AncientMataram Blog Yang Menarik Buat Pecinta Arkeologi
Pagi ini setelah sarapan browsing situs film dan sedikit update koleksi gambar di scribd, tak sengaja mampir ke blog Ancient Matara, dan tak saya duka ternyata isinya tentang peninggalan sejarah Mataram Kuno yang ada disekitar Yogyakarta.
Sebuah penemuan blog yang menarik dan patut disimak http://ancientmataram.wordpress.com/
Tangsel, 29 Nov 2011
ane
cahPamulang
Majapahit Adalah (Bukan) Kesultanan Islam
Seperti sudah saya sampaikan di posting sebelumnya, mengenai Buku Kesultanan Majapahit Fakta yang Tersembunyi (http://cahpamulang.blogspot.com/2010/12/book-kesultanan-majapahit-fakta-yang.html), saya dapati lagi posting yang cukup menarik yang menanggapi posting perihal itu. Paparannya cukup menarik dan argumentatif, namun rasanya akan lebih menarik lagi bila poster membaca terlebih dahulu buku yang menjadi sumber tulisan di blog http://roedijambi.wordpress.com/2010/07/24/menguak-rekayasa-sejarah-majapahit/ yang kemudian menyebar ke seantero penjuru internet. Dimana Sdr. Fahrudin HM menyarikannya dari sebuah buku karangan Herman Sinung Janutama,
‘Kesultanan Majapahit, Fakta Yang Tersembunyi’, LJKP Pangurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta. Edisi Terbatas Muktamar Satu Abad Muhammadiyah Yogyakarta Juli 2010
Berikut isi dari tulisan tersebut
http://adangsetiawan.wordpress.com/2010/11/08/majapahit-adalah-bukan-kesultanan-islam/
Melihat tulisan di sini, di sini, di sini, dan di situs-situs lain, termasuk dalam forum forum-forum internet, menjadi motif saya untuk menulis tulisan ini sebagai sikap saya atas inti tulisan tersebut yang menyatakan bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam di Indonesia yang bernama Kesultanan Majapahit.
Saya akan mengulas hal-hal yang dijadikan dasar oleh pihak yang menyatakan Majapahit merupakan kerajaan Islam.
Pertama, mengenai ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’
Koin Dengan Lafaz Kalimat Tauhid
Ulasan saya:
Pada tahun 2009, Tim Evaluasi Neo Pusat Informasi Majapahit (Neo PIM) menemukan peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit di situs Trowulan yang salah satunya adalah ribuan mata uang kuno dari Tiongkok. Mata uang tersebut bertuliskan huruf Tiongkok, dan jumlahnya sekitar 60 ribu keping.
Apakah ini menandakan bahwa Majapahit adalah kerajaan yang beragama Konghucu, Taoisme, atau agama apapun yang berasal dari Tiongkok?
Atau, apakah Majapahit merupakan kerajaan bawahan (vassal) dari Kekaisaran Tiongkok?
Tentu saja bukan.
Peninggalan berupa uang koin Tiongkok yang ditemukan di wilayah kerajaan Majapahit pertanda adanya hubungan dagang dengan negeri Tiongkok. Para pedagang dari Tiongkok kerap membawa mata uang negerinya yang terbuat dari emas, perak atau perunggu untuk dibawa ke Majapahit. Hal ini wajar saja mengingat pada zaman tersebut emas, perak, atau perunggu merupakan alat pembayaran yang lazim digunakan dimana saja. Yang membedakan nilainya adalah berat dari emas/perak itu sendiri. Majapahit sendiri mengeluarkan uang lokal yang disebut dengan Gobog.
Koin Tiongkok Pada Zaman Majapahit
Penemuan koin emas yang bertuliskan kalimat tauhid dengan huruf Arab pun menandakan para pedagang dari Timur Tengah telah menjalin hubungan dagang dengan para pedagang nusantara, khususnya Majapahit. Terlalu tergesa-gesa bila menyimpulkan Majapahit adalah Kerajaan Islam karena ditemukannya koin emas berlafazkan “La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah”.
Penduduk lokal Majapahit mungkin sudah ada yang memeluk Islam yang disebarkan para pedagang/ulama yang datang dari Timur Tengah, tapi tidak dapat disimpulkan bahwa kerajaan Majapahit adalah kerajaan/kesultanan Islam.
Kedua, mengenai penemuan pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah hakim agama Islam kerajaan Majapahit.
Ulasan saya:
Pada nisan makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Syeikh Maghribi atau Sunan Gresik, terdapat inskripsi yaitu surat al-Baqarah ayat 225 (ayat Kursi), surat Ali Imran ayat 185, surat al-Rahman ayat 26-27, dan surat al-Taubah ayat 21-22 serta tulisan dalam bahasa Arab yang artinya:
Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para Sultan dan Menteri, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya(dalam terjemahan lain disebut: terkenal dengan Kakek Bantal-red). Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah.
Tidak ada dalam inskripsi tersebut yang menyatakan bahwa beliau adalah hakim agama Islam di kerajaan Majapahit. Terjemahan Sultan dan Menteri dalam inskripsi tersebut menurut Macchi Suhadi yang mengacu pada pendapat Usman bin Yatim bin Abdul Halim Nasir ditujukan untuk Sultan Samudera Pasai, karena menurutnya nisan Maulana Malik Ibrahim berasal dari Pasai karena memiliki kemiripan dengan nisan makam sultan-sultan dari Samudera Pasai. Tjandrasasmita (1983:283) malah berpendapat bahwa kuat dugaan bahwa sultan dan menteri yang berduka dengan meninggalnya Maulana Malik Ibrahim itu berasal dari Gujarat dan Samudera pasai, yang mengirimkan jirat dan nisan beserta pertulisannya tersebut, sebagai tanda hormat kepadanya.
Kalau memang perkataan Sultan dan Menteri itu merujuk kepada Majapahit, mengapa di peninggalan Majapahit seperti di candi-candi, tidak menggunakan huruf Arab?
Batu nisan yang ada di makam Maulana Malik Ibrahim jelas dibuat oleh orang/pihak yang mengenal beliau. Yang jelas, inskripsi tersebut menceritakan bahwa yang dimakamkan bukanlah orang sembarangan. Maulana Malik Ibrahim selain dikenal sebagai ulama, beliau juga terkenal sebagai pedagang, dan ahli pengobatan. Kalau memang ada para bangsawan/raja Majapahit yang mengenal beliau, atau bahkan menganut agama Islam karena beliau, bukan berarti menandakan bahwa kerajaan Majapahit merupakan Kerajaan Islam. Lebih-lebih bila tulisan dalam nisan Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai bukti bahwa beliau adalah menteri dari Majapahit.
Pertanyaan saya adalah, kalau Maulana Malik Ibrahim memang benar seorang menteri di Majapahit, terus kenapa?
Kita bandingkan dengan negeri Tiongkok.
Mengapa tidak ada yang menarik kesimpulan yang menyatakan bahwa kekaisaran Tiongkok pada masa lalu adalah negara Islam? Padahal kekaisaran Tiongkok memiliki Laksamana Cheng Ho, seorang muslim asli Tiongkok, pemimpin armada laut dalam ekspedisi pelayaran Tiongkok, juga merupakan kasim di negeri itu.
Ketiga, perihal lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat.
Ulasan saya:
Dibawah ini adalah gambar yang dianggap bukti bahwa pada lambang Majapahit terdapat tulisan Arab:
Gambar Pertama
Bandingkan dengan gambar yang ini yang juga gambar lambang Majapahit:
Gambar Kedua
Pada gambar pertama, seolah-olah huruf arab tersebut merupakan huruf yang benar-benar tercetak pada artefak Surya Majapahit. Menurut saya, huruf Arab yang diberi penekanan pada gambar tersebut tidak lebih merupakan persepsi yang dipaksakan oleh pihak yang menganggap Majapahit merupakan kerajaan Islam. Hal ini tidak dapat diterima begitu saja sebagai bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan Islam.
Ini seperti foto tentang misteri monster danau Loch Ness.
Foto di samping ada yang menganggap sebagai foto penampakan makhluk misterius yang ada di danau Loch Ness, dan ada yang menganggap sebagai foto biasa yang menganggap hal itu mungkin saja batu atau kayu yang ada di danau tersebut. Akibat foto ini, sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk ekspedisi mengungkap misteri makhluk misterius danau Loch Ness karena meyakini kalau foto tersebut benar-benar merupakan penampakan dari monster yang ada di danau tersebut.
