Tampilkan postingan dengan label Tangerang Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tangerang Selatan. Tampilkan semua postingan

Kalau ICW Kelasnya Nasional, Mungkinkah TCW (Tangsel Corruption Watch) Dibentuk & Adakah Yang Berkehendak Menjadi Foundernya?

Sponsor

Pilkada Tangsel yang baru lalu para Petarung mengklaim bahwa pihak merekalah yang Paling Santun, Jujur, Benar dan Bersih, walau banyak Cerita, Fakta dan Data yang berhamburan dikalangan Masyarakat semua hanyalah menjadi Dongeng belaka yang segera dilupakan seiring waktu yang bergulir. Jangankan hanya sekedar Cerita Rakyat, putusan Lembaga Tinggi Negara semacam MK saja bisa tak dianggap apalagi memiliki efek jera.

Jargon Politik Dinasti, Politik Putra Daerah, Politik Gender, Praktek Kolusi Dan Nepotisme menurut pendapat pribadi saya tak perlulah menjadi "Masalah Besar" selama proses dan ujungnya adalah untuk Kemaslahatan Rakyat. Namun bila semua hal itu dibarengi dengan yang namanya penyakit KORUPSI dan kemudian menjadi bagian dari Gaya Hidup (Birokrat/Pejabat Publik/Wakil Rakyat), maka tak ada Toleransi Ampunan sedikitpun terhadap para Pelakunya, jangankan mereka yang sudah disebut diatas, mereka yang naik menjabat dengan Cara-cara Santun pun bila kelak melakukan praktek-praktek yang ditengarai beroma KORUP sudah selayaknya harus dibrangus sedini mungkin.

Lalu bila dalam sebuah System Pemerintahan Gaya Hidup Korup sudah menggurita, kait-mengait erat, antara Pelaku dan Aparat Hukumnya sudah menjadi kerabat akrab saling menunjang saling menopang, kepada siapa Masyarakat harus berharap?

Tak ada cara lain kecuali memberdayakan Potensi Masyarakat melalui sebuah Organisasi, Lembaga, Paguyuban atau apapun namanya yang merupakan Swadaya Masyarakat yang pada awalnya cukuplah menjadi penampung informasi seputar praktek-prekatek Korup yang ada disekitarnya, yang kemudian oleh Lembaga tersebut diteruskan kepada para pihak yang lebih berwenang menanganinya.

Dari sisi saya pribadi saya membayangkan sebuah bentukan semacam ICW namun dalam skala Regional, tidak harus terlalu formal namun memiliki akses cukup kuat ke semua lini yang diperlukan, utamanya tentu adalah akses kepada ICW itu sendiri.

Berikut saya cuplik sedikit Manifesto Gerakan Anti Korupsi ICW, ( http://www.antikorupsi.org/antikorupsi/?q=tentang.icw ) yang menjadi inspirasi penulisan catatan ini :

ICW adalah lembaga nirlaba yang terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi melalui usaha-usaha pemberdayaan rakyat untuk terlibat/berpartisipasi aktif melakukan perlawanan terhadap praktek korupsi. ICW lahir di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1998 di tengah-tengah gerakan reformasi yang menghendaki pemerintahan pasca Soeharto yang demokratis, bersih dan bebas korupsi.

Visi ICW :

Menguatnya posisi tawar rakyat untuk mengontrol negara dan turut serta dalam keputusan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang demokratis, bebas dari korupsi, berkeadilan ekonomi, sosial, serta jender.

Jadi bila waktu itu ICW lahir pada saat Reformasi bergulir, tentunya tidak ada salahnya bila di Tangsel pun digulirkan gerakan/lembaga semacam dalam skala mini. Misal diberi nama Tangsel Corruption Watch (TCW), dengan Koordinator yang ada ditiap Kecamatan bila mungkin, dibarengi dengan kemudahan akses informasi yang interaktif. Sudah selayaknya kelahiran Negeri Tangsel yang bakalan menjadi Kota Metropolis perlu diiringi dengan lahirnya Organisasi Nirlaba yang Mandiri Bebas Kepentingan Kelompok yang mampu menjadi Watch Dog (istilah ini kurang enak didengar namun lazim dipakai) bagi Pejabat Publiknya.

Dan perlu digaris bawahi pengertian KORUP tidak hanya semata urusan yang berhubungan dengan Uang semata, kalau kita baca dalam Program dan Divisi ICW, lingkupnya adalah Korupsi Politik, Monitoring Pelayanan Umum, Monitoring Hukum dan Peradian, Divisi Informasi Publik.( http://www.antikorupsi.org/antikorupsi/?q=tentang.icw#dewan )

Bila Tangsel Corruption Watch (TCW) dengan cepat dapat segera terbentuk maka tak pelak lagi bakal menjadi Mimpi Buruk Bagi Birokrat Korup.

Dan kembali kita dapat dengan bangga menyeru, Ini Tangsel Bang!

Namun siapa yang berkendak menjadi Founder-nya, yang mampu berlepas diri dari Kepentingan Pribadi dan Kelompok, berkorban Waktu untuk Khalayak dan beresiko Tinggi bagi Kehidupan Pribadi?

Pamulang, ba'da Ashar

Kamis 06 Januari 2011

Notes :

Sekretariat Indonesia Corruption Watch

Jl. Kalibata Timur IV/D No. 6 Jakarta Selatan, Indonesia Phone : +62 - 21 - 7901 885, 7994 015 Fax : +62 - 21 - 7994 005 Email: icw@antikorupsi.org 

Sedangkan Banten Corruption Watch (BCW) yang berdiri th 2000 dan mati suri sejak 2007 kini kegiatannya hanya mendokumentasikan kliping dari berbagai sumber media dan membuat artikel menyoal kejahatan korupsi di Banten.

