Tampilkan postingan dengan label merapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merapi. Tampilkan semua postingan

Relawan Merapi Dibui Gara-gara Pisau SAR

Relawan Merapi Dibui Gara-gara Pisau SAR

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA
- Arief Johar Cahyadi Permana (24), relawan SAR DIY asal Klaten, hingga kini (2/1/2011) mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman. Ia menjadi tahanan titipan Kejaksaan Negeri (Kejari) atas dakwaan kepemilikan senjata tajam berupa pisau lipat.

Pisau lipat, ditambah golok dan linggis, merupakan sarana taktis SAR pada operasi evakuasi korban bencana erupsi Merapi. "Pisau lipat yang saya bawa itu sekaligus korek dan senter, jadi selalu saya bawa kemana-mana," kata Arief saat ditemui Tribun Jogja di Lapas pada jam besuk Lapas, Rabu (02/02/2011).

Arief ditangkap petugas Polres Sleman, saat razia 23 November 2010 pukul 23.30 WIB di Jembatan Timbang, Maguwoharjo. Pada razia tersebut, ada 18 orang terjaring, untuk berbagai macam kasus, termasuk senjata tajam dan narkoba.

Brotoseno, komandan SAR DIY pun mengaku berang saat mengetahui Arief ditahan gara-gara pisau lipat yang menjadi perlengkapan SAR itu. “Polres Sleman benar-benar berlebihan. Itu kan pisau lipat. pisau lipat. Itu standard rescue,” katanya.

Namun, Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman, Petrus Sadiyo SH, bersikukuh, bila senjata tajam yang ditemukan saat razia polisi itu ilegal. Kalau memang yang bersangkutan bisa membuktikan ijin kepemilikan senjata tajam, petrus yakin, Arief akan bebas dari tuntutan.

Saat ini, Arief menunggu proses sidang di PN Sleman. Minggi ini, sidang pembacaan dakwaan telah dilakukan. Ia diancam undang-undang darurat tahun 1951, pasal 2 ayat 1, tentang kepemilikan senjata tajam tanpa ijin. "Ancamannya 10 tahun penjara," kata Petrus. (*)

Editor : syafik
http://jogja.tribunnews.com/2011/02/02/relawan-merapi-dibui-gara-gara-bawa-pisau-sar

SAR DIY: Pisau Lipat itu Perlengkapan Standar Rescue

TRIBUNJOGJA.COM - YOGYA - Komandan SAR DIY, Drs Brotoseno MSi, akan mengupayakan kebebasan Arif. Ia bersedia menjadi saksi ahli dalam sidang terdakwa Arif atas kepemilikan senjata tajam berupa pisau lipat. Sebab, senjata tajam itu menjadi peralatan standar rescue.

"Saya akan somasi pihak-pihak yang terkait," kata Seno dengan nada tinggi, kepada Tribun Jogja, Rabu (2/2/2011), di Hotel Rumah Palagan, Dusun Mudal, Ngaglik, Yogyakarta.

Brotoseno mengaku benar-benar berang, saat mengetahui Arief Johar Cahyadi Permana ditahan gara-gara pisau lipat yang menjadi perlengkapan SAR itu. “Polres Sleman benar-benar berlebihan. Itu kan pisau lipat,” katanya. Seno memang baru mendapatkan laporan ditahannya Arief pada Selasa (1/2/2011) malam.

Menurutnya, pisau lipat termasuk survival kit anggota SAR. "Untuk operasi Kecelakaan laut, kami jarang memakai pisau lipat. Sedangkan operasi kecelakaan gunung dan rimba selalu membawa pisau lipat. Itu standard rescue," kata pemilik hotel Rumah Palagan ini.

Untuk operasi evakuasi korban Merapi, lanjutnya, semua relawan dibekali pisau lipat, golok, linggis dan peralatan lainnya. “Relawan bawa pisau lipat kok ditangkap. Memang polisi tidak tahu standard rescue. Pisau lipat itu perlengkapan standar rescue. Mestinya kan bisa tanya dulu pada yang tahu. Kasus ini bisa sampai ke pengadilan tentu proses awal di Polres dan Kejaksaan yang ngaco itu," urai Seno.

Dalam kesempatan itu, Brotoseno juga mempertanyakan aturan tentang kepemilikan pisau lipat, linggis, golok, kampak dan senjata tajam lainnya. “Kalau memang semua itu harus ijin, semua warga negara Indonesia ini ya harus ditahan,” katanya dengan nada tinggi.

Di tempat terpisah, Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Danang Kuntadi mengaku tidka tahu menahu soal kasus Arief. "Saya tidak banyak tahu, karena kasusnya ditangani Kasatreskrim yang lama," kilahnya.

Mantan Kasatreskrim Polres Sleman AKP Qori Okto Handoko saat dihubungi mengakui telah ada penangkapan yang mengaku relawan. Saat itu, ia terjaring operasi gabungan Pekat malam di kawasan Maguwo. “Saat itu yang bersangkutan membawa sajam, kemudian dia diamankan di Polres Sleman," ujarnya kepada Tribun Jogja, Rabu (2/2/2011).

Menurut Okto, penangkapan itu dilakukan karena Arief membawa senjata tajam dan tidak sedang berada di lokasi bencana.

Sedangkan Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman, Petrus Sadiyo SH, saat ini kasus tersebut sudah dalam persidangan tahap pertama. “Sudah pembacaan dakwaan. Terdakwa di ancam pasal kepemilikan senjata tajam tanpa ijin," papar Petrus.

Ia menambahkan, kalau memang yang bersangkutan bisa membuktikan ijin kepemilikan senjata tajam, petrus yakin, Arief akan bebas dari tuntutan.

