Tampilkan postingan dengan label adam air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adam air. Tampilkan semua postingan

Video Adam Air yang heboh itu hilang dari Channel Youtube

Mungkin karena ternyata mendapat reaksi keras dari Pemerintah makan video rekaman suara pilot Adam Air yang jatuh itu dihapus dari channel dia.
Siapa Dewo16?
--------------------------------------




[Adam Air] Inilah Rekaman Di Kokpit Adam Air Versi KNKT

Minggu, 3 Agustus 2008 | 10:52 WIB

JAKARTA, MINGGU - Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga sudah memublikasikan rekaman percakapan pilot Adam Air, Kapten Revri dan kopilot Yoga, yang jatuh di Perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007 silam. Inilah percakapan kedua orang tersebut dalam kokpit.

Transkrip rekaman cockpit voice recorder (CVR) itu dipublikasi dalam sebuah laporan lengkap tentang peristiwa naas itu setebal 98 halaman. Nomor laporan KNKT/07.01/08.01.36. Laporan ditulis dalam bahasa Inggris dan dimuat pada situs www.dephub.go.id/knkt


Sebagai bahan perbandingan dengan rekaman yang beredar lewat internet, berikut adalah petikan percakapan pilot dan kopilot sesaat sebelum pesawat itu pecah menghantam laut.

Waktu percakapan dalam transkrip 06:56:55.2 Universal Time Coordinate (UTC) atau sekitar pukul 13.56 WIB.

Pilot (P) : Taruh di IRS attitude
Kopilot (K) : Oke Kep
P : Masukkan
P : Masih fail (gagal)
K : Fail
P : Ada fault. Pilih attitude
K : mengalihkan ke mode IRS
P : Attitude left
K : Left
P : Setelah ini heading set ya, masukin ya..

Suara autopilot mati 4 detik berikutnya.

Kemudian lanjutan transkrip yang diambil antara 06:47:10 UTC-06:50:21 UTC atau pukul 13.47 WIB-13.50 WIB. Dalam percakapan ini terungkap IRS tidak berfungsi.

P : Lihat QRH. Kalau IRS nomor 2 mati, lihat ada apa.
K : IRS
P : Navigasi, FMS (Flight Management System, komputer di cockpit yang berfungsi mengatur penerbangan dari pesawat tersebut), lihat FMS-nya.
K : IRS fault
P : Eleven four, itu nggak fault
K : Itu nggak fault
P : IRS-nya salah
K : Tapi faultnya harus dinyalakan Capt
P : Iya, itu nggak fault
K : Yes, on the ground flight
K : Yang satu ini on the ground
K : IRS fault eleven four
P : Itu nggak fault
K : No.. no.. no..

Ada kata-kata 'flight' yang terekam, namun tidak bisa diidentifikasi siapa yang mengucapkannya.

K : Yang left bagus
P : Ya, itulah kenapa
P : Bisakah kita mematikan salah satu IRS?
K : Sepertinya nggak perlu
P : Nggak ada apa-apa
P : Nggak ada apa-apa
K : Radial, two nine zero, yup

06:58:10.6 UTC atau sekitar pukul 13.58 WIB, suara peringatan bank angle berbunyi 4 kali.

P : Taruh NAV lagi, taruh NAV lagi
K : Yes
P : Taruh di NAV lagi, taruh NAV lagi

Ada suara peringatan altitude deviation

K : NAV
P : Jangan dibelokin! Ini heading kita
K : Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan! Hentikan!

Kemudian pukul 06:59:05 UTC atau pukul 13.59 WIB terdengar suara berdebam keras.(*)


Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kata-kata Terakhir Pilot AdamAir

Kata-kata Terakhir Pilot AdamAir
--------------------------------------

Rabu, 26 Maret 2008 | 07:12 WIB

JAKARTA, RABU-Misteri jatuhnya pesawat AdamAir rute Jakarta-Surabaya- Manado di perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007, terjawab sudah. Awalnya, alat navigasi pesawat atau yang dikenal sebagai Internal Reference System (IRS) rusak. Menteri Perhubungan, Jusman Syafi'i Djamal menegaskan hal itu kepada wartawan di gedung Departemen Perhubungan, Selasa (25/3) siang. Kesimpulan tersebut diketahui setelah Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membaca laporan kejadian prakecelakaan dari cockpit voice recorder (CVR).

