Tampilkan postingan dengan label Situ Gintung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situ Gintung. Tampilkan semua postingan

Situ Gintung Meluap, Jl Gunung Raya Ciputat Banjir 1 Meter

detikNews :

Jakarta - Hujan deras di kawasan Jakarta membuat banjir setinggi 1 meter di Jl Gunung Raya, Ciputat. Banjir ini berasal dari luapan Situ Gintung dan membuat lalu lintas macet.

"Situ Gintung meluap dan Jl Gunung Raya ditutup. Ketinggian air 1,5 meter," kata Aiptu Kasno petugas TMC Polda Metro Jaya, Selasa (17/8/2010).

Menurut Kasno, hujan juga menyebabkan banjir di Cirendeu, Pondok Cabe. Selain itu, hujan juga membuat banjir di kawasan Petogogan, Jakarta Selatan.

Genangan air ini juga terjadi di daerah Kemang. Banjir setinggi 40 cm ini membuat kendaraan tidak bisa melintas. Lokasi lainnya yang tergenang air adalah di Jl Antasari arah Blok M, genangan di kawasan ini setinggi 40 cm.
(nal/fay)

Tanggul Maut Situ Gintung Ganti Nama

VIVANEWS


VIVAnews - Kini, tidak ada lagi nama Situ Gintung untuk lokasi waduk yang pernah mengalami bencana pada Maret 2009 dan menewaskan lebih dari 100 orang itu. Pemerintah mengganti nama Situ Gintung.

Seperti dilansir Tvone.co.id, penggantian nama Situ Gintung itu disampaikan Kepala Balai Besar Waduk Sungai Ciliwung Cisadane Departemen Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio.

"Ingatan orang selama ini memang Situ Gintung, namun sebenarnya itu bukan Situ," kata Pitoyo di Tangerang. Menurut dia, bangunan yang jebol pada 27 Maret 2009 bukan tanggul situ tetapi bendungan, karena sumber air di Gintung itu terus mengalir tidak tergenang seperti situ.

Situ itu merupakan area genangan air berada di sebuah danau dan jelas berbeda dengan istilah bendungan. "Mulai saat ini Situ Gintung berubah nama menjadi Bendungan Gintung sesuai kesepakatan dari pemerintah," ujar dia.

Ia juga mengatakan, pihaknya telah menganti rugi sebagian rumah warga yang dibebaskan dan segera membangun saluran pembuangan air Bendungan Gintung.

Ditegaskan, rekonstruksi saluran pembuangan air bendungan Gintung sepanjang 26 meter dari hulu sampai hilir juga akan dibangun taman. "Tanggal 3 Desember 2009 kita sudah melakukan kontrak dengan warga dalam pembebasan lahan,"ujar Pitoyo.

Menurut dia, persoalan yang dihadapi dalam pelebaran saluran pembuangan air bendungan Gintung, yaitu ada bangunan Masjid Jabalur Rahman yang berada di area yang akan dibebaskan.

Masjid Jabalur Rahman, kini terus berkembang dengan dibangunnya tempat belajar bagi anak-anak korban bencana. "Pelebaran kaki bendungan Gintung masih terkendala, IMB bangunan itu masih dipertanyakan," tandas Pitoyo.

Situ Gintung Dibagi Tiga Zona

Situ Gintung Dibagi Tiga Zona

27 April 2009 , 00:24
CIPUTAT-Direktorat Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Budi Yuwono menyatakan peta Situ Gintung, Ciputat Kota Tangsel akan dibagi menjadi tiga zona hitam, yakni zona di mana tidak boleh ada pemukiman, zona pemukiman tidak rapat, dan zona boleh pemukiman rapat.

Menurut Yuwono untuk menata Situ Gintung pasca bencana, wilayah Situ Gintung akan dibagi menjadi tiga zona. Dari tiga zona tersebut akan diukur berapa luas zona tersebut, sementara zona yang boleh dibangun pemukiman akan diatur, koefisien dasar bangunan (KDB) tidak boleh rapat."Rumah yang sebelumnya padat, tidak boleh berhimpit-himpitan," ucap Budi Yuwono.

Meski tidak menyalahkan siapa yang harus bersalah, sambung Yuwonojebolnya tanggul Situ Gintung memang karena kelalaian banyak pihak, baik dari pemerintah hingga masyarakat yang bertempat tinggal disekitar danau buatan tersebut."Idealnya, harus ada jalan air untuk pengamanan, tetapi itu yang terlupakan. Siapa saja yang berhubungan dengan Situ ini baik pemerintah maupun masyarakat sekitar harus mengakui kesalahan itu. Tapi sudahlah, kita jangan saling menyalahkan," ungkap Yuwono.

Yuwono mengungkapkan, sambil menunggu detail Situ Gintung disahkan. Kedepan, bendungan akan dikombinasi dari beton dan tanah, karena sebelumnya desain sudah dimulai sejak tanah di situ diukur. Selain menata tanggul dan pemukiman sekitarnya, bagian hilir situ juga harus ditata ulang termasuk saluran pengeluaran air."Zona terdampak harus dibersihkan dari bangunan dan akan diberikan zona regulation. Kemungkinan bulan depan tata ruang baru sudah selesai,"jelas Yuwono.

