Tampilkan postingan dengan label Keris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keris. Tampilkan semua postingan

Keris tak semuanya mistis

 clipped from koranjogja.com

Minggu, 04 Januari 2009 10:07

Mendengar nama keris langsung  muncul di benak kita adalah sebuah kengerian atau sesuatu yang berbau mistis. Memang tak selamanya salah ada  anggapan itu,  memang dulunya keris digunakan oleh raja-raja sebagai sebuah pusaka. Sejak zaman kerajaan Budha pun , keris sudah mulai digunakan. Tak hanya punya nilai spiritual saja, justru bentuk karya seninya-lah yang menjadikannya sebagai sebuah benda koleksi.


Nilai sebuah keris terletak pada keindahan bentuk, bahan yang dipakai, serta proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan ketrampilan khusus.Ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus.  Untuk pegangan misalnya dalam keris Jawa terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng dan bungkul. Wrangka atau sarung kerisnya pun juga unik seperti  jenis wrangka ladrang yang terdiri dari dari  angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar  serta cangkring.

HARIAN JOGJA/OLIVIA LEWI

Keindahan keris inilah yang kemudian memotivasi Rahadi Saptata Abra seorang kolektor keris untuk menyimpan benda-benda ini. "Keris itu adalah salah satu jenis tradisi adiluhung Indonesia yang patut dilesatarikan," paparnya, kepada Harian Jogja.
Abra menjelaskan bahwa ada 3 hal penting dalam keris mengapa punyai nilai keindahan tertentu diantaranya karena keris terdiri dari tangguh (style), dapur (kombinasi dari detail keris), serta pamor (motif gambar).

Hobinya mengoleksi keris dimulainya sejak tahun 1994. Hingga saat ini koleksinya sudah  mencapai 150-an bahkan lebih. Bagi Abra, sapaan akrabnya mengoleksi keris adalah hal yang menyenangkan. Lebih lagi kalau berburu keris, rasanya adalah sebuah rekreasi  yang menantang dan menggairahkan. Pernah dia menceritakan, hanya mencari warangka  kerisnya dia membutuhkan  seharian waktu untuk mencarinya. Berbagai perajin didatanginya dan ketika ia berhasil mendapatnya, perasaan lega pun langsung terpancar.

Sepertinya kemistisan keris yang menjadi mitos bagi sebagaian orang tak membuat Abra menghentikan hobinya ini. "Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh pembuatnya untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki, dan sebagainya,"paparnya.

Memang tak salah dengan apa yang diomongkan oleh Abra. Inilah yang kemudian tercermin dalam filosofi keris yang mulai berubah dari zaman ke zaman. Dari Kerajaan Singosari sampai Mataran Sultan Agung, keris sudah diposisikan sebagai benda muliti fungsi dan multi makna. Kadang kita temui keris yang dianggap sebagai "sikep" atau "piyandel", ada yang digunakan sebagai senjata pamungkas, dan juga sebagai "sengkalan" atau pertanda atas suatu kejadian penting.

Tak hanya itu, dalam sebuah filosofi Jawa ada sebuah anggapan yang berlaku bahwa seseorang baru bisa dianggap paripurna jika sudah memiliki lima unsur simbolik yaitu curiga (keris), turangga (kuda/kendaraan), wanita (istri), dan kukila (burung).Secara simbolik, curiga atau keris bermakna   kedewasaan, keperkasaan dan kejantanan. Seorang pria Jawa tradisional, harus tangguh dan mampu melindungi diri, keluarga atau membela negara.

Mungkin filosofi Jawa inilah yang sampai sekarang melekat pada diri Adam, seorang kolektor keris lainnya yang sudah 28 tahun mengoleksi keris. Sampai dengan saat ini koleksi banyak yang sudah terjual dan saat ini hanya tersisa150 buah keris. Diakuinya bahwa keris adalah warisan leluhurnya, dan kecintaannya mengoleksi keris adalah untuk melestarikan budaya Jawa yang adiluhung serta untuk investasi pribadi. Senada juga dengan pernyataan Abra, bahwa keinginannya mengoleksi keris ini juga menjadi simbol status bagi dirinya yang kebetulan menganut kebudayaan Jawa.

