Tampilkan postingan dengan label album. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label album. Tampilkan semua postingan

Flickr Photo sbg penyimpan sementara

Mengapa saya katakan "sementara" :) ?
Karena memang untuk account freenya kapasitas simpan dibatasi "hanya" 100 Mb per bulan (namun bukan berarti upload lama akan hilang, itu hanya aliran data saja yang dibatasi alias quota bandwidth) jadi jauh sekali dibanding Picasaweb Album (1 Gb) atau ImagesHack (tak terbatas).

Namun bukan berarti tanpa manfaat lah, mengapa demikian karena sebenarnya Flickr mempunyai kelebihan dalam hal data foto, bila seseorang melakukan pemotretan secara digital dan diupload ke Flikcr maka jenis kamera dan data penting dari hasil potret- memotret itu akan terpampang dengan cukup gambalng serta type cameranyapun bisa terdeteksi.
Dari data-data tersebut maka siempunya camera dapat membandingkn hasil fotonya dengan user lain yang memiliki kamera sejenis dan atau membandingkannya dengan cemera merek lain.
Flickr sangat menyenangnkan bagi para pengyuka photographi, baik amatir ataupun yang pro.

Dan satuhal lagi, nyaris banner iklannya tidak ada jadi cukup nyaman lah untuk simpenan dan sharing hasil motret-memotret.

Segitu dulu ulasan singkatnya.
:)
http://flickr.com/photos/cahpamulang


Reblog this post [with Zemanta]

PROSES MEMBUAT ALBUM REKAMAN

Link
Dapat lagi artikel menarik, sekarang mengenai Rekaman Music, cocok buanget buat yang hobby nge-Band, begini ceritanya :
----------------------------------------------------------------

PROSES MEMBUAT ALBUM REKAMAN

Jubing Kristianto

Masuk dapur rekaman? Hmm.. terdengar menyenangkan. Apalagi bagi mereka yang senang menyanyi dan bermain musik, dan terutama lagi bagi mereka yang berkarier di dunia musik. Asyik dan seru itu pasti. Hanya saja, perlu kita ketahui, proses rekaman --terutama rekaman komersial-- sungguh menguras pikiran, energi, dan waktu.

Saya ingin sedikit berbagi tentang proses rekaman komersial secara umum (bukan hanya rekaman gitar solo). Dari awal sampai jadinya sebuah album rekaman yang bisa dijual, dibeli, dan dinikmati.

1) Tahapan paling awal adalah menyiapkan materi. Dan ini berarti ada proses penciptaan lagu --termasuk pula proses pembuatan aransemen musik (bila memainkan lagu yg sudah ada). Penciptaan segala sesuatu itu membutuhkan pemikiran yang dalam. Seperti halnya produk-produk lain (obat, pasta gigi, majalah, handphone, sabun cuci, untuk menciptakan sebuah produk umumnya diperlukan riset yang panjang dan rumit sebelum akhirnya bisa diproduksi.dan dipasarkan secara luas.

Dalam bidang seni (apa pun jenis seni-nya), proses penciptaan bisa jadi lebih kompleks. Mungkin dibutuhkan suasana hati yang sesuai, berbungkus - bungkus rokok, bahkan ada karya seni indah yang baru tercipta setelah sang pencipta mengalami dan merasakan penderitaan akibat suatu tragedi. Oke-lah, katakan akhirnya kita berhasil menciptakan satu lagu atau gagasan aransemen. Itu baru satu. Sedangkan untuk sebuah album, umumnya diperlukan belasan lagu. Semakin banyak lagu yang tercipta, semakin banyak pula pilihan kita dalam menentukan mana yang terbaik untuk masuk ke dalam album kita. Untuk tahapan ini, waktu yang diperlukan bisa sangat lama. Dari jangka berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun.

2) Akhirnya setelah sekian lama kita berkutat di proses penciptaan, materi pun telah siap. Bagi yang punya modal, bisa langsung sewa studio rekaman dan memulai proses rekam. Namun tidak semua seniman seberuntung itu. Banyak cerita musisi yang begitu sulit mendapatkan

produser yang mau memproduksi karya mereka. Band-band papan atas yang kita sekarang pun, umumnya pernah mengalami banyak penolakan oleh perusahaan rekaman. Susahnya perjalanan untuk bisa masuk studio rekaman

ini terkadang bisa membuat frustasi dan down bagi musisi atau seluruh personel band.

