Tampilkan postingan dengan label Jangka Jayabaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jangka Jayabaya. Tampilkan semua postingan

Isi Lengkap Ramalan Jayabaya


Roabaca.com.- Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat Ramalan-ramalan tersebut
Dikutip dari Wikipedia dijelaskan "Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."
Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.
Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).
Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.
Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.
Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).
Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.
Analisa
Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.
Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan". Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.
Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.
Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.
Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).
Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.
Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.
Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK INDONESIA"!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.
Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.
Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.

Kitab Musasar Jayabaya
Asmarandana
1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.
2. Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.
4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.
5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.
7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.
8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.
9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,
10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
11. Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.
12. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu..
14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.
17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
20. Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.
21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.
Sinom
1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.
2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.
3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.
4. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
5. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.
6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
8. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.
9. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
11. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
12. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
14. Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.
15. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
16. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.
18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).
21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).
22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
27. Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

== Isi Ramalan ==
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
2. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.
4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.
5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
16. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
17. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
19. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
20. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
24. Nantang bapa--- Menantang ayah.
25. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
26. Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.
27. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
28. Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
29. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
31. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
32. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
34. Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.
35. Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
36. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
38. Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
39. Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.
40. Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
41. Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.
42. Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan
43. Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.
44. Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
45. Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan
46. Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.
48. Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
49. Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
50. Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar istri/suami.
51. Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
52. Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
53. Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
54. Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
55. Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
56. Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
57. Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
58. Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
59. Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
60. Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
61. Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
62. Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
63. Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
65. Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
66. Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
67. Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
68. Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
70. Akeh laknat--- Banyak kutukan
71. Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.
72. Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
73. Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.
74. Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
75. Guru disatru---Guru dimusuhi.
76. Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
77. Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
78. Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
79. Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
80. Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
82. Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
83. Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85. Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
86. Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.
87. Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
88. Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
89. Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
90. Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
91. Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
92. Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
93. Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
94. Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
95. Akeh barang haram---Banyak barang haram.
96. Akeh anak haram---Banyak anak haram.
97. Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99. Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
100. Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
101. Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.
102. Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.
103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
104. Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
105. Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
106. Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
107. Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
108. Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
109. Sing wedi mati---Yang takut mati.
110. Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
111. Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
112. Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
113. Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
114. Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.
115. Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
116. Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
117. Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
119. Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
120. Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
121. Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.
122. Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
123. Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
124. Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
125. Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
126. Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
127. Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
128. Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.
129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131. Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134. Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.
135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136. Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
137. Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
138. Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.
139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
140. Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
141. Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
142. Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
143. Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
146. Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147. Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
148. Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
149. Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
150. Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.
151. Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.
152. Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.
153. Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
154. Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
155. Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
156. Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
157. Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.
158. Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
159. Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
162. Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
163. Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.
164. Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.
165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166. Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
167. Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.
168. Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.
169. Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
170. Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
171. Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
172. Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
173. Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
174. Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.
175. Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
176. Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.
177. Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
178. Agama ditantang---Agama ditantang.
179. Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.
180. Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.
181. Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
182. Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
183. Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.
184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185. Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
188. Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.
189. Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
190. Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
191. Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
192. Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
193. Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.
194. Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga
195. Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
196. Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.
197. Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
198. Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.
199. Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.
200. Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.
201. Buruh mangluh---Buruh menangis.
202. Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
203. Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.
204. Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.
205. Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
206. Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
207. Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
209. Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.
210. Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.
211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
212. Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
213. Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
214. Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.
215. Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.
216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

Telaah Jangka Jayabaya : Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional RI Menggelar Telaah Jangka Jayabaya


JAKARTA – Perpustakaan Nasional RI menggelar sarasehan Bedah Jangka Jayabaya dan pagelaran wayang kulit, Rabu (18/7) bertempat di Ruang Auditorium Perpusnas, Jl. Salemba Raya 28A Jakarta. Dalam sarasehan yang mengambil tema “Dengan Telaah Jangka Jayabaya, Kita Tumbuhkembangkan Budaya Kritis Bangsa untuk Menuju Masyarakat Jujur dan Cemerlang” ini, tampil sebagai pembicara adalah Hidayat Yoedoprawiro dan Prof. Dr. H. Soetarno, DEA dengan moderator Sudarko Prawiro Yudo. Sedangkan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Sumbowo dengan cerita Jitaprasa dan Dewa Ruci yang dimainkan dalam dua sesi.