Menurut anggota KNKT, Mardjono, kedua awak pesawat (pilot dan kopilot) terkonsentrasi memperbaiki kerusakan ISR dan lupa memerhatikan instrumen lain. Mereka tidak menyadari pesawat miring dan turun mendekati laut. Mereka baru sadar dua menit sebelum pesawat pecah menabrak laut. "Sudah terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 hilang dan dianggap tewas," ujar Mardjono.

Mardjono menerangkan, kerusakan IRS terjadi dalam 13 menit terakhir penerbangan, sebelum pesawat jatuh. Kerusakan ini mengalihkan perhatian pilot dan kopilot dari flight instrumen (instrumen penerbangan). Hasil rekaman digital flight data recorder (DFDR) menunjukkan, awalnya pesawat terbang dengan bantuan instrumen kemudi otomatis (autopilot). Namun, penanganan terhadap IRS yang dilakukan tidak sesuai dengan buku panduan, sehingga kemudi otomatis pesawat menjadi tidak berfungsi. Pesawat pun mulai miring.

"Karena kemiringannya hanya satu derajat per detik, jadi tak terasa. Autopilot disconnect (kemudi otomatis tidak berfungsi) dan alarm berbunyi: not..not..not. Mereka sempat mematikan alarm tersebut karena terlalu fokus pada IRS. Ini biasa. Jadi, tidak bisa dikatakan human error, hanya kinerjanya yang error. Kinerja sebagai manusia darat yang harus terbang. Kalau di darat, prosedur mereka sudah benar. Tapi, berbeda halnya jika dia berada di udara," kata Mardjono.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi menambahkan, setelah pesawat miring ke kanan melewati 35 derajat, alram berbunyi. Pesawat terus miring hingga 100 derajat dan situasi sudah tidak bisa dikendalikan lagi. "Pesawat miring daya angkatnya memang kurang. Padahal dia (pilot) melakukan recover baru setelah hidung pesawat nunduk 60 derajat. Apalagi dengan kecepatan yang mencapai 0,926 kecepatan suara. Karena itu, pecahan badan pesawat terbesar yang ditemukan hanya dua meter. Saat menabrak laut itulah, pesawat terpecah," jelasnya.

Pesawat dengan bernomor penerbangan DJHI 574 itu terbang dari Bandara Juanda, Surabaya (1/1) 2007 pukul 05.59. "Tidak ada tanda-tanda atau bukti pilot dapat mengendalikan pesawat secara tepat dan seksama, sesudah alrm berbunyi dan pesawat melewati 35 derajat ke kanan," ujar Tatang Kurniadi.

Pilot pun tidak sempat menaikkan pesawat karena posisi pesawat sudah miring. Akibatnya, pesawat menghujam ke laut dengan kecepatan 1.000 kilometer per jam. Yang memilukan, terdengar suara kata-kata terakhir pilot Revri Agustian Widodo kepada kopilotnya Yoga. "Jangan dibelokin, jangan dibelokin," setelah itu tak diketahui nasib pesawat AdamAir dan seluruh penumpangnya.(Warta Kota/Get)



Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Beredar Rekaman Pembicaraan di "Kokpit AdamAir"

Jumat, 1 Agustus 2008 | 17:11 WIB


JAKARTA, JUMAT -
Di internet beredar rekaman pembicaraan yang disebut-sebut sebagai
rekaman terakhir pembicaraan di kokpit pesawat naas AdamAir dengan
nomor penerbangan KI 574 tujuan Surabaya-Manado yang jatuh di
perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007 silam.


Rekaman pembicaraan ini tersebar secara berantai melalui e-mail dan salah satunya masuk ke inbox kompas.com. Entah, sejak kapan rekaman ini beredar. Juga tidak diketahui secara pasti benar atau tidaknya rekaman ini.