"Keris memiliki nilai spiritual yang tinggi dan memiliki seni keindahan yang sungguh sangat unik. Jika kita bisa menghayatinya dengan rasa yang mendalam, keris mempunyai energi yang berbeda dibandingkan benda yang lain,"papar Wibby Mahardhika, seorang pecinta keris lain. Dia menambahkan bahwa semua benda yang diciptakan untuk satu niat yang khusus akan dapat bertransformasi dengan baik pada pemiliknya.

Cara memperoleh keris
Bagaimana ya cara mendapatkan keris?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu terbesit dalam benak orang awam ketika berhadapan dengan kolektor ataupun pecinta keris. Apakah harus bersemedi terlebih dahulu, atau ada gerai khusus yang menjual?
Mendapatkan keris memang tak mudah. Keris bukanlah hal yang mudah untuk diperdagangkan apalagi jenisnya keris asli. Berdasarkan penuturan Abra, dirinya selalu diberi informasi lewat telepon bila ada jenis yang baru. Pengayuh itulah sebutan bagi orang yang menjual keris.

Tukar menukar dengan kolektor lain juga menjadi salah satu cara mendapatkan keris. Biasanya bisa perorangan lewat komunitas. Kalau di Jogja ini salah satu komunitas keris yang sering melakukan kegiatan ini adalah komunitas keris Pametri Wiji. Dan jangan khawatir bahwa pemindahan keris dari tangan orang lain tidak membutuhkan tradisi sendiri. "Yang penting itu adalah memperlakukan keris dengan baik meski itu bukan asli milik kita,"papar Wibby.

Ternyata ada uniknya cara mendapatkan zaman sekarang dan zaman dulu. Pada zaman sekarang, untuk mendapatkan keris selalu ditukarkan dengan uang. Berbeda dengan zaman dulu, keris bisa didapatkan dengan menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan rumah, seperti hewan peliharaan, atau perabotan rumah. "Dulu itu untuk mendapatkan keris, sapi pun bisa diberikan pada pemilik keris," papar Adam. Perlu diketahui tradisi membeli atau menukar  keris ini sering disebut memaskawinkan.

Harga keris pun juga tidak bisa dibandingkan dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah, dan harga tergantung dari seni keris sendiri. Semakin detail pembuatannya, langka bahannya, tentunya harganya bisa melambung tinggi. Lebih lagi jika membeli keris secara langsung dari pemiliknya atau sang Empu, dijamin harganya juga tak murah. Dan bagi kolektor keris, keaslian keris yang lebih diutamakan.
Keaslian atau keorisinilanlah yang menjadi pedoman bagi Abra dalam membeli keris. Baginya, untuk membeli sebuah keris bukanlah hal yang mudah. Mungkin bagi orang awam, semua keris yang dijual di pasaran adalah sama, namun berbeda dengan seorang kolektor yang tahu tentang detailnya.
"Keris yang akan saya beli itu harus digarap dengan bagus artinya harus utuh dan tidak cacat. Karena bila ada bagian yang hilang akan mengurangi nilainya. Selain itu dari harga pun juga akan saya perhitungkan,"ungkapnya.

Perawatan Keris
Menjadi sebuah seni yang indah serta memiliki multi fungsi dan makna, membuat keris harus diperlakukan dengan baik dan tidak sembarangan. Sasi sura dalam penanggalan Jawa memang menjadi asumsi orang bahwa hari itulah saatnya orang memandikan keris atau disebut dengan penjamasan/ diwarangi.
Namun pendapat itu tak semestinya benar bagi Adam. Baginya bila setiap Sura keris dimandikan justru malah membuat bahan penyusun keris semakin tipis. Oleh karena itu, biasanya setiap 3 hingga 6 bulan sekali, Adam selalu meminyaki kerisnya supaya lebih awet.  "Tidak mesti setiap Sura keris harus dimadikan, yang penting keris harus rutin dijaga dan dirawat,"paparnya.

Berbeda dengan Abra, yang setiap tahunnya selalu memandikan kerisnya pada saat sasi Sura. Dia pun tak berani memandikan sendiri kerisnya karena memandikan keris membutuhkan cara tersendiri. Baru setelah itulah, dalam tahap meminyaki keris, dirinya selalu melakukannya sendiri dengan menggunakan minyak cendana. "Semakin lama diminyaki maka keris akan semakin bagus.Intinya perawatan keris itu adalah  mencegah supaya  keris tidak  mengalami korosi,"paparnya.

Meski hanya benda mati, namun keris membutuhkan kasih sayang tersendiri. Keris dan pemilik ibaratnya adalah sepasang suami-istri yang harus saling memahami.

Sent with Clipmarks

Keris Jawa [Bilah latar sejarah hingga pasar] - MT Arifin

JUDUL : Keris Jawa [Bilah latar sejarah hingga pasar]
PENGARANG : MT. Arifin
PENERBIT : Hajied Pustaka Jakarta
CETAKAN : 2006
ISBN : 979-25-5290-1
JUMLAH HALAMAN:460
[Buku ini penuh dengan berbagai terminology, sebenarnya buku ini layak diangkat sebagai ensiklopedia keris Jawa. Bukti Kelayakaannya disebut ensiklopedia ini nampak dalam bahasan dan tabel-tabel kategoris yang dibuat pengarangnya. Seperti pada halaman 200., buku ini memuat motif pamor yang ditabelkan secara rinci. Adapun yang ditabel lainnya adalah:
-Daftar Keris Bentuk Permukaan Bilah Keris Ukuran Normal [Hal:73]
-Diagram Ricikan Keris [Hal:75]
-Daftar Rekapitulasi Dhapur Keris Bener [Hal:103]
-Daftar Rekapitulasi Dhapur Keris Luk [Hal:122]
-Daftar Keadaan Pamor Kategori Ukuran Normal [Hal:177]
-Daftar Penerapan Motif Gambar Pamor Keris Ukuran Normal [Hal 178]
-Daftar Nama dan Sebutan Pedagang Senjata Tradisonal Di Alun-alun Lor Surakarta [Hal:366]
-Daftar Barang Dagangan dan Jasa Pelayanan Pedagang Senjata Tradisonal di Alun-alun Lor Surakarta [Hal : 379 dan Hal: 408]Buku ini memberikan gambaran rinci nama Empu dan karya-karyanya, serta tangguh dari keris., bahkan Garis Keturunan Para Empu dari Majapahit, hingga Mataran]. Kecermatan MT arifin dalam menorehkan karyanya, sampai meneliti pedagang keris seperti yang ada di Pasar Rawabening [Jati Negara], Pasar Johar Semarang, Pasar Bringharjo Yogyakarta Kompleks Pasar Turi Surabaya, dan Di Alun-alun Lor Surakarta. Menurut MT Arifin dilukiskan bahwa sejak dulu pembahasan keris telah lama di bukukan seperti buku yang berjudul “Kitab Sedjarah Keris] Toko Boekoe Sadoe Boedi, Soerakarta.

Source : http://djokoawcollection.blogspot.com

KERIS JAWA antara Mistik dan Nalar - Haryono Haryoguritno

Sebagai karya seni dalam wujud senjata tajam dengan bentuk khas
satu-satunya di dunia, keris terdapat di hampir seluruh kawasan
Nusantara. Tetapi banyak temuan arkeologi dan sejarah yang sangat
menguatkan kesimpulan bahwa keris-keris generasi awal dibuat di Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Oleh karena itu buku ini berusaha membahas
khusus keris Jawa secara komprehensif, mulai dari segi mistik, dongeng,
legenda, kepercayaan, filsafat, sejarah, teknik pembuatan hingga
tradisi yang berkaitan dengan keris dalam tata kehidupan suku Jawa.
Adapun tata nilai yang diangkat disini adalah tata nilai yang dianut
hingga menjelang abad 20, ketika perkembangan budaya perkerisan
mencapai titik kulminasinya.

Beratus-ratus ilustrasi tentang
bilah keris dalam buku ini dibuat berdasarkan pada benda yang
sesungguhnya dan bukan imajiner atau rekaan. Buku ini juga mencoba
menyajikan tabulasi untuk mengenal ciri dan arti nama-nama bentuk bilah
keris. Untuk pola dekorasi pamor, selain arti nama-namanya
dipaparkan pula beberapa rekayasa pembuatannya, suatu hal yang dulu
amat dirahasiakan dan sarat dengan mitos atau dongeng.


Demikian juga tentang cara memilih keris, bila pada banyak kalangan
masih saja terdengar cerita tentang 'keampuhan' keris-keris tertentu,
buku ini berusaha menghadirkan beberapa cara menilai mutu keris, baik
secara visual, emosional, spiritual, maupun tradisi. Semua hal di atas
dirangkum dan ditulis sebagai kontribusi ke arah lahirnya apa yang
disebut: krisolog

PERUMPAMAAN DALAM BUSANA KEJAWEN

Rumah Dokumentasi Budaya

PERUMPAMAAN DALAM BUSANA KEJAWEN

Busana adat Jawa biasa disebut dengan busana kejawen yang mempunyai perumpamaan atau pralambang tertentu terutama bagi orang Jawa yang biasa mengenakannya. Busana kejawen penuh dengan piwulang sinandhi, kaya akan suatu ajaran tersirat yang terkait dengan filosofi Jawa.

Ajaran dalam busana kejawen ini merupakan ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, dengan diri sendiri, maupun dengan Tuhan Yang Maha Kuasa pencipta segala sesuatu di muka bumi ini.

Busana kejawen yang akan dijelaskan di bawah ini terdiri dari busana atau pakaian yang dikenakan pada bagian atas tubuh, seperti iket, udheng; bagian tubuh seperti rasukan atau bisa disebut dengan baju, jarik, sabuk, epek, timang; bagian belakang tubuh yakni keris; dan dikenakan di bagian bawah atau baian kaki yaitu canela.

  1. Iket

    Iket adalah tali kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng, kuat, supaya ikatannya tidak mudah terlepas. Bagi orang Jawa arti iket adalah hendaklah manusia mempunyai pamikir atau pemikiran yang kenceng, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.

  2. Udheng

    Udheng dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. Bila sudah dikenakan di atas kepala, iket menjadi sulit dibedakan dengan udheng karena ujudnya sama. Udheng artinya mudheng atau mengerti dengan jelas. Artinya manusia akan mempunyai pemikiran yang kukuh bila mengerti dan memahami tujuan hidupnya. Artinya, manusia senantiasa mencari kesejatian hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu, udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai keahlian/ketrampilan serta dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Atau berarti juga hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional.

  3. Rasukan

    Sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa, hendaklah orang Jawa ngrasuk atau menganut agama dan selalu menyembah Tuhan Yang Maka Kuasa dengan iman dan takwa. Artinya hendaklah orang Jawa takut akan Allah dan bersedia untuk selalu melakukan apapun kehendak Allah.

  4. Benik

    Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) di sebelah kiri dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah hendaklah orang Jawa dalam melakukan semua tindakannya dalam hal apapun selalu diniknik, diperhitungkan dengan cermat. Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum

  5. Sabuk

    Sabuk dikenakan dengan cara melingkarkannya ke badan. Lambang atau arti dari sabuk tersebut adalah manusia harus bersedia untuk berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dari itu manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai pekerjaannya itu tidak ada hasil atau buk (tidak ada keuntungan). Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.

  6. Epek

    Epek bagi orang Jawa mempunyai arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus epek ( apek, golek, mencari) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakanlah untuk tekun, teliti, dan cermat, sehingga dapat memahami dengan jelas.

  7. Timang

    Timang mempunyai pralambang bahwa apabila ilmu yang ditempuh itu dipahami dengan jelas atau gamblang, tidak akan ada rasa kuatir (samang-samang, berasal dari kata timang).

  8. Jarik

    Jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang akan dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna aja gampang serik. Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu atau emosional.

  9. Wiru

    Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru ujungnya sedemikian rupa. Wiru atau wiron bisa terjadi dengan cara melipat-lipat ujung jarik sehingga berujud wiru. Berarti, jarik tidak lepas dari wiru. Wiru, artinya wiwiren aja nganti kleru, olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.

  10. Bebed

    Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya "bekerjalah" sepanjang hari.

  11. Canela

    Canela, mempunyai arti canthelna jroning nala, atau peganglah kuat di dalam hatimu. Canela sama artinya dengan cripu, selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau menembah di kaki-Nya. Dalam hati hanyalah sumeleh, pasrah akan kekuasaan-Nya Yang Maha Tinggi.

  12. Curiga lan rangka

    Curiga atau keris berujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya atu Allah Yang Maha Kuasa, manunggaling kawula Gusti. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan.

Sumber tulisan dari majalah Jaya Baya dan sumber-sumber lain