie-itu-orang-kalah

http://dunia.news.viva.co.id/news/read/374081-apa-penghinaan-menteri-malaysia-pada-habibie-di-media
"Dia (Habibie) disingkirkan setelah menjadi presiden Indonesia hanya 1 tahun 5 bulan karena menuruti desakan Barat untuk menggelar referendum rakyat Timor Timur yang menyebabkan wilayah ini keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 30 Agustus 1999," tulis Maidin dalam tajuk rencana berjudul "Persamaan BJ Habibie dengan Anwar Ibrahim".

Dia adalah ex Menteri Penerangan Malaysia.

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/374099-sikap-habibie-soal-pemberitaan-koran-malaysia
Mantan Presiden RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, mempersilakan masyarakat Indonesia dan lembaga-lembaga terkait di RI untuk mengambil sikap terkait tajuk rencana koran Utusan Malaysia, Senin 10 Desember 2012, yang menyebut Habibie sebagai pengkhianat dan ‘The dog of imperialism.’

-
-
cahPamulang

Andi Mallarangeng Menjadi Tersangka Korupsi Proyek Hambalang




Berikut petikan surat permohonan cegah Andi yang diajukan KPK ke Ditjen Imigrasi:

"Diberitahukan kepada saudara, bahwa saat ini KPK sedang melaksanakan penyidikan tindak pidana korupsi terkait pengadaan peningkatan sarana prasana olah raga di Hambalang tahun anggaran 2010-2012. Yang dilakukan oleh tersangka Andi Alvian Mallarangeng selaku Menteri Pemuda dan Olah Raga / pengguna anggaran pada Kemenpora dan kawan-kawan. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 Undang-undang 31 tahun 1999. Guna kepentingan penyidikan dimohon bantuannya mencegah atau melarang berpegian keluar negeri terhadap 3 orang dengan identitas sebagai berikut,"
Selain AAM, KPK juga mengajukan pencegahan kepada dua nama lain yakni AZM dari pihak swasta, dan MAT dari PT AK.

-

-
cahPamulang

Balada Ikan Makan Ikan Di Gedung Dewan!


Saling ledek di antara anggota DPR sudah tidak lagi produktif dan cenderung seperti anak taman kanak-kanak yang sedang berebut mainan.
Politisi Partai Demokrat menuduh rivalnya bagai ikan salmon, yang kemudian diartikan sebagai singkatan dari intelektual dadakan asal ngomong.
Tidak terima, politisi Partai Golkar yang merasa kena sindir balik menuduh Partai Demokrat dengan istilah ikan teri asin.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera yang juga merasa kena sindir ikut-ikutan menyebut politisi partai bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut dengan istilah ikan piranha buas.
Saling ledek ini terus berkembang hingga muncul istilah ikan tongkol sampai ikan paus. Memang benar kata mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang menyebut anggota DPR tak ubahnya seperti anak TK.
Saling ejek saling sindir tanpa ada bobot dan terkesan seperti orang tidak berpendidikan. (*)

Abraham Samad Terpilih Sebagai Ketua KPK | Republika Online - Nasional - Politikana



Jumat, 02 Desember 2011 16:06 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-Abraham Samad terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk periode 2012-2016. Pemilihan dilakukan Komisi III, di gedung DPR, Jakarta, Jumat (2/12).
Sebelumnya, telah terpilih empat pimpinan KPK untuk periode baru. Yaitu, Abraham Samad, Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, dan Zulkarnain. Komisi III pun memilih ketua dari empat pimpinan tersebut bersama dengan Busyro Muqoddas.
Abraham menjadi ketua dengan perolehan suara mayoritas, yaitu 43 suara dari 56 anggota Komisi III yang hadir. Sedangkan Busyro mendapat dukungan lima suara, Bambang empat suara, Zulkarnain tiga suara, dan Adnan satu suara.
Dengan usianya yang 45 tahun, Abraham merupakan yang termuda di antara delapan capim yang mengikuti fit and proper test. Dengan hasil ini, maka Busyro dipastikan tidak lagi memimpin KPK untuk periode mendatang.
Notes :
KPK Bakal Menggebrak-kah?
Target Banten Usut Tuntas Dana Hibah! Bah!
Tangsel, 2 Des 2011
ane
cahPamulang
Berikut hasil akhir voting 8 Nama calon pimpinan KPK itu.
1. Abraham Samad : 55
2. Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi : 3
3. Abdullah Hehamahua : 2
4. Handoyo Sudradjat : -
5. Adnan Pandu Praja : 50
6. Yunus Husein : 20
7. Zulkarnain : 37
8. Bambang Widjojanto : 55