Dari jutaan koleksi Perpusnas terdapat bahan pustaka yang bersubyek tentang “Ramalan Jayabaya” dan untuk sebagian orang, ramalan tersebut dijadikan rujukan tentang kejadian masa lalu, sekarang dan yang akan datang. “Dengan menelaah ramalan Jayabaya, kita berusaha mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada didalamnya, mempertebal jatidiri bangsa dan memanfaatkan petuah serta petunjuk yang ada didalamnya, sehingga kita menjadi bangsa yang besar dan berwibawa,” demikan diungkapkan Lilik Soelistyowati, Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka, selaku ketua penyelenggara kegiatan ini.
Kepala Perpusnas, Dady P. Rachmananta dalam sambutannya mengatakan dengan kegiatan telaah Jangka Jayabaya ini bisa membawa manfaat terhadap perbaikan kondisi bangsa. “Dengan ramalan-ramalan Jayabaya, kita bisa telaah maknanya sehingga bisa membangkitkan dan meningkatkan rasa cinta akan hasil budaya bangsa,” katanya.


Dalam sesi sarasehan, Hidayat Yudoprawiro membawakan makalah bertema “Makna Metafisika Ramalan Pralambang Jayabaya”. Dalam pemaparannya, dikatakan bahwa ramalan Jayabaya adalah pemandu gaib keselamatan dan persatuan bangsa. Ramalan Jayabaya Ranggawarsito menunjukkan datangnya kemerdekaan Indonesia tahun 1945M. Ramalan Jayabaya Sabdo Palon menunjukkan datangnya kesadaran keuniversalan semua agama yang tercakup dalam filsafat abadi Ketuhanan Yang Maha Esa yang dimulai pada tahun 2000M. 


Prof. Dr. H. Soetarno, DEA , dalam pemaparannya menjelaskan bahwa ramalan Jayabaya mengandung unsur filosofis yang sangat dalam tentang masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya. Unsur filosofis tersebut perlu diterjemahkan dalam kehidupan, agar dipahami oleh generasi muda. Menurut Rektor ISI Solo ini, berdasarkan pengalaman empris, banyak Ramalan Jayabaya terjadi pada zaman sekarang ini. “Oleh sebab itu generasi harus memahami apa yang tersurat dan tersirat dari ramalan Jayabaya. Banyak nilai-nilai kebaikan yang terkandung didalamnya, seperti kemanusiaan, religius, kejujuran dan keadilan,” tambahnya.
Acara telaah Jangka Jayabaya ini berlangsung cukup meriah dan diapresiasi dengan baik oleh para peserta. Acara menjadi lebih hidup, karena diselingi dengan pagelaran wayang dan gending-gending pada masing-masing sesi. Banyak bermunculan pertanyaan dan ide-ide dari peserta terkait dengan ramalan Jayabaya terhadap upaya perbaikan kondisi bangsa. 


Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat membangkitkan rasa cinta akan hasil budaya bangsa, mampu menumbuhkan sikap kritis bagi upaya mencerdaskan bangsa serta bisa mengkomunikasikan isi ramalan Jayabaya untuk menjadi pedoman pada masa sekarang dan yang akan datang. Semoga! 

Berita terkait: Kompas, Kamis, 19 Juli 2007, hlm. 12.

Ramalan Jayabaya (3 bahasa) melengkapi posting sebelumnya

Joyoboyo is a famous Javanese foreteller who lived hundreds years ago in the island of Java, Indonesia.

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
[One day there will be a cart without a horse] [Um dia lá será um carro sem um cavalo]
Tanah Jawa kalungan wesi.
[The island of Java will be circled by an iron necklace.][ O console de Java será circundado por um necklace do ferro.]
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
[There will be a boat flying in the sky.][ Haverá um vôo do barco no céu.]

