Tampilkan postingan dengan label Surakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surakarta. Tampilkan semua postingan

DPU tinjau kerusakan Masjid Agung

DPU tinjau kerusakan Masjid Agung: solopos.com
Petugas Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Solo meninjau langsung kondisi Masjid Agung Solo, Senin (19/10). Peninjauan dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus perkiraan biaya perbaikan yang diperlukan.

Wayangan di halaman Balaikota Solo - re Benteng Vastenburg

Wayangan di halaman Balaikota Solo: solopos.com
PAGELARAN WAYANG–Dalang cilik Anggit Laras Prabowo yang membawakan lakon Babat Alas Wisamarta  di halaman Balaikota Solo, Minggu (11/10) malam. Acara tersebut digelar untuk menyambut terbitnya surat dari Departemen Pariwisata Seni dan Budaya tentang pengukuhan kembali situs Benteng Vastenburg sebagai warisan cagar budaya yang harus dilindungi.

Kreatifnya Wong Jowo

Sumbere : Jawa Mode On

Selain lembaga pemerintahan, kebiasaan singkat menyingkat juga berlaku untuk tag line suatu daerah.

Solo Berseri, Jogja Berhati Nyaman, Temanggung Bersenyum, Cilacap Bercahaya,semuanya adalah singkatan.

Juga untuk menyebut suatu kawasan, yang katanya akan menjadi suatu kawasan yang unggul dan berkembang.

Bermula dari Jabotabek, eh sekarang Jabodetabek.
Muncul pula Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya ,Sidoarjo, Lamongan),

Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen),

Pawonsari Bakulrejo (Pacitan Wonogiri, Wonosari, Bantul, Kulon Progo,Purworejo) ,atau

Joglosemar (Jogja Solo Semarang).

Beruntung tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang Solo Yogya, disingkat menjadi Semar Loyo hahahahaha.....

Mungkin di masa mendatang akan muncul juga Dibalang Sendal (Purwodadi, Batang, Pemalang, Semarang, Kendal) atau Kasur Bosok (Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Solo, Klaten).

Asal jangan Susu Mbokde (Surakarta , Sukoharjo, Mboyolali, Kartasura,Delanggu)
atau Tanteku Montok (Panjatan, Tegalan, Kulwaru, Temon, Toyan, Kokap)

Anak-anak muda Jogja tidak kalah kreatifnya untuk ikut-ikutan menyingkat nama tempat.
Sebut saja Amplas untuk Ambarukmo Plaza , atau Jakal (Jalan Kaliurang), Jamal (Jalan Magelang).
Kalau sampeyan sekolah di SMA 6, bisa nyombong kalau sampeyan sekolah di Depazter alias Depan Pasar Terban. Bahkan, dari pusat kota Jogja, sangat mudah untuk mencapai Paris (Parangtritis) ,atau Pakistan (Pasar Kidul Stasiun alias Sarkem),bahkan Banglades (Bangjo Lapangan Denggung Sleman).

Sampeyan seorang yang enthengan, ringan tangan, suka membantu, ndak pernah menolak untuk dimintai tolong?
Berarti sampeyan layak menyandang nama Willem Ortano, alias Dijawil Gelem Ora Tau Nolak.

Atau kalau sampeyan pinter omong, jualan obat, meyakinkan orang dengan omongan sampeyan yang nggak karuan bener salahnya, maka jangan marah kalau sampeyan dipanggil sebagai Toni Boster, alias Waton Muni Ndobose Banter wakakakakakaa......

Wong Jowo emang ok yee , podo kreatif2 euy!

------------------------------------------

Notes : Ada yang bisa nambahin? :)

 

Trimarsanto Films - cah Klaten yg berPrestasi

Who is Tonny Trimarsanto?

