Tampilkan postingan dengan label ramalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramalan. Tampilkan semua postingan

Prediksi Mama Lauren dan Permadi: 2 Politisi Terbunuh di Tahun 2009

Prediksi Mama Lauren dan Permadi: 2 Politisi Terbunuh di Tahun 2009


Pertengahan tahun 2009 diramal bakal terjadi kekacauan yang dipicu oleh pergolakan politik. Bahkan dua politisi kawakan tewas terbunuh akibat akumulasi persaingan.

Inilah antara lain ramalan peramal ternama, Mama Lauren dan Permadi mengenai tahun 2009 yang beberapa hari lagi akan kita masuki.

Menurut Mama Lauren, kekacauan politik juga akan berefek pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di banyak perusahaan, sehingga jumlah pengangguran di negeri ini semakin tinggi.
Ramalan serupa disampaikan Permadi SH.

Kata dia, situasi politik akan memanas pada pertengahan tahun 2009. Dukun politik yang juga tokoh PDIP ini bahkan meramal Pemilu 2009 tak akan terwujud.

Dari sisi shio, 2009 adalah tahun dengan Shio Kerbau Tanah. Kerbau adalah binatang yang sanggup bekerja berat dan keras. Orang yang bershio kerbau akan berpandangan realistis dan tak mengenal waktu dalam menyelesaikan pekerjaan serta kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Menurut Mama Lauren, perjalanan di tahun 2009 tidak akan mudah. Gangguan ekonomi dan krisis global masih akan terjadi. Akan terjadi banyak cobaan di sisi properti, pertambangan, perkebunan, penerbangan, perkapalan, dan perminyakan. Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mem-PHK karyawannya. "Jadi, para investor di bisnis properti sebaiknya lebih bersabar," kata Mama Lauren, Selasa (23/12).

Masih di sisi gangguan ekonomi, kata Mama Lauren, bursa saham akan ditutup di beberapa negara termasuk Indonesia. Harga sandang dan pangan juga melonjak naik.
Di kalangan selebritis, Mama Lauren meramalkan wabah kimpoi cerai masih tetap marak. "Tapi ada dua pasangan yang sudah bercerai akan rujuk kembali," ujarnya.

Menurut dia, Indonesia juga akan kehilangan tujuh bintang terkenal, yakni empat laki-laki dan tiga perempuan. "Dua laki-laki dan satu perempuan di antaranya meninggal karena narkoba, dan empat orang lainnya karena sakit," tutur Mama.

Untuk kondisi alam di 2009, menurut Mama Lauren masih akan bergejolak. Curah hujan terbesar akan terjadi pada Desember 2008 hingga Januari 2009, sedangkan musim pancaroba akan terjadi pada April dan Mei serta Oktober-November.

Saat pancaroba ini, bisa terjadi badai dan petir. Gempa bumi juga terjadi di sejumlah wilayah yang akan memakan banyak korban jiwa dan materi. "Juga akan terjadi gunung meletus, kecelakaan pesawat terbang, kereta api, bus, dan kapal laut," tuturnya.

Bencana banjir di DKI Jakarta juga tak bisa dielakkan, sedangkan banjir dan tanah longsor akan terjadi di daerah Jawa Barat. Gempa dan tanah longsor juga masih mengintai Sumatera Barat, Tapanuli bagian barat, dan Aceh bagian Barat. Sedangkan air laut yang pasang akan mengalir menuju sungai-sungai di Kalimantan.
Ahli Feng Shui Mauro Raharjo memiliki prediksi tersendiri untuk kondisi di tahun 2009

. Ia menyatakan di 2009 muncul bintang sembilan ungu yang merupakan unsur api. "Maknanya adalah perayaan atau kegembiraan. Jadi, tahun depan akan banyak perayaan, akan banyak pernikahan dan anak lahir," ujar Mauro kepada Surya, Selasa (23/12).

Perayaan-perayaan itu juga berlaku di bidang politik dan hukum. Di sisi lain, unsur api juga akan membawa sifat-sifat api di antaranya kondisi paceklik dan panas berkepanjangan. Bencana kebakaran juga akan banyak terjadi.