3) Katakanlah, akhirnya kita berhasil mendapat perusahaan rekaman yang mau memproduksi karya kita. Kita sudah berlatih habis-habisan untuk mempersiapkan diri. Di sini perjuangan berikut dimulai. Bagi yg punya grup band dan sudah sering berlatih, proses rekaman tidaklah sama dengan show di panggung atau di video klip di mana seluruh musisi main (atau mengiringi penyanyi). Karena di studio, proses rekaman dilakukan per instrumen --dan biasanya vokal yg terakhir. Perkecualian adalah rekaman dari sebuah live show yang menuntut persiapan teknis dan kerumitan penataan suara yang lebih canggih.

Proses dimulai dengan persiapan partitur dan menentukan tempo yang tepat. Lalu penyetingan suara untuk instrumen musik (seperti check sound di panggung) setelah itu baru mulai satu per satu. Biasanya instrumen bas yang

mulai lebih dulu. Lalu baru drum dan seterusnya. Setiap instrumen membutuhkan waktu 1 sampai 3 hari untuk menyelesaikan satu

album. Ini pun sangat tergantung pada kesiapan sang musisi. Bila ia sudah berlatih sebelumnya, maka waktu sewa studio akan lebih singkat. Biaya pun dapat dihemat.

Hasil rekam suara per instrumen biasa sebut dengan satu track. Untuk sebuah grup musik, agar mendapat hasil yang maksimal umumnya memerlukan puluhan track. Untuk drum misalnya, memerlukan beberapa track sekaligus karena setiap elemennya (kick, tam, snare, hi-hat, symbal, dll) direkam dengan mikrofon yang berbeda. Solo gitar seperti album saya hanya memerlukan satu track. Namun bila saya hendak menambahkan bunyi instrumen lain, tentu diperlukan lagi track baru.

Waktu yang diperlukan untuk merekam seluruh instrumen hingga habis satu album sangat lama. Patokan yang lebih akurat adalah shift rekaman studio. Satu shift adalah 6 jam. Untuk solo gitar seperti album saya pertama, saya menghabiskan 5 shift rekaman. Pada album kedua 6 shift karena jumlah lagu lebih banyak. Sebuah grup band yang saya kenal memerlukan waktu untuk rekaman saja sebanyak 40 shift! Itu pun dengan catatan lagu dan aransemen sudah siap sebelum rekaman dimulai. Jumlah ini bisa lebih besar atau kecil tergantung dari jumlah instrumen yang akan direkam dan juga tingkat kerumitan lagu-lagunya.

Saat rekaman berlangsung, bisa saja terjadi pengulangan rekam untuk mendapatkan hasil paling sempurna. Pendeknya, diupayakan agar hasil rekam sesempurna mungkin dengan kesalahan sesedikit mungkin. Dari semua prosese rekam, vokal manusia paling sulit dibanding instrumen musik lain. Instrumen musik umumnya sudah memiliki nada yang pasti. Namun vokal amatlah sensitif. Mengatur pita suara memerlukan keterampilan dan latihan yang intens. Bagi yang jago menyanyi atau penyanyi profesional sekalipun dapat mengalami kesulitan dalam proses rekaman di

studio yang begitu detail. Berbeda dengan benyanyi di panggung, di studio

rekaman, fals sedikit pun akan terdengar dan proses rekam harus diulang berkali kali.

4) Akhirnya setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan, proses rekaman pun selesai. Para operator studio dan personel band bisa berteriak gembira "Yess! Kita akhirnya jadi artis...." begitu mungkin teriak anda dan reman-teman. Tunggu dulu. Perjalanan belum selesai. Hasil rekaman harus melewati dulu proses mixing. Ibarat makanan, hasil rekaman kita masih sebatas menyediakan bahan-bahan baku dan bumbu. Mixing adalah proses memasaknya hingga menjadi makanan yg lezat. Di sini sang koki (sound engineer) yang menentukan berapa banyak tiap bahan diperlukan, dan berapa banyak garam atau terasi, untuk setiap jenis masakan.

Proses mixing menentukan enak tidaknya lagu ini terdengar

di kuping kita. Misalnya, apakah suara gitarnya pas, tidak terlalu keras dibanding vokal. Atau apakan suara bas sudah hendak ditebalkan atau ditipiskan, dan masih banyak lagi pertimbangan yang rumit. Di sinilah keterampilan dan pengalaman sound engineer diperlukan. Proses mixing bisa memakan waktu berminggu - minggu hingga berbulan-bulan karena setiap track harus diolah dengan hati-hati dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahan.