Direktur Sungai Danau dan Waduk Ditjen Sumber Daya Air Widagdo mengaku, pemerintah pusat tidak akan mengurangi luas Situ Gintung. Melainkan hanya mengurangi kedalaman situ."Sedangkan lahan bekas air yang kering akan menjadi garis hijau sebagai taman kota," jelasnya. (iin)

DPR Sertifikat Tanah Bermasalah di Situ Gintung


DPR Sertifikat Tanah Bermasalah di Situ Gintung



Rabu, 22 April 2009

TANGERANGNEWS-Kunjungan komisi V DPR RI ke lokasi jebolnya tanggul situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan Rabu (22/4) pagi membeberkan fakta baru. Adanya pelanggaran atas status kepemilikan tanah yang dibuktikan dalam sertifikat tanah. Itu dilakukan pemerintah daerah, BPN dan masyarakat. Terbitnya sertifikat tanah di lokasi sekitar situ Gintung, menurut ketua komisi V DPR RI, Ahmad Muquwam sangat disesalkan. Sertifikat tanah itu jelas merupakan pelanggaran serius. Karena terbitnya sertifikat tanah merupakan bukti otentik kepemilikan yang diakui Negara.

Padahal, sambung dia kepemilikan lahan disekitar situ Gintung sangatlah tidak memungkinkan. Status kepmeilikan tanah itu memiliki aturan tersendiri. Sehingga seharusnya tidak ada status kepemilikan di sektiar situ Gintung.
“Sekarang Tanya sama BPN, pemda Tangerang dan masyarakat. Bagaimana itu bisa muncul. Ini yang jadi pertanyaan kita nanti,” ungkapnya usai meninjau lokasi tanggul Situ Gintung.

Dia meminta pemerintah daerah dapat menindaklanjuti temuan sertifikat tanah di lahan Situ Gintung. Sekaligus mengklarifikasi status tadi. Agar tidak berlanjut dan menjadi jelas status tanah disekitar situ. Sedangkan tindakan penerbitannya, tambah Ahmad Muquwam jelas masuk ketgori pelanggaran. Karena adanya manipulasi data tanah kepemilikan. “Kan sudah jelas tanah di sekitar situ gintung itu tidak bisa jadi hak milik. Kalau jadi hak milik, berarti ada pelanggaran,” tegas ketua komisi V DPR RI ini.

Menurutnya pengembalian status tanah di sekitar Situ Gintung dapat menggunakan Perpres 36/2005 dan revisinya Perpres 65/2006 tentang pencabutan hak atas tanah untuk kepentingan umum. Dengan peraturan tersebut pemerintah punya kewenangan banyak untuk penataan situ Gintung.

Saat didesak agar hasil temuan itu dibawa ke Polda Metro Jaya, Ahmad Muquwam menolak usulan tersebut. Weweangan pemeriksaan merupakan tugas kepolisian. “Kalau memagn polisi melihat ada pelanggaran. Silahkan saja periksa lagi. Tidak perlu kami yang bawa ke sana,” ungkapnya. Camat Ciputat Timur, T Zulfuad menolak temuan DPR RI tersebut. Pemerintah daerah tidak pernah menerbitkan sertifikat tanah yang tidak sah. Semua status kepemilikan tanah sudah memenuhi prosedur. Tidak mungkin ada sertifikat tanah yang illegal.

Mengenai adanya pemukiman di sekitar Situ Gintung, Zulfuad menambahkan munculnya pemukiman itu dilakukan oknum instansi pengairan. “Mereka yang bikin kontrakan di sektiar situ Gintung. Kalau ada sertifikat, berarti mereka yang salah. Suruh mereka tunjukan sertifikat kalau berani,” tantangnya. (den)

Bekas Aliran Air Situ Gintung Dilebarkan

Bekas Aliran Air Situ Gintung Dilebarkan




Kamis, 23 April 2009


TANGERANGNEWS-Bekas
aliran banjir akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu,
Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) akan ditata
dengan lebar 26 meter hingga mencapai Kali Pesanggrahan. Keputusan itu
dari hasil pembahasan disain revitalisasai tata ruang Situ Gintung
menjadi daerah konservasi oleh Depatemen Pekerjaan Umum (PU).



Menurut Direktur Penataan Ruang Wilayah II Departemen Pekerjaan Umum
(PU), Sri Apriatini, dari hasil pembahasan yang belum tuntas itu
dihasilkan beberapa hasil diantaranya, perincian 26 meter revitalisasi
Situ Gintung meliputi pembangunan saluran limpasan atau sungai selebar
6 meter. “Pembahasan akan dilanjutkan kembali pada Minggu depan,”
ujarnya, hari ini.



Sedangkan, sambung Sri, sepadan sungai sebagai ruang terbuka hijau
selebar 10 meter masing-masing di kiri dan kanan sungai. "Kurang lebih
panjangnya satu kilometeran sampai ketemu Kali Pesanggrahan," ujar Sri.
(den)

Situ Gintung Mengamuk Lagi, Satu Mobil Terseret

Situ Gintung Mengamuk Lagi, Satu Mobil Terseret



Senin, 27 April 2009

TANGERANGNEWS-Peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan pada Jumat (27/03) lalu, kini terulang di lokasi yang sama. Pada Senin (27/04) tepat sebulan musibah itu, kembali Situ Gintung mengamuk.

Berdasarkan pengamatan tangerangnews.com Situ Gintung masih sama dengan waktu awal terjadinya peristiwa. Itu terbukti ketika hujan deras turun air yang turun dari situ itu masih deras membawa seluruh benda yang ada di lokasi termasuk satu unit mikrolet yang terbawa arus hingga lima meter dari depan masjid Jabalul Rochmah.