Tapi kalau ia terbukti memiliki senjata tajam tanpa ijin, lanjut Petrus, ia telah melanggar undang-undang darurat tahun 1951, pasal 2 ayat 1, tentang kepemilikan senjata tajam tanpa ijin. "Ancamannya 10 tahun penjara," katanya. (*)

http://jogja.tribunnews.com/2011/02/02/sar-diy-pisau-lipat-itu-perlengkapan-standar-rescue

Sebelum Ditangkap Arief Bakar Bangkai Sapi

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN
- Arief Johar Cahyadi Permana (24), terdakwa kepemilikan senjata tajam yang kini mendekam di Lapas Cebongan Sleman, merupakan relawan SAR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Posko Balairantai. “Saya bergabung awal November 2010, setelah letusan besar itu. Saya tergerak saja untuk membantu,” katanya, saat ditemui di Lapas Cebongan, Rabu (2/1/2011).

Ditambahkan, begitu terjadi letusan besar dan abu Merapi masuk Kota Yogya, Universitas Indonesia (UII), kampus tempatnya kuliah, libur. Selain karena udara cukup pekat, kampus di kawasan Jl Kaliurang itu dijadikan tempat pengungsian.

“Ketika melihat pengungsi yang bertumpuk-tumpuk di kampus, saya tergerak. Saya kasihan. Karena itu, saya kemudian daftar jadi relawan. Waktu itu ada teman kampus juga yang ikut daftar,” kata Arief.

Saat itu, Arief sengaja memilih SAR Pos Balairantai, karena dekat dengan rumah orang tuanya. Ia berpikir, kalau ada sesuatu dengan keluarganya, dia bisa cepat bisa menolong.

Di pos itu, Arief bersama anggota SAR lainnya ditugasnya menjadi Tim Pendahulu. “Saya bertugas memotong pohon-pohon yang menghalangi jalan untuk evakuasi. Setelah dimungkinkan untuk dilalui kendaraan, baru tim lain masuk,” katanya.

Beberapa hari selama menjadi relawan, Arief menikmati tugasnya itu. Pagi hari, ia bersama rombongan berangkat menuju lokasi yang telah ditentukan, dan menjelang siang dia kembali ke pos. Perlengkapan standar selalu menemani pekerjaannya itu adalah linggis, parang, pisau lipat, senter dan masker.

Meski harus menguras tenaga, Arief mengaku sangat menikmati tugas kemanusiaan itu. Apalagi, ketika tim-nya sempat mengevakuasi dua korban meninggal, laki-laki asli Klaten itu semakin bersemangat.

Di hari terakhir tugasnya sebagai relawan, 23 November 2010, Arief dan tim-nya bertugas membakar bangkai sapi dan memotong pohon-pohon di lereng Merapi sisi Klaten. Pukul 14.00 WIB, Arief kembali ke Posko dan beristirahat.

Setelah sekitar satu jam beristirahat, Arief bersama relawan lainnya disibukkan dengan pengurusan bantuan logistik. Malam harinya, sekitar pukul 22.00 WIB Arief memutuskan kembali ke Yogya, karena keesokan harinya harus mengikuti perkuliahan di Jurusan Akutansi, Fakultas Ekonomi, UII.

Untuk menuju Kota Gudeg, Arief melalui jalur Maguwoharjo melewati Jembatan Timbang. Kebetulan, malam itu di kawasan tersebut sedang dilangsungkan razia oleh Polres Sleman. Dan, pisau lipat perlengkapan SAR yang dibawanya, membawa laki-laki itu ke sel. (*)

http://jogja.tribunnews.com/2011/02/02/sebelum-ditangkap-arief-bakar-bangkai-sapi

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi Tahun 2010

Sumber : ESDM – BPPTK :: Geospasial – BNPB

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Merapi Tahun 2010, ESDM – BPPTK

Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut di sini, atau klik link download.

Detail:

Jenis Peta : Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi Tahun 2010
Sumber : ESDM – BPPTK
Tanggal Pembuatan : 03 Desember 2010
Format/Ukuran File : PDF/1.65 MB
Deskripsi : Peta menunjukkan kawasan rawan bencana Gunung Merapi, hasil letusan tahun 2010. Lebih lanjut peta akan dilengkapi dengan informasi penting terkait dengan kawasan rawan bencana. Lebih lanjut peta akan dilengkapi dengan informasi terkait dengan ancaman lahar dingin lainnya (BPPTK)

DOWNLOAD

Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin G. Merapi Tahun 2010

Sumber : Geospasial – BNPB

Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin G. Merapi Tahun 2010

Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut di sini, atau klik link download.

Detail:

Jenis Peta : Peta Ancaman Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi Tahun 2010
Sumber : ESDM – BPPTK
Tanggal Pembuatan : 03 Desember 2010
Format/Ukuran File : PDF/4.40 MB
Deskripsi : Peta menunjukkan kawasan rawan bencana banjir lahar dingin Gunung Merapi Tahun 2010

DOWNLOAD

Merapi Membara Meradang Membakar


1st collector for Merapi Membara Meradang Membakar
Follow my videos on vodpod

Pingin nulis tentang Merapi karena kaki tak kuasa melangkah kesana :(Kala Alam sudah bergolak, kala bumi sudah bergoyang, Apalah daya anak manusia ditepian kerak (bumi),Hanya dengan sepoi goncangan semua lantak, luluh daya tiada Bumi menggersang kerontang, padang senyap tanpa ilalang kehidupanMerapi memang bergolak, menghempas alam,Bencana kata kita, bala celaka pembawa duka,Tangis pilu seiring sumpah serapah dihamburkan,Seolah bumi ini Mahluk Jahat tak berperiTak sadarkah, bumi ini lebih sakit menahan deri

Merapi Membara Meradang Membakar

Pingin nulis tentang Merapi karena kaki tak kuasa melangkah kesana :(

Kala Alam sudah bergolak, kala bumi sudah bergoyang,
Apalah daya anak manusia ditepian kerak (bumi),
Hanya dengan sepoi goncangan semua lantak, luluh daya tiada
Bumi menggersang kerontang, padang senyap tanpa ilalang kehidupan

Merapi memang bergolak, menghempas alam,
Bencana kata kita, bala celaka pembawa duka,
Tangis pilu seiring sumpah serapah dihamburkan,
Seolah bumi ini Mahluk Jahat tak berperi