Kali ilang kedhunge.
The river will loose its current. O rio afrouxará sua corrente.
Pasar ilang kumandhang.
There will be markets without crowds. Haverá uns mercados sem multidões.
Iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
These are the signs that the Jayabaya era is coming. Estes são os sinais que a era de Jayabaya está vindo.
Bumi saya suwe saya mengkeret.
The earth will shrink. A terra encolherá.
Sekilan bumi dipajeki.
Every inch of land will be taxed. Cada polegada da terra taxed.
Jaran doyan mangan sambel.
Horses will devour chili sauce. Os cavalos querem o sauce do pimentão do devour.
Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Women will dress in men's clothes. As mulheres vestir-se-ão na roupa dos homens.
Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
These are the signs that the people and their civilization have been turned upside down.
Estes são os sinais que os povos e sua civilização estiveram girados de cabeça para baixo.
Akeh janji ora ditetepi.
Many promises unkept.
Unkept de muitas promessas.
Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Many break their oath.
Muitos quebram seu juramento.
Manungsa pada seneng nyalah.
People will tend to blame on each other.
Os povos tenderão a responsabilizar em se.
Ora ngindahake hukum Allah.
They will ignore God's law.
Ignorarão a lei do deus.
Barang jahat diangkat-angkat.
Evil things will be lifted up.
As coisas evil serão levantadas acima.
Barang suci dibenci.
Holy things will be despised.
As coisas holy despised.
Akeh manungsa mung ngutamake duwit.
Many people will become fixated on money.
Muitos povos tornar-se-ão fixated no dinheiro.
Lali kamanungsan.
Ignoring humanity.
Ignorando o humanity.
Lali kabecikan.
Forgetting kindness.
Esquecendo-se da bondade.
Lali sanak lali kadang.
Abandoning their families.
Abandonando suas famílias.
Akeh Bapa lali anak.
Fathers will abandon their children.
Os pais abandonarão suas crianças.
Akeh anak wani nglawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.
As crianças serão disrespectful a suas matrizes.
Nantang bapa.
And battle against their fathers.
E batalha de encontro a seus pais.
Sedulur pada cidra.
Siblings will collide violently.
Os siblings colidirão violentamente.
Kulawarga pada curiga.
Family members will become suspicious of each other.
Os membros da família tornar-se-ão suspicious de se.
Kanca dadi mungsuh.
Friends become enemies.
Os amigos transformam-se inimigos.
Akeh manungsa lali asale.
People will forget their roots.
Os povos esquecer-se-ão de suas raizes.
Ukuman Ratu ora adil.
The queen's judgements will be unjust.
Os julgamentos da rainha serão unjust.
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
There will be many peculiar and evil leaders.
Haverá muitos líderes peculiares e evil.
Akeh kelakuan sing ganjil.
Many will behave strangely.
Muitos comportar-se-ão estranha.
Wong apik-apik pada kepencil.
Good people will be isolated.
Os povos bons serão isolados.
Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin.
Many people will be too embarrassed to do the right things.
Muitos povos embarrassed demasiado para fazer as coisas direitas.
Luwih utama ngapusi.
Choosing falsehood instead.
Falsehood escolhendo preferivelmente.
Wegah nyambut gawe.
Many will be lazy to work.
Muitos serão preguiçosos trabalhar.
Kepingin urip mewah.
Seduced by luxury.
Seduzido pelo luxo.
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
They will take the easy path of crime and deceit.
Farão exame do trajeto fácil do crime e do deceit.
Wong bener thenger-thenger.
The honest will be confused.
O honesto será confused.
Wong salah bungah.
The dishonest will be joyful.
O dishonest será alegre.
Wong apik ditampik-tampik.
The good will be rejected.
O bom será rejeitado.
Wong jahat munggah pangkat.
The evil ones will rise to the top.
Evil levantar-se-ão ao alto.
Wong agung kesinggung.
Noble people will be wounded by unjust criticism.
Os povos nobres serão feridos pelo criticism unjust.
Wong ala kepuja.
Evil doers will be worshipped.