Tampak sekali air yang mengalir dari Situ Gintung ketika turun hujan masih menjadi ancaman warga sekitar, karena air begitu kencang turun dari situ yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu. Tampak juga kepanikan warga sekitar yang terlihat berteriak histeris melihat kejadian itu. Asda I Pemkot Tangsel Ahadi mengaku belum mengatahui peristiwa itu, namun dirinya bersama jajaran akan melakukan peninjauan ke lokasi seceparnya.” Kami akan ke lokasi secepatnya,” katanya, hari ini.

Kepala Sub Perencanaan dan Pengairian Bagian PU Balai Besar Wilayah Sungai Ciluwung-Cisadane Prayitno yang sedang melakukan tes soundir atau melakukan pengujian untuk mengetahui kekuatan tanah mengaku kesulitan dengan terulangnya banjir di sana. ”Sulit buat kami untuk bekerja karena cuacanya seperti ini,” katanya. Meski begitu, dirinya mengatakan, pihaknya sudah selesai membuat detail engineering design (DED) pintu tanggul.

Soal kesehatan pengungsi Ketua Posko Kesehatan pengungsi Situ Gintung dr Maya Mardiana mengatakan, para pengungsi sudah tidak lagi mengalami sakit seperti awal diperpindahan ke Wisma Kerta Mukti, semua sudah berjalan normal. “Justru yang sakit sekarang para relawan, dalam sehari bisa 20 relawan yang datang memeriksakan dirinya. Umumnya mereka mendeerita penyakit ISPA, ” katanya. Persoalan yang terjadi saat ini banyak obat-obatan yang diberikan para donatur sudah mendekati massa exipired. Umumnya, obat yang kedaluarsa adalah obat anti biotik amoxisilin. (den)

Pasca Tragedi Gintung


Pasca Tragedi Gintung
Sudah sebulan tragedi Situ Gintung Ciputat Tangerang berlalu. Tragedi ini tak lepas dari minimnya perhatian pemerintah. Hingga saat ini pembangunan kembali area situ masih belum maksimal karena masih harus menata ulang rencana tata ruang kawasan.






Situ Gintung yang Saya Kenal (Tulisan dari warga Asli Situ GIntung)

 
Senin, 06/04/2009 | 08:06 (GMT+9)

Situ Gintung yang Saya Kenal

Oleh : Sukemi 

MINIMAL, sudah dua kali Situ Gintung menjadi pusat perhatian dan pemberitaan secara nasional. Pada 1987, danau alamiah tersebut menjadi pusat perhatian, bukan hanya masyarakat awam, tapi juga para ilmuwan. Itu berkait dengan peristiwa terlepasnya satu gugus tanah di pinggir sebelah barat, yang di bagian atasnya sudah berdiri satu rumah penduduk setempat, pepohonan, dan juga satu sumur.

Kontan saja waktu itu semua orang bertanya-tanya. Ilmuwan pun berdatangan, baik dari LIPI maupun BPPT, untuk melihat dan meneliti kenapa sebidang tanah bisa begitu saja berpindah atau tercerabut dari dasar bumi. Orang pun berdatangan dalam peristiwa ''tanah pindah" tersebut. Saat itu tidak ada korban jiwa.  Kali ini, Jumat dini hari, 27 Maret 2009 lalu, peristiwa memilukan dan menelan puluhan korban jiwa terjadi di Situ Gintung akibat tanggul di bagian tengah -masyarakat di sana menyebutnya pelimpasan- ambrol tidak kuat menahan tekanan air danau.

Sebagian masyarakat di sana memang masih ada yang memitoskan keberadaan Situ Gintung. Berbagai kejadian misterius sering menjadi bahan cerita jatuhnya korban jiwa di sana. Situ yang diyakini berbentuk seperti orang sedang tidur telentang itu bukanlah danau buatan, tapi danau alamiah, yang kemudian untuk kepentingan irigasi dan pengairan, dibangunlah tanggul dengan dua anak sungai di bagian timur dan barat, sedangkan di bagian tengahnya dibuat pelimpasan dengan konstruksi amat sederhana.

Bentuk seperti orang sedang tidur telentang digambarkan di bagian selatan dengan pulaunya disebut sebagai bagian kepala dan tangan. Sedangkan di bagian utara dengan dua anak sungainya yang dahulu digunakan sebagai saluran irigasi, adalah bagian kaki ditambah dengan tanggul (yang kini jebol) yang dimanfaatkan orang dan kendaraan roda dua sebagai akses jalan dari Kampung Gunung ke poros Jl Ir H Juanda. Minggu pagi, 22 Maret 2009 (lima hari sebelum peristiwa jebolnya tanggul pelimpasan), saya menyempatkan diri berjalan di atas tanggul itu untuk menikmati udara yang masih bersih sambil bernostalgia masa-masa kecil saya bermain, memancing, dan memandikan ternak kerbau di sana tiap sore hari.

Pemandangannya cukup menarik. Di atas situ, dua-tiga orang hilir-mudik dengan menggunakan rakit menjala ikan. Sedangkan di tepian situ, beberapa orang melempar dan menunggu pancingnya dimakan ikan. Pemandangan itu bak lukisan di mana di bagian selatan menyembulkan pemandangan siluet biru Gunung Salak di Bogor.