Republik Blogger: Abraham Samad Terpilih Sebagai Ketua KPK | Republika Online - Nasional - Politikana

Gaya Hedon Pejabat ala Walikota SBY: Biaya Telpon Rp.1.7 miliar per Tahun

SURABAYA- Keberpihakan Walikota Surabaya Tri Rismaharini kepada rakyat kecil patut dipertanyakan. Pasalnya, di saat banyak warga Surabaya terhimpit ekonomi, walikota yang diusung PDIP itu justru berencana menghambur-hamburkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), untuk kepentingan yang tidak semestinya.

Ini diketahui dalam nomenklatur Belanja Rumah Tangga Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah RAPBD 2012 bernomor 5.2.2.03.01 disebutkan anggaran belanja telepon mencapai Rp1.722.000.000. Rinciannya, biaya voucher "Handphone" Wali Kota Surabaya mencapai Rp 30.000.000. Sedangkan Wakil Wali Kota Rp 18.000.000. Sementara tagihan "handphone" pascabayar HP VIP Wali Kota Surabaya senilai Rp 1.080.000.000 dan Wakil Wali Kota Rp 595.000.000.

Kalangan anggota DPRD Kota Surabaya menilai anggaran belanja telepon Wali Kota Surabaya senilai Rp 1,7 miliar yang diusulkan dalam RAPBD 2012 tidak wajar. Sebab, nilainya sangat besar. “Menurut saya, ini berita baru karena tahun-tahun sebelumnya tidak ada seperti itu,” ungkap Rusli Yusuf, anggota Komisi B Bidang Anggaran DPRD Surabaya, Selasa (22/11).

Menurut dia, sebenarnya hal itu tidak perlu dianggarkan. Sebab, nilainya terlalu besar untuk sekedar komunikasi dengan warga Surabaya. Untuk itu, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Surabaya harus meneliti lebih lanjut anggaran itu perlu apa tidak. “Bila perlu, anggaran itu didrop atau tidak dianggarkan,” terangnya.

Disinggung apakah anggaran pulsa juga dimiliki oleh DPRD, Rusli mengatakan di DPRD tidak ada anggaran pembelian pulsa “Di dewan tidak ada anggaran pulsa, cuma ada anggaran komunikasi intensif yang sudah diatur UU, yakni untuk kegiatan yang berhubungan dengan konstituen atau masyarakat,” paparnya.

Hal sama juga diungkapkan anggota Komisi C DPRD Surabaya Agus Santoso. Ia mengatakan anggaran yang menyangkut pulsa Wali Kota dan Wakil Wali Kota menjadi tupoksi Komisi A. Namun jika memang tidak selesai, komisinya siap membantu. “Masalah ini akan dibawa ke Banmus. Jika ternyata terbukti adanya ketidaksesuaian maka sebaiknya didrop saja. Kami di komisi C siap untuk membantu komisi A yang memang menjadi tupoksinya, karena kami menengarai adanya beberapa nomer lain yang sengaja dimasukkan ” pungkasnya. n ton

Pidato Lengkap BJ Habibie yang Memukau

Jakarta - Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapan secara tepat analisanya mengenai penyebab nilai-nilai Pancasila yang seolah-olah diabaikan pasca era reformasi. Tak heran bila pidato yang disampaikannya secara berapi-api itu memukau para hadirin puncak peringatan Hari Lahir Pancasila.

Acara itu dihadiri oleh Presiden Kelima Megawati dan Presiden SBY. Mereka berpidato bergiliran. Berikut ini teks pidato lengkap Habibie yang disampaikan dalam acara yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2011).

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah "lenyap" dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 -- 66 tahun yang lalu -- telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:
(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;
(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);
(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap "manipulasi" informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional' tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai "tidak Pancasilais" atau "anti Pancasila" . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi' sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia", bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus "membeli jam kerja" bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu "VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru".