Tak sadarkah, bumi ini lebih sakit menahan derita,
Alam lebih murka menahan geram,
Tatkala, manusia menyombongkan kelemahannya
Begitu jumawa dibalik keluh, begitu indah kata dusta

Bila satu Merapi sudah seperti ini
Terbayangkah bila dua, tiga, empat Merapi menari bersama
Alam adalah ciptaan, anak manusia pun begitu rupa
Semua tiada arti bagi Sang Kuasa kecuali yang mampu berkaca diri

Ini ujian atau azab, kuasa Illahi yang pasti











Semoga Alam Berkenan Berdamai Dengan Manusia Atas Ijin-Nya

Amin

Memantau Merapi Lewat Internet

Molten lava flows from the crater of Mount Mer...Image by cahpamulang via FlickrSolo Cyber City

Duka atas korban gunung Merapi terus meluas. Solidaritas pun bersemi di mana-mana. Ada berbagai situs yang mencoba berbagi bantuan untuk para korban Merapi lewat jalur internet. Inilah beberapa di antaranya:

1. SITUS JALIN MERAPI (merapi.combine.or.id)
Situs ini dibikin oleh Komunitas Jaringan Informasi Lingkar Merapi. Komunitas ini memakai Twitter, blog, bahkan mereka juga menggabungkan dengan komunikasi radio. Pengguna internet di Jakarta bisa langsung mendengarkan percakapan para penjaga posko Merapi lewat walkie talkie.

Komunitas maya Jalin Merapi yang dibangun Sukiman, petani asal Desa Sidomulyo, Klaten, Jawa Tengah, empat tahun lalu, malah telah berbuat jauh lebih besar. Gotong royong warga di luar Merapi bahkan di luar Pulau Jawa tercipta lewat komunitas ini.

Anda bisa mengecek bantuan apa yang dibutuhkan, update berita terbaru dari akun Twitter @jalinmerapi, hingga ke lokasi posko.

2. FACEBOOK FAN PAGE YOGYAKARTA
Berisi informasi Yogya terkini dan gerakan untuk mengumpulkan nasi bungkus serta bantuan lainnya. Ada 495 ribu pengguna Facebook yang tergabung dalam Fan Page ini. Anda ingin membantu? bisa lewat nomor-nomor berikut:
Posko Bantuan Bencana Merapi
Fan Page Yogyakarta
Wisma Sorsawo
Jl. Tamansiswa, Joyonegaran MG II /893 Yogyakata
cp: Uut > 081804044169
cp: Ida > 0816689025

Rek: BCA 2281140711
a/n : Ina Trafina

Rek: Mandiri 121 0099024642
a/n : Lugtyastiti Budiasih

3. AKUN TWITTER @jalinmerapi
Ini adalah agregat yang mengumpulkan informasi dari para pengguna Twitter. Laporannya langsung dari lapangan. Contohnya, relawan yang membutuhkan bantuan akan menyampaikaninformasi di sini.

4. UKUR JARAK ANDA DARI PUNCAK MERAPI

Anda bisa menghitung jarak rumah Anda dari puncak Merapi dengan aplikasi ini. Kunjungi situs http://students.ukdw.ac.id/~22074214/hitungjarak.php. Ada dua pin merah di sana. Satu pin merah ada di puncak Merapi. Satu lagi pin di bawahnya, bisa Anda pindahkan sesuai dengan posisi Anda. Gunakan peranti zoom di sebelah kiri untuk memperjelas lokasi rumah Anda. Nah, begitu Anda memindah pin kedua ke lokasi rumah Anda, maka jarak akan diketahui. Ingat, jangan memindahkan pin yang ada di puncak Merapi. Jika, posisi Anda berada dalam jarak kurang dari 20 kilometer, mohon segera mengungsi.

5. INFORMASI TENTANG MERAPI
Anda bisa mendapatkankabar tentang Merapi melalui Facebook Informasi Tentang Merapi. Informasinya cukup lengkap.

6. PANTAU PERCAKAPAN POSKO MERAPI
Silakan kunjungi halaman ini

7. KE MANA MENYERAHKAN BANTUAN?
Ada banyak lembaga yang membuka posko dan rekening untuk menyerahkan bantuan. Ini adalah beberapa lembaga sosial yang terpercaya:

a. Yayasan Dompet Dhuafa (dompetdhuafa.or.id)
Ini adalah salah satu yayasan yang menjadi pelopor untuk mengumpulkan dana bantuan bencana. Yayasan ini independen dan diaudit secara terbuka.

Rekening Bantuan Bencana BCA 237 300 6343, BNI Syariah 009 153 9002, Mandiri 103 00 55 77 55 77

b. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional)

1 BCA Kwitang 6860148577
2 Bank Mandiri Plaza Mandiri 070 000 18 77773
3 Bank BNI Syariah Prima Jakarta 0095777779
4 Bank Muamalat Kp Sudirman 301.77777.16
5 Bank Permata Syariah Pondok Indah 971007877
6 Bank Syariah Mandiri Thamrin 009.0077777
7 BRI Syariah Mampang 100 0782 854
8 Bank BTN Syariah Jakarta – Harmoni 701.10016.77
9 Bank Danamon Syariah Ciracas 1005832370
10 Bank Syariah Mega Indonesia Kuningan 1000017779
12 Bukopin Syariah Melawai 8800277.01.0


c. Aksi Cepat Tanggap (actforhumanity.or.id)

Rekening Donasi untuk Penanganan Bencana Alam a.n Aksi Cepat Tanggap :
Bank Mandiri # 101 000 4802 482
BCA # 676 030 3133
BSM # 004 011 9999
BNI 46 # 0140 765 481
Bank Muamalat # 304 0022 915
BII Syariah # 270 2000 256

d. Yayasan Combine Resource Indonesia
CIMB NIAGA
Cab. Slamet Riyadi Solo
acc. 056-010422-1003
a/n Yayasan Combine Resource Institutiton
Kontak di Jalin Merapi

Kontak Posko di Jogja:
COMBINE Resource Institution
Jl KH Ali Maksum 183 Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon – Bantul, DIY. 55188
Telp 0274 411 123 / 0274 – 749 8131
SMS: 08180 438 9000

Sumber: http://blog.tempointeraktif.com/nasional/pantau-merapi-lewat-internet/

Letusan Merapi Semalam Mirip Letusan Tahun 1872

Source : Pustaka Bastari
Jum'at, 5 November 2010 - 12:51 wib
Carolina Christina - Okezone
Gunung Merapi (Foto: Badan Geologi)

JAKARTA - Letusan Gunung Merapi tadi malam terbilang cukup dasyat dan hampir sama dengan letusan yang terjadi pada tahun 1872.