Tetapi…
Pada tahun 1994, misteri tentang foto tersebut terungkap. Foto tersebut adalah rekayasa. Foto itu adalah foto mainan kapal selam yang di atasnya ditempel mainan ular naga laut (bentuk leher memanjang). Selama 60 tahun foto tersebut dipercaya sebagai bukti keberadaan monster danau Loch Ness.
Keempat, pendapat yang menyatakan pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan.
Ulasan saya:
Saya sungguh tidak tahu atas dasar apa ada pendapat yang menyatakan bahwa pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim dan Prabu Guru Dharmasiksa adalah seorang ulama Islam. Hingga kini, saya belum menemukan sumber otentik, bahkan cerita rakyat sekalipun yang menyatakan Raden Wijaya serta Prabu Guru Dharmasiksa adalah seseorang yang menganut agama Islam.
Lepas dari itu, Raden Wijaya dipercaya merupakan anak dari Dyah Lembu Tal. Beberapa sumber memiliki redaksi yang berbeda tentang Dyah Lembu Tal, yaitu:
a. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Lembu Tal atau Dyah Singamurti adalah putri dari Mahisa Campaka, putra Mahisa Wonga Teleng, putra Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari.
Lembu Tal menikah dengan Rakeyan Jayadarma, putra Prabu Guru Darmasiksa raja Kerajaan Sunda-Galuh yang memerintah tahun 1175-1297. Dari perkawinan itu lahir Raden Wijaya.
b. Menurut Negarakertagama, Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, anak dari Narasinghamurti.
Keterangan dalam Negarakertagama diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun 1305 M. Dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota asli Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang menurut Pararaton didirikan oleh Ken Arok, penguasa pertama Kerajaan Singhasari.
Jadi, keterangan tentang Raden Wijaya yang merupakan cucu dari Dharmasiksa sendiri masih perlu diteliti. Mungkin saja Raden Wijaya memang cucu Dharmasiksa seperti yang tercantum dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara. Raden Wijaya dibawa pergi oleh Lembu Tal dari Sunda dan akhirnya menetap kembali di Singasari. Untuk meyakinkan legitimasinya di Majapahit, Raden Wijaya menggunakan silsilah yang ia buat dari garis keturunan Singasari. Sebagaimana raja-raja Mataram Islam yang menggunakan silsilah hingga ke Nabi Adam untuk memperkuat legitimasinya. Atau malah, Raden Wijaya sama sekali tidak memiliki darah Sunda? Ini merupakan kajian yang masih harus diteliti kebenarannya.
Adapun Prabu Guru Dharmasiksa sendiri memang terkenal akan ajarannya yaitu Amanat Galunggung yang intinya merupakan amanat yang bersifat pegangan hidup, amanat tentang perilaku negatif, dan amanat tentang perilaku positif. Tidak ada redaksional yang mengarah kepada kesimpulan bahwa Dharmasiksa adalah seorang muslim. Amanat Galunggung sendiri dipercaya merupakan khazanah lokal budaya Sunda yang berasal dari agama Sunda Wiwitan (agama Sunda Kuno).
Mengenai Gajah Mada sendiri, ada yang mengatakan kalau itu adalah gelar. Pada masa itu, memang lazim digunakan nama-nama hewan sebagai gelar seperti Prabu Gajah Agung, Lembu Agung, Lembu Tal, Gajah Kulon, Kebo Anabrang, dan lain-lain. Belum dapat dipastikan apakah Gajah Mada benar-benar nama asli atau bukan. Hanya saja, kesimpulan bahwa Gajah Mada adalah Gaj Ahmada sungguh sangat lucu. Apakah arti Gaj itu? Lalu, mengapa dengan mudahnya memenggal nama Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada? Mengapa tidak Ga Jahmada, Gajahma Da? Atau G.Ajah Mada?
Adapun mengenai gelar pada Raden Wijaya yang bukan justifikasi bahwa dia adalah seorang Hindu, masih bisa saya terima. Tapi, bila harus membandingkan Kertarajasa Jayawardhana (gelar Raden Wijaya) dengan Sultan Hamengkubuwono, itu jelas berbeda.
Bisa saja seorang muslim memakai gelar dengan Bahasa Sanskerta seperti Kertarajasa Jayawardhana, tetapi tidak bagi non muslim yang menggunakan gelar Sultan. Sultan adalah gelar identitas kekuasaan dan keagamaan, sama seperti Paus pada agama Katholik dan Tahta Suci Vatikan. Kesultanan merupakan bentuk pemerintahan khas Islam, seperti pada Banten, Aceh, Ternate, dan yang lainnya. Pada masa sekarang, mungkin seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Brunei Darussalam contohnya. Bila sang Sultan sudah tidak Islam, maka Kesultanan pun berubah menjadi, Kekaisaran Brunei, atau Republik Ngayogyakarto.
Untuk menjelaskan bahwa Sultan adalah suatu gelar identitas, saya ajukan pertanyaan sederhana.
Sultan Henry XIV dengan Paus Yazid III. Menurut anda, manakah di antara mereka yang seorang muslim?
Kelima, tentang keturunan Arab yang banyak menjadi penguasa di Nusantara.
Ulasan saya:
Memang ada kerajaan di Nusantara yang didirikan oleh seorang keturunan Arab Islam, contohnya adalah Kesultanan Perlak di Aceh (840-1292). Tetapi, saya bertanya singkat saja:
Siapakah pendiri Majapahit?
Sudah tentu Raden Wijaya yang berasal dari Nusantara sendiri (kalau tidak Jawa, ya Sunda. Lihat ulasan keempat di atas).
Di luar kelima hal yang dianggap sebagai bukti di atas, ada yang berpendapat seperti ini:
“jika Majapahit adalah kerajaan besar yang beragam Buddha atau Hindu, harusnya sampai saat ini agama terbesar di nusantara ini tentunya Buddha dan Hindu. karena yang namanya keyakinan itu pasti mengakar kuat. Tapi kenyataannya agama terbesar sampai saat ini dari sejak nusantara sampai sekarang adalah Islam.
Ini pararel dengan kenyataan bahwa Muhammadiyah atau Nahdlatul Ulama yang masih eksis berdiri sampai sekarang walapun sudah 60 tahun. dan itu baru organisasi, bukan sebuah kerajaan besar. Apalagi tentunya jika dibandingkan dengan kerajaan sebesar Majapahit. tentunya itu akan mewarisi ideologi/agama yang kuat. kenapa tidak Buddha atau Hindu yang besar? Melainkan Islam?”
Menurut saya pendapat di atas menafikan fakta sejarah yaitu munculnya kerajaan-kerajaan Islam di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Maluku, baik sezaman dengan Majapahit, maupun setelah Majapahit runtuh. Tentu hal ini, berpengaruh pada cepatnya penyebaran Islam di Indonesia. Perlu diketahui, saat Majapahit runtuh, tidak ada kerajaan non-Islam (Hindu-Buddha) di Indonesia yang pengaruhnya sebesar atau melebihi Majapahit.
Kita ambil contoh negara India. Sebelum Republik India resmi berdiri, India pernah berada dalam pemerintahan Mughal, suatu pemerintahan Islam dari abad 16 hingga 19. Peninggalannya yang terkenal adalah Taj Mahal, bangunan bercorak Islam yang menjadi kebanggaan masyarakat India. Tapi kini, nyatanya India adalah negara dengan populasi Hindu terbanyak di dunia.
Menurut saya, pendapat yang menyatakan bahwa Islam berkembang sejak zaman Majapahit itu mungkin saja benar, tetapi kesimpulan bahwa Majapahit merupakan Kesultanan Islam adalah kesimpulan yang terburu-buru dan perlu diteliti lagi kebenarannya.
---------------------------
Akhir dari postingan.
Book : Kesultanan Majapahit, Fakta Yang Tersembunyi
Rasa ketertarikan saya semakin memuncak setelah ada beberapa ilustrasi yang mengarah kepada kenyataan bahwa Majapahit adalah memang benar-benar kerajaan Islam.
Saya ucapkan terimakasih banyak kepada para poster yang telah meluangkan posting/blognya menjadi lahan informasi yang menarik ini.
- Sdr. Sutarno dari Milis Iqra. http://groups.google.com/
group/Milis_Iqra - Sdr. Danish - http://danish56.blogspot.com/2010/11/fakta-fakta-tersembunyi-dari-kerajaan.html
- Sdr/i. Derrida Hafis - http://sejarah.kompasiana.com/2010/10/22/kesultanan-majapahit/
- Sdr. Fahrudin HM - http://roedijambi.wordpress.com/2010/07/24/menguak-rekayasa-sejarah-majapahit/ (Sumber utama Posting tersebut)
- Sdr. Adang S - http://adangsetiawan.wordpress.com/2010/11/08/majapahit-adalah-bukan-kesultanan-islam/ (tanggapan terhadap postingan sdr. Fahrudin ini akan saya re-blog dilembar tersendiri)
Herman Sinung Janutama, ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Yang Tersembunyi’, LJKP Pangurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta. Edisi Terbatas Muktamar Satu Abad Muhammadiyah Yogyakarta Juli 2010 .Rasanya buku tersebut sangat laik untuk dikoleksi bagi para penggemar cerita Sejarah di bumi Pertiwi ini.