Website http://bcwbanten.co.cc/ Groupnya Facebooknya ada di http://www.facebook.com/group.php?gid=255743588400&v


FB-cahPamulang : Kalau ICW Kelasnya Nasional, Mungkinkah TCW (Tangsel Corruption Watch) Dibentuk & Adakah Yang Berkehendak Menjadi Foundernya?

KOMPAS pun berkata : SAMPAH Menumpuk Di Tangerang Selatan

Koran kaliber Nasional pun mneyempatkan untuk memuat berita tentang carut marutnya pengelolaan SAMPAH di Tangerang Selatan, ini jelas bukan masalah yang sepele bagi Walikota terpilih.

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/05/03503466/Sampah.Menumpuk.di.Tangerang.Selatan

Sampah Menumpuk di Tangerang Selatan

Selasa, 5 Oktober 2010 | 03:50 WIB

Tangerang Selatan, Kompas - Sampah masih tetap menjadi persoalan Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Sejak pemutusan kerja sama yang ditandai dengan penarikan 40 truk armada pengangkut sampah oleh induknya, Kabupaten Tangerang, Januari 2010, hingga Senin (4/10), warga dan pemerintah wilayah pemekaran tersebut kewalahan menangani sampah.

Akibatnya, tumpukan sampah terjadi di sebagian besar pasar tradisional dan sejumlah lahan pembuangan sementara (LPS). Sampah juga tampak dibiarkan berserakan di badan jalan di sejumlah jalan protokol dan jalan lingkungan.

Sejauh pengamatan, sejak sepekan lalu hingga Senin (4/10), sampah masih menumpuk di Pasar Cimanggis, Pamulang. Sampah juga dibiarkan menumpuk di sejumlah titik di pasar tersebut mulai dari arah Pamulang menuju Ciputat. Selain memenuhi trotoar dan badan jalan, sampah dalam tempat penampungan, seperti badan truk sampah, dibiarkan menumpuk begitu saja.

Tumpukan sampah ini tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, air lindi (air dari sampah) memenuhi badan jalan, serta lalat dan belatung memenuhi sampah yang sudah membusuk tersebut.

Tumpukan sampah juga ditemukan di Pasar Ciputat. ”Sudah seminggu sampah tak diangkut,” kata Ahmad, pedagang sayuran yang memiliki kios tak jauh dari tumpukan sampah tersebut.

Tumpukan sampah juga terlihat di Jalan Mujair, Lele, dan Rusa Raya. Sampah juga menumpuk di beberapa LPS liar di Jalan Cikini (Jurang Mangu), Nusa Jaya (Bintaro), Kampung Sawah, Pondok Ranji, KH Dewantara (Ciputat), Pondok Kacang (Pondok Aren), dan Jalan Serpong Raya. Serakan sampah terlihat di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, sampai sejumlah titik di Jalan Ciputat Raya.

Armada kurang

Pejabat Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Pemakaman Kota Tangerang Selatan Joko Suryanto mengatakan, sampah yang kembali menumpuk di Kota Tangerang Selatan adalah akibat terbatasnya truk pengangkut.

”Armada yang kita miliki hanya sembilan unit. Armada bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta delapan unit,” kata Joko. Padahal, dalam sehari, warga Tangerang Selatan menghasilkan 80-100 kubik sampah.

”Petugas kebersihan sudah bekerja semaksimal mungkin mengatasi sampah dalam kondisi keterbatasan armada. Akan tetapi, karena produksi sampahnya terlalu banyak, masih ada sampah yang tetap saja tidak terangkut,” kata Joko.

Misalnya, lanjut Joko, sampah di Pasar Ciputat. ”Setiap hari, delapan rit truk yang mengangkut sampah di Pasar Ciputat. Yang membuang sampah di pasar itu bukan hanya pedagang pasar, melainkan juga masyarakat sekitarnya sehingga volume sampahnya terus bertambah banyak,” papar Joko. (PIN)

----------------------

Ini buktinya TANGSEL macam TONG SAMPAH tak bertuan :

http://www.facebook.com/album.php?aid=180343&id=824273705&ref=mf

Artikel :
http://tinyurl.com/2bolxfj

Arah ke Kel. BEnda Baru masuk dari seberang setu pamulang, dekat pintu air

Sampah di Vila Pamulang

Vila Dago dekat Kolam Air tengah, arah ke Al Zahra

Lagi-lagi tumpukan sampah (tak bertuan ?) , sekarang ada di belakang Polsek BSD. Hadoh-hadoh... piye ki ?

Rasanya perlu Pabrik Pengolahan sampah untuk diwilayah kota, gak bisa hanya cari solusi kerja sama dengan wilayah lain.

Pabrik Sampah Harga Mati Kerja Walikota Terpilih, Kumpulkan Para Pemulung Seantero Tangsel untuk cari Solusi, nggak perlu Study banding ke Luar Negeri, cukup ke Bantar Gebang saja.
:(

Cross posting ke Blogspot :

http://bloggertangsel.blogspot.com/2010/11/kompas-pun-berkata-sampah-menumpuk-di.html