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau "VOC-baju baru" itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan "jam kerja" bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan "Neraca Jam Kerja" tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan "nilai tambah" berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari "biaya tambah"; dengan ungkapan lain, "value added" harus lebih besar dari "added cost". Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan' lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

DetikNews : Pidato Lengkap BJ Habibie yang Memukau

Siapa Mr.A Yang Diduga Pohan Bakal Merusak Partai Demokrat?

Blognya Naz Belum Diklarifikasi Sudah Mau Ditutup?

http://www.detiknews.com/read/2011/06/01/093526/1651427/10/nazaruddin-akan-tutup-blognya?nd992203605

Blognya Naz Mau Diklarifikasi Partai Demokrat

Hebohnya Demokrat http://amplify.com/u/a147qs

Benarkah Ini Blognya Nazarudin? http://nazaruddin78.blogspot.com/


5 Rezim Diktator Negara Arab Yang Bakal Runtuh Menyusul Tunisia

Rezim Bouteflika, AlJazair


Menurut Foreign Policy, Abdul Aziz Bouteflika, telah menjabat sebagai Presiden Aljazair sejak tahun 1999 dan pada tahun 2009, ia mengubah konstitusi sehingga ia dapat mempertahankan jabatannya untuk periode ketiga. Partai-partai oposisi Aljazair memboikot pemilu tersebut.

Saat ini Abdul Aziz Bouteflika yang telah menginjak usia 73 tahun dikabarkan sudah sakit-sakitan dan saudaranya menyatakan siap untuk menggantikan posisinya.

Bouteflika mampu mengakhiri perang saudara di Aljazair yang berlangsung selama 10 tahun dan mampu meningkatkan hubungan negaranya dengan kekuatan di Afrika dan Eropa. Namun ia gagal dalam memberantas kelompok separatis yang berafiliasi dengan AlQaeda. Ia juga tidak berhasil mencegah pengeroposan lembaga-lembaga demokratis di negaranya.

Pada bulan Januari, Aljazair menyaksikan aksi demonstrasi luas sama dengan yang terjadi di Tunisia. Warga memprotes meningkatnya harga komoditi dan juga krisis pengangguran. Demo warga makin meningkat setelah pemerintah menetapkan kenaikan harga susu, gula, dan tepung. Selain itu, sudah lama rakyat Aljazair mengeluhkan ketidakadilan distribusi kekayaan negara.

Tak ayal ribuan pemuda Aljazair turun ke jalan-jalan dan bentrok dengan aparat polisi. Bahkan sebuah pos polisi dibakar massa.

Menurut Foreign Policy, meski rezim Bouteflika tidak demokratis, namun kondisinya tidak separah rezim Ben Ali di Tunisia. Oleh karena itu, kondisi saat ini masih sulit bagi kelompok oposisi untuk menggulingkan rezim berkuasa. Selain itu, serikat-serikat buruh dan kelompok-kelompok oposisi Aljazair tampak sungkan mendukung demonstrasi warga.

AKSI PROTES di MESIR.

Rezim Mubarak, Mesir


Foreign Policy menganalisa kondisi saat ini akan menggiring Mesir menuju jurang sama yang dihadapi rezim Ben Ali di Tunisia. Sudah selama tiga dekade rezim Hosni Mubarak, berkuasa di Mesir. Karena seluruh undang-undang terkait kondisi darurat negara ini memberikan keleluasaan kepada Mubarak untuk mengotak-atik pelaksanaan pemilu secara arbitrer.

Namun saat ini, rezim Mubarak tengah tergelincir. Firaun berusia 82 tahun itu menghadapi berbagai masalah kesehatan. Di sisi lain, persaingan antara Gamal Mubarak, putra Presiden Mesir, dan Omar Sulaiman, Ketua Dinas Rahasia Mesir, juga semakin menguat.

Akan tetapi kondisi saat ini sangat tidak menguntungkan bagi rezim berkuasa. Masalah keadilan sosial, pengangguran, dan kenaikan harga komoditi, lagi-lagi menjadi pemicu gelombang unjuk rasa di Mesir. Terinspirasi dari aksi bunuh diri yang di Tunisia yang memantik revolusi, hingga kini tiga warga Mesir tewas dengan cara membakar diri.