Berikut kutipan lengkap Posting tersebut : (format tulisan disesuaikan)
Oleh Pahrudin HM, MA Seorang sejarawan pernah berujar bahwa sejarah itu adalah versi atau sudut pandang orang yang membuatnya. Versi ini sangat tergantung dengan niat atau motivasi si pembuatnya. Barangkali ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar masa lampau yang pernah ada di negara yang kini disebut Indonesia. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar negara yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara.
Namun demikian, ada sesuatu yang ‘terasa aneh’ menyangkut kerajaan yang puing-puing peninggalan kebesaran masa lalunya masih dapat ditemukan di kawasan Trowulan Mojokerto ini. Sejak memasuki Sekolah Dasar, kita sudah disuguhi pemahaman bahwa Majapahit adalah sebuah kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada dalam sejarah masa lalu kepulauan Nusantra yang kini dkenal Indonesia.
Inilah sesuatu yang terasa aneh tersebut. Pemahaman sejarah tersebut seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara ‘jujur’ akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus juga mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.
‘Kegelisahan’ semacam inilah yang mungkin memotivasi Tim Kajian Kesultanan Majapahit dari Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakt-data arkeologis, sosiologis dan antropolis, maka Tim kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku awal berjudul ‘Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi’. Buku ini hingga saat ini masih diterbitkan terbatas, terutama menyongsong Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.
Sejarah Majapahit yang dikenal selama ini di kalangan masyarakat adalah sejarah yang disesuaikan untuk kepentingan penjajah (Belanda) yang ingin terus bercokol di kepulauan Nusantara. Akibatnya, sejarah masa lampau yang berkaitan dengan kawasan ini dibuat untuk kepentingan tersebut. Hal ini dapat pula dianalogikan dengan sejarah mengenai PKI. Sejarah yang berkaitan dengan partai komunis ini yang dibuat di masa Orde Baru tentu berbeda dengan sejarah PKI yang dibuat di era Orde Lama dan bahkan era reformasi saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah tersebut.
Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.
Apa yang diungkapkan oleh buku ini tentu memiliki bukti berupa fakta dan data yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Beberapa fakta dan data yang menguatkan keyakinan bahwa kerajaan Majpahit sesungguhnya adalah kerajaan Islam atau Kesultanan Majapahit adalah sebagai berikut:
- Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Koin semacam ini dapat ditemukan dalam Museum Majapahit di kawasan Trowulan Mojokerto Jawa Timur. Koin adalah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sangat tidak mungkin sebuah kerajaan Hindu memiliki alat pembayaran resmi berupa koin emas bertuliskan kata-kata Tauhid.
- Pada batu nisan Syeikh Maulana Malik Ibrahim yang selama ini dikenal sebagai Wali pertama dalam sistem Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah Qadhi atau hakim agama Islam kerajaan Majapahit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Agama Islam adalah agama resmi yang dianut oleh Majapahit karena memiliki Qadhi yang dalam sebuah kerajaan berperan sebagai hakim agama dan penasehat bidang agama bagi sebuah kesultanan atau kerajaan Islam.
- Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. Untuk lebih mendekatkan pemahaman mengenai lambang Majapahit ini, maka dapat dilihat pada logo Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, atau dapat pula dilihat pada logo yang digunakan Muhammadiyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Majapahit sesungguhnya adalah Kerajaan Islam atau Kesultanan Islam karena menggunakan logo resmi yang memakai simbol-simbol Islam.
- Pendiri Majapahit, Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran suf, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu. Bahasa Sanskerta di masa lalu lazim digunakan untuk memberi penghormatan yang tinggi kepada seseorang, apalagi seorang raja. Gelar seperti inipun hingga saat ini masih digunakan oleh para raja muslim Jawa, seperti Hamengku Buwono dan Paku Alam Yogyakarta serta Paku Buwono di Solo. Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.
- Jika fakta-fakta di atas masih berkaitan dengan internal Majapahit, maka fakta-fakta berikut berhubungan dengan sejarah dunia secara global. Sebagaimana diketahui bahwa 1253 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad yang dikatakan sebagai pembalasan terhadap sikap para penguasa Abbasiyah yang seringkali menghina dan menistakan keturunan Rasulullah. Akibatnya, Timur Tengah berada dalam situasi yang berkecamuk dan terjebak dalam kondisi konflik yang tidak menentu. Dampak selanjutnya adalah terjadinya eksodus besar-besaran kaum muslim dari Timur Tengah, terutama para keturunan Nabi yang biasa dikenal dengan ‘Allawiyah. Kelompok ini sebagian besar menuju kawasan Nuswantara (Nusantara) yang memang dikenal memiliki tempat-tempat yang eksotis dan kaya dengan sumberdaya alam dan kemudian menetap dan beranakpinak di tempat ini. Dari keturunan pada pendatang inilah sebagian besar penguasa beragam kerajaan Nusantara berasal, tanpa terkecuali Majapahit.
Iniilah beberapa bukti dari fakta dan data yang mengungkapkan bahwa sesungguhnya Majapahit adalah Kesultanan Islam yang berkuasa di sebagian besar kawasan yang kini dikenal sebagai Asia Tenggara ini. Sekali lagi terbukti bahwa sejarah itu adalah versi, tergantung untuk apa sejarah itu dibuat dan tentunya terkandung di dalamnya beragam kepentingan. Wallahu A’lam Bishshawab.
9 Pedang Milik Nabi Muhammad SAW
1. Al Ma’thur
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’.
2. Al 'Adb
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Al-’Adb, nama pedang ini, berarti “memotong” atau “tajam.” Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Dia menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.
3. Dhu Al Faqar
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.
4. Al Battar
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami, Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’.
Gambar ukiran nama-nama para nabi di dalamnya :
Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika dia turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.
5. Hatf
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992)
Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan dia juga membuat senjatanya sendiri. Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu.
Dia menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.
6. Al Mikhdham
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.
7. Al Rasub
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.
8. Al Qadib
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat:
“Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.”
Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.
9. Qal’a
Foto diambil oleh Muhammad Hasan Muhammad al-Tihami,
Suyuf al-Rasul wa ‘uddah harbi-hi(Cairo: Hijr, 1312/1992).
Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika dia menemukan air Zamzam di Mekah.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.”
Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.
Sumber :
randevouz77 - www.kaskus.us
Pendaratan di Bulan, Kebohongan AS?
INILAH.COM
Amerika Serikat menyiarkan sebuah pengumuman kontroversial, yakni pendaratan pesawat ulang-alik Apollo 11 di bulan. Benarkah Neil Armstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins pahlawan pencetak tonggak sejarah, atau sebaliknya, bagian dari sebuah kebohongan terbesar?
AS mewarnai sejarah dunia dalam teknologi luar angkasa pada 20 Juli 1969 dengan klaim sukses mendaratkan tiga astronot mereka di bulan. Hari ini di negara yang dipimpin Presiden Barack Obama itu, berbagai planetarium dan pusat penelitian merayakannya dengan memutar film pendaratan yang memuat kalimat historikal
Armstrong: One small step for man, one giant leap for all mankind.
“Dalam jangka panjang, kita melihatnya sebagai event terpenting pada abad ke-20. Makin jauh ke depan, pencapaian itu makin terasa penting. Seluruh dunia dipersatukan oleh peristiwa itu, sebuah kejadian yang magis,” tutur astronom Harvard Smithsonian Center for Astrophysics, Jonathan McDowell, di Cambridge, Senin (20/7).
Kebesaran peristiwa itu disebabkan belum ada pencapaian serupa dari belahan bumi mana pun. Termasuk Rusia, atau Uni Sovyet pada jaman itu, yang pertama kali dikenal dengan ambisi luar angkasa mereka. Belasan tahun sebelum Apollo 11, Moskow sudah terlebih dahulu bekerja keras di bengkel luar angkasa mereka dan akhirnya sukses mengorbitkan satelit Sputnik pada 1957.
Catatan itu semakin panjang dengan pengiriman Yuri Gagarin, manusia pertama yang ke luar angkasa pada 1961. Kemudian perempuan pertama yang ke luar angkasa, Valentina Tereshkova pada 1963. Berlanjut Alexei Leonov yang menjadi manusia pertama yang beraktivitas di luar kapal luar angkasa, pada 1965.