Rekaman
berdurasi 5:38 menit itu merupakan percakapan dua orang lelaki dengan
latar belakang suara gemuruh di sepanjang percakapan. Seorang lelaki
dalam percakapan itu dipanggil "Kep" (Captain). Lelaki yang satunya
lagi tidak bisa diidentifikasi. Namun, tertangkap dengan jelas dari
nada suaranya, lelaki yang dipanggil "Kep" adalah pimpinan dari lelaki
yang satunya.

Di awal percakapan mereka membicarakan tentang
cuaca yang buruk dan ketidakjelasan posisi. Pilot kemudian memutuskan
untuk terbang menggunakan sesuatu yang disebutnya "attitude".

Menjelang
akhir rekaman, kedua orang itu banyak menyebut angka. Radio komunikasi
tidak putus-putus berbunyi. Di akhir percakapan, nada suara kedua orang
itu terdengar panik. Suara lelaki yang dipanggil "Kep" berulang kali
berteriak, "Coba naik...Coba naik...."

Lalu suara gemuruh
terdengar lebih keras dan kedua orang itu berulang-ulang menyebut asma
Allah, "Allahu Akbar...Allahu Akbar..." Kemudian terdengar suara
seperti benturan diikuti teriakan asma Allah yang panjang dan rekaman
itu berakhir.

Mirip?

Kalau dicermati,
rekaman percakapan ini mirip dengan persoalan yang dihadapi almarhum
Kapten Pilot Refri A Widodo dan kopilot Yoga di kabin pesawat naas itu.
Berdasarkan penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi
(KNKT) pesawat yang membawa 96 penumpang ini awalnya dihantam cross wind (angin yang tiba-tiba muncul dari arah samping pesawat) yang membuat pesawat keluar dari lintasan. Pilot kehilangan posisi.

Berdasarkan rekaman pembicaraan antara kokpit AdamAir dengan Air Traffic Control (ATC)
Makassar pesawat diduga keluar jalur lintasan penerbangan dari
Surabaya-Manado. Kokpit AdamAir sempat meminta ATC Makassar memandunya.


Ketika pilot melaporkan adanya cross wind, radar
ATC Makassar menangkap pesawat bergeser ke luar lintasan ke arah barat.
ATC lantas meminta pesawat mengubah arah. Namun, sebelum mencapai jalur
pesawat sudah hilang dari radar.

Sementara itu, berdasarkan
analisis KNKT, pesawat yang terbang pada hari pertama tahun 2007 itu
mengalami kerusakan alat bantu navigasi inertial reference system atau IRS.

Pilot
mengalami disorientasi spasial, tidak menyadari kemiringan pesawat.
Kemiringan pesawat mencapai 100 derajat dan posisinya menunduk 60
derajat. Pesawat meluncur sangat kencang dengan kecepatan Mach 0,926
atau setara dengan 1.100 kilometer per jam. Padahal, kecepatan normal
Mach 0,82. Akibatnya pesawat tidak mampu lagi dikendalikan dan jatuh ke
laut.

Rekaman itu

Berikut rekaman pembicaraan itu:

.....suara gemuruh yang monoton....

Lelaki yang dipanggi "Kep" (Capt): Ini posisinya dia di sono...

.....suara pembicaraan dalam bahasa Inggris di radio komunikasi (tidak jelas)....

Capt: Ujung pandang di luar..
Lelaki lain (Lelaki): Cuaca....ampun deh..

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Lho, ini diembinye dia? (apakah yang dimaksud DMB?)
Lelaki: Iya, makanya itu Capt, ngaconya di situ
Capt: Lha, ini mike kilo siera (MKS)?

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Tapi nggak jelas nih
Capt: Anginnya dah mulai normal lagi
Lelaki: Ya

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....
sempat terdengar, "Selamat tahun baru, Mas....ok di-copy, disampaikan nanti insya allah.."

Capt: ....(tidak jelas)...diembi gue beda dengan diembi gambarnya ini
Lelaki: Iya, ngaco dia, benar
Capt: Udah ngaco emang...(jeda)... udah mulai kapal bambu, udah.... (jeda)....mendingan kita percaya sama ini aja deh..
Lelaki: Hehe..(tertawa kecil) iya lah
Capt:...Terlalu jauh banget...