Keindahan dan keelokan itulah yang menyebabkan beberapa insan film dan pemusik era 1970-an kerap menggunakan tepian situ itu untuk lokasi pengambilan gambar. Sekadar menyebutkan contoh, film-film seperti Si Pincang, Si Manis Jembatan Ancol, Panji Tengkorak, Si Jampang, serta Romie dan Juliet, pengambilan gambarnya sebagian besar dilakukan di Situ Gintung. Aktor-aktor besar di masa itu, seperti Sophan Sophiaan, Widyawati, Muchsin Alatas, Titik Sandhora, Soekarno M. Noer, Rano Karno, Yessi Gusman, Nanin Sudiar, Koes Plus, dan lainnya adalah orang-orang yang kerap melakukan pengambilan gambar di sekitar Situ Gintung.

Berubah Total

Sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di kawasan itu, saya ingin menyampaikan pandangan berkait dengan tragedi tersebut. Pandangan ini tentu terkait dengan kondisi riil tanggul dan kawasan sekitar yang memag telah mengalami perubahan fungsi sejak lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kalau diamati, sudah lebih dari sepuluh tahun, kondisi tanggul dan lingkungan di sana berubah total dengan berubahnya peruntukan di kawasan sekitar. Saya mengetahui benar beberapa perubahan yang terjadi dalam kurun lebih dari sepuluh tahun belakangan ini, mulai kondisi air situ yang sudah tercemar bahan detergen dan sampah domestik dari permukiman di sekitar situ, terjadinya pendangkalan, sampai tumbuhnya gulma air dan eceng gondok.

Menurut saya, faktor terbesar penyebab jebolnya tanggul, selain karena usianya yang sudah tua -dibangun pada zaman Belanda sekitar 1930-an- dan selama ini belum pernah dilakukan perbaikan, juga karena dua anak sungai di bagian timur dan barat tidak lagi difungsikan. Bahkan, pintu air di bagian barat yang dulu digunakan untuk mengatur debit air menuju sungai yang berfungsi untuk irigasi persawahan dan juga cuci serta mandi, yang berada di Rempoa (kini berubah menjadi pabrik tekstil PT Sandatex), sudah lama ditutup. Selokannya sudah diuruk dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk permukiman.

Sedangkan selokan atau sungai di sisi timur tanggul, yang juga melalui pintu air pengaturan yang digunakan untuk persawahan di kawasan Poncol, yang kemudian menyatu dengan Kali Pesanggarahan, kini juga berubah. Sebagian untuk perumahan dan permukiman dan sebagian lagi menjadi Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta. Memang, selokan yang berada di sebelah timur tidak sepenuhnya ditutup, tidak seperti pintu air di bagian barat yang telah ditutup total, tapi anak sungai itu sudah jauh lebih kecil dari sebelumnya, sehingga air yang mengalir ke sungai itu pun sangat sedikit. Seandainya dua sungai di sisi timur dan barat itu masih berfungsi, saya yakin benar tekanan air dari situ itu akan terdistribusi di beberapa titik, tidak terfokus di bagian pelimpasan yang kini telah jebol.

Memang faktor tuanya tanggul juga menjadi penyebab. Apalagi -sepengetahuan saya- tidak ada upaya merehabilitasi atau memperbaiki tanggul, terutama di bagian limpasan yang konon dibangun sejak zaman Belanda itu. Kalau pun dilakukan perbaikan, hanya di bagian atas tanggul untuk keperluan pemavingan, agar pengguna jalan dan kendaraan roda dua tidak terlalu direpotkan menghadapi jalan yang becek dan licin saat hujan.

Perbaikan itu justru memperlemah struktur tanggul karena dengan pemavingan, jumlah kendaraan yang berlalu lalang makin banyak dan bebannya makin berat. Sementara itu, akibat pencemaran detergen, kondisi tanggul atau tanah serta batu kali di daerah limpasan tersebut justru strukturnya makin rapuh sehingga dengan tekanan air yang demikian besar, jebollah tanggul itu.

*. Sukemi, warga asli Situ Gintung

Petaka Situ Gintung : Pemerintah Bangun Huntara

http://foto.inilah.com/topik.php?id=6619








Anggota pasukan TNI dari Kodam Jaya membangun hunian sementara (Huntara) untuk korban tanggul Situ Gintung di Wisma Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (5/4). Pemerintah melalui Departemen Sosial (Depsos) tengah membangun 24 Huntara untuk para korban bencana tanggul Situ Gintung. Sementara menunggu pembangunan selesai, Depsos telah menyediakan tenda penampungan sementara dengan fasilitas lengkap.

Petaka Situ Gintung : Tenda Penampungan Berfasilitas Lengkap

http://foto.inilah.com/topik.php?id=6618


Petugas Taruna Siaga Bencana (TAGANA) membereskan perlengkapan tidur pengungsi di tenda penampungan sementara korban tanggul Situ Gintung di Wisama Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (5/4). Sebanyak 30 tenda lengkap dengan fasilitas kesehatan, MCK, dan tempat ibadah dan disediakan Departemen Sosial untuk penampungan sementara korban bencana tanggul Situ Gintung.



Relawan menata letak tempat pembuangan sampah di tenda penampungan sementara korban tanggul Situ Gintung di Wisama Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (5/4). Sebanyak 30 tenda lengkap dengan fasilitas kesehatan, MCK, dan tempat ibadah dan disediakan Departemen Sosial untuk penampungan sementara korban bencana tanggul Situ Gintung.


Petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) mencoba fasilitas air bersih yang disediakan di tenda penampungan sementara korban tanggul Situ Gintung di Wisama Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (5/4). Sebanyak 30 tenda lengkap dengan fasilitas kesehatan, MCK, dan tempat ibadah dan disediakan Departemen Sosial untuk penampungan sementara korban bencana tanggul Situ Gintung.