Os doers evil serão adorados.
Wong wadon ilang kawirangane.
Women will become shameless.
As mulheres tornar-se-ão shameless.
Wong lanang ilang kaprawirane.
Men will loose their courage.
Os homens afrouxarão sua coragem.
Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Men will choose not to get married.
Os homens escolherão não começar casados.
Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Women will be unfaithful to their husbands.
As mulheres serão unfaithful a seus maridos.
Akeh ibu pada ngedol anake.
Mothers will sell their babies.
As matrizes venderão seus bebês.
Akeh wong wadon ngedol awake.
Women will engage in prostitution.
As mulheres acoplarão na prostituição.
Akeh wong ijol bebojo.
Couples will trade partners.
Os pares negociarão sócios.
Wong wadon nunggang jaran.
Women will ride horses.
As mulheres montarão cavalos.
Wong lanang linggih plangki.
Men will be carried in a stretcher.
Os homens serão carregados dentro um esticador.
Randa seuang loro.
A divorcee will be valued at 17 cents.
Um divorcee será avaliado em 17 centavos.
Prawan seaga lima.
A virgin will be valued at 10 cents.
Uma virgem será avaliada em 10 centavos.
Duda pincang laku sembilan uang.
A crippled men will be valued at 75 cents.
Os homens aleijados serão avaliados em 75 centavos.
Akeh wong ngedol ngelmu.
Many will earn their living by trading their knowledge.
Muitos ganharão sua vida negociando seu conhecimento.
Akeh wong ngaku-aku.
Many will claims other's merits as their own.
Muitos vontade reivindicam outros méritos como seus próprios.
Njabane putih njerone dadu.
It is only a cover for the dice.
É somente uma tampa para os dados.
Ngakune suci, nanging sucine palsu.
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.
Proclamarão seu righteousness apesar de suas maneiras sinful.
Akeh bujuk akeh lojo.
Many will use sly and dirty tricks.
Muitos usar-se-ão sly e truques sujos.
Akeh udan salah mangsa.
Rains will fall in the wrong season.
As chuvas cairão na estação errada.
Akeh prawan tuwa.
Many women will remain virgins into their old age.
Muitas mulheres remanescerão virgens em sua idade velha.
Akeh randa nglairake anak.
Many divorcees will give birth.
Muitos divorcees dão o nascimento.
Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Newborns will search for their fathers.
Os newborns procurararão por seus pais.
Agama akeh sing nantang.
Religions will be attacked.
As religiões serão atacadas.
Perikamanungsan saya ilang.
Humanitarianism will no longer have importance.
Humanitarianism quer tem não mais por muito tempo a importância.
Omah suci dibenci.
Holy temples will be hated.
Os temples holy serão odiados.
Omah ala saya dipuja.
They will be more fond of praising evil places.
Serão mais afeiçoados de elogiar lugares evil.
Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Prostitution will be everywhere.
A prostituição estará em toda parte.
Akeh laknat.
There will be many worthy of damnation.
Haverá muitos dignos do damnation.
Akeh pengkhianat.
There will be many betrayals.
Haverá muitos betrayals.
Anak mangan bapak.
Children will be against father.
As crianças estarão de encontro ao pai.
Sedulur mangan sedulur.
Siblings will be against siblings.
Os siblings estarão de encontro aos siblings.
Kanca dadi mungsuh.
Friends will become enemies.
Os amigos transformar-se-ão inimigos.
Guru disatru.
Students will show hostility toward teachers.
Os estudantes mostrarão a hostilidade para professores.
Tangga pada curiga.
Neighbours will become suspicious of each other.
Os vizinhos tornar-se-ão suspicious de se.
Kana-kene saya angkara murka.
And ruthlessness will be everywhere.
E o ruthlessness estará em toda parte.
Sing weruh kebubuhan.
The eyewitness has to take the responsibility.
A testemunha ocular tem que fazer exame da responsabilidade.
Sing ora weruh ketutuh.
The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.
Esses que não têm nada fazer com o caso prosecuted.
Besuk yen ana peperangan.
One day when there will armagedon.
Um dia em que lá armagedon da vontade.
Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
In the east, in the west, in the south, and in the north.
No leste, no oeste, no sul, e no norte.
Akeh wong becik saya sengsara.
Good people will suffer more.
Os povos bons sofrerão mais.
Wong jahat saya seneng.
Bad people will be happier.
Os povos maus serão mais felizes.
Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul.
When this happens, a rice cooker will be said to be an egret.
Quando isto acontece, um fogão do arroz estará dito ser um egret.
Wong salah dianggep bener.
The wrong person will be assumed to be honest.
A pessoa errada será suposta para ser honesta.
Pengkhianat nikmat.
Betrayers will live in the utmost of material comfort.
Os traidores viverão no máximo do conforto material.
Durjono saya sempurna.
The deceitful will decline even further.
O mais adicional uniforme do declínio deceitful da vontade.
Wong jahat munggah pangkat.
The evil persons will rise to the top.
As pessoas evil levantar-se-ão ao alto.
Wong lugu kebelenggu.
The modest will be trapped.
O modesto será prendido.
Wong mulyo dikunjoro.
The noble will be imprisoned.
O nobre imprisoned.
Sing curang garang.
The fraudulent will be ferocious.
O fraudulent será ferocious.
Sing jujur kojur.
The honest will unlucky.
A vontade honesta unlucky.
Pedagang akeh sing keplarang.
Many merchants will fly in a mess.
Muitos comerciantes voarão em um mess.
Wong main akeh sing ndadi.
Gamblers will become more addicted to gambling.
Os gamblers tornar-se-ão mais addicted a gambling.
Akeh barang haram.
Illegal things will be everywhere.
As coisas ilegais estarão em toda parte.
Akeh anak haram.
Many babies will be born outside of legal marriage.
Muitos bebês serão parte externa nascida da união legal.
Wong wadon nglamar wong lanang.
Women will propose marriage.
As mulheres proporã0 a união.
Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Men will lower their own status.
Os homens abaixarão seu próprio status.
Akeh barang-barang mlebu luang.
The merchandise will be left unsold.
A mercadoria será deixada unsold.
Akeh wong kaliren lan wuda.
Many people will suffer from starvation and inability to afford clothing.
Muitos povos sofrerão do starvation e da inabilidade ter recursos para a
roupa.
Wong tuku nglenik sing dodol.
Buyers will become more sophisticated.
Os compradores tornar-se-ão mais sofisticados.
Sing dodol akal okol.
Sellers will have to use their brains and muscle to do business.
Os sellers terão que usar seus cérebros e músculo fazer o negócio
Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
In the way they earn a living, people will be as rice paddies being swung
around and blown up.
Na maneira ganham uma vida, os povos serão porque os paddies do arroz que
estão sendo balançados ao redor e fundidos acima.
Sing kebat kliwat.
Some will go wild out of control.
Alguns irã0 selvagens fora do controle.
Sing telah sambat.
Those who are not ambitious will complaint of being left behind.
Aqueles que não são queixa ambiciosa da vontade de ser saida atrás.
Sing gede kesasar.
The ones on the top will get lost.
Esses no alto começarão perdidos.
Sing cilik kepleset.
The ordinary people will slip.
Os povos ordinários deslizarão.
Sing anggak ketunggak.
The arrogant ones will be impaled.
Arrogantes impaled.
Sing wedi mati.
The fearful ones will not survive.
Temíveis não sobreviverão.
Sing nekat mbrekat.
The risk takers will be successful.
Os takers do risco serão bem sucedidos.
Sing jerih ketindhih.
The ones who are afraid of taking the risks will be crushed under foot.
Esses que estão receosos de fazer exame dos riscos serão esmagados sob o
é.
Sing ngawur makmur,
The careless ones will be wealthy.
Descuidados serão ricos.
Sing ngati-ati ngrintih.
The careful ones will whine about their suffering.
Cuidadosos lamentar-se-ão sobre seu sofrimento.
Sing ngedan keduman.
The crazy ones will get their portion.
Loucos começarão sua parcela.
Sing waras nggagas.
The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.
Esses que são vontade mentalmente e fisicamente saudável pensam