.....suara gemuruh yang monoton...

Capt: Salah lagi itunya

.....suara gemuruh yang monoton...

Capt: Coba tolong confirm posisi aja .....(tidak jelas, Capt memerintahkan lelaki berbicara tentang sesuatu)....

........komunikasi radio dalam bahasa Inggris, "Confirm radio...contack to radio 307.."...selanjuntya tidak jelas....

Capt: Ok, that's confirm..ok that's confirm
Capt: Ngaco...bla..bla..nya... (terdengar seperti SMS-nya) SMS telah mengacaukan dirinya sendiri, edan opo (gila apa)
Capt: Woi, terbangnya melanglang buana'e...

.....suara gemuruh yang monoton...

Lelaki: ...tidak jelas...
Capt: Coba gue pake ini aja deh terbangnya....(tidak jelas)...taruh di attitude...
Lelaki: Yes...

.....suara gemuruh yang monoton...

Lelaki: Masuk ke..?
Capt: Fill aja
Lelaki: Fill?
Capt: Iya full aja
Lelaki: Full aja ya
Capt: Kita pake atitude aja ni
Lelaki: Yang left?

....percakapan tertutup komunikasi radio dalam bahasa Inggris.......

.....kreett..krett...komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Masukin heading
Lelaki: Heading berapa nih, Capt?
Capt: Zero..zero..seven nine ya
Lelaki: Ya

......komunikasi radio dalam bahasa Inggris (tidak jelas)....

Capt: Coba naik lagi
Capt: Coba left lagi
Lelaki: Yes
Capt: Coba left...coba left ...
Lelaki: Ok Capt
Capt: Jangan dibelokin nih (suara Captain mengeras)
Lelaki: Captain...Captain... Captain...(panik)

......Suara gemuruh makin keras dan terndengar suara kretek....kretek...kretek....


Lelaki: Aduh Capt..Capt...
Capt: Ya..ya..

......Suara gemuruh makin keras dan terndengar suara kretek....kretek...kretek....

Tidak
jelas lagi suara siapa, terdengar Alhahu Akbar berulang
kali....disertai suara gemuruh yang semakin keras.....suara seperti
benturan dan teriakan aaaahhhh.... Alhahu Akbar .....Alhahu Akbar
......Alhahu Akbaaaaaaaaaar......(rekaman berhenti)...


Transkrip di situs lain

Rekaman ini juga banyak diulas di sejumlah blog dan didiskusikan di sejumlah situs komunitas. Di situs komunitas Kaskus, bahkan beredar transkrip lengkapnya. Berikut transkrip yang diambil dari Kaskus.

(WARNING sound) : PULL...

Voice on DHI 574 cockpit : ini ----

ATC: trigana 161, the surface conditions, wind 290 degrees 07 knots, current visibility about 2 until 3 kilo mike, request descent?

in the background (Adam's pilot chatting: ---- ----- headingnya.....ini posisinya dia, di sono.... iya 21 mile) .

TGN 161: say again sir?

ATC: trigana
161, visibility 2 until 3 kilo mike, surface wind 290 degrees 07 knots,
runway in use runway 13, confirm ready for approach or make holding
waiting for weather improvement?

TGN 161: affirmative, we are make holding

ATC:
roger, trigana 161, now fly heading... ee... two six zero expect
holding on one five miles mike kilo sierra, radial three one zero mike
kilo sierra...

in the background (Adam's pilot chatting: ---- ----- -----, ujung pandang.... bos.... ujung pandang jelas?)

Voice on DHI 574 cockpit: aiyyah.... cuaca di mike kilo sierra (means…. Makassar… ampun deh)

TGN 161: ----heading 260, 15 miles holding, trigana 161

Voice on DHI 574 cockpit: loh, ini DMEnya nih yah...

iya makanya juga ngaconya disitu

nah, ini mike kilo sierra

yah...

ATC: adam 574 confirm maintain heading 070 or tracking to DIOLA?

DHI 574: affirm

mach 74 maintaining 070...