Warga usai menggunakan toilet cabin yang disediakan di tenda penampungan sementara korban tanggul Situ Gintung di Wisama Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (5/4). Sebanyak 30 tenda lengkap dengan fasilitas kesehatan, MCK, dan tempat ibadah dan disediakan Departemen Sosial untuk penampungan sementara korban bencana tanggul Situ Gintung.


Petugas Taruna Siaga Bencana memandu warga yang ingin melihat kondisi tenda penampungan sementara korban tanggul Situ Gintung di Wisama Kertamukti, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (5/4). Sebanyak 30 tenda lengkap dengan fasilitas kesehatan, MCK, dan tempat ibadah dan disediakan Departemen Sosial untuk penampungan sementara korban bencana tanggul Situ Gintung.


Situ Gintung Tragedy


Situ Gintung Tragedy, originally uploaded by aris-ressy.

This is pictures of Situ Gintung before and after the lake/dam burst and causing flash flood destroy around 600 nearby houses at dawn. The tragedy of this leisure lake kills almost 100 people with another hundred still missing. "Before" picture taken just 5 days before the tragedy, while the "after" taken next day of the burst.

Situ Gintung Before n After

Situ Gintung 31 Maret 2009

<center><embed type="application/x-shockwave-flash"
src="http://picasaweb.google.com/s/c/bin/slideshow.swf" width="400"
height="267" flashvars="host=picasaweb.google.com&RGB=0x000000&feed=http%3A%2F%2Fpicasaweb.google.com%2Fdata%2Ffeed%2Fapi%2Fuser%2Fcahpamulang%2Falbumid%2F5321079496964905473%3Fkind%3Dphoto%26alt%3Drss"
pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer"></embed>

Gak Bis detail karena waktu itu tidak bisa masuk dan nggak enak dengan
para petugas yang jaga.

Petaka SItu Gintung : Posko Partai Mendadak Kosong

Tanggul Situ Gintung Jebol
Banyaknya kader partai yang kurang profesional sehingga menganggu proses evkuasi.
Kamis, 2 April 2009,

VIVAnews - Memasuki hari Ke tujuh bencana Situ Gintung, Posko yang dibangun oleh sejumlah partai politik mendadak kosong. Kamis 2 April 2009, posko partai yang sebelumnya tampak menjamur, hari ini mulai ditinggalkan.

Pantauan VIVAnews pada pagi ini, di sekitar posko darurat partai politik nampak beberapa atribut parpol yang masih terpampang tanpa penghuni.

"Iya poskonya kosong, tidak tahu orang-orang pada kemana, ini saya cuma numpang istirahat," kata salah satu relawan, Aziz Ramadhan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta, Paimin Napitupulu mengaku merasa terganggu dengan banyaknya kader partai yang kurang profesional.

"Sudah seperti ajang pameran saja," ujar Paimin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jebolnya Pintu air Tanggul Danau Cirendeu, terjadi pada Jumat 27 Maret 2009, sekitar pukul 05.00 WIB.

Akibat kejadian ini 250 rumah hancur dan menyebabkan koerban jiwa 100 orang. Semetara Ratusan orang lainya luka-luka.

---------------------------
Notes :
Ya begitulah adanya

Petaka Situ Gintung : 5 Desember 2008 Tanggul Diketahui Keropos

Tanggul Situ Gintung Jebol
Curah hujan yang tinggi tidak bisa dijadikan dasar utama jebolnya tanggul.


VIVAnews
- Bencana Situ Gintung diduga tidak hanya dikarenakan curah hujan tinggi yang menyebabkan jebolnya tanggul. Tapi, ada pula pemicu lain seperti kekeroposan pada saluran pengalihan.

"Pada 5 Desember 2008, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) meneliti kualitas air Situ Gintung. Mereka sempat memotret adanya kekeroposan pada saluran itu," kata pengamat tata ruang dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, dalam perbincangan dengan VIVAnews melalui telepon, Kamis, 2 April 2009.

Maka itu, curah hujan yang tinggi tidak bisa dijadikan dasar utama jebolnya tanggul yang berdiri sejak zaman Belanda itu. Padahal, lanjut dia, ketika Jakarta mengalami banjir besar tahun 2005, curah hujannya tidak mengakibatkan tanggul itu jebol.

"Saat itu curah hujannya bisa mencapai 300 milimeter per hari," ujar pria yang juga anggota Ikatan Ahli Perencanaan ini. Dia pun mengimbau agar pihak berwajib menyelidiki kasus ini hingga diproses secara hukum.

Tetapi, untuk saat ini tidak bisa dikatakan adanya kelalaian. Karena pernyataan itu hanya bisa dikeluarkan dan diputuskan melalui pengadilan. "Memang tidak bisa divonis ini lalai, tapi memang ada temuan bahwa monitoring terhadap tanggul itu sangat minim," kata dia.

Hingga kini, insiden jebolnya tanggul Situ Gintung menyebabkan 100 orang meninggal. Lebih dari 300 rumah mengalami rusak berat dan porak-poranda. Sedangkan korban hilang menurut Posko Bencana ada 14 orang.

Petaka Situ Gintung : 200 Tim SAR Susur Kawasan Bintaro

Tanggul Situ Gintung Jebol
Tim gabungan darat dan air akan menyusuri kawasan kompleks Deplu, Bintaro.



VIVAnews
- Pada hari ketujuh pencarian korban hilang dalam tragedi Situ Gintung, Tim SAR gabungan, Kamis 2 April 2009, mengerahkan 200 personel. Pencarian korban hilang juga menggunakan alat berat.