Mengawali karir sebagai penulis, periset materi visual, dan penata artistik film kemudian memilih menjadi sutradara film. Meraih penghargaan Best Art Director di Festival Film Kine Klub (“Daun di Atas Bantal”, karya Garin Nugroho), memperoleh Best Film dan Best Picture dari film “Gerabah Plastik” di Festival Film Dokumenter (FFD) 2002, meraih penghargaan Excellence Award dari film “Tanah Impian” di 12th Erath Vision International Film Festival 2003 Tokyo, meraih Best Short Asia Film dari film “Renita Renita” di 9th Cinemanila International Film Festival 2007 di Philipina. Hingga saat ini menjadi fasilitator workshop untuk produksi film pendek dan film dokumenter di banyak tempat.

http://trimarsantofilms.com/


T o n n y T r i m a r s a n t o A ,
Film Director , and Documentary Workshop Fasilitator

A d d r e s s,
Griya Prima Utara Rt.20/ Rw 19 Belang Wetan
Klaten Utara Jawa Tengah
INDONESIA 57433,

E m a i l :
tonnytrimarsanto@yahoo.com
P h o n e : + 62 0815 925 6503,

E d u c a t i o n,
Surakarta 11th March University (Universitas 11 Maret), Faculty of Social and Politic Sciences, Major in Mass Communication.

A W A R D S

1997,
*
Winner Best Art Director, for movie “Daun di Atas Bantal” (“Leaf on A Pillow” Garin Nugroho), at Indonesian Cine Club Film Festival

2002,
* winner Best Film, for “ Gerabah Plastik”,at Indonesian Doc Film Festival

2003,
* In Competition Selection, for “:The Dream Land”, at JIFFEST

2004,
* Winner Excellent Prize, for “ The Dream Land“, at 12th Earth Vision, Global Enviroment Documentary Film Festival 2004 Tokyo
* Exebition for “The Dream Land” and “Adung My Friend”, at Green Film Festival Seoul Korea

2005,
* In Competition Selection, “I Lost My Forest in One Minutes”, at 13TH Earth Vision Global Enviroment Documentary Film Festival 2005 Tokyo

2006,
* In Competition Selection UN CERTAIN REGARD, 59th CANNES FILM FESTIVAL 2006, feature movie “ S E R A M B I “
* In Competition Selection Ibero World Cinema , 24th Miami International Film Festival Florida US, feature movie “ S E R A M B I “
* In Asia Program , Tokyo International Film Festival feature movie “ S E R A M B I “
* In Competition Selection, Vancouver International Film Festival , Canada feature movie “S E R A M B I “
* In Competition Selection , SLINGSHORT Film Festival , “ Renita Renita “
* In Competition Selection, KONFIDEN Film Festival , “ Renita Renita”

2007,
* In Competition Selection, CON CAN SHORT Film Festival Tokyo Japan, “ Renita Renita”
* In Short Programme, 20th Singapore International Film Festival,” Renita Renita “
* In Short Programme, Q Film Festival Yogyakarta, ,” Renita Renita“

F I L M O G R A P H Y
TV a n d F i l m W o r k s (as a Director)

2001,
* documentary, “ My Cloth Like a Rainbow ” (making clothes with natural resources) SET Film – Visi Anak Bangsa (VAB)
* documentary, “ Adung My Friend “ (orang utan to be kill in Borneo island) SET Film – Visi Anak Bangsa (VAB)
* documentary, “ Botanical Garden “ (species dying) Kebun Raya Foundation

2002,
* documentary, “ One Nation “ (conflict racial in Maluku) SET Film - VAB
* documentary, “ Gerabah Plastic “ (plastic poluted) Cangkir Kopi Film
* documentary, “ Dream Land “ (conflict Porsea’s people and the big industry) WALHI – Rainforest Norwegia
* documentary, “ Special Program for Food Security , vol.1 (agriculture) FAO

2003,
* documentary, “ Roedjito “ (one of most famous stage artist in Indonesia)
* documentary, “ I Lost My Forest in One Minutes “ (about deforestation) INFORM
* documentary, “ My Forest Gone, Disaster Come “ (about deforestation) INFORM
* documentary, “ Public Participated “ (about deforestation) INFORM
* documentary, “ Special Program fo Food Security ,vol.2 FAO, short movie, “Orange Country", commercial tv, “Labelisasi Lampu Hemat Energi” - PLN