Sementara di sektor ekonomi, krisis masih akan berlanjut hingga setengah tahun pertama dan baru membaik di setengah tahun kedua. "Hantaman ekonomi benar-benar diraskan negara berkembang termasuk Indonesia pada semester pertama, PHK dan sebagainya akan semakin menghebat di awal-awal tahun depan dan baru akan membaik menjelang bulan Juli-Agustus," papar Mauro

Sent with Clipmarks

Ramalan Horoskop Jawa

Khusus bagi pemakai program ramalan ini, pesan kami adalah jangan pernah menganggap hasil ramalan kami ini dengan serius, anggaplah program ini hanyalah sebuah permainan belaka. Ingatlah ini hanyalah program komputer yang cara kerjanya hanya menghubung-hubungkan apa yang telah dicatat dalam PRIMBON dengan realitas yang terjadi di dunia nyata. Kenapa orang-orang dahulu bisa menghubung-hubungkan antara realitas kehidupan dengan fenomena alam (gerhana, gempa bumi, meteor jatuh, firasat tubuh, pengaruh waktu seperti hari, minggu, bulan, zodiak, pranotomongso, dll). Jawabannya adalah karena Tuhan Semesta Alam telah menggariskan jalan kehidupan ini dengan perhitungan yang sebaik-baiknya, yang biasa kita sebut dengan takdir. Keterbatasan manusia tidak akan mampu memahami dan mengetahui keseluruhan hal tersebut karena sifatnya ghaib, oleh karena itu manusia hanya bisa mengamati dan mengamati, dan hasil pengamatan itu bagi orang Jawa dituangkan pada sebuah buku yang dinamakan PRIMBON. Oleh karena itu apa yang ada di PRIMBON sifatnya hanyalah sebuah ramalan belaka karena PRIMBON bukanlah bersifat suatu hukum Tuhan yang pasti akan tepat terjadi.
Serta kami berpesan bagi anda untuk bersiap mental menerima hasil ramalan program ini, karena tidak semua hasil ramalan menghasilkan sesuatu yang bagus-bagus saja, seperti roda kehidupan yang selalu berputar kadang kala di atas dan kadang kala di bawah, begitu pula dengan sifat manusia, ada yang baik dan ada pula yang tidak.

Tampilan Splash Screen

Tampilan Utama (
Ramalan Kepribadian)

Tampilan Utama (Ramalan Perjodohan)

Tampilan fungsi "Kalender"

Tampilan fungsi "Bio Rhythm"

Tampilan fungsi "Cari Jodoh"

Tampilan fungsi "Ramalan Durjana"

Tampilan fungsi "Firasat Alam"


Tampilan fungsi "Firasat Tubuh"

Tampilan fungsi "Jarak Hari / Jangka Hari / Peringatan Orang Mati / Cari Hari Baik"

DST.