Tim gabungan darat dan air akan menyusuri kawasan kompleks Deplu, Bintaro dan sekitar sekolah Caritas. Dua kawasan tersebut adalah tempat korban terakhir ditemukan pada pencarian hari Rabu 1 April 2009 kemarin.

"Banyak sampah di kawasan tersebut, diperkirakan banyak korban yang menyangkut disana," ujar koordinator seksi operasi Tim SAR, Suyatno.

Seluruh kekuatan akan difokuskan di kawasan Deplu, sekitar 160 orang akan mencari korban hilang. Tim juga akan dibantu alat berat untuk mengangkat sampah.

Hingga pagi ini ada sekitar 902 orang korban masih mengungsi. Jumlah itu diperoleh dari pendataan seluruh posko di sekitar lokasi.

Sementar korban hilang menurut dara posko utama tinggal 13 orang. Namun, data warga yang melapor jumlahnya masih 91 orang.

Tersisa Duka di Situ Gintung

31/03/09 03:54

Tersisa Duka di Situ Gintung

Oleh Adityawarman

Tangerang (ANTARA News) - Peristiwa Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten telah berlalu, namun saat ini derita duka masih tersisa dari para keluarga korban dan warga yang masih selamat.

Duka tersebut seperti trauma pada anak-anak, karena mereka melihat langsung kejadian tersebut saat rekannya menghembuskan nafas terakhir dan hingga kini masih sulit untuk dilupakan.

"Anak saya mengalami trauma atas peristiwa Situ Gintung karena dia melihat banyak warga yang menjadi korban meninggal dan terekam dalam pikiran anak," kata Ny. Suhini (43) di Ciputat, yang ditemui Senin malam .

Dia mengatakan, anaknya Anisa Salsabilla Putri (5) susah makan nasi dan tidak mau sekolah padahal sikap tersebut tidak dirasakan sebelum persitiwa Situ Gintung.

Menurut istri dari Totok SS Putra (45) warga RT 02/02, Kelurahan Cirendeu yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari lokasi kejadian itu bahwa anaknya yang masih sekolah taman kanak-kanak tidak mau lagi diajak ke sekolah.

Menurut staf adminstrasi STIE Ahmad Dahlan itu ketika malam tiba, Anisa sering berteriak dan kadang histeris sembari menyebut sejumlah nama rekannya yang lain yang masih hilang.

Anisa merupakan anak bungsu dari empat bersaudara, meski lokasi rumahnya tidak terkena bencana air bah akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, tapi ketika musibah itu datang dia bersama ayahnya melihat kejadian tersebut.

Kondisi serupa juga dialami dialami Rama Julian (7), murid kelas II SD Negeri Gintung II Kelurahan Cirendeu, Ciputat,dia tidak mau sekolah meski kedua orang tunya berupaya untuk membujuk.

Rama Julian merupakan anak pasangan dari Arsih (37) dengan Aris Budi Kartika (40) yang selamat dari musibah, dia juga melihat peristiwa air bah menghantam rumah tetangganya.

Ketika ditemui, Julian ditemani ibunya meminta bantuan peralatan sekolah berupa tas, pensil maupun buku yang disumbang donatur melalui posko kejadian Situ Gintung di STIE Ahmad Dahlan.

Meski berupaya telah membujuk anaknya agar mau sekolah, tapi tetap saja menolak tanpa alasan yang jelas dan kadang pergi begitu saja tanpa ada sebab pasti.

Dia menambahkan, bahwa tidak dapat memaksa anak untuk sekolah, karena dia melihat ada rekannya Indah (8) yang tewas dihantam air bah.

Namun Arsih selamat dari bencana karena letak rumahnya lebih tinggi sehingga air bah tidak menerjang pemukiman lainnya yang lokasinya berdekatan.

Walau begitu, Arsih berupaya untuk merayu anaknya dengan berbagai cara dan jika masih tetap tidak sekolah akan mengajak untuk rekreasi ke obyek wisata lainnya.


Datangi kuburan

Kesedihan lain juga dirasakan Bunga (16) rekan Jakfar Subehi (16), dia bersama belasan teman lainnya usai pulang sekolah langsung mendatangi kuburan korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rodhatul Jannah, Kampung Gintung, Cirendeu, Ciputat.

Bunga merasakan merasa kehilangan atas wafatnya Jakfar yang selama ini ceria dan peduli terhadap teman, tiba-tiba meninggal akibat dihantam air bah.

Jakfar adalah siswa SMA Muhammadiah Ciputat kelas II IPS-2 itu yang sehari-hari suka bermain basket, dan senang menghibur teman ketika dalam kesusahan.

Bahkan rekan korban sengaja berdoa dipimpin Bunga, diantara teman Jakfar tampak pacarnya Windi Andriani (16) yang meneteskan air mata ketika berada di depan nisan makam.

Sedangkan teman lainnya terpaksa membujuk agar Windi menghentikan tangis dihadapan pusara karena dia tidak bersedia meninggalkan TPU itu.

Padahal untuk sampai ke makam Jakfar, maka rekannya harus melalui jalan setapak yang becek dan penuh lumpur bahkan melalui gelangan air setinggi lutut orang dewasa.

Duka juga menyelimuti Ika Kartika (19) karena temannya Yuni Syafitri (17) tidak dapat ditemui lagi, dan yang hanya dapat dilihat adalah pusara di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rodhatul Jannah, Kampung Bitung, Ciputat.