2004,
* documentary, “ The Last Forest” INFORM (TNC, WWF, Bird Life, CI)
* documentary, “ Mother Tears “ YLKI
* documentary, “Aku Ingin “, (Sapardi Djoko Damono), Lontar - Ford Foundation
* documentary, “Hana Rambey”, Lontar – Ford Foundation
* documentary, “Secercah Harapan”, Sampoerna Foundation
* documentary, “ Special Program fo Food Security ,vol.3 FAO

2005,
* documentary, “Konflik Rasial”, KOMNAS HAM
* documentary, “My Beloved Mother”, ALDP Papua, feature movie, “S E R A M B I”, Christine Hakim Film
* documentary, “New Hope”, ACCESS Australia

2006,
* documentary, “13 tahun Berjalan “, Komnas Ham - SambilBerjalan Films
* documentary, “Renita, Renita”, SambilBerjalan Films

2007,
* documentary , “Profil Kabupaten Morowali”
* documentary, “In The Shadow of The Flag”, Progressio

2008,
* documentary, “Profil Kabupaten Sumenep”


Mengajarkan hening

 clipped from koranjogja.com

Kamis, 08 Januari 2009 10:19



Pada dini hari 1 Suro saya berada di tengah-tengah ribuan orang yang menunggu kirab pusaka Keraton Kasunanan Surakarta. Di salah satu sudut kota itu, sembari menahan kantuk berat saya menunggu iring-iringan punggawa keraton yang membawa pusaka berkeliling di beberapa ruas jalan Kota Solo. Iring-iringan pusaka yang didahului empat kerbau putih keturunan Kyai Slamet milik keraton tersebut berlangsung sepanjang hampir satu jam.

Ada satu hal yang menarik bagi saya, suasana gaduh selama menanti lewatnya kirab berubah menjadi senyap dan hening begitu iring-iringan pusaka lewat. Situasi tersebut tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh. Kirab pusaka telah menjadi sarana bagi ribuan orang mengheningkan diri sejenak ketika memasuki tahun baru.

Hal seperti itu terjadi di berbagai tempat, banyak orang berusaha mencari sarana untuk mengheningkan diri, entah berjalan diam mengitari beteng kraton, atau  mengitari kampung. Betapa mengheningkan diri sejenak telah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat saat akan memulai babakan baru, seperti di awal tahun.

Kesan pada malam 1 Suro tersebut memunculkan ingatan saya akan pengalaman di Adelaide, Australian Selatan, beberapa waktu lampau. Di sekolah tempat saya mengikuti program pertukaran guru, ada irama persekolahan yang memberikan kesempatan kepada siswa pada tengah hari mengendapkan pelajaran di kelas – tanpa pelajaran apapun. Artinya, jika dari pagi hingga tengah hari suntuk dengan pelajaran silih-berganti, siswa diberikan kesempatan untuk 'hening' mengolah, menimbang, dan memahami pelajaran secara pribadi.

Lazim terjadi dalam keseharian, anak-anak kita larut dengan pelajaran bergantian, bahkan bertumpuk-tumpuk. Akibatnya, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk menjadikan pelajaran sebagai miliknya, kehilangan kesempatan mengambil nilai-nilai manusiawi setiap pelajaran. Pedagogi reflektif telah memberikan inspirasi mengenai pentingnya proses refleksi dalam setiap pembelajaran di sekolah. Setiap pengalaman pembelajaran, entah lewat guru, buku, atau pengalaman langsung di lapangan, mesti diendapkan menjadi pengalaman manusiawi.