Percobaan ke bulan juga pernah dilakukan Rusia dengan kapal Luna 2 yang tak berawak pada 1959, namun mereka gagal. Perjuangan panjang dan susah payah menorehkan sejarah itu langsung dipatahkan AS dengan klaim pendaratan bulan mereka.
“Dimulai dengan penerbangan pertama dengan kapsul primitif, tiba-tiba sukses mendarat di bulan. Memang, itu sebuah pencapaian yang besar untuk umat manusia. Ingin rasanya mengetahui bangsa kami yang pertama di bulan, tapi itulah hidup. Padahal pencapaian kami begitu banyak,” ujar astronot Rusia, Sergei Krikalev.
Dengan pencapaian yang luar biasa besar sekalipun, Rusia masih gagal mendaratkan kru mereka di bulan. Pesawat Salyut 1 pada 1971 gagal di atmosfer dan menewaskan tiga orang asronot. Beruntung ada Mir, sebuah stasiun luar angkasa yang bisa dihuni untuk jangka panjang. Sayangnya, jaman keemasan Mir berlalu secepat mulainya karena Rusia mulai kehabisan dana.
Sejak itulah, Rusia mengatakan AS telah menebarkan kebohongan terbesar kepada dunia mengenai pendaratan di bulan. Stasiun televisi Rusia, Rossiya, memutarkan sebuah tayangan yang mempertanyakan kontroversial pendaratan bulan. Lebih tepatnya, ketidakpercayaan bangsa Rusia dengan peristiwa itu.
"Kepercayaan pendaratan di bulan itu tersebar di AS sendiri, bahwa astronot mereka menginjakkan kaki di bulan. Sebenarnya, ini sangat aneh bagi orang-orang di belahan bumi lainnya," demikian laporan yang disampaikan stasiun televisi Rusia Rossiya, hari ini.
Laporan itu terkait dengan video pendaratan Apollo 11 yang dirilis Badan Antariksa AS (NASA) dalam rangka 40 tahun pendaratan bulan. Dengan kata lain, Neil Armstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins tidak mendarat di bulan.
Keraguan itu berulangkali disampaikan oleh Rusia, mengatakan kehebohan AS itu hanya untuk menyaingi sukses Sputnik mereka. Hingga saat ini, para ahli dunia masih berdebat mengenai orisinalitas rekaman yang merupakan satu-satunya bukti itu.
Meski demikian, bangsa besar seperti Amerika merupakan bangsa yang menghargai sejarahnya. Berbagai media besar negara tersebut ramai memberitakan 40 tahun sukses pendaratan di bulan. Armstrong, Aldrin, dan Collins, tetap dianggap pahlawan nasional. Apalagi, ketiganya kini dipanggil kembali oleh NASA untuk ambisi selanjutnya: pendaratan di Mars. Sukseskah? [P1]
.
Pedang Tertajam Didunia
Wisata Kota Tua - Kompas
Heritage, atau warisan berupa berbagai peninggalan dalam segala bentuk, penting bukan hanya sebagai sebuah identitas kota dan negara tapi juga bernilai ekonomi serta memberi dampak sosial. Budaya merekatkan manusia untuk mencipta saling pengertian yang membawa pada kedamaian dan keharmonisan. Wisata heritage pada akhirnya juga membantu memelihara dan melestarikan heritage/warisan itu sendiri.
Di dalam setiap kota tua masih lekat menempel sejarah sang kota, perjalanan hidup kota berabad lalu masih bisa terbaca hingga detik ini melalui bangunan tua, jalur kereta api, jembatan, kanal, kuliner, folklore, tradisi dan segala yang masih terus dilestarikan.
Kerutan di wajah sebuah kota tua, yang terpelihara apik, menjadi begitu menarik dan merangsang wisatawan untuk datang, tak sekadar menjenguk, mengenang, tapi juga mencoba memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi pada satu kurun waktu. Kemudian, bisa kekaguman yang muncul atau dalam kisah tertentu, berharap kejadian buruk di masa lalu tak terulang kembali.
Warisan yang ada di setiap kota di dunia memiliki arti penting yang berbeda bagi penduduk kota itu sendiri, penduduk di negara di mana sebuah kota berada, atau bahkan bagi dunia.
Arti sebuah warisan bisa positif atau negatif. Warisan masa lalu, tak selalu berupa kejayaan yang membanggakan bagi generasi di masa kini namun seringkali juga mendatangkan rasa malu, kebencian, seperti pada masa kelam Jerman dan Eropa pada umumnya ketika Hitler berlagak menjadi Tuhan dan membantai orang Yahudi. Begitu banyak warga Jerman ingin melupakan warisan yang ditinggalkan Hitler. Tapi bagaimanapun, orang tak bisa melupakan sejarah mereka, baik yang membanggakan maupun yang memilukan.
Auschwitz atau Oswiescim yang masuk dalam World Heritage Sites UNESCO adalah salah satu peninggalan yang dilestarikan. Warga dunia ternyata lebih banyak yang memilih untuk tidak melupakan sejarah terkelam manusia di abad 20 melalui kamp pembantaian Yahudi di Polandia ini. Melalui Auschwitz, dunia diingatkan agar lakon ini tak pernah lagi dipentaskan pada panggung dunia manapun.
Berlin masih menyimpan reruntuhan tembok, perlambang runtuhnya komunisme, yang dihancurkan pada 1989. Gerbang Brandenburg menanti wisatawan yang ingin menatap pintu gerbang pertanda damai dari Raja Frederik William II dari Prussia dan dibangun oleh Carl Langhans yang kini jadi landmark Berlin - bahkan Eropa. di Koln berdiri tegak Katedral Koln atau Kõlner Dom sebagai tengara kota yang dibangun di sekitar abad 12.
Kota tertua di Belanda, Maastricht, yang sudah ada sejak zaman Romawi dan sempat hanya menjadi kota kecil di ujung Selatan Belanda, kini bersinar sebagai kota budaya dengan peninggalan dari abad 12 yang masih bisa dilihat, tembok kota, gerbang kota, dan benteng.
Sebagai kota benteng, Maastricht mempertahankan warisan itu hingga kini. Sejak 1992, di mana Maastricht menjadi kota kelahiran Uni Eropa lewat Perjanjian Maastricht (The Treaty of Maastricht), kota ini makin berkilap sebagai kota tujuan turis mancanegara. Pemerintah setempat sadar betul, koceknya makin gemuk dengan kedatangan turis. Goa, St Pietersberg Cave, yang sudah ada sejak sebelum Masehi pun masih terawat lengkap dengan peninggalan sketsa dan lukisan di dinding. Di masa Hitler, goa ini menjadi tempat persembunyian.
Intinya, mereka melek heritage. Warisan berabad silam dilestarikan bukan hanya demi memenuhi rasa penasaran para turis tapi juga demi pengembangan heritage itu sendiri.
Di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, dan Amerika Serikat, tur hantu pun digelar. Biasanya mereka menyasar bangunan tua.
Dari Asia, Korea Selatan penuh dengan kuil yang dibangun bahkan sejak sebelum Masehi. Kota bersejarah Gyeongju, Kuil Bulguksa, dan pertapaan Seokguram Grotto semua masuk dalam daftar World Heritage Sites UNESCO. Kawasan Gyeongju sudah ada sejak tahun 57 sebelum Masehi. Gyeongju adalah bekas ibukota Kerajaan Silla yang sudah berkembang sejak awal milenium. Tak pelak, peninggalan arkeologi di kawasan ini mengambil lahan yang cukup luas, sekitar 1.300 km2. Sedangkan Kuil Bulguksa, kuil penganut Buddha, dibangun juga pada masa Kerajaan Silla pada sekitar tahun 580-an. Seokguram Grotto adalah salah satu bagian dari kompleks Kuil Bulguksa yang mulai didirikan pada tahun 742.
Bicara soal Korea Selatan, sekitar dua pekan lalu seorang rekan lama dari Seoul melempar surat elektronik ke Warta Kota. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, lantas mulailah diskusi tentang wisata heritage. Kemudian dia menulis, "Pemerintah Seoul sedang membangun kafe di jembatan Sungai Han. Bayangkan, secangkir kopi sambil memandang Sungai Han dan air mancur menari. Kalau malam, waaaaah... romantis. Dan ini dibikin untuk menarik turis."
Menarik turis berarti menyedot uang dari kocek para turis agar masuk ke Seoul. Sebuah upaya dan kemauan luar biasa dari pemerintah Seoul untuk mewujudkan janji mereka pada dunia, menampilakan Seoul sebagai Soul of Asia.