Voice on DHI 574 cockpit : Bearing 074

anginnya dah mulai normal lagi

iyah....

ATC: Syahrizal confirm? (ATC asking for pilot's name)

selamat tahun baru mas....

DHI 574: Gatu

ok dicopy, disampaikan nanti, Insyaallah....

Voice on DHI 574 cockpit: ---- koq DMEmu beda sama DME gambarnya ini

iyah...

ngaco dia tuh brarti

dah ngaco dah emang ...dah ngaco

udah mulai gambar bambu ini

udah, kita percaya ama ini aja deh...

hehehe... iyalah....

---- cewe-cewe

makanya, terlalu jauh banget

----

___noise___

salah lagi ini dia....

----

iya nih

coba.. tolong confirm posisi aja, confirm on radial sekian.. 124 DME gitu

(on the background, FO calling ATC)

ATC: go ahead

---- : ---- ----

DHI 574: roger... adam 574 position is 125 miles mike kilo sierra, crossing radial 307 mike kilo sierra

Voice on DHI 574 cockpit: ok..... that's confirm... that's confirm

affirm

iya khan.. ngaco

ngaco FIDSnya udah ----, FMSnya…

FMS telah mengacaukan dirinya sendiri... UEDANN opo...

oi terbangnya melanglang buana eh....

TGN 161: trigana 161, maintain visibility now

ATC: standby one

Voice on DHI 574 cockpit: ini aja kep yah

coba ini.. apa.. ee.. gw pake ini aja deh untuk navnya, pake ---- audio altitude

yes

yah ini aja

TGN 161: Trigana 161 request visibility now?

ATC: standby one

TGN 161: standby

Voice on DHI 574 cockpit: masuk ke….

fail aja

fail?

yah, vault aja nih

----

ntar attitude (or) altitude aja nih

ada semua ---- cable? (probably AM/Air Mechanic try to repair something on cockpit)

attitude (or) altitude? nggak..

yang laen...

ATC: trigana 161 the visibility 2 until 3 kilo mike and runway change, 290 degrees 08 knots

Voice on DHI 574 cockpit: (Adam's AM: klo angin dan headingnya saja, masukin ini ...)

TGN 161: copied, trigana 161

Voice on DHI 574 cockpit: ---- SELCAL dan altitude

masukin ini

heading brapa nih kep? (FO asking)

zero... zero seven nine yah (captain)

iya

masukin ini keatas

TGN 161: trigana 161, request ILS.. visual at runway 13

ATC: trigana 161, ee.. roger make left turn now heading on zero zero one descent two thousand feet, clear ILS approach runway 13

Voice on DHI 574 cockpit: ini kep?

taro NAV lagi....

TGN 161: trigana 161, ....descent to two thousand confirm?

(in the background, warning sound ....----....)

ATC : affirm

Voice on DHI 574 cockpit: taro NAV lagi, taro NAV lagi....

TGN 161: descent to two thousand, trigana 161

Voice on DHI 574 cockpit: yes?

taro NAV lagi (in the background, WARNING sound .... ---- .... WARNING alarm)

taro NAV lagi

NAV!...... ok kep?

JANGAN DIBELOKIN Nih... kita ---- -----

captain, captain, captain...

(WARNING sign.... ticking....)

aduh kep, kep, kep....

ya, ya...

Allahuakbar....... Allahuakbar........ Allahuakbar…….. Allahuakbar........

DHI 574: Mayday.....

Voice on DHI 574 cockpit: argh...

Allahuakbar....

DHI 574: MAYDAY… MAYDAY…!!

Voice on DHI 574 cockpit: Allahuakbar....

allahuakbar....

(…sounds like windshield kracking…)

argh...

allahuakbar....