DOWNLOAD DISINI

RamaLan h0RoSKoP JâWÅ diciptakan sebagai penyempurnaan versi RamaLan h0RoSKoP JâVå ver 2.0 yang merupakan software primbon digital yang didasarkan pada kitab Primbon BETALJEMUR ADAMMAKNA, LUKMANAKIM ADAMMAKNA, Primbon BEKTI DJAMAL, Primbon SABDA AMERTA dan berbagai kumpulan Primbon Jawa lainnya. Software ini dirancang untuk menggantikan keberadaan RamaLan h0RoSKoP JâVå ver 2.0. Fitur-fitur yang terdapat dalam program RamaLan h0RoSKoP JâWÅ (ramalan horoskop jawa) ini meliputi fungsi untuk meramal "Ramalan Kepribadian" berdasarkan waktu kelahiran dengan didasarkan atas faktor-faktor : hari & pasaran (weton), neptu, wuku, pranotomongso, tanggal jawa, bulan jawa, tahun candra jawa, pancasuda, pangarasan serta tanggal masehi, bulan masehi dan zodiak bintang sebagai pelengkap. Serta untuk meramal "Ramalan Perjodohan" berdasarkan pada petungan saat kelahiran dan petungan berdasarkan aksara (Jawa) nama dari pasangan yang diambil dari petungan yang ada dalam Kitab Primbon BETALJEMUR ADAMMAKNA, Primbon LUKMANAKIM ADAMMAKNA & Primbon BEKTI JAMAL, di dalam fungsi perjodohan ini terdapat fitur mencari hari terbaik untuk melakukan pernikahan (akad nikah) berdasarkan petung "Kiblat Papat Kalimo Pancer" yang terdapat pada pilihan (option) "Rencana Akad Nikah". Selain itu terdapat fitur-fitur lainnya yang meliputi "Cari Durjana" yang berguna untuk meramal masalah pencurian, serta ditambahkan pula fitur "Firasat" untuk mengartikan firasat alam maupun firasat tubuh, yang meliputi : firasat mimpi, jantung trataban ataupun tiba-tiba berdebar-debar, firasat lupa seketika, bersin, telinga terasa panas ataupun berdengung, muka terasa panas dan mata berkunang-kunang, serta firasat alam berupa firasat gempa bumi, firasat meteor jatuh (lintang kemukus), firasat gerhana matahari maupun bulan dan firasat petir tanpa mendung. Terdapat pula fitur “Cari Hari” yang meliputi fungsi-fungsi Jarak Hari, Jangka Hari, Peringatan Orang Mati, & Cari Hari Baik. Terdapat pula fitur siklus kehidupan "Bio Rhythm" yang berguna untuk melihat irama / siklus kehidupan manusia yang senantiasa berfluktuasi, yang terbagi dalam 3 garis besar yaitu: siklus fisik, siklus emosional dan siklus intelektual. Ada pula fungsi "Cari Jodoh" yang berguna untuk mencari jodoh terbaik berdasarkan pada kombinasi berbagai petungan perjodohan yang didasarkan pada saat/waktu kelahiran yang ada dalam kitab primbon. Terdapat pula Petung Peperangan yang terdapat dalam fungsi "Perang" yang digunakan untuk strategi perang menurut Primbon Jawa, fitur perang ini digunakan sebagai patokan apakah akan bertahan ataupun menyerang jika ingin menang dengan dihubungkan dengan suatu waktu/saat. Disamping fitur-fitur tersebut terdapat fungsi untuk melihat baik buruknya hari yang berguna untuk mencari hari baik untuk melaksanakan hajatan / pernikahan, serta saat maupun arah bepergian yang terbaik pada suatu hari yang didasarkan primbon-primbon jawa serta fungsi untuk mencari hari peringatan orang mati yang meliputi peringatan 3,7,40&100 hari serta 1 tahun jawa (mendhak) dan 1000 hari (nyewu) kematian seseorang. Yang kesemua itu terintegrasi dalam fungsi Ramal dalam fungsi "Kalender". Baik-buruknya hari untuk melakukan hajatan, pernikahan ataupun bepergian. Pesaatan (digunakan untuk mencari waktu / saat yang terbaik untuk melakukan sesuatu). Pesaatan yang digunakan adalah Saat Lima yang meliputi Saat Nabi dan Saat Tatal. Keberadaan Naga, Rijalullah dan Kala, digunakan untuk mencari arah yang terbaik untuk (mengawali) berpergian. Hari Selamatan untuk Orang Mati, digunakan untuk melihat hari-hari untuk menyelenggarakan selamatan orang meninggal, seperti (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, Satu tahun jawa / Mendhak & 1000 hari.

--
Posted By cah Pamulang to nJawil at 6/27/2008 06:05:00 PM

R. Ng. Ronggowarsito : Serat Sabdo Tomo

SABDO TOMO

Gambuh
1. Rasaning tyas kayungyun, Angayomi lukitaning kalbu, Gambir wanakalawan hening ing ati, Kabekta kudu pitutur, Sumingkiring reh tyas mirong

    Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal yang salah.

2. Den samya amituhu, Ing sajroning Jaman Kala Bendu, Yogya samyanyenyuda hardaning ati, Kang anuntun mring pakewuh, Uwohing panggawe awon

    Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu
    sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada kerepotan. Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.

3.Ngajapa tyas rahayu, Nyayomana sasameng tumuwuh, Wahanane ngendhakke angkara klindhih, Ngendhangken pakarti dudu, Dinulu luwar tibeng doh

    Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik. Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga. Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka, melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.

4. Beda kang ngaji mumpung, Nir waspada rubedane tutut, Kakinthilan manggon anggung atut wuri, Tyas riwut ruwet dahuru, Korup sinerung agoroh

    Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung. Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai, selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.

5. Ilang budayanipun, Tanpa bayu weyane ngalumpuk, Sakciptane wardaya ambebayani, Ubayane nora payu, Kari ketaman pakewoh

    Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh. Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya. Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya. Akhirnya hanyalah kerepotan saja.

6. Rong asta wus katekuk, Kari ura-ura kang pakantuk, Dandanggula lagu palaran sayekti, Ngleluri para leluhur, Abot ing sih swami karo

    Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.
    Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu kala, betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.

7. Galak gangsuling tembung, Ki Pujangga panggupitanipun, Rangu-rangu pamanguning reh harjanti, Tinanggap prana tumambuh, Katenta nawung prihatos

    Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan kekurangannya. Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir, barangkali terdapat kesalahan / kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.

8. Wartine para jamhur, Pamawasing warsita datan wus, Wahanane apan owah angowahi, Yeku sansaya pakewuh, Ewuh aya kang linakon

    Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah. Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.