5) Setelah proses mixing selesai, hasil rekaman maju ke tahap berikut yang disebut mastering. Di sini hasil mixing master diperindah dan disesuaikan kualitas audionya untuk format, kaset, CD, ataupun yang lainnya. Proses mastering memakan waktu 2 sampai 5 hari karena dilakukan per lagu.

6) Sementara proses mixing dan mastering berlangsung, umumnya anggota band bisa melakukan sesi foto untuk keperluan sampul atau kemasan album. Bisa dari foto simpel di depan kelurahan atau menyewa fotografer terkenal. Proses ini biasanya cukup menyenangkan. Desain untuk cover album mestinya sudah dirampungkan di tahap ini. Bersamaan dengan selesainya mastering, siaplah master rekaman dibawa ke pabrik penggandaan. Album rekaman pun akhirnya siap.

7) Sampai di sini, tim marketing mulai beraksi menerapkan strategi promosi (yang biasanya sudah dibahas sejak awal rekaman agar sesuai dengan tema dan sasaran pasar). Kegiatan mereka antara lain menyiapkan materi promosi (termasuk pembuatan video klip yang kelak akan kita bahas di tulisan terpisah), mengirimkannya ke media massa, menjalin hubungan dengan jaringan distributor dan toko. Jika memang dananya ada, bisa juga dilakukan acara launching. Dana untuk pemasaran dan promosi biasanya sangat besar. Misalnya saja untuk memasang iklan di berbagai media massa cetak dan elektronik, konser promo keliling berbagai kota.

Tanpa dukungan marketing dan jaringan distribusi, tentu produk kita tidak akan sampai ke penjual. Tanggung jawab tim marketing adalah memastikan agar semakin banyak orang yang membeli album kita. Jika tidak ada yang beli, tentunya pengorbanan waktu, pikiran, dan energi yang telah dicurahkan dalam menghasilkan album rekaman akan jadi tidak berarti.

8) Akhirnya, setelah berjuang sekian lama, siap sudah musik kita beredar di jagat pasar musik Indonesia. Diterima atau tidaknya oleh pendengar itu soal lain lagi. Terlebih bagi grup atau penyanyi baru. Namun jika kualitas produk kita bagus dan penerapan strategi marketing-nya tepat, peluang album ini dibeli tentu akan lebih besar.

Bila album sukses secara komersial, tentu ini menjadi kabar baik. Bagi perusahaan rekaman, keuntungan ini menjamin perusahaan tetap berdiri dan bisa terus menggarap album-album berikut. Bagi seniman, haknya mendapat nafkah dari bermain musik pun terpenuhi. Hal ini dapat mendorongnya terus berkarya. Namun bila angka penjualan album minim, maka kerugianlah yang didapat produser dan seniman. Yang lebih menyedihkan adalah bila kecilnya angka penjualan ini bukan disebabkan tidak adanya pembeli, tapi karena pembajakan. Jika kabar buruk seperti ini yang terus terjadi, maka tidak mustahil sang produser enggan berproduksi lagi dan seniman pun kehilangan salah satu sumber periuk nasinya. Pada kasus yang ekstrem, sebuah grup yang karya2nya begitu hebat dan melegenda bisa mogok tak mau lagi membuat album rekaman komersial.

Begitulah sekilah proses panjang serta perjuangan dalam menghasilkan sebuah karya rekam musik. Semoga membantu membuka wawasan kita dan apresiasi kita kepada para seniman, khususnya seniman musik.

--------------------

Semoga bermanfaat ya... salammmmm

1150 butir Telur bisa Berdiri di Vihara Nimmala Tangerang.

Link

Aha.... Ini ada kisah unik dan seru dengan gambar full color lagi,
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Minggu pagi 8 Juni 2008, berdua dengan istri saya menuju tepian sungai Cisadane, dekat Pasar Lama China Town-nya kota Tangerang untuk menonton PehTjun.
Sekitar tahun 1960-an disitulah biasanya berlangsung festival PehTjun yang meriah sekali.
Masa itu selama beberapa hari selain ada lomba perahu Naga, juga banyak perahu besar kecil yang diberi atap dan dihias, sehingga pengunjung bisa menyewanya untuk ber-keliling
menikmati pesta air bersama sekian banyak perahu lainnya. Lapangan di tepi sungai juga menjadi seperti Pasar Malam, banyak orang berjualan makanan dan ada berbagai hiburan
rakyat seperti Gambang Keromong dll.