"Letusan yang terjadi malam kemarin hampir sama yang terjadi pada tahun 1872," kata Kurniadi, staff seksi Gunung Merapi kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekhnologi Kegunungapian (BPPTK), Jumat (5/11/2010).

Namun ia tidak menjelaskan secara rinci akibat letusan yang terjadi malam tadi. "Kalau letusan yang tahun 1872 menghancurkan puncaknya. Dan letusan semalam belum terlihat karena kondisi Gunung Merapi masih tertutup awan," ucapnya.

Sementara itu aktivitas Gunung Merapi masih terus terlihat hingga siang hari ini menyusul adanya awan panas dan gempa.

"Aktivitasnya masih terlihat landai berupa awan panas dan gempa 20 kali serta guguran. Namun tidak tinggi,"ucapnya.

Dan untuk awan panas sejauh ini menurutnya mengarah ke arah Selatan tepatnya ke arah Kali Gendol, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan.
(crl)


Sebelum Wedhus Gembel Datang, Ponimin Mengaku Ditemui 'Penguasa' Merapi

Mount Merapi in Central Java.Image via WikipediaHery Winarno - detikNews

Jakarta - Ponimin mengaku ditemui 'penguasa' Merapi atau makhluk gaib penunggu Merapi beberapa hari sebelum musibah awan panas terjadi. Sosok lelaki tua berbaju lurik dan berblangkon khas Jawa itu meminta Ponimin membuat bubur merah dan putih.

"Sabtu 23 Oktober pagi, saya didatangi si Mbah. Dia bilang mau menghancurkan lereng Merapi di empat penjuru, menggunakan kekuatan api, air, tanah, dan angin," cerita Ponimin saat ditemui wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010).

Namun si Mbah berjanji tidak akan menghancurkan tanah di sekitar Merapi asalkan Ponimin maum membuat bubur merah dan putih. Namun bubur itu bukanlah bubur biasa. Air pembuat bubur harus diambil dari 7 mata air yang berbeda.

"Kata si Mbah kalau mau selamat mesti membuat sesajen bubur merah dan putih yang airnya harus dari 7 mata air. Kemudian bubur harus didoakan doa nurbuat dan selamat," kata pria 50 tahun ini.

Ponimin mengaku, ini bukan kali pertamanya si Mbah menemuinya. Sosok gaib itu sudah mulai 'dikenalnya' sejak 1994.

Dalam 'kunjungannya' kali ini, si Mbah juga berpesan, bubur merah dan putih tersebut harus dimakan Ponimin dan keluarga. Selain itu, Ponimin juga diminta membuat ketupat kuning dan digantung di depan rumah.

"Setelah mendapat peunjuk itu, segera menghubungi teman-teman saya, saya katakan boleh percaya atau tidak," kata Ponimin. Ponimin lantas membuat apa yang diminta oleh lelaki tua misterius itu.

"Selasa pagi (26/10), si Mbah datang lagi dan dia bilang akan menunda untuk meminta korban," terang lelaki yang selalu memegang tasbih di tangan kanannya ini.

Namun sore hari, lelaki tua itu datang menemui istrinya dan memberi peringatan. Hingga kemudian datang awan panas, Ponimin, 2 anak, menantu dan 2 cucunya bersembunyi di balik mukena istrinya Yati. Ajaib mereka selamat, dan kemudian pergi meninggalkan lokasi dengan estafet memakai alas bantal karena tanah terasa panas.

Pengalaman ajaib itu membuatnya menjadi kandidat kuat menggantikan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi. Namun Ponimin mengaku masih belum bisa mengambil sikap.

Selama ini, Ponimin dikenal warga lereng Merapi sebagai orang pintar kedua setelah Mbah Maridjan. Dia biasa dimintai tolong warga untuk menentukan hari baik, mengusir setan, dan juga menjadi pawang hujan. (ndr/ken)

Sujud Terakhir Gareng Kinahrejo


1st collector for Sujud Terakhir Gareng Kinahrejo
Follow my videos on vodpod

Mukena 'Ajaib' Takkan Dijual Keluarga Mbah Ponimin

Merapi in 1930Image via Wikipedia detikNews
Yogyakarta - Keajaiban adalah kisah yang selalu menarik atensi publik. Tak ayal, mukena ajaib yang melindungi Mbah Ponimin dari amukan wedhus gembel Merapi menjadi terkenal hingga ditawar 'kolektor' mulai harga Rp 40 juta hingga Rp 100 juta. Namun keluarga Mbah Ponimin tidak akan menjual mukena tersebut.

"Mboten kulo jual berapa pun ditawar (Tidak saya jual berapa pun ditawarnya)," ujar Yati, istri Mbah Ponimin, saat berbincang dengan detikcom di kediaman dr Anna Rateh Wardani, di Dusun Ngentak, Desa Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Selasa (2/11/2010).

Yati mengatakan, dirinya malah akan memberikan mukena ini secara gratis kepada saudara seiman. "Tidak akan dijual karena harus dijaga," katanya.

Pantauan detikcom, mukena tersebut berwarna putih agak kusam, dihiasi renda berwarna pink. Mukena itu biasa disimpan di sebuah tas kecil khusus mukena berwarna putih.

Ukuran mukena ini sama seperti ukuran mukena dewasa lainnya yang sering dipakai untuk salat. Berdasarkan cerita Bu Yati, mukena ini bisa menutupi dan menyelamatkan 7 orang dari semburan awan panas Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010.