Dalam pengalaman malam 1 Suro dan proses tengah hari di Adelaide, ada kesan betapa pentingnya mengambil kesempatan hening untuk memulai sebuah babakan baru dalam pelajaran atau kehidupan yang umum. Demikian halnya saya alami bersama para guru sebuah sekolah menengah di Yogyakarta, pada awal tahun 2009 ini mereka secara bersama-sama mengambil waktu tiga hari secara khusus untuk mengolah pengalaman kerja dan hidupnya dalam suasana hening di lereng Pegunungan Sumbing nan sepi. Hal itu menjadi sebuah episode penting bagi para guru untuk kembali mengolah pengalaman pelayanannya kepada para siswa, jauh dari suasana rutinitas rapat kerja.

Dalam konteks pendidikan anak-anak kita, keheningan belum menjadi kebiasaan yang sengaja dihadirkan menyatu dengan irama persekolahan. Suasana hening bukanlah hal yang populer untuk anak-anak kita dibandingkan dengan peralatan audio yang terpasang di telinga setiap ada kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu. Namun, sekolah dan para guru bisa memulai, entah beberapa saat menjelang pergantian jam pelajaran, entah pada tengah hari untuk beberapa pelajaran sekaligus. Tentu saja, pembiasaan nilai-nilai apapun kepada siswa mesti dimulai oleh guru. Hanya guru yang hening yang mampu menghadirkan sentuhan manusiawi kepada siswanya.


St. Kartono
Guru SMA De Britto, Jogja
Sent with Clipmarks

Keraton Yogyakarta Rayakan Idul Adha dengan Gunungan

10/12/2008 06:19 - Tradisi
Keraton Yogyakarta Rayakan Idul Adha dengan Gunungan

Liputan6.com, Yogyakarta: Berbeda dengan Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kesultanan Yogyakarta baru memperingati Hari Raya Iduladha pada Selasa (9/12). Peringatan grebeg besar ini ditandai dengan dikeluarkannya dua pasang gunungan dari dalam keraton yang berisi sayur mayur dan hasil bumi sebagai sedekah yang diberikan raja kepada rakyatnya.

Diiringi tembakan salvo dari prajurit keraton, dua pasang gunungan lanang dan gunungan wadon keluar dari halanan keraton dengan ditandu para abdi dalem keraton. Gunungan kemudian dibawa melintasi alun-alun utara keraton menuju halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Setelah dilakukan doa bersama yang dipimpin imam masjid, warga pun berhamburan berebut isi gunungan. Warga yang tidak kuat untuk ikut berebut rela mengambili isi gunungan yang jatuh ke tanah. Mereka masih percaya isi gunungan yang mereka dapat akan mendatangkan berkah dari yang Maha Kuasa.(ADO/Ferry Aditri)


Keris Jawa [Bilah latar sejarah hingga pasar] - MT Arifin

JUDUL : Keris Jawa [Bilah latar sejarah hingga pasar]
PENGARANG : MT. Arifin
PENERBIT : Hajied Pustaka Jakarta
CETAKAN : 2006
ISBN : 979-25-5290-1
JUMLAH HALAMAN:460
[Buku ini penuh dengan berbagai terminology, sebenarnya buku ini layak diangkat sebagai ensiklopedia keris Jawa. Bukti Kelayakaannya disebut ensiklopedia ini nampak dalam bahasan dan tabel-tabel kategoris yang dibuat pengarangnya. Seperti pada halaman 200., buku ini memuat motif pamor yang ditabelkan secara rinci. Adapun yang ditabel lainnya adalah:
-Daftar Keris Bentuk Permukaan Bilah Keris Ukuran Normal [Hal:73]
-Diagram Ricikan Keris [Hal:75]
-Daftar Rekapitulasi Dhapur Keris Bener [Hal:103]
-Daftar Rekapitulasi Dhapur Keris Luk [Hal:122]
-Daftar Keadaan Pamor Kategori Ukuran Normal [Hal:177]
-Daftar Penerapan Motif Gambar Pamor Keris Ukuran Normal [Hal 178]
-Daftar Nama dan Sebutan Pedagang Senjata Tradisonal Di Alun-alun Lor Surakarta [Hal:366]
-Daftar Barang Dagangan dan Jasa Pelayanan Pedagang Senjata Tradisonal di Alun-alun Lor Surakarta [Hal : 379 dan Hal: 408]Buku ini memberikan gambaran rinci nama Empu dan karya-karyanya, serta tangguh dari keris., bahkan Garis Keturunan Para Empu dari Majapahit, hingga Mataran]. Kecermatan MT arifin dalam menorehkan karyanya, sampai meneliti pedagang keris seperti yang ada di Pasar Rawabening [Jati Negara], Pasar Johar Semarang, Pasar Bringharjo Yogyakarta Kompleks Pasar Turi Surabaya, dan Di Alun-alun Lor Surakarta. Menurut MT Arifin dilukiskan bahwa sejak dulu pembahasan keris telah lama di bukukan seperti buku yang berjudul “Kitab Sedjarah Keris] Toko Boekoe Sadoe Boedi, Soerakarta.

Source : http://djokoawcollection.blogspot.com

Situs Makam Kotagede

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Situs Makam Kotagede

Kotagede terletak 10 Km arah tenggara dari Kota Yogyakarta. Di tempat ini kita dapati berbagai macam perhiasan dan interior yang terbuat dari perak. Kota kuno itu adalah bekas ibukota Kerajaan Mataram yang awalnya dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan abad 16 M. Kotagede merupakan jembatan yang menghubungkan antara tradisi Hindu - Budha dan Islam, hal itu terlihat pada peninggalan kuno kompleks masjid makam Panembahan Senopati beserta keluarganya.

Sisa-sisa peninggalan Kerajaan Mataram berupa pintu gerbang masuk komplek Makam Kotagede yang berbentuk gapura paduraksa dan pohon beringin tua yang masih tumbuh kokoh sampai sekarang. Bangunan model paduraksa itu telah dikenal sejak masa Majapahit.

Masyarakat Kotagede yang mayoritas beragama Islam dikenal mempunyai etos kerja yang tinggi, mereka berdagang dan membuat kerajinan tangan dari perak. Kemampuan berdagang ini meruapakan warisan turun temurun. Orang Kalang pada masa kejayaan Mataram di Kotagede menjadi konglomerat-konglomerat pribumi yang hebat. Kejayaan Kotagede di masa lampau masih dapat disaksikan hingga sekarang. Ukir-ukiran yang dipahatkan pada kerangka bangunan rumah-rumah orang Kalang menunjukkan kemewahan pada zamannya.

Di makam Kotagede sumere para pepundhen Mataram antara lain : Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati, Penembahan Sedo Krapayak, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Retno Dumilah, Nyai Ageng Nis, Panembahan Joyoprono, Nyai Ageng Mataram, Nyai Ageng Pati, Nyai Ageng Juru Mertani dan lain-lain..

Jika pembaca menghendaki informasi lebih lengkap, silahkan membaca buku: Tim Peneliti Lembaga Studi Jawa, Kotagede Pesona dan Dinamika Sejarahnya, (Lembaga Studi Jawa, 1997).


GERBANG MAKAM KOTAGEDE: Inilah gerbang masuk makam Kotagede, di sini nampak perpaduan unsure bangunan Hindu dan Islam.


MASJID MAKAM KOTAGEDE: Sebagai kerajaan Islam, Mataram memiliki banyak peninggalan masjid kuno, inilah masjid di komplek makam Kotagede yang bangunannya bercorak Jawa.


BANGSAL DUDA: Di sinilah tempat peziarah mendapatkan informasi dari jurukunci makam yang berasal dari Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta. Di tempat ini jugalah peziarah menanggalkan pakaiannya untuk berganti pakaian peranakan jika hendak memasuki komplek makam.


RUMAH KALANG: Rumah orang Kalang yang tampak kemegahannya.