Rasa sedih Ika bertambah karena mendengar bahwa ketika pemakaman tidak ada saudara atau kerabat yang dapat menemani mayat masuk ke liang lahan dan yang ada hanya petugas.


Air Mata Rano Karno

Tidak saja kerabat yang ditinggalkan meneteskan air mata, namun Wakil Bupati Tangerang, Rano Karno juga merasakan hal serupa, dia tak kuasa menahan sedih setelah melihat korban meninggal banyak bergelimpangan.

Air mata Rano Karno spontan tumpah ketika menyambangi posko di STIE Ahmad Dahlan, dan melihat langsung beberapa mayat yang belum dimandikan berbalut lumpur.

Rano Karno mengatakan dirinya turut prihatin atas musibah tersebut dan meminta agar keluarga yang ditinggalkan tabah, namun ketika melihat barisan mayat itu, pemeran sinetron ?Si Doel Anak Betawi? itu tak kuasa menahan tangis.

Rano karno mengharapkan agar kejadian itu akan terulang kembali di tempat lain karena pemerintah sudah memberikan perhatian serius terhadap musibah tersebut.

Sementara itu, Ustad Jefri Al Buchori mengatakan terkait musibah Situ Gintung mengatakan bahwa manusia banyak yang tidak siap dalam menghadapi bencana sehingga ketika datang saling menyalahkan, padahal sebaiknya melakukan antisipasi sebelum terjadi.

"Banyak diantara kita yang belum siap ketika bencana datang, tapi lebih banyak saling menyalahkan," kata Jefri Al Buchori yang biasa disapa UJ di posko STIE Ahmad Dahlan.

Dia sengaja datang bersama istri dan anaknya mengunjungi para keluarga korban di posko penampungan sembari mendoakan agar tabah dalam menghadapi bencana.

Menurut dia, jalan terbaik dalam menghadapi bencana adalah tabah dan berbuat sesuatu yang berguna sehingga tidak membuat mereka mendapat tekanan mental.

Dia mengatakan, dalam menghadapi bencana itu tidak saling menyalahkan dan mengandalkan, tapi harus bekerjasama untuk mengatasinya.

Kedatangan Buchori untuk menenangkan warga korban bencana dan memberikan siraman rohani agar mereka tidak mengalami defresi yang berkepanjangan bagi warga Situ Gintung yang selamat.

Tragedi Situ Gintung akibat jebolnya tanggul penahan yang tidak mampu menampung air bah hingga memuntahkan jutaan kubik air ke lokasi perumahan penduduk yang letaknya berada dibawah permukaan, sekitar 100 korban meninggal dan 112 hilang serta 312 rumah hancur berantakan.

Bencana itu merupakan takdir dan merupakan kenyataan hidup yang harus dihadapi, jangan menyimpan sedih berlarut-larut.(*)
COPYRIGHT © 2009

Situ Gintung : Kawasan Situ Gintung Akan Dibersihkan dari Pemukiman

Kawasan Situ Gintung Akan Dibersihkan dari Pemukiman

Ditulis oleh kinclonk di/pada Maret 30, 2009

Jakarta - Pemerintah akan membersihkan kawasan Situ Gintung dari keberadaan
rumah-rumah penduduk yang selama ini telah memadati situ yang telah porak poranda tersebut.

Departemen Pekerjaan Umum (PU) belum menentukan keberadaan Situ Gintung pascainsiden maut yang menewaskan banyak orang itu. Namun ada dua opsi yang disiapkan yaitu mengembalikan fungsi situ kembali atau dibiarkan begitu saja.

Demikian disampaikan Dirjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum (PU) Iwan Nusyirwan Diar dalam konferensi pers di Kantor Departemen PU, Jl Pattimura, Jakarta, Senin (30/3/2009).

Iwan menjelaskan jika opsi pengembalian situ ke fungsi semula, maka risikonya, daerah di bawah aliran sungai di bawah situ harus dibersihkan dan fungsi aliran akan dikembalikan sebagai sungai dan drainase. "Ini perlu political will dan social," serunya.

Sedangkan opsi kedua dengan dihilangkannya keberadaan Situ Gintung, maka konsekuensinya tanah sisa luberan situ yang mengering tidak boleh diokupasi atau dicaplok oleh masyarakat.

"Wilayah bantaran sungai, nantinya apa pun opsinya ini harus clear dari pemukiman," katanya.

Ia menjelaskan, dahulu Situ Gintung merupakan sungai yang dibendung oleh Pemerintan Belanda untuk irigasi. Namun sekarang ini lebar aliran sungai di bawah situ telah menyempit dari 5 meter menjadi 1 meter yang dikelilingi pemukiman.

Ia menggarisbawahi sebelum opsi diputuskan, terlebih dahulu akan dilakukan musyawarah antara masyarakat, Departemen PU dan Pemda Banten. Pembersihan kawasan tersebut akan difokuskan di kawasan Kampung Gintung, khususnya RW 08.