7 Orang yang ditutupi mukena tersebut yakni Mbah Ponimin, istrinya, anak kandungnya, anak angkatnya, suami anak angkatnya, dan dua orang cucu Ponimin. Mereka menyelamatkan diri dari wedhus gembel dengan berlindung di mukena itu sembari berjalan dengan alas kain dan bantal secara bergantian.

Selain memiliki mukena "ajaib", keluarga Mbah Ponimin juga menyimpan 7 keris. 2 Di antara keris itu diberi nama Singkir Banyu dan Singkir Geni. Keris itu dipercaya bisa menolak bala dari air dan api.

"Tapi ingkang nyelamatin kulo bukan keris tapi pertolongan Allah. Kalau toh keris itu hanya sebagai perantaraan mawon (Tapi yang menyelamatkan saya bukan keris, melainkan pertolongan Allah. Keris hanya perantaraan saja)," jelas Yati.

--

(Dikirim lewat cahPamulang@gmail.com, call at YM/Gtalk: cahPamulang)


Inilah Korban Kedahsyatan Wedhus Gembel

Inilah Korban Kedahsyatan Wedhus Gembel
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: TJ Sukaryana
Nasional - Rabu, 27 Oktober 2010 | 16:45 WIB
INILAH.COM, Yogyakarta - Awan panas yang keluar dari perut Gunung Merapi menyapu apa saja yang ada di dekatnya. Orang Jawa biasa menyebutnya Wedhus Gembel karena bentuknya yang menyerupai domba liar. 

Namun, domba itu jauh dari jinak. Hempasannya bisa menewaskan siapa saja yang ada di dekatnya. Bangunan yang kokoh sekalipun bisa hancur terkena hawa panasnya.

Dengan kecepatan 300 km per jam, awan panas bersuhu 600 derajat celcius itu tidak pandang bulu siapa korban keganasannya. Apapun akan tergilas. Maklum saja, bukan hanya uap yang dibawa, di dalamnya terkandung juga berbagai macam material. Ada batu besar, kerikil, pasir, abu dan gas vulkanik. Material itu meluncur mengikuti morfologi lereng dan gas vulkanik yang bertekanan tinggi bergerak secara turbulen.

INILAH.COM berhasil mencapai kaki Gunung Merapi, Rabu (27/10/2010) atau sehari setelah wedhus gembel keluar. Foto di atas menunjukkan betapa wedhus gembel jauh dari bayangan domba yang jinak. Tak bersahabat dan membawa maut.


--

(Dikirim lewat cahPamulang@gmail.com, call at YM : cahPamulang)


Foto Rumah Mbah Maridjan

Inilah Foto Rumah Mbah Maridjan
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Abdullah Mubarok
Nasional - Rabu, 27 Oktober 2010 | 16:34 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Rumah Mbah Maridjan sudah dipenuhi abu vulkanik. Awan panas atau biasa disebut wedhus gembel, yang keluar sekitar pukul 17.00 WIB, Selasa (26/10/2010), membuat rumah sang juru kunci Gunung Merapi itu rusak parah.

Di depan rumah Mbah Maridjan terparkir sebuah mobil. Rumah tetangga Mbah Maridjan juga hancur dan diselimuti abu vulkanik. Pepohonan pun kering, tak berdaun.

Mbah Maridjan ditemukan tewas di dapur rumahnya dalam posisi sujud pukul 05.00 WIB, Rabu (27/10/2010). Tubuh sang juru kunci Gunung Merapi itu luka bakar akibat awan panas.

Jenazah Mbah Maridjan kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Dr Sarjito Yogyakarta. 

Lokasi kediaman Mbah Maridjan terletak di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Rumah pria berumur 80-an tahun bergelar Mas Panewu Suraksohargo itu hanya lima kilometer dari puncak letusan Gunung Merapi.

Kemarin malam, Mbah Maridjan sempat ditemui tim evakuasi. Ketika diajak meninggalkan rumahnya, ia menolak. Sebagai juru kunci, Mbah Maridjan tak pernah mau meninggalkan Gunung Merapi.Ia pernah mengatakan, "Kalau saya ikut ngungsi akan ditertawakan anak ayam". [bar]

Pemimpin Amanah Bernama Mbah Maridjan

Nasional - Rabu, 27 Oktober 2010 | 09:09 WIB

Jakarta - Mbah Maridjan wafat di gunung yang sejak 40 tahun lalu selalu ia jaga dengan baik. Keberanian tokoh taat beribadah dalam menjaga Gunung Merapi ini, contoh langka sebagai pemimpin masyarakat kecil yang amanah.

Saat ini, jenazah Mbah Maridjan disemayamkan di RS Sardjito, Sleman, Yogyakarta, Rabu (27/10). Sebelumnya, tim evakuasi menemukan Mbah Maridjan wafat dalam posisi sujud.

"Ditemukan di dapur, posisinya sujud," kata anggota Tim SAR, Suseno, saat ditemui di RS Sardjito.

Lokasi kediaman Mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman hanya berjarak lima kilometer dari puncak letusan Gunung Merapi. Hal ini sangat mengancam keselamatan Mbah Maridjan.

Awan panas atau disebut wedus gembel sudah menyelimuti wilayah itu. Selasa (26/10), sekitar pukul 22.00 malam, Mbah Maridjan sempat ditemui tim evakuasi. Ketika diajak meninggalkan rumahnya, ia menolak. Padahal saat itu ia sudah dalam kondisi lemas.

Saat itu, kondisi jalan menuju rumah Mbah Maridjan sangat mencekam, karena terbakar. Hawa juga terasa panas. Banyak pohon bertumbangan dan mayat bergelimpangan di dekat rumah Mbah Maridjan.

Sebagai juru kunci, Mbah Maridjan memang tak pernah mau meninggalkan Gunung Merapi. Lelaki renta berusia 83 ini pernah mengatakan, "Kalau saya ikut ngungsi akan ditertawakan anak ayam." 

Mbah Maridjan yang bernama asli Mas Penewu Suraksohargo, ini lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada 1927. Ia mendapat amanah sebagai juru kunci dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi.

Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak 1982.

Sejak kejadian Gunung Merapi mau meletus pada 2006, nama Mbah Maridjan menjadi terkenal. Saat itu Gunung Merapi memang diperkirakan akan meletus dan menumpahkan lahar panasnya dalam hitungan hari. 

Hiruk pikuk warga dan pemerintah terlihat dengan semakin meningkatnya status dan aktivitas gunung berapi paling aktif di dunia ini. Namun Mbah Marijan tetap tenang, seolah Merapi tak tengah mengancamnya.

Keberaniannya ini memunculkan spekulasi bahwa lelaki tua ini sangat sakti, memiliki 'ilmu' sangat tinggi sehingga puluhan tahun sudah mengemban tugas berat dari Sri Sultan untuk menjadi juru kunci Merapi. Padahal, Mbah Maridjan hidup seperti kebanyakan warga Gunung Merapi, tinggal di rumah sederhana, dan sesekali sepasang kakinya yang mulai rapuh mendaki Gunung Merapi. 

Ia pun sering didapati sedang duduk berdzikir di masjid yang ada di depan rumahnya.

Mbah Marijan memang selalu tampil tenang. Ia tak menganggap kepulan asap di puncak Merapi sebagai ancaman. Meski demikian ia tetap meminta warga waspada.

Lelaki yang tak mau berbahasa Indonesia ini tak ingin menjawab secara tegas ketika pertanyaan mengarah kepada kemungkinan meletusnya Gunung Merapi pada 2006. Baginya, Allah belum memberi petunjuk berupa tanda-tanda akan meletusnya Merapi sehingga ia tak meminta warganya turun dan mengungsi. 

Kenyataan ini sungguh berlawanan dengan pernyataan Sri Sultan HB X yang meminta warga di lereng gunung segera mengungsi. "Jika Sultan meminta warga turun, berarti itu yang bicara bukan Sultan, melainkan Gubernur," ujar Mbah Maridjan.

Ketika itu Mbah Marijan justru berharap Sultan dan pemerintah daerah mengizinkannya melakukan doa bersama memohon keselamatan agar Merapi tak 'marah'. Bagi Mbah Marijan, yang dimaksud doa bersama itu tidak mesti membuat acara besar seperti layaknya acara 'selamatan' di kampung-kampung dengan mengundang banyak orang. 

"Cukup semua masyarakat bersama-sama berdoa, boleh dari rumahnya masing-masing, meminta kepada Allah agar Merapi tak jadi meletus," ujar Mbah Maridjan.

Sejak Senin (25/10), pemerintah menyatakan status 'Waspada Merapi'. Pemerintah pun mengungsikan para warga yang tinggal di sekitar gunung itu.

Namun Mbak Maridjan tetap bersikukuh tinggal di rumah. "Saya masih kerasan dan betah tinggal di sini. Kalau ditinggal, nanti siapa yang mengurus tempat ini," kata Mbah Maridjan.

Meski demikian, ia meminta warga menuruti imbauan pemerintah. "Saya minta warga untuk menuruti perintah. Mau mengungsi ya, monggo," kata dia.

Mbah Maridjan justru berpendapat, jika ia pergi mengungsi, dikhawatirkan warga akan salah menanggapi lalu panik. Mereka dikhawatirkan mengira kondisi Gunung Merapi sedemikian gawat.

"Sebaiknya kita berdoa supaya Merapi tidak batuk," kata dia.

Warga juga diimbau memohon keselamatan pada Tuhan, agar tak terjadi hal yang tak diinginkan kalau nantinya Merapi benar-benar meletus.

Kapan Merapi meletus menurut Mbah Maridjan?
Mbah Maridjan mengaku tak tahu. Apalagi, ia tak punya alat canggih seperti yang dimiliki Badan Vulkanologi. 

"Hanya Tuhan yang tahu kapan Merapi akan meletus. Saya tidak punya kuasa apa-apa," jawab dia.

Dan kini Merapi telah meletus. Membawa nyawa juru kunci yang selalu amanah menjaga.
Selamat jalan, Mbah Maridjan. [mor]

Mbah Maridjan : Kalau saya ikut ngungsi akan ditertawakan anak ayam


Yogyakarta - Kematian juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, memantik tanggapan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sri Sultan menyesalkan keputusan Mbah Maridjan.

Menurut Sri Sultan, nyawa Mbah Maridjan bisa diselamatkan kalau mau mengikuti saran petugas, yakni mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hanya saja, saran itu diabaikan. Mbah Maridjan memilih tetap tinggal di rumahnya.

Mestinya itu bisa dihindari kalau masyarakat taat pada perhitungan akademik. Mereka yang nggak mengungsi itu itu punya keyakinan sendiri atau karena kesombongan, saya nggak tahu, kata Sultan menjawab pertanyaan wartawan di Kepatihan, Rabu, siang (27/10/2010), seperti dikutip beritajatim.com.

Walau menyesalkan pilihan itu, Sri Sultan tetap menyatakan belasungkawa terhadap kematian Mbah Maridjan. Menurutnya, Mbah Maridjan merupakan sosok yang patut dihormati. Dia telah menunjukkan komitmen luar biasa terhadap masyarakat sekitarnya bahkan kepada negara. 

Mbah Maridjan ditemukan meninggal pukul 05.00 WIB, Rabu (27/10/2010), di dapur rumahnya dalam posisi sujud. Tubuh sang juru kunci Gunung Merapi itu mengalami luka bakar akibat awan panas.

Lokasi kediaman Mbah Maridjan terletak di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Hanya lima kilometer dari puncak letusan Gunung Merapi.

Kemarin malam, Mbah Maridjan sempat ditemui tim evakuasi. Ketika diajak meninggalkan rumahnya, ia menolak.

Sebagai juru kunci, Mbah Maridjan tak pernah mau meninggalkan Gunung Merapi. Lelaki renta berusia 83 tahun ini pernah mengatakan, "Kalau saya ikut ngungsi akan ditertawakan anak ayam". [bar

--

(Dikirim lewat cahPamulang@gmail.com, call at YM : cahPamulang)


Kenapa Awan Panas Disebut Wedhus Gembel?