Protes yang digelar secara nasional di Mesir yang dijuluki “Hari Kemarahan” itu telah menjadi momok bagi rezim Mubarak. Betapa tidak, meski telah dilarang dan diaman hukuman, masyarakat enggan menghentikan aksi protes dan menuntut lengsernya rezim ala-Firaun Mubarak.

Rezim Renta Ghadafi, Libya


Setelah membahas Aljazair dan Mesir, Foreign Policy menyinggung kondisi di Libya. Era pemerintahan Moammar Ghadafi dinilai telah melebihi usia kekuasaan seluruh pemerintahan di dunia saat ini. Ia berkuasa di Libya pada tahun 1969, melalui sebuah kudeta militer.

Di bawah kekuasaannya, Libya menjadi salah satu negara terbesar pelanggar hak asasi manusia dan negara paling tidak demokratis. Di negara ini tidak ada kebebasan media dan dari kelompok oposisi, yang tertinggal hanyalah nama dan kenangan belaka.

Lebih lanjut Foreign Policy menambahkan, meski untuk mendapatkan informasi detail tentang kondisi di Libya sangat sulit, namun sejumlah laporan dan rekaman video menunjukkan bahwa demonstrasi warga di ibukota cukup menjadi bukti tingginya tingkat ketidakpuasan rakyat Libya atas rezim berkuasa. Padahal sebelumnya, protes merupakan kata yang hampir tidak pernah didengar dari Libya.

Untuk mengantisipasi seperti apa yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Aljazair, pemerintah Libya langsung melakukan impor komoditi secara massif dan bahkan mencabut sejumlah batasan. 15 Januari lalu, Ghadafi dalam pidatonya mengecam revolusi di Tunisia. Dalam beberapa pidato, Ghadafi menyebut mantan diktator Tunisia, Zine Al Abidine Ben Ali sebagai saudara dekat.

Kemungkinan Revolusi Sudan


Sudan menjadi negara keempat yang dinilai Foreign Policy berpotensi menghadapi kebangkitan masyarakat. Presiden Sudan, Omar al-Bashir dalam dua dekade pemerintahannya, menjadi “guru besar dalam menebar perpecahan dan berkuasa”. Dengan lihai al-Bashir mengadu kelompok-kelompok yang menentangnya dan dalam membasmi segala bentuk ancaman.

15 tahun pertama pemerintahan al Bashir, berlalu dengan perang saudara antara kawasan utara dan selatan negara ini. Memasuki milenium, muncul pemberontakan dari Darfur, dan al-Bashir mempersenjatai sebuah kelompok milisi untuk memerangi para separatisan Darfur.

Wilayah Sudan Selatan saat ini tengah menanti hasil referendum soal pemisahan kawasan itu dari Sudan Utara. Al-Bashir berjanji akan menerima hasi referendum.

Al-Bashir yang mampu mengendalikan kondisi di wilayah selatan, tampaknya kini menghadapi kendala baru yaitu kehilangan pendukung secara bertahap. Hasan al-Turabi, ketua partai oposisi pada pidatonya dalam aksi unjuk rasa tanggal 17 Januari lalu menyampaikan pesan kepada al-Bashir dan mengatakan, “Apa yang yang terjadi di Tunisia adalah peringatan. Ini dapat terjadi di Sudan. Jika tidak, maka akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran di Sudan.”

Al-Bashir dihimpit dua krisis besar saat ini. Pertama jika Sudan Selatan memisahkan diri, maka kondisi negaranya akan semakin sulit mengingat sebagian besar sumber minyak terletak di wilayah selatan. Kedua, di wilayah selatan pun, al-Bashir mulai kehilangan pendukung. Upayanya untuk mengurangi defisit bujet negara dilaukan dengan memotong subsidi bahan bakar dan komoditi utama. Kenaikan harga tersebut yang akhirnya menyeret para mahasiswa berdemonstrasi.