NB :
- DHI …. ICAO Code for Adam Air, such as GIA (Indonesia), MNA (Merpati), TGN (Trigana), LNI (Lion)
- Mike kilo sierra = MKS …. Alat bantu navigasi (VOR) di Ujung Pandang
- ATC …. Air Traffic Controller. Dalam percakapan ini adalah suara dari Ujung Pandang Approach (UPG APP).
- DME = Distance Measuring Equipment….. alat bantu penentu jarak ke station tertentu.
- DIOLA…. DR/Dead Reckoning point. Koordinat pada titik tertentu di bumi (used for navigation).
- FO = First Officer…. Copilot.
- FMS = Flight Management System…. Komputer di cockpit yang berfungsi mengatur penerbangan dari pesawat tsb.


MBK

Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network


Related Video Playlist

Manusia Kawat

Noorsyaidah Mulai Diperiksa Dokter
Laporan: Tribun Kaltim/Muhammad Khaidir
Jumat, 11-07-2008 | 15:00:21

SAMARINDA, BPOST - Noorsyaidah, warga Jl Merdeka 3 Samarinda yang dari perutnya mengeluarkan kawat, Jumat (11/7) pagi dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Syahranie. Ia memulai tahap pengobatan.

Tim dokter yang dipimpin langsung oleh Direktur RSUD AW Syahranie, dr Ajie Syirafuddin menjemput Noorsyaidah di rumahnya sekitar pukul 08.00 WITA. Awalnya, keluarga sempat menolak, karena keluarga khawatir dengan kondisi mental Noorsyaidah.

Tetapi tim dokter yang beranggotakan tujuh orang berhasil merayu Noorsyaidah. Pukul 09.30 WITA, Noorsyaidah tiba di RSUD AW Syahranie, Jl Dr Soetomo, Samarinda. Noorsyaidah kemudian masuk ke ruang MSCT Scaning dan berlangsung selama 20 menit. Setelah itu ia masuk ke ruangan sinar X.

"Ini masih tahap awal. Kami baru melakukan diagnosa. Belum tahu hasilnya, karena masih mengumpulkan data-data. Setelah proses ini selesai, akan kami rapatkan. Hasilnya nanti kami informasikan kepada keluarga. Untuk langkah selanjutnya kami serahkan kepada keluarga, apakah mereka siap atau tidak," ujar Ajie.

Sementara ini keluarga masih belum mau Noorsyaidah menjalani rawat inap. "Kondisi Noorsyaidah masih labil. Kami khawatir kondisi mentalnya, makanya kami ingin dia di rumah dulu," ucap Siti Robiah, kakak Noorsyaidah yang juga datang ke RSUD AWS.

Siti Robiah mengatakan, hasil diagnosa dokter nanti akan mereka diskusikan. "Keluarga akan mendiskusikan terlebih dahulu sebelum mengambil langkah selanjutnya, " ucap Siti.

Noorsyaidah pun mengaku tegang. "Saya agak tegang. Doakan saya sembuh ya," ucapnya lirih. Saat berita ini diturunkan, Noorsyaidah sudah diantar kembali ke rumahnya oleh tim dokter RS AWS.

---------------------

Derita ‘Manusia Kawat’ (1), Aku Juga Ingin Menikah

Jumat, 11-07-2008 | 01:30:14

TUJUH belas tahun sudah, Noorsyaidah (40) menahan rasa sakit. Dia menderita penyakit aneh, di perut dan dadanya bermunculan puluhan batang kawat.

“Mungkin Allah SWT ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa dengan kekuasan-Nya apa pun bisa saja terjadi dan sayalah orang yang dipilih untuk memperlihatkan kekuasan-Nya itu. Maka itu saya harus menjalaninya dengan tabah,” ujarnya dengan lirih saat ditemui di rumah kakaknya di Samarinda Ilir, Kaltim, kemarin.

Keanehan itu dialami Noor sejak kuliah di Fakultas Sospol Universitas Mulawarman. “Dulu hanya sekitar seminggu kawat-kawat itu berjatuhan sendiri dan hilang. Sekitar sebulan kemudian bermunculan lagi. Nah, sekarang ini sudah sekitar enam bulan lebih, kawat-kawat di perut saya ini tidak ada yang jatuh atau hilang. Jadi, sungguh menderita sekali,” katanya.

Segala upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang ‘pintar’ sudah dilakukannya. Namun, penyakit tersebut tetap tak sembuh. Operasi mungkin sudah puluhan kali dijalani. Tapi kawat-kawat itu setelah dicabut dengan cara medis tak mau hilang dari dirinya.