KALANG OBONG: Upacara tradisional kematian orang Kalang, upacara ini seperti Ngaben di Bali, tetapi kalau upacara Kalang Obong ini bukan mayatnya yang dibakar melainkan pakaian dan barang-barang peninggalannya.


KERAJINAN PERAK: Perak Kotagede sangat terkenal hingga ke mancanegara, kerajinan ini warisan dari orang-orang Kalang.


PENJUAL KIPO: Makanan tradisional ini sangat khas dan hanya ada di Kotagede, terbuat dari kelapa, tepung, dan gula merah.

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

A. Sejarah Singkat Dinasti Mataram Islam Awal.

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia yang bersifat maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris. Kerajaan yang beribu kota di pedalaman Jawa ini banyak mendapat pengaruh kebudayaan Jawa Hindu baik pada lingkungan keluarga raja maupun pada golomngan rakyat jelata. Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan perselisihan antaranggota keluarga yang sering dicampuri oleh Belanda. Kebijaksanaan politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh pengganti-penggantinya. Walaupun demikian, kerajaan Mataram merupakan pengembang kebudayaan Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram. Kebudayaan tersebut merupakan perpaduan antara kebudayaan Indonesia lama, Hindu-Budha, dan Islam.

Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.

Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya. Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengasn banyak pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.

Pada tahun 1674 pecahlah Perang Trunajaya yang didukung para ulama dan bangsawan, bahkan termasuk putra mahkota sendiri. Ibukota Kerta jatuh dan Amangkurat I (bersama putra mahkota yang akhirnya berbalik memihak ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC. Akan tetapi sampai di Tegalarum, (dekat Tegal, Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh sakit dan akhirnya wafat.

Ia digantikan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat II atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Amral. Sunan Amangkurat II bertahta pada tahun 1677-1703. Ia sangat tunduk kepada VOC demi mempertahankan tahtanya. Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh Amangkurat II dengan bantuan VOC, dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki perjanjian yang berisi: Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan Mataram harus mengganti kerugian akibat perang.

Oleh karena Kraton Kerta telah rusak, ia memindahkan kratonnya ke Kartasura (1681). Kraton dilindungi oleh benteng tentara VOC. Dalam masa ini Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan Pangeran Puger (adik Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I oleh para pengikutnya). Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar ganti rugi biaya dalam perang Trunajaya, Mataram lantas mengalami kesulitan keuangan. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC.

Hubungan Amangkurat II dengan VOC menjadi tegang dan semakin memuncak setelah Amangkurat II mangkat (1703) dan digantikan oleh putranya, Sunan Mas (Amangkurat III). Ia juga menentang VOC. Pihak VOC yang mengetahui rasa permusuhan yang ditunjukkan raja baru tersebut, maka VOC tidak setuju dengan penobatannya. Pihak VOC lantas mengakui Pangeran Puger sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwana I. Hal ini menyebabkan terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan Perang Perebutan Mahkota I (1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang ke Sailan oleh VOC. Namun Paku Buwana I harus membayar ongkos perang dengan menyerahkan Priangan, Cirebon, dan Madura bagian timur kepada VOC.

Paku Buwana I meninggal tahun 1719 dan digantikan oleh Amangkurat IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu , dalam pemerintahannya dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini, sehinggga konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723). VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.

Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap VOC. Paku Buwana II memihak China dan turut membantu memnghancurkan benteng VOC di Kartasura. VOC yang mendapat bantuan Panembahan Cakraningrat dari Madura berhasil menaklukan pemberontak China. Hal ini membuat Paku Buwana II merasa ketakutan dan berganti berpihak kepada VOC. Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan Raden Mas Garendi yang bersama pemberontak China menggempur kraton, hingga Paku Buwana II melarikan diri ke Panaraga. Dengan bantuan VOC kraton dapat direbut kembali (1743) tetapi kraton telah porak poranda yang memaksanya untuk memindahkan kraton ke Surakarta (1744).