Bergerak ke negara tetangga Indonesia, Malaysia, ada Malaka yang tahun lalu masuk dalam daftar World Heritage Sites. Intinya, semua berlomba memelihara dan melestarikan warisan terpenting mereka sekaligus mengelolanya dengan baik.
Pada akhirnya memang, nilai ekonomi heritage begitu terasa langsung bagi kota dan penduduknya. Kafe, restoran, hotel, toko suvenir, pedagang tradisional semua terkena dampak berputarnya uang. Selain itu, keberlangsungan sebuah kota -lengkap dengan peninggalan sejarah dan budaya- terjaga bagi generasi selanjutnya.
Lantas, apa kabar Jakarta? Di usia yang menjelang 500 tahun, dalam rentang waktu yang kurang dari 20 tahun ke depan, Jakarta masih saja berantakan. Sudahkah Jakarta menciptakan citranya sebagaimana kota-kota lain di dekatnya?
Kawasan bersejarah Jakarta yang sedang dalam proses dihidupkan kembali kini terkesan dhedhel dhuwel. Mandek bukan hanya karena masalah pembangunan fisik, dan pembenahan ulang -karena dalam waktu dua tahun sudah babak belur lagi sehingga harus tambal sulam- tapi juga karena tak jelas arah revitalisasi itu. Terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak cakap, minim tindakan.
Padahal, potensi kawasan bersejarah/kota tua Jakarta tak terkatakan. Tengok saja sejarah kota ini. Bermula dari Sunda Kelapa di seputar abad 12 kemudian berganti nama menjadi Jayakarta pada 1527, berubah lagi menjadi Batavia pada 1619 di masa VOC, dan terakhir Jakarta pada 1942.
Sejarah panjang itu bermula di kawasan yang kini disebut kawasan lama atau kawasan bersejarah atau kota tua. Seluruh kawasan tempat di mana Batavia berawal ini ditetapkan sebagai situs dan dilindungi oleh SK Gubernur DKI Jakarta No 475/1993 mengenai bangunan cagar budaya di DKI Jakarta yang harus dilestarikan.
Menurut Candrian Attahiyat, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, sesuai Peraturan Gubernur No 34 Tahun 2006 tentang penguasaan, perencanaan, penataan kota tua, luas kawasan bersejarah atau kota tua Jakarta adalah 846 hektar. Batas sebelah Selatan adalah Gedung Arsip, batas Utara adalah Kampung Luar Batang, batas Timur Kampung Bandan, dan batas Barat di Jembatan Lima.
Di kawasan itu saja ada lebih dari 200 bangunan tua yang dimiliki BUMN, DKI Jakarta, swasta, dan perseorangan. Kondisinya? Lebih banyak yang menunggu ajal.
Selain empat museum milik DKI Jakarta, Museum Sejarah Jakarta yang menempati bekas gedung balai kota di masa Batavia; Museum Wayang; Museum Seni Rupa dan Keramik; dan Museum Bahari, kawasan ini juga memiliki dua museum perbankan, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.
Di seputaran bekas pusat Batavia, ada bangunan Stasiun Jakarta Kota atau Beos yang pembangunannya kelar pada 1929. Menyusur kanal membayangkan awal abad 19 di mana kawasan Kali Besar tenar sebagai pusat bisnis, bisa jadi alternatif lain. Bangunan-bangunan tua di sisi kiri dan kanan kanal menjadi saksi sebagain sejarah Jakarta.
Lebih ke Utara, ada sisa tembok Batavia, ada pula kampung yang seharusnya tetap lestari sebagai Kampung Tugu. Kampung ini masuk sebagai kawasan yang dilestarikan dalam SK Gubernur DKI No 475/1993. Disebut demikian karena, menurut Adolf Heuken, penulis sejarah Jakarta, di kawasan ini ditemukan Prasasti Tugu - peninggalan arkeologis tertua yang membuktikan pengaruh Hindu di Jawa Barat.
Di kampung ini pula para mardijkers - tahanan yang sudah dibebaskan, dimerdekakan oleh Belanda - tinggal. Mereka kebanyakan keturunan Portugis.
Gereja Tugu yang pertama kali dibangun pada 1670-an, masih berdiri di sana. Kampung ini juga menyimpan warisan kuliner seperti dendeng tugu dan pindang srani tugu yang semua sudah punah bersama punahnya Kampung Tugu. Kampung yang harusnya lestari seperti apa adanya, kini hanya menyisakan keroncong tugu. Selebihnya, kini kawasan itu jadi tempat antrean truk konteiner.
Untuk menyasar wisata kuliner, kota tua masih memiliki kawasan yang paling beken. Kawasan itu tak lain adalah Pancoran, Glodok. Ingin ke pulau, bergeser sedikit ke Teluk Jakarta ada Kepulauan Seribu dengan Taman Arkeologi Pulau Onrust - pulau yang sibuk/tak pernah istirahat - yang terdiri atas Pulau Onrust, Cipir, Kelor, dan Bidadari.
Tentu saja Indonesia tak hanya punya Jakarta. Kota-kota lain di Pulau Jawa seperti Banten, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Semarang hingga kota-kota di luar Pulau Jawa menyimpan warisan tersendiri.
Yang perlu diingat bahwa bahkan dari segelas bir, secangkit kopi atau teh, sepotong es krim, semangkuk soto, atau patahan tembok tua, kita bisa kembali ke ratusan bahkan ribuan tahun lalu.
Preserving our past, building our future... Mulailah detik ini.
Harry Poeze : Revisi Sejarah Indonesia!
INILAH.COM, Yogyakarta - Berbagai fakta dalam penulisan sejarah yang ada di Indonesia dinilai belum terungkap secara utuh. Karena itu, buku sejarah Indonesia disarankan untuk direvisi.
"Banyak buku sejarah belum memuaskan karena banyak fakta yang belum diungkapkan," cetus Penulis asal Belanda Harry A Poeze saat peluncuran buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia Jilid 2, di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Senin (24/8).
Kondisi penulisan sejarah yang belum memuaskan itu, menurut dia, semakin terasa saat dirinya akan menyusun buku tentang Tan Malaka. "Saya harus mewawancarai orang-orang di sekitar Tan Malaka yang menjadi saksi sejarah sebagai dasar penelitian karena surat kabar dan majalah sudah tidak ada lagi," tuturnya.
Ia berharap, jika masih ada fakta sejarah yang belum diungkapkan, pemerintah perlu segera mencatatnya dan memberitahukannya kepada masyarakat untuk diperiksa dan dinilai. Buku Tan Malaka Jilid 2 adalah rangkaian dari enam jilid cerita tentang Tan Malaka yang ditulis Poeze dalam Bahasa Belanda setebal 2.200 halaman.
Sedangkan dosen jurusan sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Julianto Ibrahim menilai karya yang dihasilkan Poeze luar biasa. Karena pembaca terserap dalam alur waktu perjalanan Tan Malaka.
"Tulisan yang ada tidak hanya menggambarkan hari per hari, tetapi sudah jam demi jam, sehingga buku ini bisa dijadikan referensi sejarah yang baik karena memuat fakta yang banyak," ungkap Julianto.
Pendapat serupa juga diungkapkan Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Cornelis Lay. Ia menyatakan dirinya memperoleh gambaran baru mengenai sosok Tan Malaka.
"Dari berbagai tulisan yang ada, Tan Malaka sering digambarkan sebagai sosok perenung yang mengisolasikan diri dari realitas politik, tetapi melalui tulisan Poeze saya mendapatkan gambaran Tan Malaka sebagai sosok yang mengisi setiap denyut pergerakan Indonesia," ujarnya.
Dalam buku tersebut digambarkan Tan Malaka adalah sosok dengan pemikiran revolusioner. Salah satunya adalah berusaha memperoleh kemerdekaan Indonesia 100 persen, bukan hanya mengandalkan diplomasi.
Ia menyatakan, meski buku tersebut mengacu pada sosok pria kelahiran Minangkabau Sumatra Barat, secara garis besar buku tersebut berisi mengenai revolusi Indonesia.
Cornelis Lay juga mengagumi kekayaan data dalam buku tersebut. Hal tersebut penting karena dapat menjadi dasar dalam mendefinisikan kembali proses perkembangan politik Indonesia dari awal.
"Poeze memberikan sumbangan yang luar biasa bagi ilmu pengetahuan Indonesia dan juga bagi pemahaman yang lebih baik tentang Indonesia," jelas Cornelis. [*/jib]
Raden Saleh dan Revolusi 1848
| Raden Saleh dan Revolusi 1848 |
Raden Saleh dan Revolusi 1848
LUKISAN berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh (1807-1880) menyimpan sejumlah tanda tanya. Lukisan ini diselesaikan tahun 1857, hampir 30 tahun setelah perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830.