“Semua orang bilang bahwa penyakit saya ini terkena santet atau semacamnya, tapi berani jujur bahwa saya ini tak pernah punya musuh atau menyakiti orang lain. Makanya, dokter atau orang pintar yang mengobati penyakit saya ini juga bingung untuk menyembuhkannya. Sekarang saya pasrah kepada Allah SWT,” ujar perempuan yang menjadi guru TK Alquran di Sangatta, Kutai Timur itu.

Bentuk kawat yang tumbuh di badan Noor memang tak berbeda dengan jenis kawat lazimnya. Besarnya seperti peniti berukuran besar. Saat Tribun Kaltim (group BPost) memegang salah satu kawat yang pernah jatuh dan disimpan oleh Noor, kawat tersebut seperti kawat biasa yang mudah berkarat, warnanya kecokelatan.

Panjangnya bervariasi, mulai dari sepuluh sentimeter hingga duapuluh sentimeter. Ada yang hanya satu sisinya yang runcing, namun ada pula yang kedua sisinya runcing.

Selama di Samarinda, Noor sebenarnya ingin sekali menonton langsung Pembukaan PON XVII di Stadion Utama Palaran. Namun, karena takut kawat-kawat di tubuhnya akan mengenai orang lain, Noor hanya menyaksikan geladi bersih pada 3 Juli 2008 lalu. “Yang penting bisa melihat Stadion Palaran yang katanya megah itu, Alhamdulillah. (Menonton) Pembukaan cukup di televisi saja,” ujarnya.

Kendati selalu tabah dan tetap suka bergaul dengan orang lain, namun untuk urusan asmara atau percintaan, Noor tetap tak bisa menyembunyikan rasa rendah dirinya. Hingga kini dia belum memiliki calon pasangan hidup karena khawatir sang suami menyesal dengan penyakit aneh yang dideritanya.

Ketika remaja hingga kuliah di Samarinda, Noor dikenal sebagai perempuan yang tomboi. Dia tak pernah sedikit pun membedakan orang yang akan dan telah menjadi temannya sehari-hari. Seperti perempuan pada umumnya, Noor juga pernah memiliki pujaan hati atau pacar.

Selain, di kalangan teman-temannya, dia dikenal memiliki jiwa sosia yang tinggi. Pernah ada teman yang tak mampu membayar uang kuliah, tanpa meminta imbalan apa pun Noor langsung membantu dengan ikhlas.

“Saya sebagai perempuan normal tentu mau menikah dan punya anak. Tapi yah... karena penyakit aneh ini membuat saya merasa tak memikirkannya lagi. Lebih baik fokus menjalani hidup saya selanjutnya,” ujar Noor.

Beruntung anak kelima dari enam bersaudara ini memiliki keluarga dan teman-teman dekat yang juga tabah dan mau memaklumi sisi kehidupannya yang pahit itu. Bahkan, Kakak kandung Noor, Hj Siti Robiah mengatakan adiknya itu justru sering memberikan motivasi hidup kepada teman-temannya. (TK)

------------------------------------------------

Derita ‘Manusia Kawat’ (2), Terpaksa Sujud di Atas Bantal

Sabtu, 12-07-2008 | 01:33:21

NOORSYAIDAH tetap tabah menjalani hidup. Salat lima waktu tak sekali pun ditinggalkan. Awalnya, masih bisa salat dengan berdiri. Namun, posisi itu membuat perutnya nyeri. Noor lalu melakukannya dengan duduk. Tiga bantal ditumpuk di depannya untuk menahan kepalanya saat sujud agar kawat-kawat yang keluar dari perutnya tidak tertekan

Sejak kecil Noor telah dididik oleh orangtuanya untuk selalu ingat kepada-Nya. Karena itu, dia mencoba untuk tetap tabah dan meyakini bahwa penyakit aneh yang dideritanya ini adalah atas kehendak Allah.