Perahu PehTjun ada dua set, terdiri dua buah perahu panjang berkepala Naga berwarna merah dan biru, dan dua buah perahu panjang berwarna merah dan hijau yang disebut perahu "papak" karena bagian kepalanya hanya berupa bonggol saja.

Ternyata ada acara sembahyang dulu, setelah itu barulah diadakan lomba Perahu Naga dan Papak itu. Karena cara persiapan lombanya lama, sedangkan siang itu ada acara unik dan menarik yaitu Lomba Mendirikan Telur yang konon diupayakan untuk bisa masuk Guinness Record, maka kami menuju Vihara Nimmala di Pasar Baru Tangerang.
Sesampai disana sudah ada banyak orang, dan persiapan sedang berlangsung.
Diatas lantai keramik Aula, telah disiapkan kapling seluas dua buah ubin serta 15 butir telur ayam untuk setiap peserta.

Setelah ke 108 orang peserta lomba siap ditempat masing2, sekitar jam 11.30 lomba dimulai.
Peserta campur aduk, laki perempuan, anak remaja sampai nenek-nenek ubanan, semua penuh konsentrasi mencoba mendirikan telur se-banyak2nya karena walau pendaftaran
lomba itu gratis, tapi pemenang mendapat hadiah uang.
Seru dan asyik menyaksikan sekian banyak orang dengan berbagai gaya mencoba mendirikan telur mentah itu. Saya bersama cameraman dari Global-TV dan Trans-7
dengan hati-hati berjalan didalam arena penuh telur itu, mencari posisi yang bagus untuk memotret.

Diluar aula, juga disediakan telur dan tempat untuk siapa saja yang ingin mencoba mendirikan telur, disitu juga ramai sekali. Nggak tahan, saya ikut nyelip minta lahan sedikit dan sebutir
telur, awalnya malah ibu sebelah saya menjerit histeris karena telur yang coba saya dirikan malah menggelinding mendekati telur yang sudah berhasil didirikannya, hampir saja nabrak !
Eh busyet, koq bisa juga tuh saya, malah sampai tiga biji !! Istri saya jadi kepengen ikutan juga, yah dia mah yang kaga sabaran mana bisa, dari awal nyoba sudah pesimis dulu sih.

Di luar arena lomba ini, ada seorang bapak yang saya lihat bisa mendirikan sampai 40-an telur !, luar biasa !

Sekitar jam 12.15 lomba di stop, saya lihat ada seorang ibu yang pantas dinobatkan " juara tunggal " karena cuma satu butir doang yang bisa didirikannya selama hampir sejam itu.
Kalau peserta lainnya semua bisa lebih dari satu, saat saya foto dia cengengesan sambil nunjuk-nunjuk telur semata - wayangnya itu.

Semua peserta harus meninggalkan arena, panitia mencatat nilai masing2 peserta, menjumlahkan dan juga memfoto untuk dokumentasinya.
Ternyata pemenangnya bisa mendirikan 24 butir telur, dan total jenderal semua telur yang bisa berdiri adalah 1150 butir. Angka ini jauh dibawah target 2008 telur, tapi meningkat banyak dibanding prestasi tahun lalu yang hanya 108 telur.

Siang itu pula, di Restoran Pondok Lauk saat menunggu makanan pesanan kami datang, istri saya meminjam sebutir telur ayam ke dapur resto, tapi ternyata "kesaktian" saya sudah luntur. Nyoba sampai seperempat jam, eh itu telur maunya rebahan terus, yah udah deh nyerah - nunggu setahun lagi !
------------------------------------------------------
Hehehe seru kan, paparannya sangat enak dibaca seolah kita dibawa diarena kejadian.

See U next......

http://images.multiply.com/multiply/slide-show.swf" type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="500" quality="high" bgcolor="#000000" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always" FLASHVARS="album_id=jalanjalan:photos:373&security=V1kN6IHlK4OIXkjs7f3oFA&base_uri=multiply.com">

Kebenaran di balik tewasnya 10 orang di konser Beside, Gedung AACC Bandung, 9 Februari 2008.

Link

Semuanya pasti sudah denger soal kerusuhan konser band Beside di Gedung AACC di Bandung kan? Kalau belum, sedikit info, ada 10 orang meninggal dunia saat itu. Cerita di koran-koran masih ga jelas. Ada yang bilang karena rusuh sehingga ada yang tewas terinjak-injak, ada yang bilang karena minuman keras, ada yang bilang karena kehabisan oksigen.