Enam Alasan dan Cara Membuat Nama Pena
Oleh: Udo Yamin Majdi
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nama Pena. Ini salah satu tema yang sering ditanyakan oleh teman-teman, baik dalam Pelatihan Jurnalistik, Sekolah Menulis SMART, milis wordsmartcenter@yahoogroups.com, blog www//http:udoyamin.multiply.com, maupun lewat e-mail pribadi saya, udoyamin_majdi@yahoo.com. Oleh sebab itu, ketika saya kembali mengasuh acara Sekolah Menulis On-Air di radio Community Jerman stasiun 2 Cairo, tema tersebut menjadi tema perdana dari sembilan pertemuan, setiap hari Kamis pukul 19:00 waktu Cairo, kecuali minggu ke-3 acara BOLPEN (Bincang Online Kepenulisan) bekerjasama antara Word Smart Center, FLP Jerman, dan Radio Comunnity.
Saya sempat menanyakan kepada beberapa orang: Anda kenal Etty Hadiwati Arief dan Heri Hedrayana Haris? Mereka hampir semuanya geleng kepala. Tidak tahu. Namun ketika saya tanyakan: apakah kenal dengan Pipiet Senja dan Gola Gong? Mereka pun menjawab, "Ya jelas kenal dong!" Setelah saya jelaskan, bahwa dua nama pertama, itu adalah nama asli dari dua penulis tersebut. Nah, dua nama di akhir, itu kita kenal dengan nama diri atau nama asli, sedangkan dua nama akhir, kita sebut nama pena.
Kita memang lebih mudah menunjukan nama pena dibandingkan dengan mendefinisikannya. Apalagi, nama pena ini, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ketiga belum termaktub. Begitu pun di wikipedia berbahasa Indonesia, belum ada. Yang ada pada wikipedia berbahasa Melayu. Di sana disebutkan bahwa nama pena adalah nama yang dipakai oleh seorang penulis yang bukan nama aslinya karena alasan tertentu. Kalau demikian, nama pena versi Bahasa Melayu semakna dengan "nama samaran" dalam KBBI.
Terlepas, apakah kita setuju atau tidak dengan definisi di atas, yang jelas, setidaknya membantu kita untuk memahami makna nama pena. Walaupun, terus terang, secara pribadi, saya tidak sependapat bahwa nama pena itu harus berbeda sama sekali dengan nama asli. Sebab, dalam kenyataan, saya sering menjumpai nama pena itu tetap mempertahankan nama aslinya atau hanya sebatas singkatan dari nama asli.
Misalnya, Mohamad Fahri memakai nama pena Fahri Asiza, Hamka nama pena dari nama asli singkatan Haji Abdul Malik Amrullah, atau gabungan dari singkatan dan nama asli, misalnya Muhammad Ainun Nadjib menjadi Emha Ainun Nadjib. Menurut saya, nama pena adalah nama yang dipakai oleh seorang penulis ketika mempublikasikan karyanya kepada khalayak ramai, baik itu nama samaran, nama singkatan, maupun gabungan dari keduanya.
Mengapa para penulis memakai nama pena? Lagi-lagi, tidak mudah menjawabnya, sebab setiap orang punya alasan masing-masing. Di sini kita hanya mendiskusikan tujuh alasan seseorang memakai nama pena berikut ini:
1. Karena kurang percaya diri. Rasa kurang pede ini, bisa berkaitan langsung dengan nama aslinya, karyanya, maupun dengan spesialisasi ilmunya. Teman saya, memakai nama pena sebab nama asli terkesan kampungan dan menunjukan suku tertentu. Ada lagi memakai nama pena, sebab merasa tulisannya belum begitu baik dan ia memposting tulisan di berbagai milis dengan nama pena berbeda-beda semata-mata ingin memperoleh masukan dari banyak orang tanpa mereka mengetahui siapa penulisnya. Ada juga teman saya yang kuliah di Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir memakai nama pena sebab antara spesialisasi ilmu yang pelajari jauh berbeda dengan novel dan cerpen yang ia tulisi.
2. Karena ingin menjaga keamanan diri. Tidak sedikit penulis yang harus meringkuk di balik jeruji besi, bahkan harus menyerahkan nyawanya di tiang gantungan gara-gara dari sebuah tulisan. Misalnya apa yang terjadi pada Sayyid Quthub. Beliau keluar masuk penjara dan akhirnya dihukum gantung oleh penguasa dengan tuduhan ingin melakukan kudeta.
Maka tidak sedikit pula, para penulis yang tidak mau mengambil resiko harus dipenjara, namun tidak tahan menyuarakan hati nurani. Akhirnya mereka memilih memakai nama pena yang jauh sekali dengan nama penanya.
Atau juga ada yang karena ingin aman dari penolakan keluarganya. Misalnya Binti Syati', nama pena dari Aisyah Abdurrahman. Mufassirah (ahli tafsir wanita) asal Mesir itu memakai nama pena, sebab tidak ingin mendapatkan halangan dari bapaknya, ketika menulis sastra atau esai-esai yang sangat berbeda dengan harapan orang tuanya.
3. Karena nama sama dengan penulis lain. Bagi Anda yang rajin membaca buku tentang cinta atau aktif di milis kepenulisan, besar kemungkinan kenal dengan nama ini: M. Shadiq Mustika. Tahukah Anda nama asal usul nama pena ini? Pada dua buku pertama, beliau masih menggunakan nama asli Muhammad Shodiq. Namun, belakangan beliau sadari, ternyata ada dua orang penulis lain yang memakai nama yang sama. Sehingga beberapa orang salah duga, buku yang ditulis oleh orang yang namanya sama dengannya, mereka sangka beliau yang menulisnya. Untuk membedakan dengan dua penulis lain itu, beliau memakai nama pena: M. Shodiq Mustika. Tambahan nama Mustika ini singkatan dari Muhammad Shodiq bin Tamsir bin Ismail bin Khusban bin Adam.
4. Karena tidak marketable. Seorang teman, sebut saja namanya, Asep Surya. Dia menulis buku dengan tema keislaman, sesuai dengan kuliahnya di Universitas Al-Azhar Mesir. Sudah beberapa buku yang dia tulis, namun sulit diserap oleh pasar. Lalu, ketika dia menulis buku tentang Do'a, dia ubah namanya menjadi Ibnu Utsaimin. Ternyata bukunya laris manis.
Mengapa ketika dia memakai nama Ibnu Utsaimin bukunya menjadi laris? Wallahu a'lam. Sebelum saya menjelaskan perbedaannya, saya ingin bertanya kepada Anda, ketika membaca Asep Surya, apa yang terbetik di benak Anda? Sebaliknya, ketika Anda membaca Ibnu Utsaimin, apa yang muncul di otak Anda?
Nama pertama mengingatkan kita akan teman-temannya asal Sunda. Sebab, orang Sunda banyak sekali memakai nama Asep. Sedangkan nama kedua, mengingatkan kita kepada para nama ulama dan ilmuan besar dalam Islam, diantaranya Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Ibnu Jauzi, Ibnu Rusydi, dan Syaik Utsaimin.
Nah, demikian pula yang terjadi kepada para pembaca awam. Ketika ada dua buku sejenis dengan tema yang sama, mereka lebih memilih buku dengan nama orang Arab dibandingkan dengan nama orang Sunda. Sebab, mental orang Indonesia, selain beranggapan bahwa buku yang ditulis oleh orang luar negeri lebih bagus dibandingkan buku ditulis oleh orang Indonesia, juga mereka memandang sesuatu yang berbau Arab atau Timur Tengah lebih Islami dibandingkan dengan yang ada di Indonesia. Jadi wajar buku teman kita itu laris manis, sebab para pembaca mengira sang penulis berasal dari Timur Tengah. Dengan kata lain, nama Ibnu Utsaimin lebih menjual dari nama aslinya Asep Surya.
5. Karena ingin melakukan personal branding. Sebenarnya alasan ini, sangat erat dengan alasan sebelumnya. Hanya saja bedanya, kalau sebelumnya ikut "trend pasar", sedangkan alasan ini ingin menciptakan pasar sendiri, alias trend setter.
Di sini, satu hal yang harus kita fahami bahwa saat ini dunia menulis dan perbukuan bukan semata-mata untuk menyuarakan kebenaran, sarana berbagi, atau memperjuangkan idealisme semata, melainkan menjadi sebuah industri atau bisnis. Oleh sebab itu kita perlu memahami strategi pemasaran, merketing.