Jakarta Letusan gunung berapi lazimnya memuntahkan isi perut bumi dalam bentuk batu-batuan, lava atau lahar, dan awan panas bercampur gas. Dari mulut Gunung Merapi, Yogyakarta, yang muncul ialah sekumpulan wedhus gembel atau kambing berbulu gimbal alias biri-biri. Lho kok? 

Wedhus gembel sejatinya jenis bintang ternak yang tidak ditakuti karena penampilannya memang tidak menakutkan seperti domba yang bertanduk, berperawakan besar, dan di sejumlah tempat dijadikan hewan aduan. Wedhus gembel memiliki bulu lebat dan gimbal yang umumnya berwarna putih dan biasanya dipakai sebagai bahan untuk membuat wol. 

Tetapi bagi masyarakat sekitar Gunung Merapi, gunung berapi aktif yang lokasinya berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, wedhus gembel yang menjadi sosok yang sangat menakutkan. Wedhus gembel selalu menjadi bahan pembicaraan setiap gunung yang diyakini memiliki hubungan magis dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul itu. Ketiga tempat itu berada di satu jalur lintasan simetris yang melambangkan hubungan erat Keraton Yogyakarta, Gunung Merapi, dan Laut Selatan. 

Kenapa sangat menakutkan? Karena wedus gembel itu tidak lain sebutan halus yang biasa dipakai masyarakat Jawa untuk merujuk pada wujud yang diyakini punya kekuatan luar biasa atau mematikan. Atau dalam konteks kedigdayaan sebagai sakti mandraguna. 

Wedhus gembel dalam konteks Gunung Merapi ialah awan panas yang bisa membuat tubuh gosong seperti tersengat listrik tegangan tinggi atau tersambar petir. 

Awan panas itu disebut wedhus gembel karena bentuknya yang bergulung-gulung, mirip bulu gimbal biri-biri, kambing yang oleh orang Jawa disebut wedhus gembel. Wedhus gembel bukan seperti awan biasa yang dari jauh tampak putih halus laksana kapas raksasa. 

Dalam kultur Jawa, ada kebiasaan masyarakat (atau ada yang menyebutnya sebagai kearifan lokal dalam konteks keselarasan dengan alam) untuk menyebutkan nama sesuatu yang punya kekuatan besar tidak dengan nama aslinya. 

Mereka lebih senang dan lega menyebut nama lain sebagai bentuk penghormatan atau gelar. Misalnya, awan panas tadi disebut wedhus gembel. Harimau biasa dipanggil dengan si mbah, ular biasa disebut oyod atau akar. Atau, memakai sebutan Ngarsa Dalem,Kanjeng Sultan atau Sinuhun ketika memanggil atau menyebut raja seperti Sultan Hamengkubuwono X yang memiliki nama asli Herjuno Darpito dengan gelar (sebelum menjadi Sultan) Bendoro Raden Mas (BRM) itu.

--

(Dikirim lewat cahPamulang@gmail.com, call at YM : cahPamulang)


Mbah Marijan Simbol Kesetiaan


Jakarta - Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi Jawa Tengah telah tiada akibat tersapu awan panas. Rika Roeslan, menganggap itu sebagai symbol kesetiaan.

"Kalau memang benar meninggal (Mbah Marijan), itu umur ya? Kita harus menjaga spiritnya," ujar Rika saat ditemui di Hotel Ambhara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/10).

Rika juga menutarkan Mbah Maridjan bisa dijadikan symbol dari kesetiaan. Bintang iklan produk minuman berenergi itu sudah menjadi juri kunci Gunung Merapi, sejak masih kecil.

"Mbah Marijan kan sebuah symbol. Dia begitu setia menjaga, dari lahir, kecil sampai meninggal," paparnya. [aji]
 

--

(Dikirim lewat cahPamulang@gmail.com, call at YM : cahPamulang)


Mbah Maridjan "Sang Penjaga Merapi"

Source : Republika

Pria bernama lengkap Mas Penewu Suraksohargo itu telah berpulang ke pencipta-Nya sekitar pukul 05.00 WIB padi tadi.

Mas Penewu Suraksohargo yang akrab dipanggil Mbah Marijan itu ditemukan meninggal dunia dalam posisi sujud di kamar rumahnya.

Mbah Maridjan, sebagaimana janjinya, tetap tidak akan mau meninggalkan area gunung Merapi, meski dia akhirnya meregang nyawa di tempat dimana ia dipercaya sebagai juru kunci.

Amanah juru kunci Gunung Merapi dia peroleh dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Karena Mbah Maridjan sendiri juga merupakan seorang abdi dalem keraton Jogjakarta, yang bertugas sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Sebelum menjabat sebagai juru kunci sejak tahun 1982, pria kelahiran tahun 1927 di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970.

Sebab itu, setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau apakah akan mengungsi atau tidak. Mbah Maridjan mulai terkenal luas pada tahun 2006 lalu.

Pada tahun itu, Mbah Maridjan tetap bertahan di area gunung Merapi Gunung. Karena dia yakin, gunung Merapi tidak akan meletus. Dan itu ternyata betul. Mbah Maridjan pun lalu terkenal dengan keberaniannya itu.

Kronologi Letusan Gunung Merapi

Merapi memasuki fase erupsi sejak Selasa sore, dan meletus 17.02 Waktu Indonesia Barat.
Rabu, 27 Oktober 2010, 06:44 WIB
Elin Yunita Kristanti
BERITA TERKAIT

VIVAnews -- Gunung Merapi akhirnya meletus Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 Waktu Indonesia Barat.

Belasan orang menjadi korban, termasuk rekan kami, redaktur VIVAnews,
Yuniawan Nugroho yang kembali naik ke atas gunung demi membujuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan turun. Editor senior ini memang sudah lama mengenal Mbah Maridjan. Jelang letusan Merapi tahun 2006, Wawan juga bersama Mbah Maridjan di rumahnya.