FB-cahPamulang : KOMPAS pun berkata : SAMPAH Menumpuk Di Tangerang Selatan

Pembuatan Akte Kelahiran di Tangsel

Sumber : Tangsel.info

Akta Kelahiran (Birth Certificate) diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pemerintah Kota/Kabupaten dimana bayi dilahirkan. Banyak orangtua yang melahirkan anaknya di kota/kabupaten yang berbeda dengan tempat tinggalnya. Hal ini juga sering terjadi bagi warga DKI Jakarta, Kota Depok, dan Kabupaten Tangerang yang melahirkan anaknya di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang berbatasan langsung dengan ketiga wilayah tersebut.
Seperti misalnya Hidayat (33) seorang warga Jakarta Timur yang anaknya lahir di Cirendeu, Tangsel. Ia mengaku tidak menemui kesulitan untuk mengurus sendiri akte kelahiran kedua anaknya yang lahir kembar di Tangsel. Cukup membawa persyaratan dokumen ke kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DKPS) Tangsel.
“Cepet banget! Cuma sepuluh hari kerja. Petugasnya juga baik, ngasih nomor telepon untuk saya hubungi langsung.”, jelas Hidayat ketika ditemui di DKPS Tangsel pada Senin (5/10).
Hidayat menjelaskan bahwa ia cukup membawa persyaratan dokumen ke DKPS dan mengisi formulir yang diperlukan. Kemudian petugas DKPS memberikan tanda terima yang tertulis nomor telepon CDMA lokal petugas tersebut. Setelah sepuluh hari kerja, Hidayat kemudian menghubungi nomor telepon tersebut dan mendapatkan kabar bahwa akta kelahiran anaknya sudah selesai.
“Jadi saya tidak perlu repot dengan mendatangi langsung kantor DKPS hanya untuk mengecek apakah akta kelahiran anak saya sudah selesai.”, tambah Hidayat sambil menggenggam dua map yang berisi akte kelahiran kedua anak kembarnya.
Hidayat mengaku bahwa dirinya mengeluarkan biaya sekitar Rp.50.000,- untuk dua akte. Ia tidak menjelaskan rincian biaya tersebut. Namun ia menyarankan agar membawa sendiri materai 6.000 jika ingin mengurus sendiri akter kelahiran.
Menurut berbagai sumber, terdapat tiga jenis akte kelahiran yaitu, Akta Kelahiran Umum, Akta Kelahiran Istimewa dan Akta Kelahiran Dispensasi. Akta Kelahiran Umum adalah Akta kelahiran yang dibuat berdasarkan laporan kelahiran yang disampaikan dalam batas waktu selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari kerja bagi WNI dan 10 (sepuluh) hari kerja bagi WNA sejak tanggal kelahiran bayi.
Akta Kelahiran Istimewa Akta Kelahiran yang dibuat berdasarkan laporan kelahiran yang telah melampaui batas waktu 60 (enam puluh) hari kerja bagi WNI dan 10 (sepuluh) hari kerja bagi WNA sejak tanggal kelahiran bayi. Sedangkan Akta Kelahiran Dispensasi adalah Akta Kelahiran yang dibuat berdasarkan Program Pemerintah untuk memberikan kemudahan bagi mereka yang lahir sampai dengan tanggal 31 Desember 1985 dan terlambat pendaftaran / pencatatan kelahirannya.
Adapun persyaratan untuk membuat akta kelahiran umum adalah sebagai berikut :
  1. Surat Pengantar RT/RW
  2. Surat Keterangan kelahiran dari Rumah Sakit / Dokter / Bidan / Pilot / Nakhoda
  3. Surat Tanda Bukti Perkawinan Orang Tua beserta fotokopinya
  4. Surat Keterangan Kelahiran dari Lurah
  5. Fotokopi Kartu Keluarga
  6. Kartu Tanda Penduduk yang dilegalisir Lurah beserta fotokopinya
Semua persyaratan ini kemudian diserahkan kepada petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Jl. Komplek Witana Harja No. 27, Kav. 51F, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi nomor telepon (021) 7442283.

Persiapan Pembentukan Dewan Tangerang Selatan Capai 80 Persen

Tempointeraktif.Com

Selasa, 12 Januari 2010 | 07:23 WIB

TEMPO Interaktif, Tangerang - Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tangerang, Hasan Mustopi mengatakan DPRD Tangerang Selatan telah siap dibentuk dan diresmikan akhir Februari mendatang. "Persiapan sudah mencapai 80 persen," kata dia, kepada Tempo, Selasa 12/1.

Menurut Hasan, hampir semua tahapan telah dilalui dan disiapkan KPU.” Kini hanya persiapan anggaran dan penyesuaian tahapan saja,” katanya. KPU Kabupaten Tangerang, Hasan meneruskan, juga sedang menunggu keputusan KPU Pusat dalam penentuan apakah disetujui 45 kursi atau 50 kursi anggota dewan yang duduk di DPRD Tangerang Selatan. ”Itu kewenangan KPU Pusat,” katanya.

Menurut Hasan, terkait dengan komposisi kursi itu, KPU Kabupaten Tangerang telah membuat klarifikasi ke KPU Pusat tentang surat keputusan KPU nomor 422 tanggal 16 Desember 2009 tentang penetapan kursi dan daerah pemilihan. ”Dalam SK itu tertulis Kabupaten Tangerang Selatan bukan Kota Tangerang Selatan, meski hanya salah tulis tapi menurut kami secara hukum itu adalah cela,” kata Hasan.

Jika melihat data kependudukan Tangerang Selatan saat ini, kata dia, secara defacto, Tangerang Selatan berpotensi 50 kursi. KPU Kabupaten Tangerang menargetkan finalisasi pembentukan DPRD Tangerang Selatan akan rampung Januari ini. ”Akhir Februari resmi terbentuk,” katanya.