Berbicara tentang dunia marketing, kita akan melirik master pemasaran di Indonesia, Hermawan Kertajaya. Lewat buku serialnya, beliau memperkenalkan Sembilan Elemen Pemasaran. Saya tidak akan mengurai sembilan elemen itu, melainkan hanya memberikan contoh tiga elemen yang berkaitan dengan tema kita. Menurut beliau, dari sembilan elemen itu, bisa kita kerucutkan pada tiga elemen ini: positioning, differentiation, dan brand.
Dunia kepenulisan atau perbukuaan itu ibarat samudra. Di tengah samudra itu ada beberapa benua, setidaknya ada dua benua besat, yaitu benua fiksi dan benua non-fiksi. Di benua fiksi ada pulau novel, pulau cerpen, pulau novelet, pulau cerbung, dan seterusnya. Sedangkan di benua fiksi, (1) ada pulau faktual yang terbagi menjadi beberapa daerah, ada daerah berita, ada daerah featuter, ada daerah laporan, dst; (2) ada pulau opini terbadi menjadi beberapa wilayah: ada wilayah opini, ada wilayah kolom, ada wilayah esai, ada wilayah biografi, ada wilayah autobiografi, ada wilayah memoar, dst; dan (3) pulau ilmiah, ada district ilmiah akademis (makalah, paper, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian) dan ada district ilmiah pupuler (artikel ilmiah populer, dst) Dan setiap daerah, wilayah, atau district ini, memiliki beberapa rumah: dari segi jenis kelamin, ada rumah perempuan dan ada rumah laki-laki; dari segi umur: ada rumah balita; rumah anak-anak, rumah remaja, ada rumah dewasa, ada manula, dst.
Tentu saja kita tidak cukup waktu untuk memasuki semua rumah tersebut. Begitu pula hal dalam dunia tulis menulis, tidak semua jenis, bidang, dan sasaran pembaca buku, bisa kita tulis, melainkan kita harus memilih salah satu atau beberapa saja. Misalnya, memilih menjadi penulis jenis non-fiksi bidang keislaman. Bidang keislaman ini masih banyak lagi cabangnya, ada tentang Al-Quran, Al-Hadis, Fiqh, Sirah, Filsafat, Dakwah, dan seterusnya. Tema Al-Quran pun masih banyak sekali ranting keilmuan yang bisa kita ambil sebagai spesialisasi kita, misalnya tafsir, asbabun nuzul, qira'ah, i'rab, tajwid, mufrodat, dst. Dari tafsir itu dibagi-bagi lagi, ada tafsir maudhu'i (tematis) dan ada tafsir tahlily (tafsir analitis). Selanjutnya, kita dihadapan dengan pilihan, siapa sasaran pembacanya, untuk remaja atau dewasa. Misalnya memposikan diri sebagai penulis tafsir maudhu'i untuk remaja.
Setelah kita memposisikan diri sebagai penulis tafsir tematis untuk remaja, maka kita perlu melihat karya-karya para penulis tafsir tematis untuk remaja yang lainnya. Kira-kira apa yang belum mereka singgung, atau apa yang perlu kita tambahkan dalam karya kita sehingga buku kita berbeda dengan mereka. Misalnya, bedanya buku kita selain memakai bahasa remaja, juga ada gambar bahkan peta daerah-daerah yang disebutkan dalam ayat-ayat yang kita tulis.
Jika positioning dan diffrentiation itu kita lakukan, maka akan muncul brand, alias merek. Ketika kita orang mencari tafsir tematis untuk remaja penuh dengan gambar dan peta, orang akan ingat kita. Sebaliknya, ketika orang membaca nama kita, maka akan ingat dengan buku-buku kita.
Itulah yang terjadi pada penulis-penulis best seller yang kita kenal. Misalnya, Mohammad Faizil Adhim. Setiap saya ingat nama beliau, maka saya akan ingat buku tentang pernikahan. Sebaliknya, ketika membicarakan buku pernikahan, maka saya ingat nama beliau. Padahal, buku yang tentang pernikahan yang saya baca, bukan hanya karya beliau saja. Mengapa hal ini terjadi? Karena menurut saya, Mas Fauzil, telah berhasil memposisikan dirinya sebagai penulis buku pernikahan untuk para remaja, dengan gaya bahasa yang berbeda, dan beliau komitmen menggarap tema ini.
Kembali dengan personal branding tadi, coba Anda perhatikan karya-karya Mas Fauzil. Ketika menulis tema pernikahan, beliau memakai nama Mohammad Fauzil Adhim, ketika menulis buku tentang anak beliau memakai nama –kalau tidak salah-- Abu Fikri, dan ketika menulis buku tentang menulis "Dunia Kata" beliau memakai nama M. Fauzil Adhim. Wallahu a'lam, apakah Mas Fauzil membedakan nama pena sesuai dengan jenis dan tema karyanya itu personal branding atau tidak, yang jelas bagi saya, itulah yang saya maksud dengan alasan membangun merek diri.
6. Karena alasan negatif dan tidak bertanggung-jawab. Saya melihat hal ini di beberapa milis yang saya ikuti. Ada beberapa orang, sangat rajin memposting tulisan atau menanggapi tulisan orang lain. Namun sangat sayang, isi postingan itu --apalagi menjelang kampanye 2009 ini-- sering menjelek-jelek kelompok, golongan, partai tertentu. Mereka sangat bahagia bila melihat kekurangan kelompok, golongan, partai lain. Mereka sebarkan di milis-milis. Namun ketika dari kelompok yang mereka serang itu memposting hal-hal positif tentang mereka sebagai penyeimbang, mereka langsung menuding: ini kampanye terselubung!
Dan saya perhatikan, selain ID e-mail mereka tidak mencermin identitas mereka, juga nama mereka disamarkan, misalnya "Sang Pembela", "Sang Pejuang", dan seterusnya. Menurut saya, itu termasuk nama pena. Mereka lakukan hal itu, agar mereka bebas untuk menulis apa saja tentang orang lain, meskipun itu sering melukai orang lain. Mereka menyangka apa yang mereka lakukan itu tidak ada yang tahu, padahal Allah tidak pernah luput menyaksikannya dan malaikat pun senantiasa mencatat perbuatan mereka. Semoga kita terjauh dari alasan membuat nama pena dengan niat negatif dan tidak bertanggung-jawab ini.
Setelah kita menjawab pertanyaan, apa dan mengapa, ada satu pertanyaan lagi yang perlu kita perbincangkan, yaitu bagaimana cara kita membuat nama pena? Sebenarnya, tidak ada aturan tertentu cara kita membuat nama pena. Setiap orang bebas memilih caranya masing-masing. Adapun kiat-kiat atau tips berikut ini hanya sebatas saran sebagai bahan pertimbangan saja. Kalau memang bermanfaat, silahkan Anda pergunakan. Namun jika tidak berkenan, saya mohon maaf sudah menyita waktu Anda membacanya.
Baik, mari kita mulai cara menulis nama pena di bawah ini:
1. Buatlah nama pena yang bermakna positif dan mencerminkan idealisme Anda. Membuat nama pena, tidak jauh berbeda seperti kita memilih nama asli. Sebab nama, selain identitas --dalam pandangan Islam-- sebagai do'a dan panggilan di akhirat nanti. Sangat keliru pernyataan Shakespear bahwa "apa arti sebuah nama". Nama sangat berarti, sehingga Nabi Muhammad Saw sampai menggati nama sahabatnya, dari bermakna negatif ke makna positif. Tentu saja banyak sekali nama bermakna positif itu, baik itu kita ambil dari nama nasab (keturunan): nama bapak, kakek, atau buyut, atau dinisbahkan kepada anak: Abu Ahmad, marga, kampung halaman atau tempat tinggal (dalam bahasa Arab hal ini disebut laqab atau kunyah), maupun nama baru pilihan kita,
Selain bermakna positif, juga mengingatkan kita akan sebuah idealisme yang akan kita perjuangkan. Menulis, bukan sekedar merangkai kata berbunga-bunga dan penuh warna, melainkan memang ada sesuatu yang harus kita sampaikan: berupa kebenaran, ilmu, informasi, atau berbagi pengalaman. Sebagai muslim, tentu semuanya itu bermuara kepada mardlatillah. Inilah yang membuat Kang Heri Hendrayana memakai nama Gola Gong. Sewaktu ke Mesir, beliau sempat menjelaskan bahwa "GOL" itu untuk mengenang saat tulisannya dimuat di majalah HAI, "A" singkatan dari Allah untuk menginngatkan pesan ibunya bahwa menulis harus untuk mencari ridla Allah, sedangkan "GONG" artinya terus bergema sampai kapanpun.