Ratu Jordania Siap-Siap Mengungsi ke Jeddah


Negara kelima yang menurut Foreign Policy diperkirakan akan menghadapi gelombang protes hingga runtuhnya pemerintahan adalah Jordania. Raja Jordania, Abdullah II, merupakan salah satu sekutu utama Amerika Serikat di kawasan dan menjadi “makelar perdamaian” antara Otorita Ramallah di Palestina dan rezim Zionis Israel. Abdullah yang merupakan jebolan Amerika Serikat itu berkuasa di Jordania pasca Perang Dunia II.

Kondisi saat ini di Jordania hampir sama dengan yang dialami di Tunisia dan Mesir. Parlemen baru Jordania hingga kini masih menghadapi krisis pengangguran yang persentasenya mencapai angka dua digit. Selain itu banyak pengamat yang meragukan kelanggengan kekuasaan Abdullah II.

Pada tanggal 16 Januari lalu, sekitar 3.000 warga berdemonstrasi di depan gedung parlemen negara ini dalam rangka memprotes kebijakan ekonomi. Mereka meneriakkan slogan “Jordania bukan hanya untuk orang-orang kaya saja”, “Roti adalah garis merah kami, kalian harus memperhatikan kemarahan dan kelaparan kami.”

Ratu Jordania menyampaikan pesan melalui internet yang mengimbau warga untuk menjaga ketenangan. Sikap itu direaksi keras oleh warga Jordania, bahkan di antaranya mengimbau keluarga kerajaan untuk menyiapkan rumah di Jeddah, Arab Saudi. Jeddah, adalah kota tujuan mantan diktator Tunisia, Zine al Abidine Ben Ali, setelah tersungkur dari jabatannya.

Sumber :


Inilah Daftar Gaji Pejabat Negara Kita  

foto

T
EMPO Interaktif, Jakarta -Saat menyampaikan pidato di dihadapan pimpinan TNI dan Polri beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyinggung soal gajinya sebagai presiden. Presiden Yudgoyono mengaku gajinya belum pernah naik sejak tujuh tahun menjabat sebagai presiden.

Beberapa hari berselang setelah Presiden menyentul gajinya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan berencana menaikkan gaji presiden dan wakil presiden tahun ini. "Tahun ini mulai diterapkan," ujarnya, Selasa, 25 Januari 2011.

Menurut Agus, penyesuaian gaji presiden dan wakil presiden ini nantinya akan diikuti oleh pejabat lembaga negara seperti Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua BPK, dan Ketua MA.

Menko Perekonomian, Hatta Rajasa membenarkan. Menurut dia, rencana pemerintah menaikkan gaji 8.000 pejabat negara dilaksanakan karena Kementerian Keuangan harus menjalankan peraturan pemerintah (PP) yang mengatur struktur penggajian pejabat negara.

Berapa sesungguhnya gaji pejabat negara kita saat ini? Mengacu pada data 2005 yang ada di Kementerian Keuangan, inilah daftar gaji pejabat itu.

1. PRESIDEN
Gaji pokok: Rp 30.240.000
Tunjangan jabatan: Rp 32.500.000
Total: Rp 62.740.000

2. WAKIL PRESIDEN
Gaji Pokok: Rp 20.160.000
Tunjangan jabatan: Rp 22.000.000
Total: Rp 42.160.000

3. Menteri Negara, Jaksa Agung, Panglima TNI dan pejabat lain yang setingkat.
Gaji pokok: Rp 5.040.000
Tunjangan jabatan: Rp 13.608.000
Total: Rp 18.648.000

4. KETUA DPR
Gaji pokok: Rp 5.040.000
Tunjangan jabatan: Rp 18.900.000
Uang paket: Rp 2.000.000
Komunikasi Intensif: Rp 4.968.000
Total: Rp 30.908.000

5. WAKIL KETUA DPR
Gaji pokok: Rp 4.620.000
Tunjangan jabatan: Rp 15.600.000
Uang paket: Rp 2.000.000
Komunikasi Intensif: Rp 4.554.000
Total: Rp 26.774.000

6. KETUA MAHKAMAH AGUNG
Gaji pokok: Rp 5.040.000
Tunjangan jabatan: Rp 18.900.000
Uang paket: Rp 450.000
Total: Rp 24.390.000

7. KETUA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Gaji pokok: Rp 5.040.000
Tunjangan jabatan: Rp 18.900.000
Total: Rp 23.940.000