9. Sidining Kala Bendu, Saya ndadra hardaning tyas limut, Nora kena sinirep limpating budi, Lamun durung mangsanipun, Malah sumuke angradon

    Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka. Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik. Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.

10. Ing antara sapangu, Pangungaking kahanan wus mirud, Morat-marit panguripaning sesami, Sirna katentremanipun, Wong udrasa sak anggon-anggon

    Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,
    penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan disana-sini.

11. Kemang isarat lebur, Bubar tanpa daya kabarubuh, Paribasan tidhem tandhaning dumadi, Begjane ula dahulu, Cangkem silite angaplok

    Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan. Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya dapat makan.

12. Ndhungkari gunung-gunung, Kang geneng-geneng padha jinugrug, Parandene tan ana kang nanggulangi, Wedi kalamun sinembur, Upase lir wedang umob

    Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan meskipun demikian tidak ada yang berani melawan. Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa. Bisa racun ular itu bagaikan air panas.

13. Kalonganing kaluwung, Prabanira kuning abang biru, Sumurupa iku mung soroting warih, Wewarahe para Rasul, Dudu jatining Hyang Manon

    Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air. Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.

14. Supaya pada emut, Amawasa benjang jroning tahun, Windu kuning kono ana wewe putih, Gegamane tebu wulung, Arsa angrebaseng wedhon

    Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning (Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam akan menghancurkan wedhon (pocongan setan). (Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).

15. Rasa wes karasuk, Kesuk lawan kala mangsanipun, Kawises kawasanira Hyang Widhi, Cahyaning wahyu tumelung, Tulus tan kena tinegor

    Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.

16. Karkating tyas katuju, Jibar-jibur adus banyu wayu, Yuwanane turun-temurun tan enting, Liyan praja samyu sayuk, Keringan saenggon-enggon

    Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati dimanapun.

17. Tatune kabeh tuntun, Lelarane waluya sadarum, Tyas prihatin ginantun suka mrepeki, Wong ngantuk anemu kethuk, Isine dinar sabokor

    Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang. Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria. Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil) yang berisi emas kencana sebesar bokor.

18. Amung padha tinumpuk, Nora ana rusuh colong jupuk, Raja kaya cinancangan angeng nyawi, Tan ana nganggo tinunggu, Parandene tan cinolong

    Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang dicuri.

19. Diraning durta katut, Anglakoni ing panggawe runtut, Tyase katrem kayoman hayuning budi, Budyarja marjayeng limut, Amawas pangesthi awon

    Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik. Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang jelek.

20. Ninggal pakarti dudu, Pradapaning parentah ginugu, Mring pakaryan saregep tetep nastiti, Ngisor dhuwur tyase jumbuh, Tan ana wahon winahon

    Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak ada yang saling mencela.

21.Ngratani sapraja agung, Keh sarjana sujana ing kewuh, Nora kewran mring caraka agal alit, Pulih duk jaman runuhun, Tyase teteg teguh tanggon

    Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala. Semuanya berhati baja.

R. Ng. Ronggowarsito : Serat Sabdo Jati

SERAT SABDO JATI

Megatruh
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu, MarGAne suka basuki, Dimen luWAR kang kinayun, Kalising panggawe SIsip, Ingkang TAberi prihatos

    Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita, terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh, Galedehan kang sayekti, Talitinen awya kleru, Larasen sajroning ati, Tumanggap dimen tumanggon

    Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, agar mudah menanggapi sesuatu.

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, Angayomi ing tyas wening, Eninging ati kang suwung, Nanging sejatining isi, Isine cipta sayektos

    Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu, Lamun obah niniwasi, Kasusupan setan gundhul, Ambebidung nggawa kendhi, Isine rupiah kethon

    Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan) akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu, Dadi panggonaning iblis, Mlebu mring alam pakewuh, Ewuh mring pananing ati, Temah wuru kabesturon

    Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik, seolah-olah mabuk kepayang.

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu, Hayuning tyas sipat kuping, Kinepung panggawe rusuh, Lali pasihaning Gusti, Ginuntingan dening Hyang Manon

    Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.

7. Parandene kabeh kang samya andulu, Ulap kalilipen wedhi, Akeh ingkang padha sujut, Kinira yen Jabaranil, Kautus dening Hyang Manon

    Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh, Kewuhan sajroning ati, Yen tiniru ora urus, Uripe kaesi-esi, Yen niruwa dadi asor

    Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan tercela akhirnya menjadi sengsara.