Masjid Akbar Al-Ikhlas Kota Tangerang Selatan

Coba untuk mulai menulis maksudnya  sedikit mau menulis :
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa waktu yang lalu saya menemukan tulisan di Facebook tentang pembuatan Masjid Akbar Kota Tangerang Selatan yang kemudian dari tulisan tersebut saya menemukan alamat web tentang rencana pembangunan masjid tersebut di http://masjidakbaralikhlas.com .
Sebagai orang Pamulang ternyata saya ketinggalan jauh mengenai berita ini, padahal jarak tempuh ke lokasi yang dimaksud tidaklah begitu jauh, dan saban hari nyaris saya lewati.
Namun rupanya dekatnya jarak bukan berarti jaminan bahwa semua informasi bisa dengan mudah didapat.
Ya, diera digital sekarang ini, rupanya informasi dari alam maya bisa lebih cepat dari bisik-brisik tetangga. :)
Baiklah kembali ke inti bahasan tentang Masjid Akbar tersebut.
Mungkin dalam beberapa kesempatan saya akan menulis topik ini secara intens, sedangkan untuk sekarang ini sementara cukup disini saja dulu.
Semoga semua urusan ini dimudahkan oleh Allah SWT.
Amien.




Update Alamat di Internet :
http://masjidakbaralikhlas.com
http://masjidakbar-alikhlas.blogspot.com
http://tinyurl.com/yedgyhu

Silahkan Salurkan Wakaf Anda.


.
.

Pengumuman CPNS 2009 Kota Tangerang Selatan

PENGUMUMAN Nomor : 813.13/1393-BKD/2009
TENTANG PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DARI PELAMAR UMUM PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN ANGGARAN 2009
http://www.tangerangselatankota.go.id/
Pengumuman CPNS 2009 Kota Tangerang Selatan

Rizki Sogo Jongkok - Ciputat

Rizki Sogo Jongkok
Faisal, penjual pakaian, menyiapkan dagangan sebelum pasar sogo jongkok di kawasan Sandratex, Ciputat, Tangerang Selatan, Minggu (28/6). Lelaki asal Sumatera Barat ini mengaku berjualan di kawasan tersebut karena banyaknya calon pembeli.
iPhA - Only for the best photoes





Kota Tangsel Siap Menjadi Kota Pendidikan


Kota Tangsel Siap Menjadi Kota Pendidikan



Kamis, 26 Maret 2009

TANGERANGNEWS.COM-Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) mempersiapkan kota otonom terbaru di Provinsi Banten itu menjadikan kota itu sebagai Kota Pendidikan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel Nanang Komara mengatakan, melihat jumlah universitas dan sekolah yang tumbuh di wilayah itu sepertinya mewujudkan kota Tangsel sebagai ikon dari kota pendidikan sangatlah dimungkinkan.

“Pada level perguruan tinggi di sini ada UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Pamulang dan ada perguruan tinggi tingkat internasional diantara seperti Swiss German University (SGU), serta Sinarmas World Academy (SGA,” jelasnya kepada tangerangnews.com siang ini.

Namun, kata Nanang, untuk mewujudkan kota itu menjadi kota pendidikan, diperlukan pembenahan dalam bidang mengajar dan belajar. “Sarana dan prasarananya harus ditingkatkan serta tentunya sumber daya manusia (SDM) pengajarnya,”papar Nanang.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel H.D Sofyan mengatakan, guna mewujudkan itu semua pihaknya terlebih dahulu akan mendata sarana dan prasarana yang ada saat ini.”Tangsel bersinggungan langsung dengan Ibukota Jakarta, saya yakin Tangsel dapat lebih baik dalam bidang pendidikan dibandingkan ibukota,” ujarnya. (den)

Bersiap Sebelum Diserbu

Bersiap Sebelum Diserbu
Faisal, penjual pakaian, menyiapkan dagangan sebelum pasar sogo jongkok di kawasan Sandratex, Ciputat, Tangerang Selatan, tempat ia berjualan dipadati calon pembeli, Minggu (26/4). Lelaki asal Sumatera Barat ini mengaku berjualan di kawasan tersebut karena banyaknya calon pembeli.



Pamulang Masuk TV lagi : Dua Ormas Bentrok di Pamulang

Link

Seperti biasa, kalau nggak bentrokan, tawuran ya kebanjiran.



23/04/2009 05:02 - Kasus Bentrokan
Dua Ormas Bentrok di Pamulang

Liputan6.com, Pamulang: Dua organisasi massa, Kamis (23/4) dini hari, terlibat bentrokan di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Bentrokan ini merupakan lanjutan setelah beberapa jam sebelumnya kedua pihak yang bertikai terlibat bentrok fisik.

Sejauh ini penyebab bentrokan masih simpang siur dari soal kesalahpahaman hingga perebutan lahan parkir. Namun yang pasti bentrokan pertama melibatkan massa yang lebih besar. Sementara, saling kejar menjadi pemandangan saat bentrokan susulan.

Tawuran ini tergolong nekat mengingat lokasi kejadian dekat dengan Markas Kepolisian Sektor Pamulang. Bahkan, tembakan peringatan dari polisi pun tidak dihiraukan kedua belah pihak. Kini situasi di lokasi kejadian sudah kondusif setelah kedua kubu membubarkan diri. Tidak ada korban dalam kejadian tersebut.(IAN/Arofah Supandi)

Desain TPS Unik

Seorang warga duduk di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Jl Kecapi I Kelurahan Pisangan RT 03 RW 05, Ciputat, Tangerang. TPS ini terbilang unik karena didesain seperti acara pernikahan, mulai dari lokasi hingga bilik pemungutan suara.




Misteri Gedung Hantu Bintaro

Link

Masih ingat dengan rumah hantu di Pondok Indah, Jakarta Selatan? Beberapa tahun lalu, rumah itu menghebohkan warga. Kini, sebuah gedung berlantai 24 di Bintaro, Tangerang juga disebut juga sebagai gedung hantu. Gedung ini penuh misteri.

Gedung ini terletak di Sektor 9 Bintaro, berada di depan RS Internasional Bintaro. Gedung ini sudah terlantar selama 12 tahun. Pemandangan angker memang terlihat di gedung tinggi menjulang itu. Meski begitu, gedung yang terbengkalai ini masih dijaga enam orang satpam.