Noor salat dengan posisi duduk, tetap menggunakan mukena (pakaian salat perempuan). Dia pernah kembali mencoba salat dengan posisi berdiri, tetapi hal itu membuatnya kesulitan.

"Ini adalah ujian dari Allah SWT, bagaimana saya harus diuji apakah sanggup untuk menjalaninya atau tidak. Alhamdulillah, khususnya persoalan salat yang harus mengeluarkan gerak itu, saya tetap bisa melaksanakannya, mudah-mudahan dengan izin Allah juga saya akan tetap bisa melaksanakannya," kata Noor.

Bagi keluarganya, Noor dikenal sangat taat menjalankan perintah agama. Dia tak pernah bosan mengingatkan keponakan-keponakannya untuk salat bersama-sama jika azan telah dikumandangkan.

Ketekunan Noor terhadap persoalan agama juga terlihat di Sengatta, Kutai Timur, Kaltim. Dia menyalurkan jiwa sosialnya sebagai seorang guru agama. "Banyak yang berkonsultasi soal agama dengan Noor," kata sang kakak, Hj Siti Robiah.

Noor sangat menginginkan kesembuhan tetapi dia menginginkan cara penyembuhan itu tidak keluar dari akidah agama Islam.

"Saya mendapat ujian penyakit ini karena Allah SWT yang mengizinkannya. Seandainya Allah tidak mengizinkan, saya yakin tidak ada ujian seperti yang saya alami ini. Artinya saya pun sembuh dengan izin Allah," ujar Noor.

Simpati terus berdatangan. Direktur Utama RSU Abdul Wahab Syahranie Samarinda Ajie Syirafuddin, sehari setelah melihat sendiri perut Noor yang mengeluarkan kawat, langsung menyiapkan sebuah kamar khusus agar perempuan berusia 40 tahun itu bisa mendapat perawatan intensif.

Menurut Ajie, melalui perawatan yang intensif, diharapkan Noor bisa terbebas dari jenis penyakit yang diakuinya baru kali ini muncul dalam dunia medis. Tak cuma kamar khusus, Ajie juga siapkan tim khusus. Tim ini terdiri atas enam dokter spesialis dan seorang ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda.

Para dokter yang menjadi anggota tim merupakan dokter terbaik di bidangnya. Ada ahli bedah, ahli bedah tulang, ahli jiwa, ahli laboratorium, ahli rontgen, dan ahli penyakit dalam. "Kita full team, makanya kami kerahkan semua para dokter spesialis terkait untuk penanganan Ibu Noor itu. Bahkan, semua perangkat medis yang dimiliki RSU AW Syahrani akan kami turunkan," kata Ajie.

Terkait keberadaan ulama dalam tim, dia mengatakan, penyakit yang diderita Noor belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan tidak mungkin penyakit itu muncul akibat adanya kekuatan supranatural. Kisah yang dikemukakan Noor atau keluarganya juga mengisyaratkan tidak tertutupnya kemungkinan itu.

Jumat (11/7) pagi, Noor memulai tahap pengobatan. Begitu tiba di rumah sakit, dia langsung masuk ke ruang MSCT Scaning selama 20 menit. Setelah itu, dia masuk ke ruangan sinar X.

"Ini masih tahap awal. Kami baru melakukan diagnosa. Belum tahu hasilnya, karena masih mengumpulkan data-data. Setelah proses ini selesai, akan kami rapatkan. Hasilnya nanti kami informasikan kepada keluarga. Untuk langkah selanjutnya kami serahkan kepada keluarga, apakah mereka siap atau tidak," ujar Ajie.

Sayang, pihak keluarga masih belum mau Noor menjalani rawat inap.

"Kondisi Noor masih labil. Kami khawatir kondisi mentalnya, makanya kami ingin dia di rumah dulu," ucap Siti Robiah. Jumat sore, Noor kembali ke rumah kakaknya di Samarinda.

Bagaimana sikap Noor? "Saya agak tegang. Doakan saya sembuh ya," katanya dengan lirih. Apa sebenarnya penyakit Noor dan bagaimana pula pandangan paranormal? Ikuti terus kisahnya di BPost. (TK)

Source : Banjarmasin Post