Hubungan manis Paku Buwana II dengan VOC menyebabkan rasa tidak suka golongan bangsawan. Dengan dipimpin Raden Mas Said terjadilah pemberontakan terhadap raja. Paku Buwana II menugaskan adiknya, Pangeran Mangkubumi, untuk mengenyahkan kaum pemberontak dengan janji akan memberikan hadiah tanah di Sukowati (Sragen sekarang). Usaha Mangkubumi berhasil. Tetapi Paku Buwana II mengingkari janjinya, sehingga Mangkubumi berdamai dengan Raden Mas Said dan melakukan pemberontakan bersama-sama. Mulailah terjadi Perang Perebutan Mahkota III (1747-1755).

Paku Buwana II dan VOC tak mampu menghadapi 2 bangsawan yang didukung rakyat tersebut, bahkan akhirnya Paku Buwana II jatuh sakit dan wafat (1749). Namun menurut pengakuan Hogendorf, Wakil VOC Semarang saat sakratul maut Paku Buwana II menyerahkan tahtanya kepada VOC. Sejak saat itulah VOC merasa berdaulat atas Mataram. Atas inisiatif VOC, putra mahkota dinobatkan menjadi Paku Buwana III (1749).

Pengangkatan Paku Buwana III tidak menyurutkan pemberontakan, bahkan wilayah yang dikuasai Mangkubumi telah mencapai Yogya, Bagelen, dan Pekalongan. Namun justru saat itu terjadi perpecahan anatara Mangkubumi dan Raden Mas Said. Hal ini menyebabkan VOC berada di atas angin. VOC lalu mengutus seorang Arab dari Batavia (utusan itu diakukan VOC dari Tanah Suci) untuk mengajak Mangkubumi berdamai.

Ajakan itu diterima Mangkubumi dan terjadilah apa yang sering disebut sebagai Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti (1755). Isi perjanjian tersebut adalah: Mataram dibagi menjadi dua. Bagian barat dibagikan kepada Pangeran Mangkubumi yang diijinkan memakai gelar Hamengku Buwana I dan mendirikan kraton di Yogyakarta. Sedangkan bagian timur diberikan kepada Paku Buwana III.

Mulai saat itulah Mataram dibagi dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan raja Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Kasunanan Surakarta dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III.

Kadipaten Paku Alaman

Kadipaten Paku Alaman didirikan pada tanggal 17 Maret 1813, ketika Pangeran Notokusumo, putra dari Sultan Hamengku Buwono I dengan Permaisuri Srenggorowati dinobatkan oleh Gubernur-Jenderal Sir Thomas Raffles (Gubernur Jendral Britania Raya yang memerintah saat itu) sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Paku Alam I. Status kerajaan ini mirip dengan status Praja Mangkunagaran di Surakarta.

Lambang Pakualaman

Kasunanan Surakarta

Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri sebagai suatu kerajaan pecahan dari Kesultanan Mataram pada 13 Februari 1755, yaitu sebagai akibat dari ditanda-tanganinya Perjanjian Giyanti. Pemerintah Hindia Belanda dalam perjanjian tersebut juga mengakui Sunan Pakubuwana III sebagai raja yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri. Di awal masa kemerdekaan (1945-1946), bersama Praja Mangkunegaran sempat menjadi Daerah Istimewa Surakarta. Akan tetapi karena kerusuhan dan agitasi politik saat itu, maka pada tanggal 16 Juni 1946 oleh Pemerintah Indonesia statusnya diubah menjadi Karesidenan Surakarta, menyatu dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lambang Surakarta Hadiningrat

Praja Mangkunagaran

Praja Mangkunagaran (atau Mangkunegaran) dibentuk berdasarkan Perjanjian Salatiga yang ditandatangani pada tahun 1757 sebagai solusi atas perlawanan yang dilakukan Raden Mas Said (atau Pangeran Sambernyawa, kelak menjadi Mangkunagara I) terhadap Sunan Pakubuwana III. Raden Mas Said mendapat wilayah yang mencakup sebagian dari bekas Mataram sisi sebelah timur, berdasarkan Perjanjian Giyanti (1755). Jumlah wilayah ini secara relatif adalah 49% wilayah Kasunanan Surakarta setelah tahun 1830 pada berakhirnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa. Wilayah itu kini mencakup bagian utara Kota Surakarta (Kecamatan Banjarsari, Surakarta), seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar, seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri, dan sebagian dari wilayah Kecamatan Ngawen, Gunung Kidul.

Penguasa Mangkunegaran, berdasarkan perjanjian pembentukannya, berhak menyandang gelar Pangeran (secara formal disebut Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya, mirip dengan Fürst di Jerman) tetapi tidak berhak menyandang gelar Sunan atau pun Sultan. Status yang berbeda ini tercermin dalam beberapa tradisi yang masih berlaku hingga sekarang, seperti jumlah penari bedaya yang tujuh, bukan sembilan seperti pada Kasunanan Surakarta. Setelah kemerdekaan Indonesia, Mangkunegara VIII (penguasa pada waktu itu) menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara tradisional penguasanya disebut Mangkunagara (baca: 'Mangkunagoro'). Raden Mas Said merupakan Mangkunagara I. Saat ini yang memegang kekuasaan adalah Mangkunagara IX. Penguasa Mangkunegaran berkedudukan di Pura Mangkunegaran, yang terletak di Kota Surakarta.

Para penguasa Mangkunegaran tidak dimakamkan di Astana Imogiri melainkan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu, yang terletak di lereng Gunung Lawu. Perkecualian adalah lokasi makam dari Mangkunegara VI, yang dimakamkan di tempat tersendiri.

Warna resmi Mangkunagaran adalah hijau dan kuning emas serta dijuluki "pareanom" ('padi muda'), yang dapat dilihat pada lambang, bendera, pataka, serta sindur yang dikenakan abdi dalem atau kerabat istana.

Lambang Mangkunegara

Mataram Baru 1830
Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830. Peta ini digambar oleh Meursault2004 alias Revo Arka Giri S. berdasarkan Robert Cribb, 2000, Historical Atlas of Indonesia halaman 114.

Lokasi kecamatan Banjarsari yang merupakan wilayah Mangkunagaran


Peta Surakarta - PDF (download)

Masjid Agung Surakarta

Tokoh Antagonis Darmo Gandhul

Tokoh Antagonis Darmo Gandhul Tragedi Sosial Historis dan Keagamaan di Penghujung Kekusaan Majapahit”, ditulis oleh Nurul Huda didasarkan pada Gancaran basa Jawa ngoko. Babon asli tinggalane KRT Tandhangara, Surakarta. Cap-capan ingkang kaping sekawan 1959 Toko Buku “Sadu-Budi” Sala.
-------------------------------------------------
(draft) Link



R. Ng. Ronggowarsito : Sejarah

Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi dirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keraton yang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus Burham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai murid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding.

Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yang bernama Ki Tanujoyo. Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya. Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasar seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran. Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari. Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan bagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki Tanujoyo.

(Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena KyaiImam Besari merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari).

Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo. Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burham bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanaman diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo. Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari. Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.

Menurut serat "CANDRA KANTHA" buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antara lain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( Pangeran Pamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo. Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujangga keraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra Tumenggung Tirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng. Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputra R. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari Bagus Burham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegoro bukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas Ngebehi Ronggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebut diketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darah bangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapa brata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaran mengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan "tapa kungkum". Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheningan malam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintang berkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya juga sudah semakin dewasa itu.

Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali. Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya. Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas, perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari. Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok. Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai. Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran Kadilangu.

Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian rajanya ? Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni soal kesusastraan Jawa serta peninggalan - peninggalan nenek moyang. Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.

Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton. Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom. Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan perasaannya tampak ada karyanya " Serat Kala Tida ".

Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri. Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari rontal-rontal, pengalaman / pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah dia dapat menimba pelbagai ilmu.

Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830). Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.