8. GAJI GUBERNUR BANK INDONESIA :
Tahun 2006 : Rp 265 juta per bulan

9. Direktur Utama BRI
Rp 167 juta per bulan (berdasar Keputusan pemegang saham 2009)

10. Direktur utama Bank Mandiri menjadi
Rp 166 juta (berdasar Keputusan pemegang saham 2009)

11. Direktur utama Telkom
Rp 118 juta per bulan (berdasar kinerja keuangan, Telkom 2009)

12. Direksi PT Aneka Tambang
Rp 105 juta per bulan (berdasar RUPS 2009)

13. Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara
Rp 102 juta per bulan (berdasarRUPS 2009)

Tempointeraktif.Com - Inilah Daftar Gaji Pejabat Negara Kita

Tokoh Muda PAN Kecewa jika Dede Yusuf ke Demokrat

Headline

INILAH.COM, Bandung – Tokoh muda PAN menyayangkan jika rumor Wagub Jabar yang juga kader PAN Dede Yusuf akan pindah ke Partai Demokrat benar.

Tokoh muda PAN Jabar Agung Herdiyanto mengaku kecewa jika rencana tersebut menjadi kenyataan. Dia menganggap Dede Yusuf tidak memiliki tanggung jawab terhadap partai yang mengantarkannya duduk sebagai orang nomor dua di Jabar.

“Jika rumor ini benar, kami secara organisasi menyayangkannya. Kader PAN jelas akan kecewa berat. Mudah-mudahan ini hanya isu. Kader PAN Jabar masih berharap banyak terhadap peran Dede untuk membesarkan partai,” kata Agung.

Agung mengatakan, Ketua DPW PAN Jabar Edi Darnadi tentu akan melakukan komunikasi intensif dengan pengurus DPP PAN terkait rencana pencalonan Gubernur Jabar periode 2013-2018 dari internal partai. Dede Yusuf dianggap layak untuk maju menjadi calon Gubernur Jabar dari PAN.

“Dede Yusuf sangat potensial dan prospektif menjadi calon Gubernur Jabar. Saya yakin Ketua akan mempertimbangkan dan mengkonsultasikannya ke DPP. Kami sebagai kader PAN berharap banyak Dede Yuyuf tetap di PAN,” tegasnya. [ito]




Tokoh Muda PAN Kecewa jika Dede Yusuf ke Demokrat - www.inilahjabar.com

Memalukan, Taufiq Kiemas Salah Baca Pancasila dan UUD 45

Republik Blogger:



Kejadian memalukan kembali dilakukan Ketua MPR Taufiq Kiemas. Kali ini, dia keliru membacakan naskah Pancasila yang tersusun dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Hal ini dilakukan suami Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri saat mengikuti upacara peringatan Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Jumat (1/10/2010).

Dalam sila kelima yang seharusnya berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia“, justru malah dibacakan Taufiq menjadi “Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia”. Taufiq juga keliru dalam membacakan sila ketiga. Dimana kalimat yang seharusnya tertulis “Persatuan Indonesia”, tiba-tiba kalimatnya bertambah setelah dibacakan Taufiq. “Persatuan Indonesia yang dipimpin oleh…”.

Tak hanya itu saja, dia juga keliru saat menbacakan teks UUD 45. Kekeliruan ini terjadi pada kalimat “Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia (Indonesia tidak diucapkan) itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”.

Pemandangan ini sontak saja mengundang reaksi dari sejumlah peserta upacara dan wartawan yang kedapatan saling menatap wajah satu sama lain. “Eh, Pak Taufiq salah baca lagi,” celetuk salah seorang jurnalis.

Kejadian keseleo lidah bukan kali pertama dilakukan Taufiq. Politisi PDI Perjuangan ini juga pernah keliru saat menyebutkan sejumlah mantan presiden dan wakil presiden saat melantik SBY-Boediono.

Saat itu, Taufiq menyebutkan nama BJ Habibie menjadi “Jusuf Baharuddin Habibie” dan menyebutkan nama SBY menjadi “Susilo Doktor Bambang Yudhoyono,”.

Lantas, apa tanggapan Taufiq menyikapi kekeliruannya tadi?