Entah siapa yang memulai mengisukan ada hantu di gedung ini. Yang jelas, sejumlah satpam yang menjaga gedung ini mempercayainya. “Kalau malam sering ada suara perempuan tertawa dari dalam gedung,” kata satpam gedung, Windra, kepada wartawan di lokasi.

Menurut dia, suara tertawa perempuan tersebut mulai terdengar setelah pukul 23.00 WIB. Tapi tiap kali mengecek suara itu, para satpam selalu tak menemukan sumber suara. ” Selain itu ada perasaan aneh. Seakan-akan ada orang. Itu berlangsung hingga dini hari,” tambah dia.

Kasus mistis ini juga dibenarkan beberapa tukang ojek yang mangkal di sekitar gedung itu. Meski tak berhasil melihat hantu secara kasat mata, namun mereka mengaku sering dibayang-bayangi.

“Ada sesuatu yang aneh kalau dilihat terus menerus. Tapi entah apa. Tapi saya yakin ada malunya. Kan sudah lebih dari 10 tahun terbengkalai,” kata seorang tukang ojek yang tak mau disebut namanya yang biasa mangkal di sekitar gedung.

Pantauan detikcom, gedung tersebut terbengkelai. Puluhan konstruksi gedung seperti kaca dibiarkan begitu saja. Puluhan jendela terbuka dengan sarang laba-laba tampak di dalam gedung. Kaca pun pecah di beberapa bagian. Rumput belukar dibiarkan tumbuh begitu saja.

Namun, benarkah gedung yang dijaga 6 satpam itu memang berhantu? Terserah Anda, percaya atau tidak. Jangan-jangan memang ada trik-trik mengisukan gedung itu berhantu dengan maksud tertentu. Namun, sejumlah orang kabarnya memang datang ke gedung itu karena penasaran.

Penelusuran detikcom, gedung ini punya misteri lain. Kabarnya gedung yang disebut-sebut milik Panin ini salah konstruksi. “Bagian bawah sudah ambles,” tutur seorang sumber. Seharusnya, gedung itu dibuat berlantai 17, tapi kenyataannya dibuat berlantai 24. Gedung ini terbengkalai setelah krisi melanda Indonesia pada 1997 lalu. (detiknews.com)


Maling Satroni Puskesmas Pamulang, Data Gakin Raib

PAMULANG- Puskesmas Pamulang yang terletak di Jalan Surya Kencana, Kota Tangerang Selatan menjadi sasaran maling. Akibatnya, satu Central Unit Processor (CPU) yang berisi data Gakin dan pelatihan kerja karyawan raib digondol maling.

Kepala Puskesmas Pamulang drg.Unna Ramadhona mengatakan kejadian tersebut diketahui sekitar pukul 07.00 pagi ketika petugas akan melayani pasien. Tiba-tiba, satu unit CPu yang menyimpan berbagai data, sudah raib. "Kami langsung lapor ke aparat kepolisian,"katanya.

Unna kembali mengatakan kemungkinan masuk ke dalam Puskesama sekitar pukul 23.50 Wib. Pasalnya saat itu dr Tulus dan Syaiful penjaga puskesmas sedang memasukan data Gakin kedalam komputer.

"Maling tersebut masuk kedalam ruangan askes tanpa melakukan perusakan pintu. Semuanya dalam keadaan baik-baik saja,” katanya lagi.

Dan sejauh ini Una belum mengetahui secara pasti apakah ada keterlibatan orang dalam dalam peristiwa tersebut.
"Saya sudah tanyakan dan mereka mengatakan tidak ada orang yang mencurigakan dan semua ruangan terkunci,"ucapnya.

Akibat peristiwa tersebut, terang Unna kerugian ditaksir mencapai Rp 3,5 juta. Meskipun hal tersebut dinilainya tidak seberapa tetapi keamanan harus tetap jadi prioritas utama. “Kami akan perketat untuk pengunjung,"ujarnya.

Ditemui terpisah, Kapolsek Pamulang Ajun Komisaris Heru Purnomo mengatakan bahwa kejadian tersebut masih dalam penyelidikan. "Belum bisa dipastikan apakah ada keterlibatan orang dalam. Semuanya masih dalam penyelidikan,"katanya. (crl)

Sumber : http://tangerangonline.com

Sejarah Pembentukan Kec.Pamulang

A. Langkah-langkah Pembentukan

Sebagaimana dikemukakan dalam Latar Belakang bahwa Perwakilan Kecamatan Kedaung yang lebih populer Kemantren Kedaung dalam perjalanan waktu berubah menjadi “ Kecamatan Pamulang” sejatinya berdasarkan surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tk. II Jawa Barat No. 138/SK-1294-Pem.Um/81 tanggal 22 September 1981 yaitu Pembentukan Perwakilan Kecamatan ‘Kedaung’.

Panggilan Kecamatan Pamulang dicetuskan oleh Bapak Bupati H. Tadjus Sobirin dalam satu acara peresmian Puskesmas Pamulang, Bapak Bupati bilang, kenapa Kedaung ?, sudah Kemantren Pamulang saja ! sejak saat itu istilah Kemantren Kedaung tidak terdengar lagi.

Kenapa Kemantren Kedaung ? tadinya para pejabat di Kecamatan Ciputat pada waktu itu mengharapkan mendapatkan sebidang tanah dilingkungan Kompleks Departemen Agama Bambu Apus, tetapi ternyata untuk mendapatkan tanah di Bambu Apus sangat sulit kalaupun ada harus membeli dengan harga yang relatif tinggi.

Sambil menunggu proses mendapatkan tanah yang strategis dan cukup luas untuk Kantor Kemantren yang dalam perjalanan waktu juga untuk Kantor Kecamatan Pamulang, kegiatan Kemantren dipimpin oleh Bapak Drs. H. Affendi Arsyad numpang di Kantor Kepala Desa Pamulang Barat

Dilain pihak para pejabat di Kabupaten pun berharap betul agar Kecamatan Pamulang segera ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan yang defenitif.