Seperti diinformasikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Merapi memasuki fase erupsi sejak Selasa sore.

Berikut kronologis letusan Gunung Merapi yang terjadi Selasa sore hingga menjelang malam.

  1. Pukul 17.02 mulai terjadi awanpanas selama 9 menit
  2. Pukul 17.18 terjadi awanpanas selama 4 menit
  3. Pukul 17.23 terjadi awanpanas selama 5 menit
  4. Pukul 17.30 terjadi awanpanas selama 2 menit
  5. Pukul 17.37 terjadi awanpanas selama 2 menit
  6. Pukul 17.42 terjadi awanpanas besar selama 33 menit
  7. Pukul 18.00 sampai dengan 18.45 terdengar suara gemuruh dari      Pos Pengamatan Merapi di Jrakah dan Selo
  8. Pukul 18.10, pukul 18.15, pukul 18.25 terdengan suara     dentuman
  9. Pukul 18.16 terjadi awanpanas selama 5 menit
  10. Pukul 18.21 terjadi awanpanas besar selama 33 menit
  11. Dari pos Pengamatan Gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Merapi
  12. Pukul 18.54 aktivitas awan panas mulai mereda
  13. Luncuran awanpanas mengarah kesektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara

Status Gunung Merapi ditingkatkan dari Normal manjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010. Pada 21 Oktober 2010 status Merapi menjadi Siaga, dan kemudian Awas, terhitung sejak 25 Oktober 2010

Kisah Saat-saat Terakhir Yuniawan Nugroho (wartawan Vivanews)

Rekan kami, Wawan kembali ke lereng gunung bersama dokter Tutur, membujuk Mbah Maridjan.
Rabu, 27 Oktober 2010, 07:47 WIB
Elin Yunita Kristanti
   
VIVAnews -- Redaksi VIVAnews sedang berduka. Seorang redaktur andalan nan santun, Yuniawan Wahyu Nugroho yang kerap dipanggil 'Mas Wawan' gugur dalam tugas peliputan di Gunung Merapi.

Seorang rekannya di Yogyakarta, Kinaransih, menceritakan saat-saat terakhir pertemuannya dengan Wawan.
Ketika baru mendarat di Yogyakarta, Selasa sore, Wawan langsung ke Apotek Kentungan, perempatan Ring Road, Jalan Kali Urang -- menuju lereng merapi.
"Saat itu pukul 17.00 WIB, kondisi hujan deras," kata Kinaransih kepada VIVAnews, Rabu 27 Oktober 2010.

Wawan lalu pergi ke lereng Merapi bersama kerabat Mbah Maridjan, Agus Wiyarto dan dokter PMI, Tutur Priyono.
Kontak terakhir Kinaransih dengan Wawan dilakukan melalui pesan pendek pada pukul 18.08.

Isinya: iyo iki, wis podo ngungsi. Mbah Maridjan isih solat ndek mau wis tak temoni. (Iya, warga sudah pada mengungsi. Mbah Maridjan masih solat, tadi sudah saya temui).

"Setelah itu saya kehilangan kontak dengan Mas Wawan," kata Kinaransih.

Saat Merapi meletus dan mengeluarkan api, Kinaransih yang cemas dengan kondisi Wawan lalu menghubungi Agus Wiyarto. Berita di ujung telepon, membuat kedua lututnya lemas.

"Inalillahi ... sudah takdirnya. Garise gusti [garis illahi]. Saya sudah mengingatkan jangan naik, bahaya," kata Kinaransih, menirukan ucapan Agus.

Dari Agus diketahui, Wawan sempat dievakuasi ke barak pengungsian. Ia satu mobil bersama dokter Tutur -- yang ditemukan tewas di dekat Wawan.

Sementara keluarga Mbah Maridjan dan Agus menaiki mobil lain.

"Pak Agus mengaku bingung, dokter Tutur, orang PMI, dan Mas Wawan mau naik lagi mau membujuk Mbah Maridjan," kata Kinaransih.

Editor senior itu memang mengenal dekat Mbah Maridjan. Jelang  letusan Merapi tahun 2006, Wawan juga berada di rumah Mbah Maridjan. Ia mungkin merasa kedekatannya itu bisa meluluhkan hati Mbah Maridjan.

Agus mengaku sempat berbincang dengan Wawan menjelang saat-saat terakhirnya. Saat itu, Agus bertanya, kapan Wawan akan kembali ke Jakarta.

Jawabnya: "Saya pulangnya Rabu sore, mau nemui anak istri di Ambarawa."

Siapa Sebenarnya Mbah Maridjan?


REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Mbah Maridjan alias Mas Penewu Suraksohargo melambung namanya ketika Merapi melakukan erupsi tahun 2006 lalu. Ia bersama sejumlah warga Kinahrejo Kecamatan Cangkringan Sleman yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III menolak untuk di evakuasi. Padahal saat itu, Gunung Merapi sudah masuk tataran Awas.

Bahkan Raja Kraton Ngayogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X sempat meminta dia untuk turun gunung. Namun yang bersangkutan tidak mau. Beruntung erupsi Merapi tidak segawat yang diperkirakan para ahli, sehingga kekukuhan Mbah Maridjan bahwa Merapi tidak berbahaya menjadi benar.

Namanya terus melambung dan kemudian menjadi bintang iklan sebuah minuman berenergi. Duit pun mengalir deras ke kantongnya. Selebritis gaek ini tidak menikmati uangnya sendiri, tapi dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Di daerah Kinahrejo, ia membangun masjid serta gereja. Warga di sana pun diminta beribadah sesuai keyakinan. Selain itu, Mbah Maridjan acap kali menyalurkan beras dan sembako kepada warga yang membutuhkan.

Mbah Maridjan sendiri lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman pada tahun 1927. Kekuasaan sebagai kunci Gunung Merapi itu ia dapatkan dari amanah yang diberikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982. Mbah Maridjan mempunyai beberapa anak yakno  Mbah Ajungan, Raden Ayu Surjuna, dan Raden Ayu Murjana.