“Biasa, namanya juga orang tua. Agak salah bacanya padahal teksnya sudah cukup besar,” ujarnya sambil cengengesan. (okezone)

Menkes Baru Akui Dekat dengan Namru

Jum'at, 23 Oktober 2009 - 00:28 wib




JAKARTA - Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui dirinya sebagai orang dekat dengan Namru II (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut AS.

"Saya dekat dengan Namru. Tidak hanya itu, saya juga dekat dengan Belanda, Jepang, dan China," ujarnya saat jumpa pers usai upacara serah terima jabatan dengan Menkes KIB I, Siti Fadhilah Supari, di Auditorium, Lantai 2 Gedung Baru Departemen Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2009).

Kedekatan itu diterangkannya, merupakan kedekatan sebagai sesama peneliti yang bekerjasama. Semua itu berbasis pada profesionalitas.

Kemudian, Endang juga menegaskan akan melanjutkan kerjasama dengan Namru. Kendati project lembaga riset Amerika Serikat itu akan berakhir pada Desember mendatang.

"Kita tidak bisa bekerja sendiri, karena ini era globalisasi," ujarnya.

Kerjasama dengan AS menurutnya sangat penting dilaksanakan guna peningkatan mutu kesehatan masyarakat Indonesia di masa mendatang. Titik beratnya tidak hanya pada pembuatan vaksin penyakit menular, tetapi untuk aspek pengobatan yang lebih luas.

"Kerjasama diperlukan. Tetapi harus fair, transparan, dan seimbang di kedua belah pihak. Tentu harus menguntungkan Indonesia," pungkasnya.

The US Naval Medical Reseach Unit (Namru) merupakan unit kesehatan Angkatan Laut Amerika yang berada di Indonesia. Misinya mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular. Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.(hri)

Malam Ini, Tujuh Anggota BPK Ditetapkan

Liputan 6
DPR bakal menetapkan tujuh pengganti anggota BPK yang pensiun. Mereka terpilih setelah mengikuti proses seleksi yang dilakukan Komisi XI DPR.


Calon BPK Jalani Uji Kelayakan dan Kepatutan : Mantan Auditor Ditanya Soal Penerimaan DAU

VIVANEWS



VIVAnews - Calon Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), malam ini menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI bidang Keuangan DPR. Diantara para calon ada sejumlah nama yang sempat terkait kasus korupsi, salah satunya Khairiansyah Salman.

Mantan auditor BPK ini tersangkut kasus pada 2005, yakni menerima Dana Abadi Umat (DAU) sebesar Rp 10 juta. Ia meminta kasus itu jangan dilihat sebagai kesalahannya secara personal.

"Jangan dilihat persoalan ini berdiri sendiri, sebab kalau dilihat, posisi saya paling bawah," kata dia menjawab pertanyaan anggota Dewan di gedung DPR/MPR RI, Rabu 9 September 2009.

Seperti diketahui, pada 21 November 2005 Khairiansyah Salmah ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Agung. Dia diduga menerima uang Rp10 juta yang seharusnya digunakan untuk kegiatan sosial, tempat ibadah dan pendidikan.

Menurut dia, sebagai warga negara, dirinya sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukannya sedangkan keputusan berada pada wewenang atasan. Dia juga menjelaskan, saat ini pencabutan dirinya sebagai tersangka dalam kasus tersebut sedang dalam proses. "Pencabutan SP3 sedang dalam proses,"tuturnya.

Seorang Calon Ketua BPK Dicecar Status Tersangka - Khairiansyah Salman

Liputan6
10/09/2009 05:20
Liputan6.com, Jakarta: Uji kelayakan dan kepatutan calon Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dilakukan Komisi Keuangan dan Perbankan DPR RI di Jakarta, Rabu (9/9), memasuki hari ketiga. Khairiansyah Salman, salah satu calon, mendapat perhatian khusus dari anggota dewan yang mengujinya.

Mantan auditor BPK itu diragukan DPR karena status tersangkanya terkait kasus korupsi dana abadi umat Departemen Agama pada 2005. Namun, Khairiansyah yang pernah menjebak Mulyana W Kusuma, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) 1999-2004, menjelaskan statusnya menunggu proses surat penghentian penyidikan perkara (SP3) dari kejaksaan.(BOG)