Di bawah ini ada tulisan yang dibuat oleh Eben, Gitaris Burger Kill, yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Berikut gw post supaya apa yang terjadi di sana jelas:

=============================================
Bandung, 9 Februari 2008
Cerita pendek Tragedi Berdarah konser musik Beside.

Tepat jam 19.00 wib saya tiba di gedung AACC di jalan Braga Bandung, tempat dimana launching album perdana band metal asal kota kembang Beside digelar. Suasana diluar gedung sangat ramai dipenuhi teman-teman dari komunitas yang berkumpul untuk menyaksikan konser tunggal dari band yang baru saja meluncurkan album bertitel "Against Ourselves" ini. Di depan gerbang gedung yang berkapasitas 500 orang ini saya melihat ratusan metalhead yang terus mengantri berusaha masuk kedalam gedung, terlihat juga beberapa orang aparat keamanan yang sedang bersantai duduk diatas motor yang diparkir di depan gedung. Tidak lama kemudian dari luar terdengar Beside sudah mulai menggeber lagu pertama dari set list konser mereka malam ini, tanpa banyak menunggu saya langsung masuk melalui pintu samping gedung yang dikhususkan untuk para undangan dan teman-teman media.

Dari pinggir panggung saya melihat hampir 800 metalhead memadati crowd yang intens berpogo ria diiringi penampilan Beside yang powerfull, setelah saya perhatikan nampaknya pihak panitia telah menjual jumlah tiket yang melebihi kapasitas gedung. Sempat beberapa kali saya melihat beberapa penonton yang mabuk dan pingsan dehidrasi dikarenakan kurangnya sirkulasi udara segar di dalam gedung, tapi sangat disayangkan pihak panitia tidak sigap menyediakan bantuan yang maksimal seperti PMI atau tim khusus untuk menangani kejadian seperti ini, sehingga beberapa penonton yang pingsan hanya dibiarkan tergeletak di lorong samping panggung tanpa pertolongan yang benar.

Memang udara didalam gedung sangat panas dan pengap hingga dipertengahan konser saya berjalan keluar melalui jalan samping untuk membeli minuman dingin. Dari depan pintu samping saya melihat kerumunan penonton tanpa tiket yang beramai-ramai berusaha merubuhkan gerbang utama gedung AACC ini, namun sayangnya para aparat yang berada di sekitar gerbang tidak melakukan tindakan antisipasi dan hanya berdiri merokok menyaksikan kejadian tersebut. Sempat saya mengingatkan salah seorang aparat untuk segera bertindak tapi hanya sebuah jawaban sederhana yang saya terima, "Udah biarin aja ada panitia yang jaga, kamu ga usah ikut-ikutan" tuturnya. Aneh mendengarnya, seharusnya mereka lebih sigap dan segera mengamankan kejadian tersebut. Merasa tidak digubris saya kembali masuk kedalam gedung dan memberi tahu kondisi diluar gedung ke pihak panitia yang berjaga didalam, akhirnya beberapa panitia berlarian keluar untuk ikut membantu.

Setelah pemutaran video klip "Holyman" melalui big screen di kanan kiri panggung para personil Beside terlihat membagikan beberapa gelas bir kepada penonton yang berada di barisan depan panggung, tentunya suguhan ini dengan gembira ditanggapi oleh para penonton yang memang kehausan setelah terus berpogo. Tak berselang lama Beside kembali bersiap dan melanjutkan konser mereka. Sekitar jam 20.30 konser yang berjalan lancar ini berakhir, kerumunan penonton yang mengantri untuk keluar pun terlihat aman dan tertib. Didalam gedung terdapat beberapa penonton yang kelelahan dan beristirahat sambil menunggu antrian yang cukup panjang. Dan tragedi buruk ini pun dimulai, tidak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa diluar ada dua orang penonton yang meninggal karena kehabisan nafas.

Tiba-tiba seorang aparat tanpa seragam naik ke atas panggung dan langsung berteriak-teriak menyuruh semua penonton yang ada didalam gedung untuk segera keluar. Tanpa basa-basi pun beberapa polisi lainnya ikut masuk kedalam dan dengan kasar mengusir semua penonton yang tersisa. Kembali saya coba mengingatkan para aparat untuk tidak bertindak kasar dan menerangkan bahwa diluar antrian penonton masih panjang. Namun sekali lagi omongan saya tidak digubris dan mereka terus bertindak seenaknya mendorong dan menendang para penonton, dan akhirnya suasana antrian menjadi tidak terkendali.