"Tapi yang saya khawatir banyak rumah yang sudah bersertifikat, ini kawasan bantaran sungai," pungkas dia. (hen/anw)

Detik.com, 30 Maret 2009

Situ Gintung : Tangsel Tak Punya Uang

Tangsel Tak Punya Uang

Ditulis oleh kinclonk di/pada Maret 30, 2009
TANGERANG, KOMPAS.com - Kota Tangerang Selatan yang baru terbentuk tahun lalu benar-benar tidak berdaya ketika harus menghadapi bencana Situ Gintung yang menewaskan 99 orang (catatan hingga Minggu kemarin). Tidak berdaya karena tak punya dana untuk menangani bencana ini.
Asisten Daerah Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Ahadi yang ditemui di Posko Utama Bencana Situ Gintung di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (28/3), menyatakan, Pemkot Tangerang Selatan memang belum memiliki dana untuk keperluan tersebut sebab pemerintah kotanya baru terbentuk beberapa bulan lalu.
"Kami masih bergantung dana dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, termasuk juga untuk keperluan penanganan bencana ini," kata Ahadi.
Ahadi menambahkan, penanganan bencana Situ Gintung menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Untungnya bantuan pangan untuk keluarga korban bencana Situ Gintung dari berbagai kalangan mengalir sejak peristiwa jebolnya tanggul situ tersebut, Jumat dini hari lalu.
Pembangunan merana
Keadaan keuangan pemerintah baru Tangerang Selatan seperti itu membuat pembangunan berbagai bidang di kota baru ini terbengkalai.
Menurut pengamatan Kompas, jaringan jalan di kawasan Ciputat, Pamulang, dan Pondok Aren hancur. Apalagi ketika musim hujan seperti sekarang ini, kerusakan jalan semakin parah. Banyak lubang jalan yang tergenang mirip kubangan.
Kerusakan jalan paling parah adalah jalan-jalan alternatif yang menghubungkan antarkecamatan, seperti di dekat Perumahan Pamulang II, di kawasan Serua, Jurangmangu.
Jaringan drainase juga tidak mendapat perhatian sehingga air selalu meluap ke jalan saat hujan dan beberapa jam sesudahnya. Jalan utama, seperti Jalan Ir Juanda, dan sekitar Pasar Ciputat yang merupakan jalan utama merupakan contoh kerusakan drainase yang parah.
Di sisi lain, kerusakan badan jalan di jalan utama juga banyak yang dibiarkan, seperti di dekat Pasar Cimanggis menuju ke Pamulang dan dari Muncul sampai ke BSD.
Selain itu, jaringan pipa air bersih yang dikelola pemerintah tidak ada sama sekali di Kota Tangerang Selatan. Jaringan pipa air bersih hanya terdapat di Perumahan BSD dan Bintaro yang dikelola pengembangnya.
Ahadi mengaku Pemkot Tangerang Selatan setiap tahun mendapat bantuan dana dari Pemprov Banten sebesar Rp 5 miliar. Bantuan diberikan selama dua tahun. "Kami harus menyelesaikan struktur organisasi pemkot dulu baru dana dicairkan. Sebab, kalau belum ada struktur organisasi dikhawatirkan pemakaian dana tak bisa dipertanggungjawabkan," kata Ahadi.
Pemerintah lalai?
Hari Minggu (29/3), Kepolisian Resor Jakarta Selatan mulai mengumpulkan informasi mengenai penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung. "Kami sudah mulai mengumpulkan informasi mengenai jebolnya tanggul itu. Setelah kami perkirakan cukup, kami akan melangkah ke penyelidikan," kata Kepala Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Firman Santyabudhi, Minggu malam.
Bila dalam perkembangan penyelidikan ada unsur pelanggaran hukum, lanjut Firman, pihaknya akan menentukan tersangkanya. Kasus jebolnya tanggul adalah kasus serius.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Muhammad Iriawan yang dihubungi terpisah menambahkan, Polda Metro siap membantu tindakan penyelidikan kasus ini. "Sekarang masih ditangani Polres Metro Jaksel. Mereka sedang mengumpulkan informasi dulu," tuturnya.
Apa yang disampaikan kedua perwira polisi itu sesuai dengan harapan Kriminolog UI, Adrianus Meliala. Lewat pelayanan pesan singkat, ia menulis, polisi harus berani mengungkap kasus ini terkait kemungkinan adanya unsur pidana.
Unsur pidana yang dimaksud antara lain adanya indikasi bahwa Pemprov Banten atau Pemkab Tangerang lalai memelihara tanggul tersebut, bahkan melakukan pembiaran. "Polisi bisa memulai penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan warga sekitar dan petugas instansi terkait mengenai hal ini," tulis Meliala. (TRI/ECA/WIN)
Kompas.com, 30 Maret 2009

Situ Gintung : Korban Situ Gintung Butuh Perlengkapan Sholat

Korban Situ Gintung Butuh Perlengkapan Sholat

Ditulis oleh kinclonk di/pada Maret 30, 2009

TANGSEL -– Bagi donatur yang berniat memberikan bantuan untuk korban banjir bandang Situ Gintung, berikut daftar bantuan yang dibutuhkan korban mendesak yang dirilis Posko Utama UMJ per 30 Maret 2009.

1. Masker
2. Sarung tangan latex dan wol
3. Alkohol
4. Anti tetanus
5. Sepetu boot
6. Kantong mayat
7. Kabel rol
8. Kasur
9. Bantal
10. Sandal jepit
11. Seragam dan keperluan sekolah SD-SMP-SMA
12. Sarden
13. Susu
14. Susu ibu hamil
15. gula

Relawan di posko UMJ, Tamas, mengatakan, para korban juga memerlukan perlengkapan bayi antara lain, dot bayi, selimut bayi, pakaian bayi, susu bayi, vitamin bayi, dan minyak telon.

Selain itu, kata dia, para korban juga membutuhkan Al-Qur'an, sajadah, dan perlengkapan sholat lainnya. c89/fif

Republika.co.id, 30 Maret 2009