àbiamente.
Wong tani ditaleni.
The farmers will be controlled.
Os fazendeiros serão controlados.
Wong dora ura-ura.
Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.
Aqueles que são vontade corrupt gastam sua fortuna pròdigamente.
Ratu ora netepi janji, musna kekuasaane.
The queen who does not keep her promises will lose her power.
A rainha que não mantem suas promessas perderá sua potência.
Bupati dadi rakyat.
The leaders will become ordinary persons.
Os líderes transformar-se-ão pessoas ordinárias.
Wong cilik dadi priyayi.
The ordinary people will become leaders.
Os povos ordinários transformar-se-ão líderes.
Sing mendele dadi gede,
The dishonest persons will rise to the top.
As pessoas dishonest levantar-se-ão ao alto.
Sing jujur kojur.
The honest ones will be unlucky.
Honestos serão unlucky.
Akeh omah ing nduwur jaran.
There will be many people own a house on horseback.
Haverá muitos povos para possuir sobre uma casa horseback.
Wong mangan wong.
People will attack other people.
Os povos atacarão os povos.
Anak lali bapak.
Children will ignore their fathers.
As crianças ignorarão seus pais.
Wong tuwa lali tuwane.
Parents will not want to take their responsibility as parents.
Os pais não quererão fazer exame de sua responsabilidade como pais.
Pedagang adol barang saya laris.
Merchants will sell out of their merchandise.
Os comerciantes venderão fora de sua mercadoria.
Bandane saya ludes.
Yet, they will lose money.
Ainda, perderão o dinheiro.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Many people will die from starvation in prosperous times.
Muitos povos morrerão do starvation em épocas prósperas.
Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara.
Many people will have lots of money yet, be unhappy in their lives.
Muitos povos terão lotes do dinheiro ainda, sejam infelizes em suas vidas.
Sing edan bisa dandan.
The crazy one will be beautifully attired.
Louco será belamente attired.
Sing bengkong bisa nggalang gedong.
The insane will be able to build a lavish estate.
O insano poderá construir uma propriedade pródiga.
Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
The ones who are fair and sane will suffer in their lives and will be
isolated.
Esses que são vontade justa e sã sofrem em suas vidas e serão isolados.
Ana peperangan ing njero.
There will be internal wars.
Haverá umas guerras internas.
Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
As a result of misunderstandings between those at the top.
Em conseqüência dos enganos entre aqueles no alto.
Durjana saya ngambra-ambra.
The numbers of evil doers will increase sharply.
Os números de doers evil aumentarão agudamente.
Penjahat saya tambah.
There will be more criminals.
Haverá mais criminosos.
Wong apik saya sengsara.
The good people will live in misery.
Os povos bons viverão na miséria.
Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
There will be many people die in a war.
Haverá dado de muitos povos em uma guerra.
Kebingungan lan kobongan.
Others will be disoriented, and their property burnt.
Outros serão disoriented, e sua propriedade queimou-se.
Wong bener saya tenger-tenger.
The honest will be confused.
O honesto será confused.
Wong salah saya bungah-bungah.
The dishonest will be joyful.
O dishonest será alegre.
Akeh banda musna ora karuan lungane.
Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.
There will be disappearance of great riches, titles, and jobs.
Haverá um disappearance de riches, de títulos, e de trabalhos grandes.
Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
There will be many illegal goods.
Haverá muitos bens ilegais.
Bejane sing lali, bejane sing eling.
There will be many babies born without fathers.
Haverá muitos bebês carregados sem pais.
Nanging sauntung-untunge sing lali.
Those people who forget God's Will may be happy on earth.
Aqueles povos que se esquecem da vontade do deus podem ser felizes na
terra.
Isih untung sing waspada.
But those who are remember God's will are destined to be happier still.