Pada saat ini Kecamatan Pamulang terbentuk bersama-sama dengan 4 Kecamatan lainnya di Kabupaten Tangerang baru ada 21 Kecamatan, dengan jalan demikian apabila 5 kecamatan jadi kecamatan maka jumlah kecamatan akan menjadi 26 kecamatan.

Atas dasar itu Bapak Bupati melalui suratnya No.194/PM.021.1/1983 tanggal 31 Januari 1983 membuat surat kepada Bapak Gubernur Jawa Barat agar Kemantren Pamulang plus 4 Kecamatan lainnya segera ditingkatkan statusnya.

Ternyata memang benar untuk meningkatkan status Kemantren menjadi Kecamatan yang definitif tidak semudah membalik telapak tangan, undang-undang mengharapkan peningkatan status Kemantren harus dipayungi dengan Peraturan Pemerintah (PP), tidak seperti diera reformasi seperti sekarang ini, undang-undang nomor. 22 dan 32 memberikan kemudahan tidak lagi harus ada Peraturan Pemerintah (PP) cukup dibahas didaerah.

Keseriusan Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam meningkatkan status Kemantren menjadi Kecamatan benar-benar patut diacungi jempol, hal ini terbukti dengan dilayangkannya kemabil surat Bapak Bupati Tangerang nomor : 199.a/Pm.021.1/1985, tanggal 18 Februari 1985 atau 5 tahun setelah Kemantren terbentuk, tapi ternyata syarat yang ditujukan kepada Bapak Gubernur Jawa Barat tersebut belum memberikan kepuasan kepada Pemda Tangerang.

Kemantren Pamulang, masih harus terus berjuang dengan berbagai upaya disertai dengan kegigihan dan kesabaran serta Tawaqal kepada Allah S.W.T agar Kemantren Pamulang ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan Pamulang sebagaimana sekarang kita nikmati.

B. Upaya Mendapatkan Lahan Untuk Kantor

Sebagimana disinggung dalam uraian terdahulu bahwa semula berharap lahan untuk Kantor Kemantren bisa diperoleh di lingkungan Komplek Departemen Agama Bambu Apus tapi ternyata mengalami kesulitan.

Akhirnya Bapak Bupati mengirim surat permohonan kepada PT. Tapos di Jalan Pinangsia Jakarta untuk meminta sebidang tanah guna pembangunan Kantor Kemantren/Kecamatan Pamulang.

Karena lama tak ada tanggapan dari PT. Tapos Bapak Affendi Arsyad ditemani penulis berangkat ke Pinangsia untuk mendapatkan kepastian bisa tidaknya tanah seluas ± 20.000 M2 (2 Ha.) di Pamulang Barat berupa kebun karet untuk dapat dijadikan Kantor.

Dua kali berturut-turut barulah dapat kepastian dari PT. Tapos bahwa PT. Tapos bersedia memberikan tanah ex Perkebunan Karet seluas ± 20.000 M2 untuk kantor Kemantren.

Sebagai tanda kegembiraan atas diberikannya tanah Perkebunan seluas ± 20.000 M2 untuk Kantor Kemantren, kami segera mengadakan mengadakan pengukuran dilapangan. Kondisi pada waktu itu masih rimbun dengan pohon karet, karena memang wilayah Pamulang yang sekarang jadi Kota Modern dahulunya Perkebunan milik PT. Tapos.

Pemerintah Daerah pun segera membangun Puskesmas, kemudian Kantor Kemantren Pamulang yang dalam perjalanan waktu sekarang menjadi Kantor sementara Walikota Tangerang Selatan. Tahun 1988 Pak Affendi Arsyad yang selama 7 tahun membina dan mengharapkan Kemantren menjadi Kecamatan belum juga terwujud akhirnya beliau dipindahkan ke Kecamatan Balaraja menjadi Camat disana.

Penulis yang pada waktu itu sebagai Sekcam di Kecamatan Ciputat, ditugaskan oleh Bapak Bupati untuk menggantikan Bapak Drs. Affendi Arsyad, menjadi Kepala Kemantren Pamulang.

C. Terbentuknya Kecamatan Pamulang

Sepeninggal Bapak Affendi Arsyad, penulis yang ditugaskan Bapak Bupati untuk meneruskan langkah-langkah Bapak Drs. Affendi Arsyad beserta seluruh jajaran staf dan para Kepala Desa terus bekerja giat mengembangkan Kemantren Pamulang agar bisa meningkat statusnya.

Kegiatan Pemerintahan berjalan lancar dengan mengacu pada Surat Keputusan Camat Ciputat No. 138/617-Pem/1988 tanggal 1 Juli 1988, tentang Pelimpahan Pelaksanaan Tugas dan Kewenangan Camat Ciputat kepada Perwakilan Kecamatan Pamulang (Kemantren Pamulang).

Dengan berbekal pada surat keputusan tersebut sedikit demi sedikit Kemantren Pamulang dalam kegiatannya sudah hampir sejajar dengan Kecamatan Induk yaitu Ciputat, Cuma bedanya Camat punya kewenangan menanda tangani Akta Jual Beli, sedangkan Kepala Kemantren hanya sebagai saksi saja.

Pendekatan dengan berbagai tokoh masyarakat dan para pejabat Departemen Dalam Negeri yang berdomisili di wilayah Kemantren Pamulang terus ditingkatkan terutama dengan Bapak Didi Isjunaedi, SH dan Drs. H. Maman Suparman yang bertempat tinggal di Komplek Witana Harja dan Pesanggrahan Bintaro.