2. Sesuaikan nama pena dengan jenis tulisan dan target pembaca. Sebagaimana telah saya singgung sebelumnya, bahwa salah satu strategi agar buku kita diterima pembaca adalah kita harus memilih jenis tulisan dan menentukan target pembaca.
Jika kita telah menentukan dua hal itu, maka kita akan lebih mudah membuat nama pena. Sebab, antara satu jenis tulisan dengan jenis tulisan lainnya, atau sasaran pembaca umur tertentu akan berbeda dengan umur yang lainnya. Misalnya, bila kita memilih menjadi penulis novel romantis maka buatlah nama pena yang romantis, bila novelnya komedi, maka buat nama yang lucu, atau novel detektif, pilihlah nama yang menunjukan sosok cerdas, dan seterusnya.
3. Usahakan nama pena singkat. John Griffith --ahli matematik-- mengatakan bahwa setiap manusia normal akan mampu mengingat satu milyar, 1.000.000.000.000 (10 pangkat 11). Sedangkan Jonh von Neumann --ahli teori informasi-- menyebutkan bahwa kita mampu mengingat sampai 280 kuintiliun bit, 280.000.000.000.000.000.000. bit (280 diikuti dengan 18 nol). Setiap bit mewakili satuan terkecil informasi, alias suku kata (lafadz), misalnya "a", "i", "ya", "oh", "ih", dst. Luar biasa bukan, otak kita?
Meskipun daya tampung otak kita sangat dahsyat, namun tidak menentukan baik atau tidaknya ingat kita. Yang menentukannya adalah proses kita mempersepsi memori. Ada dua macam memori: (1) memori ikonis (al-abshar) untuk informasi lewat visual/penglihatan; dan (2) memori ekosis (as-sam'a) untuk informasi lewat audio/pendengaran. Menurut para ahli komunikasi, apa yang kita lihat dan dengar sekilas maksimal 7 bit. Lebih efektif lagi 3-4 bit saja.
Dengan demikian, ketika kita membuat nama pena kata dasar, efektifnya 3-4 dasar. Contohnya "Al-Hamasah" nama pena Helvy Tiana Rosa ketika awal menulis, diantaranya karyanya yang memakai nama tersebut adalah “Mc Alliester” dan “Akira”. Atau Jonru nama pena Jonriah Ukur, founder penulislepas.com. Atau Hernowo, penulis Mengikat Makna. Bisa juga dua kata, seperti Arul Khan dan Syamsa Hawa. Ada yang bilang maksimal 3 kata, misalnya Udo Yamin Majdi. (Hehehe, bukan narsis lho!)
Udo Yamin Majdi itu nama pena, bukan nama asli. Banyak yang tidak tahu, bahwa "Udo" itu tambahan dan bermakna "Kakak", seperti Aa di Sunda. Maka kurang tepat jika ada yang memanggil saya "Mang Udo", "Abang Udo", "Mas Udo", "Kak Udo", "Ustadz Udo", dst. Cukuplah panggil saya "Udo", itu udah sopan. Nama asli saya Yamin Efendi. Saya mencantumkan nama Udo itu ada dua alasan: (1) agar saya selalu ingat dengan visi saya untuk membangun kampung halaman; dan (2) agar tidak ada jarak atau akrab dengan siapa saja. Sedangkan Majdi nama bapak saya.
Makanya, pada awal-awal saya menekuni dunia kepenulisan, saya cantumkan nama panggilan, nama asli, dan nama bapak saya, sehingga dalam kumcer Bara Musa di Taman Terpasung (Pustaka Umat, 2002) dan Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Lewat Al-Quran (Qultum Media, 2007), saya mencantumkan nama Udo Yamin Efendi Majdi.
Saat ini, saya sendiri geleng kepala dan tertawa: kok bisa-bisanya saya membuat nama pena seperti kereta api, panjaaang gitu lho! Namun setelah saya survey kecil-kecilan kepada teman, ke pembaca, atau penulis senior di Indonesia: dari keempat kata itu, mana yang paling enak mereka dengar dan mudah mereka ingat? Ternyata rata-rata menjawab "Udo Yamin". Berarti tinggal dua pilihan, apakah Efendi atau Majdi? Setelah saya renungkan, agar saya ingat dengan ortu dan ingin ambil berkah, maka saya cantumkan Majdi, maka jadilah Udo Yamin Majdi.
4. Enak didengar dan mudah diingat. Saat mendengar nama Asma Nadia, apa yang Anda rasakan? Enak bukan? Ini salah satu contoh nama pena yang enak didengar. Walaupun nama asli Mbak Asma juga enak kita dengar, Asmarani Rosalba, namun bagi saya pribadi --ma'af ya Mbak Asma-- jauh lebih sulit untuk saya ingat dibandingkan dengan Asma Nadia. Mengapa terdengar indah? Sebab, huruf akhirnya memakai huruf hidup "a", jadi terdengar puitis.
5. Nama pena hendaknya mudah diucapkan dan marketable. Saya ambil contoh Kinoysan, nama pena Ari Wulandari. Enak di telinga, dan menjual, saya merekan sang penulis berasal dari Jepang, bukan orang Indonesia. Bandingkan, misalnya nama pena ini Markham Arbeau. Memang menjual, sebab gabungan dari dua penulis terkenal di Barat, namun bagi lidah orang Melayu atau orang Indonesia, ini sulit untuk kita ucapkan.
6. Sebaiknya memakai satu nama pena saja dan jangan sering berubah. Ada seorang teman yang sangat produktif menulis. Dia mengaku bahwa memiliki nama pena sangat banyak, sampai 15 nama pena. Secara bisnis atau materi, bisa jadi ini lebih menguntungkan. Namun perlu kita ingat, uang bukan segala-galanya. Ada hal lain yang lebih tinggi dari uang, merasa "bermakna" antara sesama manusia. Bagaimana kita akan bermakna dan merasa dekat dengan para pembaca, kalau kita seperti bunglon, sehingga mereka sulit untuk mengidentifikasi diri kita.
Mas Ali Muakhir sempat cerita di MPnya, bahwa beliau merasa terharu, ketika ada pembaca merasa bahagia bertemu dengan Mas Ali sebab ibu itu sangat suka dengan karya-karya beliau. Nah, apakah mungkin kita akan merasakan hal itu, jika nama yang kita cantumkan pada buku kita selalu baru? Jadi, memilih satu nama pena, bukan untuk populeritas, melainkan agar ada emosional connecting antara kita sebagai penulis dengan para pembaca kita. Istilah dalam Islam, terbangun silaturahmi. Bukankah silaturahmi ini bisa memanjangkan umur (bisa bermakna usia kita dipanjangkan, bisa jika bermakna kita selalu dikenang seperti permintaan nabi Ibrahim, waj'alli lisana shidqin fil akhirin [Ya Allah, jadikah aku buah tutur yang baik bagi generasi setelahku) dan diluaskan Allah rizki?
Masih banyak yang ingin saya sampaikan, namun sayang saya harus mengakhiri diskusi kita ini. Semoga apa yang saya sampaikan, bermanfa'at bagi Anda. Minimal menjadi inspirasi bagi Anda untuk merenungi nama pena atau identitas yang selama ini Anda pergunakan dalam menulis.
Satu hal yang penting perlu saya sampaikan sebelum kita berpisah: nama pena ini bukan segala-galanya agar buku kita dibaca oleh banyak orang. Ini hanya sebatas ikhtiar saja. Sedangkan buku kita best seller atau tidak, itu sangat tergantung kesungguhan kita melahirkan katya berkualitas dan keseriusan kita dalam berdo'a.
Demikian, mohon ma'af atas segala kekurangan, terutama jika Anda merasa waktu terbuang percuma, gara-gara membaca tulisan yang terlalu panjang ini. Tegur sapa, kritikan, saran, masukan, atau tanggapan apapun dari Anda, sangat saya butuhkan, agar saya bisa memperbaiki tulisan-tulisan berikutnya. Tolong luruskan, bila ada data yang salah dalam tulisan sederhana ini. Minimal, ceritakan pengalaman Anda ketika memilih nama pena, baik itu alasannya maupun caranya, agar tulisan ini lebih berbobot.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Mesir, 28 Februari 2008
------------------------------------
Notes :
Nama Pena saya di MP cukup "cahPamulang" saja tidak terlalu menjual karena memang tidak jualan apapun, tapi dapat berfungsi sebagai Promosi Daerah Tempat Tinggal, Tempat berteduh tempat besarin anak-anak.
Tahu Pamulang? Belum?
:(