Mas aqueles que são recordam que vontade do deus é destined ser um
destilador mais feliz.
Angkara murka saya ndadi.
Ruthlessness will become worse.
O ruthlessness tornar-se-á mais mau.
Kana-kene saya bingung.
Everywhere the situation will be chaotic.
Em toda parte a situação será chaotic.
Pedagang akeh alangane.
Doing business will be more difficult.
Fazer o negócio será mais difícil.
Akeh buruh nantang juragan.
Workers will challenge their employers.
Os trabalhadores desafiarão seus empregadores.
Juragan dadi umpan.
The employers will become bait for their employees.
Os empregadores transformar-se-ão bait para seus empregados.
Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Those who speak out will be more influential.
Aqueles que falam para fora serão mais influential.
Wong pinter diingar-ingar.
The wise ones will be ridiculed.
Sábios serão ridiculed.
Wong ala diuja.
The evil ones will be worshipped.
Evil serão adoradas.
Wong ngerti mangan ati.
The knowledgeable ones will show no compassion.
Knowledgeable não mostrarão nenhum compassion.
Banda dadi memala.
The pursuit of material comfort will incite crime.
A perseguição do conforto material incite o crime.
Pangkat dadi pemikat.
Job titles will become enticing.
Os títulos do trabalho tornar-se-ão seduzindo.
Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.
Aqueles que agem arbitrariamente sentirão como se são os vencedores.
Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Those who act wisely will feel as if everything is wrong.
Aqueles que agem sàbiamente sentirão como se tudo é errado.
Ana Bupati saka wong sing asor imane.
There will be leaders who are weak in their faith.
Haverá os líderes que são fracos em sua fé.
Patihe kepala judi.
Their vice regent will be selected from among the ranks of the gamblers.
Seu regent vice será selecionado entre dos Rank dos gamblers.
Wong sing atine suci dibenci.
Those who have a holy heart will be rejected.
Aqueles que têm um coração holy serão rejeitados.
Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Those who are evil, and know how to flatter their boss, will be promoted.
Aqueles que são evil, e sabem lisonjear sua saliência, serão promovidos.
Pemerasan saya ndadra.
Human exploitation will be worse.
A exploração humana será mais má.
Maling lungguh wetenge mblenduk.
The corpulent thieves will be able to sit back and relax.
Os ladrões corpulent poderão sentar-se para trás e relaxar.
Pitik angkrem saduwurane pikulan.
The hen will hacth eggs in a carrying pole.
Os ovos do hacth da vontade da galinha em um pólo carregando.
Maling wani nantang sing duwe omah.
Thieves will not be afraid to challenge the target.
Os ladrões não estarão receosos desafiar o alvo.
Begal pada ndugal.
Robbers will dissent into greater evil.
Everybody will compete for personal victory.
Os salteadores querem o dissent em um evil mais grande.
Todos competirá para a vitória pessoal.
Rampok pada keplok-keplok.
Looters will be given applause.
Os looters serão dados o aplauso.
Wong momong mitenah sing diemong.
People will slander their caregivers.
Slander da vontade dos povos seus caregivers.
Wong jaga nyolong sing dijaga.
Guards will steel the very things they are to protect.
Os protetores querem o aço as coisas que very devem proteger.
Wong njamin njaluk dijamin.
Guarantors will ask for collateral.
Os guarantors pedirão collateral.
Akeh wong mendem donga.
Many will ask for blessings.
Muitos pedirão blessings.
Kana-kene rebutan unggul.
Everybody will compete for personal victory.
Todos competirá para a vitória pessoal.
Angkara murka ngombro-ombro.
Ruthlessness will be everywhere.
O ruthlessness estará em toda parte.
Agama ditantang.
Religions will be questioned.
As religiões serão questionadas.
Akeh wong angkara murka.
Many people will be greedy for power, wealth and position.
Muitos povos serão greedy para a potência, a riqueza e a posição.
Nggedeake duraka.
Rebelliousness will increase.
Rebelliousness aumentará.
Ukum agama dilanggar.
Religious law will be broken.
A lei religiosa será quebrada.
Perikamanungsan di-iles-iles.