Beberapa penonton dibagian belakang terus mendorong kedepan karena takut terkena pukulan para aparat yang terus memaksa keluar, sangat jelas terlihat bertambahnya korban yang pingsan karena terinjak-injak antrian yang terus menumpuk. Dalam kondisi panik saya berusaha membantu seorang penonton yang tergeletak pingsan didepan gedung dan membopongnya untuk dibawa kedalam mobil salah satu panitia. Tiba-tiba salah seorang teman saya yang juga ikut membantu korban dipukul wajahnya oleh seorang oknum aparat tanpa alasan yang jelas, dengan sigap saya berusaha melerai mereka. Dan sekali lagi sikap angkuh dan sok jagoan dari seorang oknum aparat pun dipertontonkan, dengan sikap yang kampungan hampir 20 orang aparat langsung menyerang saya dan mengeroyok membabi buta seperti segerombolan preman yang haus berkelahi.

Akhirnya suasana kembali tidak terkendali dan kerusuhan pun terjadi, beberapa teman yang ikut melawan dan melindungi saya pun ikut terkena pukulan dan tendangan dari oknum-oknum aparat yang terus bertambah sehingga kami semua berpencaran berlari jauh untuk menghindar. Dari kejauhan saya melihat beberapa korban yang pingsan didepan gedung diusir dengan kasar oleh beberapa aparat, dan mereka pun langsung memasang Police Line agar tidak ada lagi penonton yang masuk kedalam gedung. Tak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa beberapa teman saya dibawa ke Polwiltabes Bandung sebagai saksi untuk dimintai keterangan perihal kejadian tersebut, dan saya pun langsung menuju kesana untuk mencari tahu kepastian beritanya.

Sesampai di kantor polisi saya melihat beberapa panitia yang berkumpul sambil menunggu giliran untuk di interogasi. Saya mencoba menghampiri dan bertanya kepada mereka tentang berita terakhir korban tragedi tersebut dan ternyata jumlah korban yang meninggal sudah mencapai 10 orang yang tersebar di 2 Rumah Sakit. Beberapa korban yang tidak tertolong meninggal di RS Bungsu dan RS Hasan Sadikin Bandung, dan menurut panitia yang ikut mengantar ke rumah sakit bercerita setibanya di rumah sakit hampir sebagian besar korban tidak dilayani dan hanya dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit hingga akhirnya mereka meninggal dunia. Mungkin hal ini terjadi dikarenakan pihak rumah sakit takut akan tidak selesainya urusan admistrasi dari masing-masing korban. Sungguh kondisi yang sangat mengecewakan dan menyesakan dada, namun apa daya semuanya sudah terlewati dan kami sudah tidak bisa membantu lebih banyak lagi.

Dunia musik Indonesia kembali berduka, sebuah konser musik yang menelan korban jiwa kembali terjadi. Lalu siapa yang bisa disalahkan? Apakah buruknya persiapan antisipasi panitia yang nakal dengan menjual tiket diluar kapasitas gedung? Apakah juga bobroknya sikap aparat sebagai pihak yang seharusnya mengatur keamanan di lokasi konser? Atau terlalu banyaknya teman-teman kita yang terlalu mabuk ketika menonton konser? Lalu bagaimana dengan parahnya pelayanan di rumah sakit yang terkesan acuh untuk menangani korban? Saya rasa semua itu bisa menjadi penyebabnya, dan kita hanya bisa menyesalinya. Tentunya setelah tragedi ini rasa pesimis teman-teman di komunitas akan sulitnya izin untuk bisa menyelenggarakan konser-konser akan semakin bertambah.

Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan berita miring di media yang terkesan memojokan teman-teman komunitas atas tragedi ini dapat sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan contoh kasus yang perlu diteladani dan disikapi dengan benar oleh semua pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan sebuah konser musik. Tulisan ini hanya sebuah pandangan dan opini seorang musisi, teman, dan penikmat musik yang sangat mengharapkan suasana yang kondusif dari sebuah konser. Dari lubuk hati yang paling dalam saya mewakili komunitas musik sejagad Indonesia turut merasakan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas tragedi ini. Semoga teman-teman kami yang telah pergi dapat beristirahat dengan tenang dan segala kebaikannya diterima disisi Allah SWT, Amien…

Live hard, die hard… Rest In Peace Brothers, we're gonna miss u…