Melalui kedekatan kedua orang tersebut binar-binar Kemantren Pamulang menjadi Kecamatan Pamulang mulai terlihat. Beliaulah yang mempunyai akses ke SekNeg, karena pembentukan Kecamatan harus dengan Peraturan Pemerintah (PP), sedangkan PP diprosesnya di SekNeg.

Tahun 1991, 4 tahun bertugas di Kemantren Pamulang semua Kepala Desa, Tokoh Masyarakat sudah kelihatan tidak sabar menunggu-nunggu kapan sih Kemantren ini menjadi Kecamatan, namun demikian semua kompak ingin segera menyaksikan Pamulang jadi Kecamatan.

Akhirnya melalui salinan rencana Peraturan Pemerintah (PP) yang dibawa oleh Bapak H. Maman Suparman dan Bapak Didi Isjunaedi dan disampaikan kepada Penulis di Kantor Kemantren Pamulang, binar-binar kegembiraan kami beserta staf mulai terasa, walau baru dalam bentuk salinan (copy) RPP sebagai tanda bukti bahwa Depdagri tidak asal-asalan mengurus peningkatan status Kecamatan Pamulang.

Ada satu hal yang menjadi ganjalan ……….. kata Pak Isjunaedi “ RPP ini tidak akan segera jadi PP kalau Peta masing-masing Kecamatan yang ada dalam RPP tidak seragam skalanya”. Buat Kecamatan Pamulang sendiri tidak ada masalah skalanya sudah benar ! tapi yang lain, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur bahkan Sulawesi ini mesti dirubah skalanya.

Kalau dikembalikan lagi kedaerah masing-masing tidak akan selesai dalam 1-2 bulan, bagaimana Sanggup Pa Nasir beserta staf merubah skala peta-peta tersebut disini ? tidak ada jawaban lain kecuali “Siap”!

Semua staf terlihat sibuk merubah skala peta dalam RPP di seluruh Indonesia dalam waktu relatif singkat, alhamdulillah, staf Kemantren semuanya cekatan, Iis (Alm) putra H. Jambek, Anhar Efrial (sekarang pensiun), Ali Rahmat, Tatang dan lain-lain kerja keras siang malam membuat peta dengan skala yang sama untuk RPP seluruh Indonesia.

Itu sebabnya semua staf Kemantren merasa memiliki wilayahnya dan alhamdulillah pada tanggal 07 Pebruari 1992 Kemantren Pamulang diresmikan menjadi Kecamatan Pamulang. Upacara peresmian dilaksanakan di kecamatan Pamulang sekaligus untuk Kecamatan-kecamatan se-Jawa Barat dan Gubernur Jawa Barat Bapak Yogie S.M. berkenan meresmikan Kecamatan se-Jawa Barat di Kecamatan Pamulang.

Kepala Kemantrennya hari itu juga dilantik oleh Bapak Bupati Tangerang H. Tadjus Sobirin sebagai Camat pertama Kecamatan Pamulang, Alhamdulillah.

Kalau sekarang ini bulan Pebruari 2009, itu berarti bahwa Kecamatan Pamulang sudah berusia 17 Tahun. Ibarat gadis sedang lucu-lucunya dan para pejabatnya berturut-turut :

1. H. Moch. Natsir Suryawinata

2. Drs. H. Kusnadi

3. Drs. H. Hafrudin

4. Drs. H. Rachman Suhendar

5. Drs. H. A.M. Djahri Kusuma

6. Drs. H. Arsid, M.Si

7. Drs. H. Ahadi, M.Si

8. Drs. H. Achmad Taufik, M.Si

9. Drs. H. Toto Sudarto, M.Si

Rata-rata tiap Camat bertugas di Pamulang selama 2 tahun dan Bapak Toto Sudarto merupakan Camat yang ke-9 di Kecamatan Pamulang.

PENUTUP

Demikianlah Selayang Pandang Terbentuknya Kecamatan Pamulang, yang sekarang sudah berusia 17 tahun ibarat gadis sedang lincah-lincahnya. Bila dilihat dari pembentukan Kemantren Pamulang, maka usia Pamulang sudah 28 tahun, ibarat perjaka ting-ting tenaganya sedang kuat-kuatnya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pengingat bagi generasi berikutnya untuk terus berkiprah dan bekerja giat guna mewujudkan cita-cita meningkatkan kemakmuran masyarakat di wilayah Kecamatan Pamulang.

Bila dalam penulisan ini terdapat kekurangan penulis mohon maaf dan saran-saran serta masukan dapat kami kerjakan.

Demikian agar maklum dan terima kasih atas perhatiannya.


Oleh : H. Moch. Natsir

Sumber :
http://kecpamulang.org


Empat Polisi Diperiksa Terkait Kematian Devi (re : Puskesmas Pamulang)

http://www.korantempo.com

JAKARTA-- Empat anggota Kepolisian Sektor Pamulang diperiksa oleh Petugas Pengamanan Internal Kepolisian Resor Jakarta Selatan. Pemeriksaan dilakukan terkait dugaan kelalaian yang menyebabkan tewasnya Devi, seorang wanita tunawisma.

Empat anggota tersebut adalah petugas pengawas, Babin Kamtibmas, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian, dan Kasubnit Reserse Polsek Pamulang. "Hari ini (kemarin) sedang diperiksa," ujar juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Zulkarnain kemarin.

Zulkarnain mengaku belum mengetahui hasil pemeriksaan terhadap kelima petugas itu. Keputusan ada-tidaknya pelanggaran disiplin baru bisa disimpulkan setelah polisi menganalisis seluruh keterangan yang ada.

Devi, 30 tahun, ditemukan oleh warga di sebuah pos satpam di Jalan Akasia, Gang Delima, Kelurahan Pamulang Timur, dalam kondisi kritis pada 19 Februari lalu. Perempuan yang belakangan diketahui berasal dari Cirebon itu sempat mengatakan datang ke Tangerang untuk mencari saudara dan pekerjaan. Di wilayah Pamulang, dia akan mencari rumah kontrakan.

Korban yang belum diketahui siapa keluarganya itu sempat dibawa warga ke Puskesmas Pamulang. Tapi ia ditolak oleh pihak puskesmas dengan alasan keterbatasan peralatan. Padahal kondisi perempuan yang diduga menjadi korban pemerkosaan dan pembiusan itu sudah dalam keadaan tidak sadar. Oleh warga Gang Delima, Jalan Setia Budi, RT 01 RW 01, Pamulang Timur, korban akhirnya dirawat di pos ronda.

Karena kondisinya mengkhawatirkan, warga kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat. Tapi ia lagi-lagi ditolak karena tak ada yang bisa memberi jaminan. Penolakan itu memaksa warga meminta bantuan kepada pihak kepolisian. Mereka berharap kepolisian setempat bisa merekomendasikan perawatan di Bina Mental dan Kesejahteraan Sosial.

Devi kemudian dibawa polisi ke Rumah Sakit Bhakti Usada, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, dan sempat dirawat selama beberapa jam hingga akhirnya dirujuk ke RSU Tangerang. Di ruang rawat IGD RSU Tangerang, Devi hanya sempat bertahan sehari dan kemudian mengembuskan napas terakhirnya.

Zulkarnain membantah anggapan bahwa polisi terlambat memberikan bantuan. Kepolisian setempat, kata dia, sebenarnya telah merekomendasikan pengobatan ke rumah sakit terdekat. "Polisi bahkan sempat memberikan jaminan untuk RS," ujarnya.RIKY FERDIANTO| JONIANSYAH

Puskesmas Pamulang Tolak Pasien Miskin

Ditulis oleh kinclonk di/pada Februari 23, 2009

TANGERANGNEWS-Pos hansip milik warga RT1/1 kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan mendadak jadi bangsal rawat inap.Pos hansip semi permanen ini disepakati warga sebagai kamar perawatan bagi pasien bernama Devi,27 warga Cirebon yang ditolak puskesmas Pamulang.

Perempuan berparas manis ini tak bisa mendapatkan perawatan di puskesmas Pamulang. Hanya karena disebut sebagai warga terlantar. Sehingga puskemas merasa bukan menjadi tanggung jawabnya, melainkan beban tugas dinas sosial Kabupaten Tangerang.

Ketua RT 01/01, Muhammad sangat menyesalkan sikap Puskesmas itu. Terlebih kondisi pasiennya sudah cukup kritis. Dengan tubuh yang lemah dan terlihat ada beberapa bekas luka dibagian tubuhnya. “Kami yang kedatangan warga terlantar ini wajar meminta bantuan puskesmas. Kan disana ada tim medis yang bisa membantu. Tapi malah ditolak dan tidak diberi bantuan,” jelas Muhammad di pos hansip, Sabtu (21/2) siang.

Berdasarkan kesepakatan warga, sambung dia fungsi pos hansip yang biasa digunakan ronda harus beralih fungsi. Seluruh ruang pos hansip terpaksa sebagai bangsal rawat inap. Itu pun dengan kondisi yang seadanya saja.
Pos hansip warga ini berbahan bambu dan kayu. Berukuran 4×6 meter yang tidak memiliki dinding secara penuh. Hanya tertutup potongan kayu setinggi 50 cm. Warnanya pun tak lagi membaik dan beratapkan genteng.

Letak pos hansip tepat berada ditengah pemukiman warga. Sedangkan pasiennya dibiarkan tertidur dipinggiran pos. Dengan beralaskan kain-kain panjang. Bantalnya pun dibuat dari tumpukan baju.“Kami sadar biaya berobat mahal. Jadi terpaksa pula kita buka kotak amal. Untuk meringankan beban pasien,” katanya. Dijelaskannya pasien memang bukan warga setempat. Dia datang dalam kondisi lemah dan tak terawat. (krim)

Tangerangnews.com, 21 Februari 2009

ENAM REMAJA TEWAS TENGGELAM SETELAH TAWURAN

Picture not Available

Minggu, 14 September 2008 12:25 WIB

Metrotvnews.com, Tangerang: Enam orang tewas akibat tawuran antarwarga di Pamulang, Tangerang, Banten, subuh tadi selepas sahur. Korban tewas akibat menceburkan diri ke Danau Sasak untuk menghindari bentrokan. Korban adalah warga Kompleks Brimob Ciputat, Tangerang, yang rata-rata berusia remaja.

Korban dilaporkan terlibat tawuran dengan warga di sekitar kompleks seusai salat subuh. Tawuran dipicu saling lempar petasan. Saat terjadi kejar-kejaran, beberapa ramaja lari ke danau yang terletak di Jalan Raya Dewi Sartika, Ciputat. Empat korban yang berhasil dievakuasi kini sudah berada di rumah duka di Komplek Brimob Ciputat. Sedangkan dua korban lainya dibawa ke Rumah Sakit Gaplek Pamulang.

Keenam korban itu di antaranya Solihin (16), Ibnu Ganesha (14), Randy (16), Kinung (16), Maulana Ibrahim (14) dan Iqbal Nardo yang berusia 15 tahun. Polisi dan warga sekitar sempat mencari korban lainnya di Danau Sasak karena diperkirakan jumlah korban lebih dari enam orang. Namun, sejauh ini dipastikan korban tewas berjumlah enam orang. Jenazah korban rencananya dimakamkan siang ini juga. Lima dimakamkan di Pamulang, sedangkan satu korban lainnya dibawa ke kediamannya di Cipayung, Jakarta Selatan.(DEN)