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, Anggelar sakalir-kalir, Kalamun temen tinemu, Kabegjane anekani, Kamurahane Hyang Manon

    Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan langit, siapa yang berusaha dengan setekun - tekunnya akan mendapatkan kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun, Yen temen-temen sayekti, Dewa aparing pitulung Nora kurang sandhang bukti, Saciptanira kelakon

    Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati. Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur, Saka pengunahing Widi, Ambuka warananipun, Aling-aling kang ngalingi, Angilang satemah katon

    Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh, Sudranira andadi, Rahurune saya ndarung, Keh tyas mirong murang margi, Kasekten wus nora katon

    Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan, cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh, Kenyaming sasmita sayekti, Sanityasa tyas malatkunt, Kongas welase kepati, Sulaking jaman prihatos

    Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut, senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.

14. Waluyane benjang lamun ana wiku, Memuji ngesthi sawiji, Sabuk tebu lir majenum, Galibedan tudang tuding, Anacahken sakehing wong

    Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877 (Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945). Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu, Kala Suba kang gumanti, Wong cilik bisa gumuyu, Nora kurang sandhang bukti, Sedyane kabeh kelakon

    Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput, Mulur lir benang tinarik, Nanging kaseranging ngumur, Andungkap kasidan jati, Mulih mring jatining enggon

    Sayang sekali "pengelihatan" Sang Pujangga belum sampai selesai, bagaikan menarik benang dari ikatannya. Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu, Tamating pati patitis, Wus katon neng lokil makpul, Angumpul ing madya ari, Amerengi Sri Budha Pon

    Yang terlihat hanya kurang 8 hari lagi, sudah sampai waktunya, kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.

18. Tanggal kaping lima antarane luhur, Selaning tahun Jimakir, Taluhu marjayeng janggur, Sengara winduning pati, Netepi ngumpul sak enggon

    Tanggal 5 bulan Sela (Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu, Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873) kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur, Sawal ing tahun Jimakir, Candraning warsa pinetung, Sembah mekswa pejangga ji, Ki Pujangga pamit layoti

    Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802. (Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).

R. Ng. Ronggowarsito : Serat Joko Lodhang

SERAT JOKO LODANG

Gambuh
1. Jaka Lodang gumandhul, Praptaning ngethengkrang sru muwus, Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi, Gunung mendhak jurang mbrenjul, Ingusir praja prang kasor

    Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon, kemudian duduk tanpa, kesopanan dan berkata dengan keras. Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan (akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.

2.Nanging awya kliru, Sumurupa kanda kang tinamtu, Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti, Maksih katon tabetipun, Beda lawan jurang gesong

    Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini. Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung akan tetap masih terlihat bekasnya. Lain sekali dengan jurang yang curam.

3. Nadyan bisa mbarenjul, Tanpa tawing enggal jugrugipun, Kalakone karsaning Hyang wus pinasti, Yen ngidak sangkalanipun, Sirna tata estining wong

    Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung, namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor. (Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi. Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan). Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan akan terjadi pada tahun Jawa 1850. (Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1). Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.

Sinom
1. Sasedyane tanpa dadya, Sacipta-cipta tan polih, Kang reraton-raton rantas, Mrih luhur asor pinanggih. Bebendu gung nekani, Kongas ing kanistanipun, Wong agung nis gungira, Sudireng wirang jrih lalis, Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

    Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud, apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan - perbuatan tercela. Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

2. Wong alim-alim pulasan, Njaba putih njero kuning, Ngulama mangsah maksiat, Madat madon minum main, Kaji-kaji ambataning, Dulban kethu putih mamprung, Wadon nir wadorina, Prabaweng salaka rukmi. Kabeh-kabeh mung marono tingalira

    Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka. Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak. Banyak ulama berbuat maksiat. Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi. Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

3. Para sudagar ingargya, Jroning jaman keneng sarik, Marmane saisiningrat, Sangsarane saya mencit, Nir sad estining urip, Iku ta sengkalanipun, Pantoging nandang sudra, Yen wus tobat tanpa mosik, Sru nalangsa narima ngandel ing suksma,

    Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut. Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1). Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.

Megatruh
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu, Jaka Lodang nabda malih, Nanging ana marmanipun, Ing waca kang wus pinesthi, Estinen murih kelakon

    Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. Kemudian Joko Lodang berkata lagi : "Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya segera dan dapat terjadi ".

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun, Neng sajroning madya akir, Wiku Sapta ngesthi Ratu, Adil parimarmeng dasih, Ing kono kersaning Manon

    Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1). Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk, Malenuk samargi-margi, Marmane bungah kang nemu, Marga jroning kethuk isi, Kencana sesotya abyor,

    Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil), yang berada banyak dijalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana.