Tampilkan postingan dengan label tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tegal. Tampilkan semua postingan

Nasi Lengko Khas Tegal

-picture-
Bahan
2 porsi nasi
2 buah timun, rajang
100 gr tauge kecil, siram air panas
kecap manis
2 sdm bawang goreng
4 batang bawang kucai, iris halus
kerupuk putih
tempe goreng
50 ml minyak sayur untuk menumis

Saus kacang
2 buah cabe merah
3 siung bawang putih, memarkan, goreng 1/2 matang
1 cm jahe
100 gr kacang tanah, goreng
400 ml air matang
20 ml air asam
1 sdt gula merah
garam secukupnya

Cara membuat
1. Tata nasi pada piring
2. Bubuhi timun dan tauge di atasnya
3. Panaskan minyak, tumis saus kacang, aduk sampai mengental
4. Siramkan saus kacang di atas nasi
5. Beri kecap manis dan taburi bawang goreng
6. Sajikan bersama tempe goreng dan kerupuk putih

Catatan
Makanan khas Cirebon, Tegal, Brebes. Disebut juga Sega Lengko (bahasa setempat).

Blog Komunitas Wong Tegal - WaroengTegal.org


Tentang Waroeng Tegal
Waroengtegal, adalah komunitas blogger Tegal dan sekitarnya yang secara resmi disepakati sebagai sebagai komunitas blog pada tanggal 7 Juli 2007 (070707). Komunitas ini didirikan dengan tujuan sebagai wadah para blogger asal Tegal dan sekitarnya untuk saling berkomunikasi dan menjalin tali silaturrokhmi, serta memberikan kontribusi untuk membangun Tegal melalui media blog. Disini kita bisa bernostalgia, bercerita, berpendapat dan megkritisi semua hal tentang Tegal, bahkan kita juga bisa mendapatkan pengetahuan atau informasi baru tentang Tegal.
Nama Waroengtegal, diputuskan dari kopdar pertama kali pada momem 070707, setelah melewati perdebatan panjang dan melelahakan, sebenarnya banyak nominasi nama untuk komunitas ini sebelumnya, semacam: warteg, tahu aci, tahu plethok, tahu upil, warung poci, moci bahkan jalabia (apa kiye?!) yang juga khas Tegal. Bukan tanpa sebab kita memilih nama, itu semua penuh pertimbangan dan pemikiran yang melibatkan energi dan fikiran untuk menemukan nama itu.

Kuliner Setan di Tegal

Kuliner Setan di Tegal

Siapa yang tak tahu istilah setan. Kata ini diserap dari Bahasa Arab, digunakan dalam Bahasa Indonesia bermakna sama seperti dalam bahasa aslinya. Kata ini telah menjadi istilah tersendiri menunjukkan pada makna makhluk pembangkang, pendurhaka, pengkhianat, pembohong, penggoda, dan makna 'buruk' lainnya. Dari pemaknaan yang masih bersifat umum ini, ada yang memasukkan jenis manusia ke dalam setan. Maksudnya bukan semua manusia adalah setan tetapi ada manusia yang memiliki karakter setan, yaitu mereka yang mengajak kepada keburukan. Anda termasuk ?

Pertanyaannya, Apakah setan punya jenis makanan tertentu ?Mau tau???Postingan ini bukanlah mau membahas apa tiap hari setan makan atau apa menu makanan setan, tetapi yang kita bahas adalah salah satu makanan khas Tegal yang diberi nama PONGGOL SETAN.Wah, seram juga namanya, apakaha bentuk dan rasanya seseram namanya?

Di daerah Tegal Ponggol Setan adalah sebutan untuk nasi yang dibentuk menggung, dibungkus dengan daun pisang dengan lauk pendampingya biasanya berupa oseng-oseng tempe, mie goreng ditambah telur,ikan asin, tahu, tempe mendoan atau krupuk. Yang khas dari makanan ini adalah karena penyajiannya dalam keadaan hangat dan baru dibungkus ketika ada pembeli memesan. Selain itu keunikan lainnya adalah oseng-oseng tempe sebagai lauknya dalam pembuatannya dijemur terlebih dahulu selama satu hari sebelum dimasak. Nama Ponggol Setan sendiri diberikan oleh masyarakat sekitar karena makanan ini dijual hingga dini hari. Mungkin karena malam sampai dini hari diidentiakn dengan sesuatu yang serem, banyak setan, atau saatnya setan keluar dari sarangnya, sehingga nasi ponggol yang dijual sampai dini hari itu dinamakan Ponggol Setan. Namun pada perkembangannya sekarang ini Ponggol Setan juga dijual di pagi hari sebagai menu sarapan, bahkan sampai siang hari.

Harga untuk satu pincuk(bungkus) Ponggol Setan juga cukup terjangkau, berkisar antara Rp.3000-6000, tergantung dari lauk tambahan yang diinginkan pembeli. Dengan harga yang relatif murah, penyajian dalam keadaan hangat dan lauk yang unik dan tradisional inilah yang mebuat Ponggol Setan sekarang menjadi salah satu makanan kegemaran warga Tegal dan sekitarnya bahkan sekarang menjadi salah satu brand baru kuliner khas Tegal.

Bagi Anda yang belum mencoba PONGGOL SETAN, silahkan coba dan rasakan bagaimana keunikan dari makanan ini. Untuk dapat menikmatinya, Ponggol Setan sekarng banyak dijual di daerah Kejambon, Alun-alun Tegal, komplek stasiun KA Tegal, obyek wisata PAI dan di beberapa jalan protokol di Tegal. Ajak keluarga, teman, atau pacar untuk mecicipi nikmatnya Ponggo Setan ini.

Gb. pertama diambil dari: ita-musapir.blogspot.com

Gb. ke dua diambil dari: flickr.com/photos/51728570@N00/2173969571/

Mr. Limbad, Ikon baru dari Tegal

Mr. Limbad, Ikon baru dari Tegal

Ada calon ikon baru dari kabupaten Tegal, Kalo di dunia seni kita semua mengenal Ki Enthus "Dalang Mbeling" Susmono. Nah di tayangan The Master RCTI muncul sosok misterius dari magician kontestan acara tersebut. Pada tayangan The Master session kedua yang tayang setiap jum'at jam 21:30 ini terdapat penampilan Mr Limbad. Limbad tinggal hanya 200an meter dari tempat tinggal Pak Bhanu di Tegal. Tepatnya di desa Dukuhwringin kecamatan Slawi. Dan yang saya tahu, dia adalah magician yang dalam aksinya me"mutilasi" tubuh manusia dan mengembalikannya ke bentuk semula, seperti potong jari, tangan, bahkan leher. Bisnis pertunjukan Magic-nya sering berkeliling ke pelosok negeri mengikuti keramaian seperti Pasar malam, pameran pembangunan, dsb. Bahkan Angger, sang adik ipar bahkan kerap ngamen sulap di jalan Malioboro Jogja.
aksi limbad

Dari kemasan, performance dan gerakan tubuh, horor banget kandidat The Master yang satu ini, apalagi dengan membawa burung hantu yang berperan laksana penasehat spiritualnya. Meskipun atraksinya menurut saya bukan hal yang baru tapi dibawakan dengan sangat elegan. Bahkan Deddy Corbuzier beberapa kali memuji aksi Limbad. Magician ini menganut aliran Fakir yang merupakan salah satu aliran Magic terkuno. Dia menguasai tehnik mengontrol rasa sakit, menguatkan tubuhnya agar kuat menahan benda-benda yang berbahaya. Jika banyak dari kandidat The Master Season I bermain menghindari bahaya. Mr. Limbad menelan bahaya!
Nama aslinya memang Limbad. Dalam kartu namanya tertera Prof Dr Limbad SH. Gelar Doktor, berasal dari Universitas Kesejahteraan Muslim Indonesia di Depok. SH-nya dari Universitas Pancasakti, Tegal."Saya lahirnya tahun 1972," akunya. Mbah Lim sehari-hari tinggal di Tegal, Jawa Tengah, bersama istri dan 2 anaknya. Doktor yang diperolehnya merupakan honoris causa. Mbah Lim dinilai berhasil mengembangkan ilmu pengobatan dan spiritual. Di kartu namanya tertulis profesi sebagai penasihat spiritual. Bekerja untuk instansi Markas Besar Komando Pengendalian Stabilitas Ketahanan Nasional dan Pengendalian Pers Informasi Negara. Apa fungsi lembaga ini? "Untuk mengawasi pers di seluruh Indonesia," kata Mbah Lim yang setia berambut gimbal itu.
Awalnya, Mbah Lim berkecimpung sebagai pemain dengan peran-peran antagonis atau sebagai dukun di sinetron Hidayah yang ditayangkan di Trans TV. Berkat keuletannya dan atas bimbingan seorang sutradara asal Aceh, Ferial Syah, akhirnya ia mampu dan dipercaya pihak produser untuk menggarap sinetron. Hingga kini puluhan sinetron telah digarapnya dan tayang di beberapa televisi swasta.
Karena job sinetron tidak menentu, baginya membuat sinetron bukan menjadi satu-satunya keahlian yang dikerjakan. "Terkadang keahlian seseorang itu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya kebetulan punya teman artis dan akhirnya bisa berkecimpung di dunia glamour itu," akunya. Belum lama ini, Mbah Lim menyutradari sinetron local berjudul 'Tumbal Jenglot'. Sinetron itu diproduksi Satria Ningrat, sebagai produsernya Susi Indrawati sedangkan pemainnya para seniman dan masyarakat Tegal.
Kini dirinya berkeinginan membuat sinetron jenis horor ataupun legenda. "Saya ingin membuat sinetron dengan lokasi di daerah yang dikenal sebagai tempat angker," kata Mbah Lim.
Nah silakan tonton aksi Limbad ini, dan berikan dukungan anda (bila perlu). (Bhanu)
Updated 21/04/09: Aksi Mr Limbad mendapat simpati dari Juri dan Pemirsa The Master RCTI. Akhirnya Limbad berhasil menjadi "Juara The Master Season 2″. Informasi yang saya peroleh, Limbad merupakan saudara sepupu dari Ki Dalang Enthus Susmono. Aksi teatrikal dalam setiap show-nya merupakan arahan Dalang Mbeling tersebut.

Mendoan Tempe

http://id.wikipedia.org/wiki/Mendoan


Kata mendoan dianggap berasal dari bahasa Banyumasan, mendo yang berarti setengah matang atau lembek. Mendoan berarti memasak dengan minyak panas yang banyak dengan cepat sehingga masakan tidak matang benar. Bahan makanan yang paling sering dibuat mendoan adalah tempe.

Untuk membuat tempe mendoan adalah dibutuhkan:

Mendoan tempe disajikan dalam keadaan panas disertai dengan cabe rawit atau sambal kecap. Mendoan tempe dapat dijadikan sebagai lauk makan ataupun makanan ringan untuk menemani minum teh atau kopi saat santai.

Mendoan tempe mudah ditemui di warung-warung tradisional di wilayah eks karesidenan Banyumas dan Tegal. Untuk wilayah Banyumas, para pelancong membeli oleh-oleh mendoan tempe di daerah Sawangan, Purwokerto, yang merupakan pusat jajanan khas Purwokerto.

Rasa yang "unik" membuat makanan ini menyebar hingga ke luar daerah Banyumas. Tempe Mendoan dapat ditemui di kota-kota besar Jawa Tengah, bahkan hingga ke Jakarta.

Di kota-kota lain di Jawa Tengah seperti Semarang, Mendoan lebih merujuk ke tempe goreng tepung, atau di daerah lain disebut tempe kemul, dimana tempe yang berbentuk tipis itu hanya irisan. Hal ini sedikit menimbulkan kerancuan, terutama bagi pendatang dari Jawa Tengah bagian barat. Mendoan purwokerto berbeda dengan mendoan dari beberapa kota di wilayah jawa tengah, lebih terasa basah minyaknya. Mendoan khas purwokerto lebih nikmat apabila di sajikan dalam keadaan hangat.


Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

Menelusuri jejak-jejak situs kerajaan Mataram Islam

A. Sejarah Singkat Dinasti Mataram Islam Awal.

Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia yang bersifat maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris. Kerajaan yang beribu kota di pedalaman Jawa ini banyak mendapat pengaruh kebudayaan Jawa Hindu baik pada lingkungan keluarga raja maupun pada golomngan rakyat jelata. Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan perselisihan antaranggota keluarga yang sering dicampuri oleh Belanda. Kebijaksanaan politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh pengganti-penggantinya. Walaupun demikian, kerajaan Mataram merupakan pengembang kebudayaan Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram. Kebudayaan tersebut merupakan perpaduan antara kebudayaan Indonesia lama, Hindu-Budha, dan Islam.

Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

Di samping dalam bidang politik dan militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang, Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud. Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan Agung yang lainnya.

Sultan Agung meninggal pada tahun 1645 dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi sifat-sifat ayahnya. Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai dengasn banyak pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan Mataram dipindahkan ke Kerta.

Pada tahun 1674 pecahlah Perang Trunajaya yang didukung para ulama dan bangsawan, bahkan termasuk putra mahkota sendiri. Ibukota Kerta jatuh dan Amangkurat I (bersama putra mahkota yang akhirnya berbalik memihak ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC. Akan tetapi sampai di Tegalarum, (dekat Tegal, Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh sakit dan akhirnya wafat.

Ia digantikan oleh putra mahkota yang bergelar Amangkurat II atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Amral. Sunan Amangkurat II bertahta pada tahun 1677-1703. Ia sangat tunduk kepada VOC demi mempertahankan tahtanya. Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh Amangkurat II dengan bantuan VOC, dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki perjanjian yang berisi: Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan Mataram harus mengganti kerugian akibat perang.

Oleh karena Kraton Kerta telah rusak, ia memindahkan kratonnya ke Kartasura (1681). Kraton dilindungi oleh benteng tentara VOC. Dalam masa ini Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan Pangeran Puger (adik Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I oleh para pengikutnya). Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar ganti rugi biaya dalam perang Trunajaya, Mataram lantas mengalami kesulitan keuangan. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC.

Hubungan Amangkurat II dengan VOC menjadi tegang dan semakin memuncak setelah Amangkurat II mangkat (1703) dan digantikan oleh putranya, Sunan Mas (Amangkurat III). Ia juga menentang VOC. Pihak VOC yang mengetahui rasa permusuhan yang ditunjukkan raja baru tersebut, maka VOC tidak setuju dengan penobatannya. Pihak VOC lantas mengakui Pangeran Puger sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwana I. Hal ini menyebabkan terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan Perang Perebutan Mahkota I (1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang ke Sailan oleh VOC. Namun Paku Buwana I harus membayar ongkos perang dengan menyerahkan Priangan, Cirebon, dan Madura bagian timur kepada VOC.

Paku Buwana I meninggal tahun 1719 dan digantikan oleh Amangkurat IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan Prabu , dalam pemerintahannya dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini, sehinggga konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723). VOC berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan dan dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.

Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan China terhadap VOC. Paku Buwana II memihak China dan turut membantu memnghancurkan benteng VOC di Kartasura. VOC yang mendapat bantuan Panembahan Cakraningrat dari Madura berhasil menaklukan pemberontak China. Hal ini membuat Paku Buwana II merasa ketakutan dan berganti berpihak kepada VOC. Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan Raden Mas Garendi yang bersama pemberontak China menggempur kraton, hingga Paku Buwana II melarikan diri ke Panaraga. Dengan bantuan VOC kraton dapat direbut kembali (1743) tetapi kraton telah porak poranda yang memaksanya untuk memindahkan kraton ke Surakarta (1744).

Hubungan manis Paku Buwana II dengan VOC menyebabkan rasa tidak suka golongan bangsawan. Dengan dipimpin Raden Mas Said terjadilah pemberontakan terhadap raja. Paku Buwana II menugaskan adiknya, Pangeran Mangkubumi, untuk mengenyahkan kaum pemberontak dengan janji akan memberikan hadiah tanah di Sukowati (Sragen sekarang). Usaha Mangkubumi berhasil. Tetapi Paku Buwana II mengingkari janjinya, sehingga Mangkubumi berdamai dengan Raden Mas Said dan melakukan pemberontakan bersama-sama. Mulailah terjadi Perang Perebutan Mahkota III (1747-1755).

Paku Buwana II dan VOC tak mampu menghadapi 2 bangsawan yang didukung rakyat tersebut, bahkan akhirnya Paku Buwana II jatuh sakit dan wafat (1749). Namun menurut pengakuan Hogendorf, Wakil VOC Semarang saat sakratul maut Paku Buwana II menyerahkan tahtanya kepada VOC. Sejak saat itulah VOC merasa berdaulat atas Mataram. Atas inisiatif VOC, putra mahkota dinobatkan menjadi Paku Buwana III (1749).

Pengangkatan Paku Buwana III tidak menyurutkan pemberontakan, bahkan wilayah yang dikuasai Mangkubumi telah mencapai Yogya, Bagelen, dan Pekalongan. Namun justru saat itu terjadi perpecahan anatara Mangkubumi dan Raden Mas Said. Hal ini menyebabkan VOC berada di atas angin. VOC lalu mengutus seorang Arab dari Batavia (utusan itu diakukan VOC dari Tanah Suci) untuk mengajak Mangkubumi berdamai.

Ajakan itu diterima Mangkubumi dan terjadilah apa yang sering disebut sebagai Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti (1755). Isi perjanjian tersebut adalah: Mataram dibagi menjadi dua. Bagian barat dibagikan kepada Pangeran Mangkubumi yang diijinkan memakai gelar Hamengku Buwana I dan mendirikan kraton di Yogyakarta. Sedangkan bagian timur diberikan kepada Paku Buwana III.

Mulai saat itulah Mataram dibagi dua, yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan raja Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Kasunanan Surakarta dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III.