Human rights will be violated.
As direitas humanas violated.
Kasusilan ditinggal.
Ethics will left behind.
A vontade do ethics saiu atrás.
Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Many will be insane, cruel and immoral.
Muitos serão insanos, cruéis e immoral.
Wong cilik akeh sing kepencil.
Ordinary people will be segregated.
Os povos ordinários serão segregados.
Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
They will become the victims of evil and cruel persons.
Assentarão bem nas vítimas de pessoas evil e cruéis.
Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Then there will come a queen who is influential.
Então virá uma rainha que seja influential.
Lan duwe prajurit
She will have her own armies.
Terá seus próprios exército.
Negarane ambane sapra-walon.
Her country will measured one-eighth the circumference of the world.
Sua vontade do país mediu one-eighth a circunferência do mundo.
Tukang mangan suap saya ndadra.
The number of people who commit bribery will increase.
O número dos povos que cometem o bribery aumentará.
Wong jahat ditampa.
The evil ones will be accepted.
Evil serão aceitadas.
Wong suci dibenci.
The innocent ones will be rejected.
Inocentes serão rejeitadas.
Timah dianggep perak.
Tin will be thought to be silver.
A lata será pensada para ser prata.
Emas diarani tembaga.
Gold will be thought to be copper.
O ouro será pensado para ser cobre.
Dandang dikandakake kuntul.
A rice cooker will be thought to be an egret.
Um fogão do arroz será pensado para ser um egret.
Wong dosa sentosa.
The sinful ones will be safe and live in tranquility.
Sinful estarão seguros e vivos no tranquility.
Wong cilik disalahake.
The poor will be blamed.
Os pobres serão responsabilizados.
Wong nganggur kesungkur.
The unemployed will be rooted up.
Os desempregados serão enraizados acima.
Wong sregep krungkep.
The diligent ones will be forced down.
Diligent serão forçadas para baixo.
Wong nyengit kesengit.
The people will seek revenge against the fiercely violent ones.
Os povos procurarão a vingança de encontro às ferozmente violentas.
Buruh mangluh.
Workers will suffer from overwork.
Os trabalhadores sofrerão do overwork.
Wong sugih krasa wedi.
The rich will feel unsafe.
Os rich sentirão inseguros.
Wong wedi dadi priyayi.
People who belong to the upper class will feel insecure.
Os povos que pertencem à classe superior sentirão insecure.
Senenge wong jahat.
Happiness will belong to evil persons.
A felicidade pertencerá às pessoas evil.
Susahe wong cilik.
Trouble will belong to the poor.
O problema pertencerá aos pobres.
Akeh wong dakwa dinakwa.
Many will sue each other.
Muitos sue.
Tindake menungsa saya kuciwa.
Human behaviour will fall short of moral enlightenment.
O comportamento humano cairá brevemente do enlightenment moral.
Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Leaders will discuss and choose which countries are their favourites and
which ones are not.
Os líderes discutirão e escolherão que países são seus favoritos e que não
são.
Hore! hore!.
Hurrah! Hurrah!.
Hurrah! Hurrah!
Wong Jawa kari separo,
The Javanese will remain half.
O Javanese remanescerá meio.
Landa-Cina kari sejodo.
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.
O holandês e o chinês cada um remanescerão um par.
Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Many become stingy.
Muitos tornam-se stingy.
Sing eman ora keduman.
The stingy ones will not get their portion.
Stingy não começarão sua parcela.
Sing keduman ora eman.
The ones who receive their portion will be generous.
Esses que recebem sua parcela serão generosos.
Akeh wong mbambung.
Street beggars will be everywhere.
Os pedintes da rua estarão em toda parte.
Akeh wong limbung.
Bewildered persons will be everywhere.
As pessoas bewildered estarão em toda parte.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
These are the signs that the people and their civilization have been
turned upside down.
Estes são os sinais que os povos e sua civilização estiveram girados de
cabeça para baixo.